Widjojo Nitisastro: Arisitek Ekonomi Orde Baru

Resensi    | 18 Apr 2017 | Read 459 times
Widjojo Nitisastro: Arisitek Ekonomi Orde Baru

Detail Buku

  • Judul: Widjojo Nitisastro : Panditaning Para Raja
  • Penulis: Widjajalaksmi Kusumaningsih
  • Jumlah Halaman: 327
  • Tahun Terbit: 2016
  • Penerbit: Kompas Gramedia

Widjojo Nitisastro adalah salah satu Begawan ekonom Indonesia dan arsitektur perekonomian Indonesia era orde Baru. Banyak yang tidak mengenalnya, terutama generasi 90-an, bahkan kuliah di jurusan ilmu ekonomi atau ekonomi pembangunan sekalipun. Namanya terdengar asing, karena ketidakpopulerannya setelah dia tidak lagi menjabat sebagai Menteri Bappenas. Sedikit sekali ditemukan buku-buku mengenai dia, karena memang keinginannya untuk tidak menonjolkan apa yang sudah dilakukan untuk bangsa dan negara.

Sampai akhirnya buku ini terbit juga karena keinginan istri, Siti Sudarsih untuk membuat sebuah karya yang dapat menjadi sebuah “pembelaan” di kemudian hari atas buah karya dan pemikirannya untuk bangsa dan negara. Buku ini ditulis oleh anaknya sendiri, Widjajalaksmi Kusumaningsih, atas bakti dan kagumnya kepada ayahnya untuk terus bekerja keras membangun bangsa tanpa ada rasa ingin dikenal atau ditonjolkan semua kelebihan yang dimilikinya.

Buku ini ditulis berdasarkan sudut pandang seorang anak kepada ayahnya, sehingga lebih banyak menceritakan kehidupan sehari-hari Widjojo Nitisastro dalam buah karya dan pemikirannya mengenai ekonomi Indonesia. Hal yang bisa diambil banyak pelajaran dalam buku ini adalah bagaimana seorang ekonom besar merintis kehidupannya dari muda sampai mencapai puncak dari buah karya untuk bangsa dan negara.

Mahasiswa Terbaik dan Pejuang Revolusi

Banyak orang yang menduga seorang jenius seperti Widjojo Nitisastro sebagian besar waktunya dari kecil sampai dewasa hanya untuk belajar. Hal ini tidak sepenuhnya benar, Widjojo bergabung dengan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) bersama arek-arek Suroboyo. Saat itu umurnya baru menginjak 18 tahun, tetapi semangat untuk mempertahankan kemerdekaan pada 10 November 1945 tetap membara ditambah dengan “suntikan” dari pidato bung Tomo untuk membela negara hingga titik darah penghabisan.

Tanggal 10 November memang hari yang bersejarah baginya. Pertempurannya yang luar biasa, sampai banyak teman-temannya yang meninggal di medan perang. Kejadian tersebut membawa semangat terus menerus bagi pribadi Widjojo muda, melihat kemenangan yang diraih kala itu yang hanya menggunakan senjata tradisional.

Bergerilya pasca Kemerdekaan 1945 untuk berkeliling dari desa ke desa untuk memberikan semangat dan inspirasi kepada mereka agar terus berjuang bersama untuk membela negara yang dalam keadaan terancam. Walhasil dari perjuangannya memberikan sebuah pemikiran bagaimana membawa rakyat keluar dari kesengsaraan, dan hal ini terus dibawa hingga menjadi Kepala Bappenas.

Setelah bergerilya semasa sekolah, dia melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultet Ekonomi, Universitet Indonesia. Dia yang lahir dari keluarga yang sangat peduli dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan, membentuk dirinya menjadi pribagi yang selalu haus untuk mencari ilmu dan meraih prestasi yang terbaik. Hal ini ditandai dengan predikat cum laude atas kelulusannya yang ditandatangani langsung oleh Prof. Soemitro Djojohadikusumo.

Sebuah predikat yang amat sulit dicapai pada zaman itu, karena pada era tersebut mendapatkan nilai yang tinggi sangatlah sulit karena diuji langsung oleh Profesor dari kampus. Atas kecerdasan dan prestasinya, dia ditugasi untuk menjadi staf ahli Biro Perancang Negara dari 1953-1957. Tidak hanya sebagai mahasiswa terbaik tetapi aktif di organisasi mahasiwa, dia tercatat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia. Salah satu gerakan yang diprakarsainya adalah mendorong dibangunnya kampus Univesitas Indonesia di Rawamangun.

