Resensi Buku Kapitalisme karya Eamonn Butler

Resensi    | 25 Jul 2019 | Read 181 times
Resensi Buku Kapitalisme karya Eamonn Butler

Detail Buku

  • Judul: Kapitalisme: Modal, Kepemilikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia (Judul asli: An Introduction to Capitalism)
  • Penulis: Eamonn Butler
  • Jumlah Halaman: Institute of Economic Affairs
  • Tahun Terbit: 2019 (Versi asli: 2018)
  • Penerbit: 158

 

"Apa yang muncul di pikiran Anda ketika mendengar kata 'kapitalisme'?"

Ada kemungkinan reaksi negatif langsung hadir di benak Anda. Ya, kapitalisme memang kerap diidentikan dengan berbagai hal buruk yang melanda manusia. Ia sering dianggap sebagai sistem ekonomi eksploitatif yang hanya menguntungkan kelas atas dan kaum penguasa.

Hanya mereka yang memiliki modal ekonomi besar yang meraih keuntungan dari sistem tersebut, seraya meninggalkan kelas menengah dan pekerja hidup di dalam kemiskinan. Maka dari itu, tidak mengherankan kalau kapitalisme oleh kelompok tertentu dianggap sebagai kanker yang harus dihancurkan demi menyelamatkan umat manusia.

Pemahaman akan kapitalisme sebagai suatu hinaan merupakan hal yang dapat dengan mudah kita jumpai, terutama di berbagai lingkungan akademis seperti kampus serta ruang-ruang diskusi. Narasi bahwa kapitalisme merupakan hal yang jahat sangatlah kuat di berbagai negara-negara dunia ketiga, termasuk diantaranya di Indonesia. Tidak mudah mencari literatur yang membahas kapitalisme dari sudut pandang yang berbeda.

Untuk itulah, Suara Kebebasan pada bulan Juni tahun 2019 ini menerbitkan buku terjemahan "Kapitalisme: Modal, Kepemilikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia" (dari judul asli "An Introduction to Capitalism", diterbitkan oleh Institute of Economic Affairs) karya ekonom asal Inggris, Eamonn Butler, untuk memperkaya wacana mengenai kapitalisme di Indonesia. Buku ini membahas berbagai aspek dari kapitalisme seperti peran modal, para pemikir, hingga dimensi moral dan sejarah dari gagasan tersebut.

Hal yang pertama dibahas oleh buku ini adalah mengenai pengertian dari kapitalisme. Dalam sejarahnya, kata kapitalisme sendiri memiliki akar hingga pada abad ke 12 masehi di Eropa dari kata capitale dalam bahasa latin yang berarti "kepala", yang digunakan untuk mendeskripsikan jumlah hewan ternak yang dimiliki oleh seseorang.

Pada tahun 17, kata tersebut digunakan untuk memberi deskripsi terhadap barang dan uang, dan lahirlah terminologi 'kapitalis' sebagai seseorang yang memiliki modal. Butler sendiri memberi definisi atas kapitalisme sebagai sebagai sebuah cara kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh manusia untuk menciptakan atau menggunakan modal untuk memproduksi barang serta jasa yang diinginkan oleh orang lain dengan cara yang seproduktif mungkin.

Butler sendiri menambahkan bahwa ada berbagai elemen yang harus hadir agar kapitalisme dapat berjalan dengan baik, diantaranya adalah hak kepemilikan, institusi pasar, serta pertukaran sukarela antar sesama pelaku ekonomi.

Jaminan pelindungan atas hak kepemilikan merupakan hal yang sangat penting yang membuat individu-individu dapat melakukan kegiatan ekonomi tanpa kekhawatiran dan ketakutan. Selain itu, adanya institusi pasar yang bebas dan terbuka merupakan prasyarat agar para pelaku ekonomi dapat melakukan transaksi dan pertukaran barang dan jasa secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka masing-masing.

Lantas apakah yang dimaksud dengan modal?

Bagi kalangan umum, modal kerap dianggap sebagai suatu bentuk kekayaan serta kepemilikan dalam jumlah besar yang dimiliki oleh kalangan kaya untuk memproduksi barang-barang tertentu, seperti pabrik, mesin-mesin berat, serta aset finansial dengan nilai yang sangat tinggi. Akan tetapi hal ini merupakan pemahaman yanng sangat sempit mengenai modal.

