Inovasi ala Pemerintah Yang Kontraproduktif

Resensi    | 8 Sep 2016 | Read 1339 times
Inovasi ala Pemerintah Yang Kontraproduktif

Detail Buku

  • Judul: The Enterpreneurial State: Debunking Private vs Public Sector Myths
  • Penulis: Mariana Mazzucato
  • Jumlah Halaman: 261
  • Tahun Terbit: 2013
  • Penerbit: Anthem Press

Sebuah buku yang menjanjikan bukti empiris bahwa inovasi tidak hanya berasal dari swasta namun juga inovasi dari pemerintah yang dapat mendorong kemakmuran. Penulisnya Mariana Mazzucato – profesor ekonomi bidang inovasi dari Universitas Sussex – memperoleh penghargaan SPERI untuk bidang ekonom-politik setahun kemudian. Ia dianggap cakap dan mampu mendiseminasikan gagasan orisinal serta ide-ide kritis kepada publik (audiens) yang lebih luas tentang isu ekonomi-politik.

Saya tertarik mengulaskan pada reviu buku di laman SuaraKebebasan.org ini karena dua hal. Pertama, buku yang ditulis oleh ekonom perempuan dari Inggris ini menjadi contoh par excellent (sempurna) tentang posisi dan sikap kaum intelektual terhadap gagasan sosialisme. Hal ini mengingatkan saya kepada tulisan klasik Frederich August von Hayek bertajuk “Kaum Intelektual dan Sosialisme” yang telah diterjemahkan oleh editor kami serta dikategorikan dalam Dasar Libertarianisme. Saya menganjurkan buat anda yang tertarik dengan pemikiran Hayek soal dua isu penting di masa ia menulis makalah itu, anda bisa membacanya dengan seksama.

Kolumnis sekaliber Martin Wolf (2013) berpendapat bahwa buku ini telah menyediakan justifikasi meyakinkan tentang peran aktif pemerintah dalam mempromosikan inovasi. Wolf meneruskan kegagalan untuk mengenali peran pemerintah dalam mendorong inovasi dapat menjadi ancaman terbesar terhadap kemakmuran masa mendatang (Mingardi, 2015). Profesor Mazzucato nampaknya mendapat sokongan dari berbagai kalangan “jalan ketiga” yang ingin menjaga kehadiran pemerintah melalui beragam riset dan penelitian demi kemakmuran yang lebih merata.

Kedua, kehadiran dan peran dominan pemerintah soal kebijakan industri telah banyak mendapat sorotan dari penulis-penulis handal Suara Kebebasan, Djohan Rady pernah menulis opini tentang salah kaprah mobil nasional. Sementara itu, Bienvenindo Oplas Junior a.k.a Nonoy Oplas juga menulis sindikasi (d/h Kolom Pakar) tentang Kegagalan Pasar versus Kegagalan Pemerintah. Kedua penulis itu buat saya, telah memulai tradisi analisis public choice (pilihan publik) dalam membahas fenomena ekonomi-politik di sekitar kita, misalnya kebangkitan gagasan mobil nasional, bagaimana government failure justru lebih berbahaya daripada market failure.

Kegagalan pasar yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti (i) terjadinya eksternalitas, (ii) adanya monopoli, (iii) muncul dan persistennya informasi asimetris, serta (iv) argumen barang publik (public goods).  Solusi standar untuk mengatasi kegagalan pasar adalah campur tangan/intervensi pemerintah. Namun, teori pilihan publik telah memberikan pemahaman yang lebih membumi tentang bagaimana politik bekerja, termasuk didalamnya pengambilan kebijakan publik.

Lewat para teoritisi public choice seperti Anthony Downs, Duncan Black, James Buchanan, Gordon Tullock, William Niskanen, Mancur Olson dan tokoh-tokoh lainnya, kita memperoleh kesadaran dan refleksi mendalam bahwa pemerintah kerap tidak bisa mengatasi kegagalan pasar. Kehadiran pemerintah justru memperburuk kondisi yang ada. Kita terkadang menganggap pemerintah seperti dewa penyelamat, bahkan munculnya pemimpin bagi masyarakat Jawa, dianggap sebagai Ratu Adil. Mitos yang berdampak kepada sikap penuh harap (wishful) kerap tidak memberi solusi apapun.

Kembali pada buku ini, dua bab yang menjadi argumen pokok Mazzucato berada di bab 4 dan bab 5, dimana ia mendedikasikan urgensi pemerintah memilih “pemenang” kebijakan industri sebagai tindakan mission-oriented directionality. Bab 4 bercerita tentang Amerika Serikat yang bersemangat kewirausahaan (The U.S Entrepreneurial State).  Bab 5 mengambil judul provokatif “Negara di belakang iPhone” (The State Behind the iPhone).