Tidak puas menimba ilmu di dalam negeri, pada tahun 1957 dia mendapatkan beasiswa Ford Foundation untuk meneruskan pendidikan di University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Semasa menimba ilmu di sana, dia menjadi ketua untuk para mahasiswa alumni Universitas Indonesia yang sedang menimba ilmu di kampus yang sama. Pemimpin untuk diskusi dari berbagai macam latar keilmuan yang bisa diterapkan di Indonesia setelah kembali.

Hampir setiap hari dia ke kampus untuk menyelesaikan disertasinya secepat mungkin. Hasil kerja keras dia tidak sia-sia, termasuk lulusan tercepat untuk program PhD dan mendapatkan penghargaan sebagai lulusan PhD terbaik pada tahun 1983. Penghargaan The Elise and Walter A Hass International Award, penghargaan paling bergengsi dari University of California, Berkeley kepada alumninya. Tidak hanya itu, tetapi disertasinya karya pemikiran utama dalam pengambilan kebijakan untuk mengendalikan populasi di Indonesia berjudul, “Migration, Population Growth and Economy Development in Indonesia: A Study of the Economic Consequences of Alternative Patterns of Inter-Island Migration”.

Buah Karya dan Pemikiran

Sedikit mahasiswa Indonesia di Indonesia khususnya dari fakultas ekonomi yang telah membaca tulisannya. Padahal tulisannya secara konsisten membicarakan tentang populasi di Indonesia dan sebagai generasi muda dapat memahami bagaimana program Keluarga Berencana (KB) dan berbagai jenis program pengendalian dan pemerataan penduduk di Indonesia pada era Orde Baru yang berhasil.

Karya pertama Widjojo yang patut diapresiasi berjudul “Soal Penduduk dan Pembangunan”, dia menulis ketika tahun terakhir sebagai mahasiswa di Universitet Indonesia. Dia menulis bersama seorang profesor kependudukan dari Harvard University, Prof. Nathan Keyfitz. Buku tersebut diberi kata sambutan langsung oleh Wakil Presiden Indonesia, Bung Hatta. Ini buku pertama dia bagaimana pemikirannya tentang populasi di Indonesia dan bagaimana kebijakannya.

Buku keduanya berjudul “The Socio Economic Base of Indonesia State” diterbitkan oleh Cornell University, Amerika Serikat. Buku ini merupakan hasil diskusi Widjojo dengan Mr. Wilopo, mantan Perdana Menteri Indonesia mengenai sistem perekonomian Indonesia. Buku lainnya berjudul “Population Trend in Indonesia”, buku pertama di Indonesia yang menjelaskan secara komprehensif mengenai demografi. Buku ini menjelaskan dengan baik bagaimana dampak politik dan ekonomi terhadap perkembangan populasi di Indonesia, dalam buku ini ditampilkan bagaimana periode tahun 1970 sampai 1980 bagaimana pentingnya kehati-hatian dalam mengambil kebijakan untuk sosial dan ekonomi.

Buku lain yang perlu dibaca adalah “The Indonesian Development Experience: Collection of Writing and Speeches By Widjojo Nitisastro”. Dalam buku ini menceritakan isi dari pemikiran dan kebijakan dalam menangani masa-masa sulit ketika merencanakan perekonomian Indonesia. Buku ini mengkaji secara detail, bagaimana penanganan inflasi tinggi pasca Orde Lama, bagaimana mengatur industri di Indonesia agar masuk tahap lepas landas sesuai dengan teori lima tahapan pembangunan dari Rostow, serta bagaimana pengambilan kebijakan perekonomian yang prudent (hati-hati), karena prinspi kehati-hatian dalam mengambil kebijakan konsep ini dinamakan Widjojonomics. Konsep inilah yang terus dikenang hingga sekarang bagi para penerus pengambil kebijakan di tataran pemerintah.

Memimpin Bappenas

Kelahiran Orde Baru membuat beberapa ekonom dari UI masuk dalam lingkaran pemerintah. Pemikiran utama Prof. Widjojo mengenai pengendalian jumlah penduduk dituangkan dalam program KB, yang akhirnya terbentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 1970. BKKBN yang diketuai Dr. Suwardjono Surjaningrat yang dari bujukan Prof. Widjojo sendiri menjadi pijakan untuk membuat peningkatan jumlah penduduk Indonesia jadi lebih stabil.

Pada saat memimpin Bappenas pada tahun 1971 beriringan dengan persiapan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) pertama, kebijakan Keluarga Berencana sudah tercantum. Tujuan dari program Keluarga Berencana untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, menurunkan laju jumlah penduduk, yang hasilnya mengurangi masalah ketersediaan pangan, lapangan pekerjaan, fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Kebijakan perencanaan Indonesia terus berlanjut, termasuk merencanakan berbagai macam industri. Melakukan kerja sama dengan berbagai lembaga asing yang akhirnya terbentuk IGGI, semua ini dilakukannya dari tahun 1967-1971 sebagai ketua Bappenas dan menteri Bappenas tahun 1971-1973 dan Menko Ekuin merangkap ketua Bappenas tahun 1973-1983. Semua jabatan Widjojo selama di Bappenas bertujuan untuk menciptakan perencanaan perekonomian yang jelas dan hati-hati, dengan itu masyarakat Indonesia akan keluar dari kesengsaraan.

