Print this page

Snowden: Martir Untuk Kebebasan

Resensi    | 19 Jan 2017 | Read 1320 times
Snowden: Martir Untuk Kebebasan

Apa batas yang akan Anda lakukan demi sebuah prinsip? Bila Anda sudah memiliki pekerjaan yang mapan, rumah mewah, tinggal di tempat eksotis, dan kekasih yang cantik jelita, bersediakah semua hal tersebut ditinggalkan demi sebuah prinsip? Beranikah Anda untuk tetap mengikuti suara hati nurani, meskipun dengan resiko kehilangan tempat tinggal, hidup ribuan kilometer dari teman dan keluarga, serta terancam berada di balik jeruji besi seumur hidup?

Bila pertanyaan tersebut diajukan kepada Edward Snowden, dengan lantang ia akan menjawab “Ya!” Snowden merupakan mantan pegawai badan intelejen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA). Ia dikenal dunia sebagai seseorang yang telah membongkar program pengawasan global (global surveillance) yang dilakukan oleh NSA terhadap jutaan penduduk dunia, bahkan warga Amerika sendiri. Atas tindakannya tersebut, Snowden harus kabur dari negaranya dan tinggal di Moskow untuk menghindari penangkapan oleh otoritas negeri Paman Sam.

Kisah hidup dan keberanian Snowden tersebut diabadikan oleh salah satu sutradara kawakan dunia, Oliver Stone, melalui film yang dinamakan sama dengan mantan pegawai NSA tersebut. Untuk penelitian bagi filmya tersebut, Stone sendiri sudah beberapa kali melakukan wawancara langsung dengan mengunjungi Snowden di Moskow.

Dengan Joseph Gordon-Levitt memainkan peran utama, diceritakan bahwa pada awalnya Snowden merupakan seseorang patriot yang sangat mencintai negerinya. Ia bahkan sempat  bergabung dengan militer Amerika Serikat pada tahun 2004, namun diberhentikan karena mengalami kecelakaan patah kaki setelah jatuh dari tempat tidur. Namun hal tersebut tidak mengurungkan niat Snowden untuk mengabdi kepada negaranya. Ia pun mendaftar untuk bekerja di badan Central Intelligence Agency (CIA) dan bekerja di divisi komunikasi global di lembaga tersebut.

Tidak lama kemudian, Snowden pun bertemu dengan seorang gadis melalui media sosial bernama Lindsay Mills dan merekapun segera menjalin hubungan. Tahun 2007, Snowden mendapatkan tugas pertamanya dari CIA di luar negeri, tepatnyadi Jenewa, Swiss, dengan menyamar sebagai seorang diplomat. Di sana, ia bertemu dengan salah seorang pegawai NSA, Gabriel Sol, dan mengetahui bahwa badan intelejen Amerika Serikat terlibat dalam program pengawasan global yang memiliki kapasitas untuk menyadap berbagai sarana komunikasi seperti media sosial dan email terhadap jutaan penduduk dunia, dengan dalih untuk mencegah tindakan terorisme.

Belakangan, Snowden mengetahui bahwa program tersebut bukan hanya digunakan oleh pemerintah Amerika untuk berperang melawan teroris. Informasi yang didapatkan juga dipakai oleh negari Paman Sam untuk memastikan posisi tawar yang lebih tinggi dan menekan pihak-pihak lain dalam diplomasi dan negosiasi internasional. Nurani Snowden pun menjadi terusik dan ia memutuskan untuk keluar dari CIA, karena merasa sangat bertentangan dengan etika yang ia yakini.

Bulan Januari tahun 2009, Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat dan segera menjanjikan perubahan dari pendahulunya, George W. Bush. Terpikat dengan janji Obama tersebut, Snowden pun memutuskan untuk kembali berkarier di dunia intelejen, dan mendapatkan posisi sebagai pegawai NSA di Jepang. Di sana, ia membangun program bernama “Epic Shelter”, yang bertujuan agar pemerintah Amerika Serikat mampu mem-back up data-data penting dari Timur Tengah bila terjadi situasi darurat.

