Menggali Arti Kapitalisme Yang Sebenarnya

Resensi    | 22 Sep 2015 | Read 12617 times  
Menggali Arti Kapitalisme Yang Sebenarnya

Detail Buku

  • Judul: The Morality of Capitalism
  • Penulis: Tom G. Palmer, Deirdre N. McCloskey, David Boaz, Mao Yushi, dll.
  • Jumlah Halaman: 129 halaman
  • Tahun Terbit: 2011
  • Penerbit: Jameson Books

Kira-kira apa yang ada di benak anda ketika disebutkan kata “kapitalisme” atau kapitalis”? Mungkin, dan pastinya yang ada di pikiran hampir semua orang di Indonesia yang berhubungan dengan “eksploitasi pekerja”, “pengusaha rakus”, “orientasi keuntungan”, dan seterusnya. Kata “kapitalisme” sudah menjadi kata yang busuk sejak dalam pikiran banyak orang di Indonesia. Kata “kapitalisme” sudah disematkan dalam pojokan istilah stigma ekonomi politik sejak perjuangan bapak bangsa Republik Indonesia dahulu. Kapitalisme memang sudah dimusuhi oleh banyak ideologi besar dunia seperti komunisme dan fasisme. Ketika Indonesia memiliki afiliasi yang dalam terhadap gagasan kiri dan marxisme (ketika gagasan kiri berkembang pesat di masa-masa Partai Komunis Indonesia atau secara bawah tanah di masa Orde Baru), kapitalisme semakin dipojokkan sebagai kata kotor yang tak cocok dibawa ke ruang publik gagasan. 

Sebetulnya apakah itu kapitalisme? Di awal tulisan ini, saya mengajak untuk memahami kapitalisme dari asal mula gagasannya. Memahami sebuah gagasan secara linier akan membawa kita kepada pemahaman yang tepat.  

Tom G. Palmer, dalam kata pengantar buku ini dengan sangat baik mendefinisikan apa itu kapitalisme. Menurutnya, kapitalisme adalah “sebuah sistem hukum, sosial, ekonomi, dan budaya yang mendorong kesetaraan hak, meritokrasi, desentralisasi inovasi, dan proses pembelajaran (trial and error) – seperti yang disebut oleh ekonom Joseph Schumpeter sebagai “pembinasaan kreatif” (creative destruction) melalui proses kesukarelaan dalam mekanisme pasar. Budaya kapitalis meliputi wirausaha, sains, pengambil resiko, inovator, dan penemu. Walaupun dicemooh oleh filsuf materialistik seperti kaum Marxis, yang mereka sendiri sebetulnya adalah penganjur materialisme, kapitalisme pada intinya adalah sebuah kegiatan usaha yang memiliki spiritualitas dan  budaya.” 

Kapitalisme menyadari bahwa manusia mengejar kepentingan pribadinya, namun manusia tidak bisa menjadi makhluk anti-sosial. Untuk mengejar kepentingan pribadinya, misalnya untuk mengumpulkan kekayaan, manusia harus menawarkan kepada manusia lain sebuah nilai yang berguna bagi manusia lain. Penambahan nilai inilah yang kemudian disebut sebagai pertukaran suka rela (voluntary exchange), yang kini kita sebut sebagai perdagangan. Dengan berdagang, kita bisa menawarkan nilai yang kita punya demi sesuatu yang kita inginkan.  

Dalam buku ini, diibaratkan sewaktu manusia masih dalam tahap berburu makanan, seorang pembuat senjata akan menawarkan nilainya dengan membuatkan senjata bagi mereka yang pandai berburu makanan. Pemburu makanan akan menawarkan hasil buruannya dengan senjata. Inilah perdagangan model primitif, yang pada masanya menawarkan pertukaran nilai antara manusia. Inilah yang disebut sebagai kapitalisme. Sebuah pertukaran nilai antar manusia secara suka rela, yang membuat manusia bisa saling bergantung satu sama lain dalam sebuah masyarakat. 