Arloji Swiss

Banyak yang menyebut Prof. Widjojo sebagai sebuah Arloji Swiss, bekerja dalam rinci, presisi, dan memiliki reputasi tinggi. Pengalamannya patut dicontoh untuk kaum muda, dimana dalam bekerja jangan terlalu mengharapkan sorot lampu panggung yang megah dan selalu mendapatkan perhatian media.

Bekerja dalam rinci sangatlah penting, hal ini ditandai bagaimana dia dalam perencanaan selama perbaikan di masa Orde Baru sangatlah rinci dalam melihat semua data. Walhasil dalam pengambilan kebijakan yang dilakukan banyak bersifat pragmatis bukan dogmatis. Karena melihat data secara detail kebijakan-kebijakannya melihat secara komprehensif.

Bekerja yang rinci tidak berhenti dalam membaca data, Wijdojo sering mengunjungi daerah-daerah untuk melihat langsung dampak kebijakan yang dibuatnya. Salah satunya kebijakan tentang kredit, pupuk, dan pestisida untuk para petani. Dia terjun langsung ke lapangan untuk cross check apakah sudah sesuai yang diceritakan oleh data. Tentu hal ini sesuai dengan dirinya, seorang Arloji Swiss.

Kronisme dan Perencanaan Pembangunan

Hal menarik dalam buku ini yang harus dibaca dengan saksama ialah catatan pinggir yang ditulis oleh Goenawan Mohamad. Tulisannya yang mencoba mengungkapkan kronisme apa yang terjadi dalam pemerintahan Orde Baru dan tidak ada sangkut pautnya dengan ekonom FE UI saat itu. Salah satu keinginan dari Prof. Widjojo untuk membersihkan korupsi akibat nepotisme antara para jendral dan pengusaha yang berada di lingkaran Soeharto selalu dihadang oleh pemerintahan itu sendiri.

Hal yang bisa dilakukan oleh Prof. Widjojo membangun sistem dan prosedur yang preventif mengantisipasi berbagai penyelewengan yang terjadi. Tak sepenuhnya berhasil tetapi setidaknya dapat mengurangi praktik di kementerian atau lembaga yang dipimpinnya. Salah satu pergumulan yang terjadi sangat sengit antara Letjen Ibnu Sutowo dan para teknokrat ekonom Indonesia kala itu, yang terkuak utang Pertamina yang luar biasa besar sampai-sampai sudah dinyatakan bangkrut.

Akhirnya Ibnu Sutowo diberhentikan tapi tidak dinyatakan melakukan tindak pidana korupsi, bukan hal aneh karena Soeharto sendiri juga menikmati hasil dari utang Pertamina. Semua utang asing itu mencapai 30 persen dari total GDP Indonesia, tentu hal ini mengganggu perencanaan Indonesia untuk terlepas dari inflasi tinggi dan krisis yang diwarisi oleh orde lama.

Teknokrat tetaplah teknokrat di mana hanya sebagai pelaksana dan inisiator kebijakan pemerintah, mereka sulit untuk meretas kronisme yang terjadi dalam tubuh pemerintahan. Ujungnya pasar digadang-gadang sebagai solusi atas penyelesaian perekonomian, malah yang terjadi pasar diberikan virus untuk menghancurkan masyarakat sedikit demi sedikit sampai virus itu benar-benar menjangkit dan menghancurkan masyarakat termasuk pasar itu sendiri, sehingga puncaknya pada pertengahan 1997 yang kita kenal sebagai krisis moneter.

Kronisme tetaplah kronisme, tidak akan menjelma sebagai mekanisme pasar bebas walau pengusaha berperan besar. Perencanaan sebaik apapun untuk pasar ketika kronisme sudah menjangkit dia bukan lagi solusi pasar bagi kemakmuran.

Galih Mahardhika

Mahardhika adalah seorang konsultan junior di Dayacita Inovasi Indonesia salah satu kantor konsultan pemerintah. Kegiatannya banyak berkutat untuk riset dan pengembangan media untuk pemerintah. Minatnya lebih banyak untuk Kebijakan Publik dan Ekonomi Politik. Paper dan essay ilmiahnya telah dipersentasikan di 3 negara berbeda, Turki (International Islamic Marketing Association), Jepang (Nagoya University), Korea Selatan (KAIST). Galih bisa dihubungi melalui email [email protected]