Di Jepang, Snowden pada akhirnya mengetahui praktik-praktik yang dilakukan oleh badan intelijen Amerika Serikat terhadap Jepang dan juga negara-negara sahabat Amerika lainnya. Negeri Paman Sam menanamkan berbagai program malware terhadap jaringan infrastruktur, komunikasi, dan keuangan agar Amerika mampu menghentikan seluruh aktivitas di negara-negara tersebut apabila mereka memutuskan untuk berbalik arah dan berperang melawan Amerika Serikat.

Beberapa bulan kemudian, Snowden dipindahtugaskan ke sebuah fasilitas milik badan intelejen Amerika di Oahu, Hawaii. Di sana ia mengetahui bahwa program “Epic Shelter” yang ia bangun bukan hanya digunakan untuk mem-back-up data-data penting milik pemerintah Amerika Serikat, namun juga sebagai penyedia data untuk mengarahkan drone Amerika Serikat terhadap posisi para terduga teroris di Afghanistan.

Snowden pada akhirnya merasa cukup. Marah dan kecewa dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat, ia memutuskan untuk membongkar seluruh program pengawasan dan praktik-praktik yang dilakukan oleh negeri Paman Sam tersebut terhadap negara-negara sahabatnya. Dengan menggunakan micro SD yang dia sembunyikan di dalam Kubus Rubik yang sudah dimodifikasi, Snowden secara diam-diam menyalin ribuan dokumen rahasia lembaga intelejen Amerika Serikat dari kantornya.

Snowden pun segera meminta Lindsay kembali ke rumah orang tuanya, dan memutuskan untuk meninggalkan rumah mewahnya di Hawaii serta pekerjaan yang telah memberinya banyak uang. Ia segera pergi ke Hong Kong untuk menemui dua jurnalis ternama, Glenn Greenwald dan Ewen MacAskill dari The Guardian, serta pembuat film Laura Poitras yang akan membantunya mengungkapkan program rahasia tersebut ke publik.

Cerita selanjutnya sudah menjadi konsumsi publik dan media massa. Snowden segera dijerat oleh pemerintah Amerika Serikat dengan tuduhan mencuri properti negara dan spionase. Ia akhirnya pergi meninggalkan Hong Kong menuju Ekuador untuk meminta suaka politik. Namun ketika pesawatnya transit di Moskow, pemerintah Amerika Serikat membatalkan paspornya sehingga ia tidak bisa meninggalkan Rusia. Sejak saat itu, Snowden pun tinggal di Moskow karena mendapat suaka politik temporer dari pemerintah Rusia selama 3 tahun.

Di negeri Paman Sam sendiri, tindakan Snowden menimbulkan perdebatan sengit. Namun ada 1 hal yang pasti, bahwa seluruh politisi establishment di Amerika Serikat mengecam keras langkah yang diambil oleh mantan pegawai CIA tersebut. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry menyatakan tindakan Snowden merupakan perbuatan yang sangat merusak bagi Amerika Serikat secara signifikan.

Senada dengan Kerry, Presiden Obama menyatakan bahwa tindakan Snowden dapat membahayakan pertahanan nasional Amerika Serikat. Mantan menteri luar negeri Amerika dan juga kandidat presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, serta Ketua DPR John Boehner secara lantang menyatakan bahwa Snowden merupakan seorang pengkhianat. Bahkan tak tanggung-tanggung, Donald Trump, yang saat ini sudah menjadi presiden terpilih negeri Paman Sam, menyatakan mantan pegawai CIA tersebut layak untuk dieksekusi.