Bagi pembicara handal ini, bukti empiris menunjukkan bahwa iPhone merupakan produk intervensi pemerintah AS. Mazzucato berargumen bahwa beasiswa pemerintah AS-lah yang membuat mahasiswa Doktoral bernama Wayne Westerman dapat menyelesaikan studinya dan mendirikan Fingerworks, sehingga mampu merevolusikan industri elektronik berbasis mobile-phone bernilai multi-miliar Dollar AS (Mazzucato, 2013, p. 103).

Pertanyaan mendasarnya kemudian: apakah hanya karena beasiswa Doktoral kepada seorang mahasiswa dapat dikatakan suatu kebijakan industri? Perlu dicatat Westerman hanyalah salah satu dari ribuan penerima beasiswa dari National Science Foundation. Buat saya, argumen Mazzucato sama sekali tidak meyakinkan.

Mazzucato juga menyajikan empat cerita sukses inovasi ala pemerintah di AS yaitu: (i) Defense Advanced Research Project Agency (DARPA), (ii) Small Business Innovation Research (SBIR) program, (iii) Orphan drugs regulation, dan (iv) Nanotechnologies. Keempat cerita sukses itu bagi penulis, merupakan pendekatan proaktif oleh negara guna mendesain pasar guna mendorong inovasi (Mazzucato, 2013, p.73).

Apakah memang pendekatan intervensionis pemerintah di sektor riset dan penelitian memang membawa hasil yang optimal? Data empiris lintas negara menunjukkan sebaliknya. Vito Tanzi – ekonom dari Italia yang bekerja untuk Dana Moneter Internasional – menyebutkan hukum dasar dari belanja publik untuk periode waktu yang panjang: “Kebanyakan program-program pemerintah dibuat dan bertendensi meningkat dari waktu ke waktu dan menjadi lebih mahal seiring bertambahnya waktu” (Tanzi, 2012).

Dua pemain paling penting yang hilang atau sengaja dilupakan ialah konsumen dan wirausahawan (entrepreneur). Konsumen-lah yang menjadi “hakim” paling fair atas inovasi yang dilakukan oleh seorang wirausahawan dan juga perusahaan. Konsumen akan membeli produk bernilai yang membuat hidup mereka menjadi lebih mudah. Tanpa kemudahan, kecepatan, biaya yang lebih murah, maka menjadi tidak berguna inovasi (pengembangan) produk-produk.

Sedangkan faktor wirausaha (entrepreneur) menjadi teka teki dari ekonomi moderen, darimana asal inovasi? Mengikuti paham Joseph Schumpeter, maka jawabannya terdapat pada semangat kewirausahaan pebisnis ulung. Schumpeter menegaskan inovasi, entrepreneur, kemajuan dan juga kapitalisme dalam Business Cycles (1939):

Without innovations, no entrepreneurs; without entrepreneurial achievement, no capitalist returns and no capitalist propulsion. The atmosphere of industrial revolutions- of “progress” – is the only one in which capitalism can survive.

Dari paragraf Schumpeter di atas, kapitalisme selalu dinamis tidak dalam kondisi statis. Agen terpenting dari kapitalisme – model Schumpeterian- berada di tangan seorang wirausahawan. Ia tidak membatasi diri sebagai homo-economicus yang memaksimalkan utilitas kepentingan pribadinya secara maksimal. Dari sini yang terpenting ialah bagaimana entrepreneur dapat melancarkan destruksi kreatif (creative destruction), menggantikan model bisnis lama menjadi model bisnis baru, yang lebih efisien, lebih murah, lebih cepat dan membantu kemudahan aktivitas manusia. Pada aspek entrepreneur dan konsumen inilah, argumen profesor Mazzucato terasa absen dari kondisi faktual inovasi tercipta.

Muhamad Iksan

Muhamad Iksan (Iksan) adalah Pendiri dan Presiden Youth Freedom Network (YFN), Indonesia. YFN berulang tahun pertama pada 28 Oktober 2010, bertempatan dengan hari Sumpah Pemuda. Iksan, juga berprofesi sebagai seorang dosen dan Peneliti Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Jakarta. Alumni Universitas Indonesia dan Paramadina Graduate School ini telah menulis buku dan berbagai artikel menyangkut isu Kebijakan Publik. (public policy). Sebelum bergabung dengan Paramadina sejak 2012, Iksan berkarier sebagai pialang saham di perusahaan Sekuritas BUMN. Ia memiliki passion untuk mempromosikan gagasan ekonomi pasar, penguatan masyarakat sipil, serta tata kelola yang baik dalam meningkatkan kualitas kebijakan publik di Indonesia.

Iksan bisa dihubungi melalui email [email protected] dan twitter @mh_ikhsan