Butler menulis bahwa modal merupakan sesuatu yang kita ciptakan untuk memproduksi barang-barang lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan kita. Dengan menggunakan modal, kita dapat membuat pakaian dan makanan, membangun bangunan, hingga mendirikan sarana hiburan, pendidikan, dan kesehatan.

Memang benar bahwa aset finansial dalam jumlah besar serta pabrik dan alat-alat berat merupakan salah satu bentuk dari modal, namun tentunya modal tidaklah hanya mencakup hal tersebut.

Butler memberi contoh bahwa, seorang nelayan yang bekerja menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, bisa saja melakukan pekerjaannya dengan menggunakan tangannya. Akan tetapi, pekerjaan menangkap ikan akan lebih efisien untuk dilakukan apabila ia menggunakan kapal dan jaring penangkap. Dalam hal ini, kapal dan jaring penangkap yang dimiliki oleh nelayan tersebut merupakan modal yang ia gunakan untuk memproduksi berbagai bahan pangan yang berasal dari laut dan perairan.

Modal juga tidak selalu harus dalam bentuk barang nyata (tanglible goods) atau uang. Ketrampilan serta pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang juga merupakan salah satu modal yang dimiliki oleh orang tersebut.

Adanya institusi pasar yang bebas dan terbuka tulis Butler, merupakan syarat wajib agar para pelaku ekonomi dapat menggunakan modal yang mereka miliki secara lebih efisien dan produktif. Mekanisme permintaan dan penawaran memberikan informasi kepada individu mengenai bagaimana cara terbaik untuk memakai modal yang mereka miliki.

Seorang penjahit misalnya, dapat membuat dua buah desain baju yang berbeda dengan modal yang sama. Akan tetapi setelah dijual, baju dengan desain A ternyata laris dipilih oleh pembeli, sementara desain B tidak ada yang menginginkannya. Melalui mekanisme pasar, penjahit tersebut mengetahui bahwa menggunakan modal yang ia miliki, seperti mesin jahit serta ketrampilan menjahit, untuk membuat baju dengan desain A merupakan pilihan yang lebih efisien dan produktif daripada membuat baju desain B.

Hal yang sama juga berlaku bagi para pelaku ekonomi lain, seperti pembuat makanan, perusahaan teknologi, pedagang alat-alat rumah tangga, para investor, serta jutaan produsen barang dan jasa lain yang jumlahnya bukan main banyaknya. Mekanisme pasar memungkinkan mereka untuk mengetahui cara terbaik untuk menggunakan modal yang mereka miliki untuk memproduksi sesuatu yang konsumen butuhkan dan inginkan.

Butler juga menulis bahwa modal merupakan sesuatu yang terstruktur dan saling terkait. Oleh karena itu, adanya gangguan dari salah satu jaringan pemodalan tersebut dapat membawa dampak yang masif bagi perekonomian.

Ambil contoh tentang pembuatan jaket wol misalnya. Untuk membuat produk tersebut dari bahan mentah hingga ke tangan konsumen, dibutuhkan jaringan pemodalan yang besar, seperti pertokoan dan perlangkapannya, gudang, truk untuk mendistribusikan jaket tersebut, hingga pabrik pemintal serta alat pembuat benang dan gunting.

Selain itu, dibutuhkan juga kapal-kapal dan pesawat yang digunakan untuk memindahkan bahan-bahan mentah untuk membuat peralatan yang dibutuhkan dalam proses tersebut. Tidak boleh dilupakan juga, modal pasokan makanan, pakaian, hingga hunian untuk para pekerja yang ikut dalam proses produksi ini.

Apabila ada salah satu barang modal yang hilang, maka hal tersebut dapat mengganggu seluruh jalinan rantai produksi yang masif ini. Bila pabrik pewarna tidak ada misalnya, maka kain wol yang sudah selesai diproses tidak bisa diteruskan ke penenun serta penjahit, dan tidak bisa dikirimkan untuk dijual oleh para pengecer dan pemilik toko. Akibatnya para penenun, penjahit, pengecer serta pemilik toko akan mengalami pengurangan penghasilan.

Oleh karena itu sangat penting untuk menjaga struktur modal agar dapat berjalan secara efisien dan produktif. Salah satu hal yang kerap menjadi pengganggu struktur modal agar dapat beroperasi dengan baik adalah kebijakan pemerintah yang buruk, yang dapat memberi sinyal salah kepada para pelaku ekonomi.

Butler memberi contoh salah satu bentuk intervensi pemerintah yang dapat merusak struktur modal, yakni siklus perdagangan boom and bust yang terjadi karena pemerintah berupaya menstimulasi ekonomi dengan cara menurunkan suku bunga dan meningkatkan jumlah uang yang beredar.

Selanjutnya, yang terjadi adalah masyarakat akan melakukan konsumsi lebih banyak, terutama untuk barang-barang mewah, karena return yang mereka dapat dari menabung di bank semakin berkurang dan kredit bunga pinjaman menurun. Para produsen meresporns situasi tersebut dengan berinvestasi lebih besar terhadap barang-barang modal untuk memproduksi barang mewah, seperti pabrik mobil, dll.

Akibatnya, bank akan semakin kehilangan dana yang dapat digunakan untuk memberikan kredit karena para nasabah mengambil uangnya. Bank pun memutuskan untuk menarik kredit yang diberikan. Menghadapi hal tersebut, konsumen kembali membeli barang-barang dasar yang harganya lebih murah, akan tetapi produsen sudah terlanjur menginvestasikan modalnya untuk memproduksi barang-barang mewah.

Akibatnya pabrik-pabrik yang memproduksi barang mewah tersebut tutup karena kehilangan konsumen. Para pekerjanya dirumahkan, serta pertokoan yang menggantungkan diri dari menjual produk-produk mewah yang dihasilkan dari pabrik tersebut juga mengalami kebangkrutan. Ini semua akibat upaya pemerintah yang ingin menstimulasi ekonomi akan tetapi tidak melihat dampak yang akan timbul terhadap jaringan modal karena kebijakan tersebut.

Dalam buku ini, Butler juga membahas tentang dimensi moral dari kapitalisme.  Butler menulis bahwa teramat banyak berbagai kritik yang dialamatkan kepada kapitalisme yang justru tidak ada kaitannya dengan gagasan kapitalisme itu sendiri.

Eksploitasi misalnya, merupakan hal yang cukup sering dilekatkan dengan kapitalisme. Meskipun demikian, kapitalisme dan eksplotasi bukanlah hal yang berhubungan. Kapitalisme berjalan atas dasar kesukarelaan dan voluntarisme, bukan dengan memaksa orang lain untuk memproduksi atau mengkonsumsi barang dan jasa tertentu.

Setiap individu memiliki kebebasan untuk bekerja atau membuat karya sesuai dengan keinginannya sendiri. Agar dapat terus beroperasi, sebuah perusahaan dalam kapitalisme harus mampu membuat produk yang terbaik dan dengan harga yang sesuai bagi konsumen, dan  pembeli pun mendapat manfaat dari uang yang mereka keluarkan.

Kapitalisme juga kerap disandingkan dengan praktik kronisme, pemerintah memberi keistimewaan terhadap pelaku ekonomi tertentu. Hal ini merupakan kesalahan yang sangat fatal karena kronisme dan kapitalisme adalah hal yang sangat bertolak belakang.

Kapitalisme menjunjung tinggi adanya institusi pasar yang bebas dan terbuka. Sebuah perusahaan apabila ia ingin mendapat keuntungan yang besar dan menang dalam persaingan dengan perusahaan lain, maka ia harus dapat berinovasi dengan memberi produk yang terbaik sesuai dengan keinginan konsumennya. Apabila ada perusahaan lain yang mempu memberi produk yang lebih baik, maka secara natural konsumen akan berpindah ke produsen lain.

Kerakusan juga merupakan hal yang tak jarang diasosiasikan dengan kapitalisme. Akan tetapi, Butler menulis, kerakusan merupakan hal yang terjadi dimana-mana, baik di negara yang mempraktikkan kapitalisme, ataupun di tempat lain yang menggunakan sistem yang berbeda.

Akan tetapi, yang berbeda adalah, kapitalisme menyalurkan keinginan sesorang untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan cara apabila ia dapat membuat sebuah produk yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Seseorang tidak boleh mendapatkan uang dengan cara menipu, merampok, ataupun memaksa orang lain untuk membeli produk yang ia tawarkan.

Selain itu, apabila ada seorang pelaku ekonomi yang ingin mendapat keuntungan sebesar-besarnya dengan cara yang merugikan kosumen, ia pasti akan segera ditinggalkan oleh pembeli. Sebuah restoran yang memberikan harga terlalu tinggi jauh diatas tempat makan lain pasti tidak akan dikunjungi oleh siapapun.

Hal yang justru sering luput (atau sengaja memang diabaikan) oleh para pengkritik kapitalisme adalah, bagaimana gagasan tersebut telah berhasil membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi miliaran orang di dunia. Pada tahun 1990 misalnya, menurut World Bank ada sekitar 40% populasi dunia yang hidup dibawah $1,9/ hari yang merupakan garis batas kemiskinan, dan pada tahun 2018 jumlah tersebut menjadi kurang dari 10%.

Berkat kebijakan pembukaan pasar yang merupakan salah satu pilar terpenting dari kapitalimse, pada akhir dekade 1980an,  China, India, dan bekas negara-negara komunis di Eropa Timur mengalami penurunan drastis kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Negara-negara yang dikenal sebagai "Macan Asia", diantaranya Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan Korea Selatan, pada akhir perang dunia II merupakan negara yang sangat miskin, namun sekarang menjadi beberapa negara terkaya di dunia berkat kebijakan keterbukaan pasar.

Serangan lain terhadap kapitalisme yang sering kita temukan adalah terkait dengan kesetaraan, bahwa kapitalisme akan meningkatkan kesenjangan sosial. Akan tetapi, Butler menulis ada permasalahan yang besar dari cara berpikir demikian, yakni siapakah yang berhak untuk mendefinisikan kesetaraan, dan bagaimana caranya?

Butler memaparkan bahwa ketimpangan merupakan suatu keniscayaan akibat terjadinya pertukaran. Seorang penyanyi terkenal misalnya, mampu mendapatkan uang dalam jumlah yang besar dalam satu konser, karena fans dari penyanyi tersebut secara sukarela bersedia membayar tiket dengan harga yang tinggi.

Pada saat konser tersebut selesai hampir bisa dipastikan bahwa penyanyi tersebut memiliki uang yang lebih banyak daripada para fans yang menontonnya, namun bukan berarti hal tersebut merupakan sesuatu yang salah. Para penonton dari konser tersebut juga mendapatkan sesuatu dari yang mereka bayarkan yakni kesenangan dan kegembiraan.

Kesetaraan finansial merupakan hal yang sangat utopis dan juga berbahaya karena hal tersebut harus melibatkan koersi dari negara untuk mencegah terjadinya kesenjangan yang disebabkan oleh pertukaran sukarela. Oleh karena itu, daripada fokus pada kesetaraan, lebih baik kita menggunakan tenaga kita untuk mencapai kesejahteraan, yang sudah terbukti berhasil berkat dari penerapan prinsip-prinsip kapitalisme.

Berbeda dengan sosialisme, kapitalisme, tulis Butler, bukanlah gagasan utopis yang menjual impian akan hadirnya masyarakat surgawi yang terbebas berbagai kesulitan. Kapitalisme merupakan gagasan yang realistis, yakni bagaimana menggunakan modal secara efisien dan produktif untuk membawa pertumbuhan yang akan meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran.

Di bagian selanjutnya dari buku ini, dipaparkan pula ringkasan tentang para pemikir besar gagasan kapitalisme serta ide-ide yang mereka bawa, seperti Adam Smith, Ludwig von Mises, F. A. Hayek, dan Milton Friedman. Butler juga membahas tentang masa depan kapitalisme, serta tantangan dan ancaman yang akan dihadapi oleh gagasan tersebut pada waktu mendatang.

Sebagai penutup, buku terjemahan "Kapitalisme: Modal, Kepemilikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia" karya Eamonn Butler ini merupakan literatur yang sangat penting yang membahas mengenai kapitalisme bagi masyarakat Indonesia. Semoga melalui buku ini, akan semakin banyak pembaca yang dapat melihat kapitalisme dari sudut pandang yang berbeda, dan berhasil terbebas dari berbagai kritikan dan cemoohan menyesatkan yang sering dilontarkan oleh kelompok-kelompok kiri terhadap kapitalisme.

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]