1984

Resensi    | 28 Jul 2017 | Read 187 times
1984

Bayangan kehidupan di abad 21 ialah era modern yang serba mudah, serba canggih, dan serba praktis. Zaman dimana kita hidup sangat berbeda dari zaman dimana 5000 tahun yang lalu hanya sebatas impian. Coba kita pikirkan, disamping fasilitas canggih dan praktis, secara sosial, budaya dan politik kita hidup di era kebebasan. Di negara yang menjunjung demokrasi dan berpendapat, mengkritik pemerintah bukanlah suatu ancaman, melainkan sebuah tren demokrasi modern yang konstruktif.

Namun bisakah anda bayangkan, jika kehidupan anda yang merdeka ini di masa depan akan terkekang dan diatur sedemikian rupa. Bisakah anda bayangkan jika kehidupan anda sudah diatur oleh orang lain yang memiliki kekuasaan atas diri anda?

Apa yang anda makan, apa yang anda kerjakan, cita-cita anda, aktivitas anda, bahkan bagaimana kegiatan seks, berperilaku dan pikiran anda segalanya diatur dan secara ketat diawasi oleh orang yang memiliki kekuasaan.

Apa jadinya hidup anda jika kebebasan dan aktivitas sudah di tentukan? Bisakah ‘isolasi mental’ tersebut d sebut kehidupan sebagai manusia?

George Orwell menulis sebuah novel pada tahun 1949 dan difilmkan dengan judul 1984 (Nineteen Eighty-Four). Film 1984 disutradarai oleh Michael Radford dan di bintangi oleh John Hurt, Richard Burton, Suzanna Hamilton, dan Cyril Cusack, film ini rilis pada tahun yang sama, 10 oktober 1984, mungkin sebagai bentuk penghormatan terhadap George Orwell beserta novelnya.

Sebelum film Nineteen Eighty Four yang diproduksi Virgin Film ini muncul, novel yang terkenal dan berpengaruh di Eropa ini sebenarnya telah 2 kali masuk layar kaca dan meraih sukses. Pertama pada tahun 1954 dalam bentuk dokumenter oleh BBC, dan pada tahun 1956 difilmkan oleh perusahaan film ternama di Inggris, Colombia  Pictures.

Cerita dalam film ini mengajak anda untuk berimajinasi tentang suatu dunia di masa depan yang suram, totaliter, dan tengah dilanda krisis peperangan. Dunia dimana kebebasan menjadi tabu, kolektivitas absolut berlaku, hak asasi hanya sesuatu yang semu, dan perdamaian dunia sebagai dongeng pengantar tidur.

Kisah yang diceritakan oleh Orwell adalah kisah di masa depan (40 tahun ketika novel ini terbit tahun 1949) yaitu ketika dunia terbagi menjadi 3 negara besar, Oceania, Eurasia, dan Eastasia. Ketiga negara saling serang dan berusaha untuk saling mendominasi.

Film ini mengisahkan kehidupan Winston Smith, seorang yang tinggal di Oceania, anggota partai UNSOC, partai pekerja yang berkuasa di Oceania. Ia  bekerja di bagian berita dan propaganda, dengan pekerjaan pokok membentuk pikiran masyarakat Oceania agar sesuai dengan pemikiran partai

Ia bertugas untuk menyensor berita yang merugikan partai penguasa dan merubah sejarah sesuai keinginan “Bung Besar”, sang pemimpin sekaligus junjungan rakyat Oceania. Berbeda dengan rakyat pada umumnya yang tunduk dan patuh seratus persen pada partai dan “Bung Besar (Big Brother)”, Winston adalah seorang yang berpikiran merdeka dan muak melihat totaliterisme serta pembodohan yang di lakukan partai atas nama kebaikan bersama.

Televisi selalu memberitakan propaganda keberhasilan tentara Oceania. Berita-berita menyenangkan, surplus gandum, daging, sayuran, harapan hidup meningkat, gizi buruk berhasil ditanggulangi, sandang pangan murah, pendapatan rakyat naik. Namun pada kenyataannya, barang sepele seperti pisau cukur yang digunakan para pekerja setiap hari sangat sulit didapatkan.