Namun bukan hanya pandangan negatif yang didapatkan Snowden dari negaranya. Tidak sedikit pula kalangan di Amerika Serikat yang mendukung Snowden membongkar program rahasia penyadapan global tersebut. Mantan anggota DPR Amerika Serikat asal Texas dan tokoh gerakan Libertarian di Amerika, Ron Paul, adalah salah satunya. Ia menyatakan bahwa mantan pegawai CIA tersebut merupakan seorang pahlawan karena telah berani membongkar program rahasia lembaga intelejen Amerika yang dianggapnya telah melanggar hak privasi dan kebebasan individu, serta meminta Presiden Obama untuk segera memberikan grasi kepada Snowden.

Menarik melihat bagaimana para politisi dan pejabat tinggi Amerika Serikat beramai-ramai menyerang dan mengancam Snowden karena membeberkan pelanggaran privasi yang dilakukan lembaga intelejen Amerika Serikat, namun di saat yang bersamaan mereka semua telah membohongi rakyat Amerika terkait program intelejen yang dilakukan oleh negara tersebut. Pasalnya, beberapa saat sebelum Snowden membongkar program tersebut, Obama menyatakan bahwa tidak ada pelanggaran privasi yang dilakukan oleh pemerintah Amerika.

Pada bulan Juni tahun 2013, Obama menyatakan bahwa program yang dilakukan oleh badan intelejen Amerika dalam perang melawan terorisme merupakan program yang transparan dan sesuai dengan konstitusi. Presiden Amerika tersebut juga menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada sedikitpun program intelejen Amerika yang digunakan untuk menyadap dan memata-matai rakyat negeri Paman Sam.

Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada bulan Maret 2013, kebohongan yang sama juga dilakukan oleh Direktur Badan Intelejen Nasional Amerika Serikat, James Clapper di hadapan kongres Amerika. Clapper, yang pada saat itu tengah diinvestigasi terkait program intelejen yang sedang ia jalankan. Clapper menyatakan bahwa tidak ada satupun program dalam lembaga intelejen Amerika yang digunakan untuk mengumpulkan berbagai data elektronik penduduk negara tersebut.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Segala tipu muslihat yang dilakukan oleh pejabat tinggi Amerika Serikat di hadapan publik telah dibeberkan oleh seorang pegawai muda yang pada masa itu usianya belum menginjak 30 tahun. Snowden telah membeberkan kepada dunia, bahwasajargon-jargon kemerdekaan dan kebebasan individu yang kerap digaungkan oleh banyak petinggi negeri Paman Sam tidak lebih dari tipu daya belaka.

Hanya ada satu tujuan mulia Snowden membongkar program rahasia badan intelejen Amerika tersebut, yakni untuk memberikan informasi kepada publik. Dalam wawancaranya dengan The Guardian, Snowden menyatakan bahwa ia tidak menginginkan tinggal di dunia dimana privasi tidak dihargai lagi, dimana segala hal yang seseorang ucapkan dan lakukan diamati, direkam, dan dimata-matai oleh pihak yang tidak tranparan dan tidak memiliki tanggung jawab, termasuk negara.

Mantan pagawai CIA tersebut hanya ingin memberikan kesempatan kepada publik, khususnya masyarakat Amerika, untuk membuka diskursus mengenai negara dan pemerintahan seperti apa yang mereka inginkan. Apakah pemerintahan yang taat pada konstitusi, yang melindungi hak setiap individu, atau pemerintahan yang tidak bertanggung jawab dan memiliki wewenang untuk melanggar hak privasi warganya setiap saat.

Edward Snowden tidak diragukan lagi merupakan salah satu pahlawan kemanusiaan dan kebebasan terpenting saat ini. Dia telah rela mengorbankan pekerjaan dan kehidupannya yang mapan di Hawaii demi mengungkapkan pelanggaran privasi yang dilakukan pemerintahnya sendiri kepada dunia. Di tanah airnya, dia dinyatakan sebagai seorang pengkhianat. Namun, sebagaimana yang diucapkan oleh penulis besar Inggris, George Orwell, “Dalam imperium yang dipenuhi kebohongan, maka mengungkap kebenaran akan dianggap sebagai pengkhianatan.”

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]

FaLang translation system by Faboba