Kapitalisme bukan hanya sistem ekonomi, namun juga sistem hukum, sosial, dan budaya yang mengatur bagaimana manusia saling berinteraksi dalam sebuah masyarakat. Sistem hukum, karena ketika terjadi pertukaran suka rela maka harus ada jaminan hukum bagi hak kepemilikan (property rights). Barang dan nilai yang didapatkan dalam perdagangan harus seratus persen menjadi hak milik orang yang memilikinya. Tidak dibenarkan orang lain mencuri, memaksa, atau merampok suatu hak milik yang sudah menjadi milik orang tertentu. Kapitalisme juga merupakan sistem budaya, karena di sinilah masyarakat dengan sah bisa menjadi kaya dan makmur dengan memberikan nilai yang lebih dan berguna kepada masyarakat lainnya, bukan dengan mencuri, memaksa, ataupun merampok. Kapitalisme juga merupakan sistem sosial, karena terbukti dengan sistem ini bisa mengorganisasi kumpulan individu untuk bisa saling memajukan satu sama lain, tanpa mengistimewakan atau mendiskriminasi suatu kelompok, yang pada akhirnya akan terjadi kemajuan kolektif. 

Bagaimana posisi entitas bernama negara dalam sistem kapitalisme? Sejak awal munculnya konsepsi kapitalisme, sistem aturan hukum untuk menjaga hak kepemilikan menjadi suatu hal yang tidak bisa ditawar. Negara dalam hal ini “dipercaya” bisa (untuk hanya) menegakkan aturan hukum. Karena fungsinya yang terbatas, Adam Smith menyebut negara sebagai penjaga malam. Negara hanya menegakkan aturan hukum, membuat pengadilan, menjalankan peradilan, dan menegakkan keputusan dari pengadilan publik. 

Kesalahpahaman Paling Fatal tentang Kapitalisme

Kesalahpahaman paling umum tentang kapitalisme adalah bahwa kapitalisme selalu mendukung perusahaan-perusahaan besar yang eksploitatif, korporasi besar yang berlaku bagaikan gurita, dan sebagainya. Yang juga tak kalah sering didengungkan tentang kapitalisme adalah, bahwa kapitalisme seringkali berkroni dengan negara untuk melakukan suatu kegiatan ekonomi yang merugikan masyarakat banyak. Bahkan Karl Marx dan Friedrich Engels, pun menyatakan bahwa seorang kapitalis (pelaku kapitalisme) adalah mereka yang melakukan usaha dengan bantuan dari negara. (Dalam buku ini dijelaskan bagaimana kedua “nabi” gerakan komunis tersebut salah mengartikan kapitalisme sebagai perusahaan yang terlibat dalam hutang negara).

Benarkah begitu? Prinsip utama dari kapitalisme adalah kompetisi. Ketika kompetisi dilanggar oleh negara dengan memberlakukan hak monopoli terhadap perusahaan tertentu, maka kapitalisme tidaklah berlaku lagi. Unsur kompetisi dalam kapitalisme adalah unsur krusial yang bisa mengoreksi suatu kesalahan dan ketidakbecusan suatu perusahaan, demi terciptanya “penghancuran kreatif.” Suatu perusahaan yang tidak mampu memberikan kepuasaan terhadap konsumennya, akan dihukum dengan ditinggalkan oleh konsumen, dengan beralih kepada produk lainnya. Dan hal ini hanya ada apabila ekonomi kompetisi terjadi. 

Sebaliknya. Suatu kondisi perekonomian tanpa kompetisi merupakan bencana. Konsumen tidak bisa menghukum perusahaan yang gagal memberikan nilai yang bermanfaat. Ketika negara memberikan hak monopoli kepada suatu perusahaan, maka disitulah kompetisi telah dirusak. Dan seperti yang kita tahu, itu bukan kapitalisme. 

Buku ini, cukup memberikan gambaran utuh dan singkat tentang kapitalisme. Saya merekomendasikan ini kepada seluruh pembelajar ekonomi politik yang ingin memahami gagasan alternatif. Dan kabar gembiranya, buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan sedang dalam proses percetakan. 

Rofi Uddarojat

Rofi Uddarojat adalah lulusan Hubungan Internasional, Universitas Paramadina. Rofi mengikuti pelatihan “Think Tank Management And Leadership” di New Delhi, India, yang merupakan pelatihan Think Tank dari ATLAS Leadership Academy, Amerika Serikat. Pada tahun yang sama, Rofi mengikuti Internasional Students for Liberty Conference (ISFLC) di Washington DC, mewakili pemuda liberal Indonesia. Rofi Uddarojat juga merupakan sekretaris eksekutif Youth Freedom Network (YFN), organisasi pemuda pro-kebebasan pertama di Indonesia.

Aktivitas Utamanya sekarang sebagai peneliti kebijakan publik di Center for Indonesian Policy Studies, sebuah Think Tank yang ingin mempromosikan kemajuan, keterbukaan, dan transformasi sosial melalui penelitian kebijakan publik.

Rofi bisa dihubungi melalui email [email protected] dan twitter @rofiuddarojat