Dunia dimana Winston Smith hidup, adalah dunia yang suram, kejam, dan penuh dengan pergolakan. Peperangan sudah menjadi hal yang biasa, kebohongan menjadi kebenaran, menjadi pintar adalah kesalahan, anak-anak dididik untuk mencintai partai dan negara dibanding keluarga, di setiap sudut jalan poster propaganda “Bung Besar mengawasi anda” bertebaran seolah mengawasi setiap orang. dan yang paling parah dari semua itu adalah: Mencintai seseorang merupakan suatu kejahatan.

Winston menjalani hidup di dunia yang tanpa harapan dan penuh kemunafikan dengan menulis catatan harian (secara sembunyi-sembunyi tentunya). Setidaknya dalam pikirannya sendiri ia bisa menjadi orang yang bebas dan mengekspresikan kebebasannya lewat guratan pena di buku harian.

Ia melukiskan, bahwa  partai telah membuat dunia menjadi neraka. Diktatorisme individu telah mengatur prilaku dan cara berpikir mereka. Partai terus menyerukan: Perang ialah Damai, Kebebasan ialah Perbudakan, Kebodohan ialah Kekuatan. Yang benar menjadi salah, yang salah harus di benarkan. 2+2=4 namun jika partai menghendaki 5 bukan 4, maka atasnama semangat revolusioner 2+2=5 dan itu benar!

Untuk menekan jumlah kelahiran anak dan melenyapkan keluarga yang dinggap sebagai pendukung individualisme, gerakan anti sex dan obat kebiri disebarluaskan. Bahkan bahasa yang di gunakan sehari-hari harus di ubah sesuai dengan keinginan partai.

Kehidupan Winston menjadi berubah ketika ia mengenal Julia, gadis yang ia curigai ternyata menyimpan cinta padanya. Winston akhirnya melanggar aturan partai dan menjalin cinta dengan Julia.

Ketika berada bersama Julia, ia merasa menjadi manusia seutuhnya. Ia bebas mengeluarkan ‘unek-unek’ yang mengganjal pikirannya, sekaligus bisa mengatakan “I Love You” pada seseorang yang benar-benar ia cintai dan ia sayangi sepenuh hati,, bukan karena paksaan.

Secuil kebahagiaan dan kebebasan yang Winston rasakan bersama Julia berakhir ketika hubungan percintaan Winston dan Julia terbongkar oleh mata-mata partai. Winston dan Julia ditangkap oleh polisi pikiran, pihak yang menindak segala bentuk pelanggaran terhadap kebijakan dan garis pikiran yang ditetapkan oleh Bung Besar.

Sebagai hukuman, mereka harus mendapat siksaan fisik dan menjalani masa indoktrinasi. Partai menganggap bahwa mereka telah melakukan kejahatan, yang pertama, kejahatan sex dan yang kedua adalah kejahatan pikiran. Tulisan Winston dalam buku hariannya dinilai sebagai sebuah kejahatan kepada partai, karena menulis tentang kebebasan individu dan kritik terhadap partai merupakan bentuk pengkhianatan kepada partai dan masyarakat.

Harapan serta impian Winston tentang suatu dunia yang damai, bebas, dan nyaman tanpaknya tidak terwujud. Setelah menjalani hukuman dan masa indoktrinasi, Winston harus kembali kedalam kehidupannya yang sepi, terisolasi, dan menuruti kemauan Bung Besar. Dunia yang nyaman dan bebas mungkin benar-benar hanya dongeng belaka.

George Orwell mungkin menceritakan kisah ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap totaliterianisme dan sebagai peringatan kepada generasi penerus, bahwa kebebasan dan kemerdekaan dalam hidup ini adalah anugerah yang tiada taranya. Saya menganggap kisah 1984 ini adalah kritikan Orwell terhadap ideologi komunisme dan fasisme yang bersifat diktator.

Namun kisah 1984 ini bukan hanya untuk mengkritik ideologi-ideologi totaliter, yang terpenting yang harus di garis bawahi dari film ini, Kebebasan dan kemerdekaan anda adalah sesuatu yang sangat berharga, kehidupan manusia akan terasa berkualitas jika manusia hidup berdasarkan pilihan rasionalnya.

Orwell menggambarkan kepada kita betapa suramnya dunia masa depan. Ia memperingatkan kita betapa kejamnya jika masa depan manusia jatuh kepada diktatorial, mungkin jika memang sistem totaliter absolut akan terjadi di masa depan, sebaiknya anda harus memperjuangkannya dari sekarang, sebab kebebasan bukan saja untuk dinikmati, namun sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan.