KETIKA ULAMA DIKRITIK

Resensi    | 12 Jun 2019 | Read 145 times
KETIKA ULAMA DIKRITIK

Detail Buku

  • Judul: Kerancuan Berpikir Para Pemimpin Agama
  • Penulis: Dr. Nader Poerhassan
  • Jumlah Halaman: 318
  • Tahun Terbit: 2004
  • Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Dalam memeluk agama, orang-orang dituntut pada kesetiaan dan keikhlasan mereka dalam beragama. Ketika manusia telah mengikrarkan diri mereka untuk taat setia pada agama, maka  ia telah menyambung tali spiritual dengan Tuhan. Dengan demikian, ketaatan dan ketundukan sangat ditekankan bagi setiap pemeluk agama.

Berbeda ketika sedang manusia menghadapi soal kehidupan, seperti ekonomi, hukum, atau sains yang mendorong kita untuk bersikap kritis dan rasional, namun dalam masalah keimanan,  kita diposisikan bersikap taken for granted harus mempercayai dan mengikuti suatu ajaran ilahi tanpa reserve (syarat).

Alasan sederhana mengapa dalam beragama seseorang harus taat pada dogma, disebabkan agama merupakan kumpulan ajaran, petunjuk, firman-firman Tuhan yang Maha Esa. Tuhan membimbing manusia melalui agama  agar manusia selamat  karena manusia ingin selalu selamat dan dekat dengan Tuhan yang Maha Pengasih, maka konsekuensinya, setiap ajaran dan firman Tuhan harus diikuti secara bulat.

Dalam ilmu teologi, Ibn Sina dan Agustinus menggambarkan Tuhan sebagai zat sakral yang transenden dan sempurna, karena itulah ajarannya pasti mengajak pada kebaikan dan kesempurnaan rohani manusia. Namun, karena Tuhan adalah yang Maha Transenden (gaib), Tuhan tidak secara langsung berbicara pada manusia, ajaran-ajaran agama itu disampaikan kepada manusia yang diyakini untuk mengikuti jalan Tuhan dan meneliti Tuhan melalui kitab suci, mereka inilah para agamawan atau ulama.

Kesakralan Tuhan tidak berarti membuat agamawan atau ulama menjadi sakral. Teks-teks kitab suci yang ditafsir manusia merupakan hasil interpretasi individual para ulama terhadap kehendak Tuhan dalam kitab suci.

Karena ulama juga manusia yang tidak lepas dari sifat-sifat manusiawi seperti kecacatan, kealpaan, dan hasrat ego diri, maka fatwa-fatwa ulama dan juga hasil ijtihad (pemikiran) mereka dapat dikaji ulang bahkan dikritik. Buku The Corruption of Moeslem Minds, (terjemahan B. Indonesia: Gara-Gara Ulama) karya Nader Poerhassan, adalah salah satu bentuk kritik Beliau terhadap beberapa ajaran para agamawan, yang ia anggap tidak sesuai dengan tuntunan Al-Quran.

Kritik Nader terhadap Islam tidak bertujuan untuk mendestruktifkan agama sebagaimana kritikan Ibn Warraq dan Ali A. Rizvi. Nader hanya ingin memberi penjelasan bahwa citra Islam yang digambarkan Quran dengan apa yang diajarkan para ulama sangat berbeda, sehingga ia mengajak agar umat Islam lebih mendalami kitab suci mereka dan bersikap kritis terhadap seruan para ulama yang kadang bernada keras bahkan mengandung kebencian.

 

Biografi Singkat “Sang Pengkritik”

Nader Poerhassan lahir di Iran  tahun 1963. Nader lahir dalam keluarga yang sangat kental dalam memeluk agama Islam  juga memegang teguh tradisi Madzhab Syiah secara fanatik. Nader hidup ketika Perang Dingin tengah berkecamuk dan Revolusi Islam Iran mulai merubah situasi politik Iran.

Politik kerajaan Iran pada masa itu tengah goncang oleh gerakan Revolusi Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Ruhulloh Khomeini. Kursi kekuasaan Shah Iran tengah dalam keadaan kritis digempur oleh para pendukung revolusi. Kebijakan Modernisasi Iran yang dicetuskan oleh Shah banyak dikritik oleh rakyat dan dianggap sebagai bentuk Westernisasi Iran.

Berkobarnya semangat Revolusi Islam juga dirasakan oleh keluarga Nader. Pada tahun 1976, Nader bersama adiknya, Amir, melanjutkan studi mereka di Amerika dengan ditemani oleh sang Ibu. Walaupun Nader akan melanjutkan studi ke Amerika, bukan berarti keluarga mereka menyukai tradisi dan masyarakat Amerika. Nader kerap dinasihati oleh sang nenek bahwa Amerika adalah “Setan besar” dan masyarakat Amerika adalah masyarakat yang dimurkai Tuhan.

Namun selama berstudi di Amerika, justru Nader dan Amir mendapatkan gambaran positif yang berbeda dari cerita orang-orang Iran tentang Amerika. Masyarakat Amerika sangat baik terhadap orang lain, religius, dan menghormati keyakinan apapun. Rasa kagumnya pada Amerika dan masyarakat Amerika kemudian membuat Nader jatuh hati dan menikahi perempuan Amerika (beragama Kristen tentunya).

Apa yang dilakukan Nader mendapat tantangan keras dari keluarganya dan ulama setempat. Bagi penganut konservatif Syiah, seorang Kristen adalah najis yang wajib berwudhu (bersuci dengan air) jika tersentuh atau menyentuh mereka. Apalagi politik Iran yang sangat anti Amerika membuat Nader dicap sebagai penghianat agama.

Tuduhan pahit dari keluarga dan pemuka agama membuat hati Nader tergerak untuk kembali membaca teks kitab suci Al-Quran. Dan semakin ia membacanya hati Nader menjadi puas dan mantap bahwa AL-QURAN SANGAT MENGHORMATI KAUM NON-MUSLIM dan menyuruh umat Islam untuk menebar kebajikan tanpa memandang pamrih. Hal ini pulalah yang membuat Nader yakin bahwa rumit dan kerasnya agama Islam disebabkan oleh distorsi para agamawan.

 

Antara Tuhan dan Agamawan

Dalam tradisi Syiah di Iran,  agama mempunyai struktur hirarki,  yang telah membuat kelas dalam agama, yaitu masyarakat terpelajar dan masyarakat awam. Nader melihat bahwa hirarki keagamaan tersebut dibuat agar umat awam jauh dari kitab suci mereka, dan menganggap bahwa hanya para ulama (baik bergelar Hujjatul Islam atau Ayatullah) yang berhak menafsir kitab suci dengan alasan kitab suci sangat sulit untuk dipahami.

Tetapi kenyataannya, Allah  dalam Al-Quran sendiri menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan dengan bahasa yang mudah dipahami: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Quran Surah Yusuf (12) ayat ke-2 ). Dengan begitu, Al-Quran bukan secara ekslusif bisa ditafsirkan oleh para pemuka agama, tetapi juga umat awam.

Bagi Nader, agama Islam adalah agama yang mudah untuk dipahami. Pesan sederhana dari Tuhan itu terus bergema tanpa pernah berubah di sepanjang sejarah  manusia. Namun, menurut Nader, pesan itu telah didistorsi oleh pemimpin-pemimpin agama dimana kehendak pribadi mereka lebih dominan dalam menafsirkan kitab suci.

Secara garis besar, kritik Nader mengarah pada pandangan para ulama yang membuat Islam menjadi agama ekslusif, keras dan sangat anti Non-Muslim.  Nader mengambil contoh  Ayatullah Khomeini yang berpidato berapi-api ditengah rakyat Iran mengajak jihad melawan Amerika dan negara kafir. Para pendengar pidato tersebut dengan bersemangat mengumandangkan takbir dan mengutuk: “Mampus Amerika, Mampus Soviet, Mampus Israel!!”

Dengan sinis Nader menulis, orang-orang yang meneriakkan yel-yel itu mengaku dirinya saleh? Padahal dalam AlQuran banyak ayat-ayat yang mengakui iman kelompok Kristen dan Yahudi yang notabene sering dimusuhi oleh pemuka agama, salah satunya:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Quran: 2: 62).

Namun masih saja para pemuka agama mengatakan bahwa jalan keselamatan satu-satunya hanya pada agama mereka.

***

Konservatisme para ulama juga menjadi wabah ditengah masayrakat. Nader mengisahkan tentang masa dimana ketika di Iran mulai  muncul toko obat moderen ala Barat (apotek). Para ulama menjelaskan kepada masyarakat bahwa toko obat tersebut mengandung alkohol dan bahan najis untuk manusia. Orang-orang lebih mempercayai air doa atau azimat kesembuhan yang diberikan oleh para orang saleh tersebut ketimbang membeli obat untuk penyakitnya di apotek.

Di tempat lain, ketika Shah Iran membuka pipa-pipa saluran air ke rumah-rumah, para orang saleh justru berfatwa bahwa mandi junub (mandi selepas bersetubuh) tidak sah dengan air pancuran (pipa), tetapi wajib menyeburkan seluruh tubuh 3x  di kolam renang. Nader mengatakan bahwa fatwa ini dipesan oleh para pengusaha pemandian umum yang omzetnya menurun karena adanya pipa air di tiap rumah.

Dua peristiwa di atas menggambarkan hukum-hukum buatan para ulama yang tidak masuk akal tersebut telah menyebabkan kemunduran di masyarakat. Selain kepada kelompok ulama Islam, kritik Nader juga ditujukkan kepada kaum Kristiani. Kaum Kristiani selalu menganggap bahwa jalan keselamatan satu-satunya adalah percaya pada Kristus.

Nader sempat menguji seorang pendeta  Kristen: Jika ada anak kecil tidak percaya Kristus, apakah ia mendapat keselamatan?” Sang pendeta menjawab “tidak”. Nader bertanya sedikit mendesak, Jika kamu mempunyai otoritas surga dan neraka, akan kau taruh dimana anak kecil itu?” Saya penuh kasih, tentu saya masukan ke surga” ucap pendeta. Nader kemudian mendebat, “Jika kamu anggap memasukan anak kecil ke neraka adalah perbuatan tanpa kasih alias jahat, bagaimana mungkin anda berpikir Tuhan itu Maha Jahat dan tidak memaafkan ciptaanNya?”

Nader menekankan bahwa antara Agama Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki tali kesinambungan sebagai ajaran Tuhan. Bahkan Al-Quran sendiri menuntut agar umat Islam mengakui kitab suci Taurat dan Injil “Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.”(Quran Surat Ali Imraan ayat 30).

Perpecahan dan konflik dalam agama merupakan bentuk penyelewengan terhadap kitab suci yang Tuhan turunkan. Hal ini dijelaskan Nader bahwa adanya peperangan terhadap agama lain, merupakan propaganda yang salah oleh para agamawan yang intoleran. Agamawan intoleran tersebut lahir ditengah-tengah masyarakat dan mengubah apa yang Tuhan turunkan.

 

Sebuah Tanggapan

Di halaman 96, Nader menulis, ” Tujuan saya menulis buku ini bukanlah untuk mendikte Anda tentang apa yang harus Anda pikirkan tentang Islam ataupun Al-Quran. Harapan saya adalah, Anda mampu menafsirkan sendiri pesan-pesan Al-Quran.

Serupa dengan semangat Martin Luther sang reformer Gereja, Nader Poerhassan menginginkan agar setiap umat Islam mampu membaca kitab suci dan menafsirkannya secara independen.  Kritikan Nader terhadap ulama dan para agamawan pada umumnya dikarenakan rasa muaknya pada aturan-aturan diskriminatif yang dikumandangkan oleh para Mullah baik, tentang perempuan maupun orang yang dicap kafir.

Nader telah membaca Al-Quran secara sistematis dan ia mengatakan bahwa Al-Quran sangat mengecam bentuk fraksi atau perselisihan dalam agama. Nader berpendapat bahwa kerusakan agama dan distorsi pasti didalangi oleh agamawan. Saya pribadi tidak setuju dengan pandangan Nader yang terlampau negatif pada ulama.

Munculnya hukum-hukum agama yang ditulis oleh para ulama tidak sepenuhnya tepat jika dianggap sebagai merubah firman Allah karena problem sejarah dan budaya membuat penganut agama harus mengkontekstualkan ajaran dalam kitab suci agar sesuai dengan situasi zamannya. Inovasi dalam agama yang dipandang Nader secara negatif tidak sepenuhnya benar.

Nader juga lupa bahwa tidak semua ulama bersikap intoleran dan ekstrimis. Banyak contohnya para ulama Islam yang berpandangan humanis, bahkan terhadap kaum Non-Muslim. Contohnya Sayyid Musa Sadr, Gus Dur, Asghar Ali Engeneer, dan Syaikh Salman Al-Audah. Para ulama Islam ini justru membela eksistensi kaum Non-Muslim, menolak ketimpangan gender dan membela demokrasi.

Memang paham ekstrimisme dan teror bisa terjadi pada agama manapun. Semangat rasial dan ego politik bisa membuat agama yang damai menjadi agama perang yang haus darah. Namun sekali lagi, tidak berarti agama atau ulama secara keseluruhan harus disalahkan.

Di sisi lain, setidaknya Nader membuka mata kita lewat bukunya, bahwa seorang ulama bukanlah individu yang patut disakralkan selain Tuhan. Ketika fatwa ulama bertentangan dengan visi Islam dan agama manapun, maka turutilah hati nurani kita untuk berkata tidak kepada tindakan kekerasan walau dibungkus oleh dalil agama.

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]