KAPITALISME SOVIET?

Resensi    | 28 Mei 2019 | Read 443 times
KAPITALISME SOVIET?

Detail Buku

  • Judul: Kapitalisme Soviet?: Sebuah Catatan Perjalanan
  • Penulis: Tjipta Lesmana
  • Jumlah Halaman: 277
  • Tahun Terbit: 1987
  • Penerbit: Erwin-Rika Press

 

”Uni Soviet adalah sebuah negeri yang menarik untuk disimak. Dalam segala hal, banyak keanehan di sini yang sebelumnya tidak pernah kita saksikan di negara-negara lain yang pernah kami kunjungi. Keanehan-keanehan yang kami jumpai mungkin ciri dari masyarakat sosialis”

(Tjipta Lesmana dalam buku Kapitalisme Soviet?)

 

Apa yang ada di pikiran kita tentang Uni Soviet? Komunis? Kolkhozi (Pertanian Kolektif)? Tentara Merah? Adi kuasa? Uni Soviet sangat identik dengan istilah diatas, namun lebih dari itu, Uni Soviet adalah negara adidaya yang menyimpan sisi menarik, romantik, mimpi, dan penuh misteri.

Banyak orang yang tertarik dan penasaran terhadap negara sosialis terbesar yang pernah hidup dimuka bumi dan menancapkan pengaruhnya ke berbagai negara. Ya, negara yang pernah eksis ini dalam tempo waktu 30 tahun dapat menyulap tanah Rusia yang terbelakang dan miskin menjadi negara maju.. Walau hanya sementara.

Uni Soviet atau Rusia adalah negara berdaulat yang membentang dengan luas di sebelah timur Eropa dan utara Asia. Di zaman kekaisaran Tsar, Rusia menjadi negara yang cukup disegani di Eropa. Menurut J.A.C Mackie dalam buku Sedjarah Pembangunan Ekonomi, perkembangan ekonomi di era kekaisaran Rusia cukup mengherankan, dimana pola masyarakat masih sangat feodal, model pertanian mereka masih primitif, dan ketiadaan demokrasi membuat perkembangan manusia Rusia berada dibelakang negara-negara eropa lainnya.  

Namun, keadaan kemudian berubah ketika Revolusi Bolsheviks yang membawa ideologi Komunis datang dan merubah tatanan sosial, politik dan ekonomi Rusia. Kaum Komunis Rusia (yang kemudian membentuk Uni Soviet) telah menyulap negara terbelakang di Eropa menjadi negara adikuasa diabad 20.

Uni Soviet selalu menjadi contoh bagi aktivis sosialis dan kelompok kiri sebagai contoh keberhasilan sosialisme. Kaum pekerja mendapatkan gaji besar, daya beli masyarakat tinggi, subsidi di berbagai bidang, teknologi yang maju, perusahaan ditangan negara sehingga tidak ada lagi kaum kapitalis yang dianggap sebagai penghisap. Kejayaan sosialisme di Uni Soviet bercampur antara kenyataan dan mitos,

Buku Kapitalisme Soviet?: Sebuah Catatan Perjalanan, ditulis untuk mendeskripsikan bagaimana reaksi masyarakat soviet setelah Pemimpin tertinggi Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, mengubah kebijakan politik Uni Soviet melalui program Perestroika (pembaruan) dan Glasnost (keterbukaan).

Gorbachev melakukan restukturasi dan pembaruan dalam masalah ekonomi dan politik Soviet, yang didorong oleh resesi dan stagnasi yang melanda Uni Soviet. Pengeluaran untuk biaya pertahanan dan juga politik luar negerinya membuat perekonomian Soviet terpuruk dan jauh tertinggal dari rivalnya, Amerika.

Pada era 60an, Uni Soviet berhasil meraih puncak kejayaan dan menyusul Amerika Serikat. Nikita Khruschev yang menjadi sekjen partai Komunis Uni Soviet, mengadakan perbaikan dalam hal ekonomi, sosial dan politik. Khruschev berusaha untuk memberikan kebebasan bagi masyarakat dan reformasi ekonomi.

Namun proses liberalisasi Soviet yang dilakukan Khruschev terhenti ketika ia digantikan oleh Leonid Brezhnev. Brezhnev berbeda dengan Khruschev, Brezhnev seorang stalinis yang konservatif. Program sentralisasi ekonomi, kecurigaan terhadap budaya nonsosialis, dan juga pembatasan kebebasan individu membuat Soviet mengalami masa stagnasi, baik di bidang budaya, teknologi dan ekonomi. Masa stagnasi ini berusaha diakhiri ketika Gorbachev berusaha melakukan pembaruan dan demokratisasi di bidang politik dan ekonomi.  

SOSIALIS DENGAN SEDIKIT KAPITALISME

Penulis buku ini secara detail menggambarkan suasana masyarakat Soviet yang tengah beralih dari sistem kediktatoran menuju ke arah demokrasi dan keterbukaan. Tahun 1987 adalah tahun terpenting dalam sejarah Uni Soviet. Gorbachev menyadari bahwa stagnasi dan resesi yang dialami Uni Soviet diakibatkan ketidakefisien program politik dan ekonomi yang diwariskan rezim yang lampau.

Di era Breznhev, Chernenko, dan Andrey Gromyko, Soviet terlampau menutup diri dari tren yang berkembang di Eropa dan seluruh dunia. Program persenjataan nuklir dan juga kebijakan luar negeri yang bersifat konfrontatif telah menyebabkan pembangunan ekonomi mengalami kemandekan. Ditambah lagi sikap ABS (asal bapak senang) dan juga sistem managemen yang rumit dan sangat tidak efisien, sehingga produktivitas industri Soviet terus merosot.

Gorbachev berpandangan, jika Soviet ingin maju dan berkembang, tidak bisa tidak, kebebasan dan restrukturasi birokrasi harus dilakukan. Selain itu, pembangunan Soviet membutuhkan stabilitas dan keamanan baik dari dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, Gorbachev menyerukan perdamaian dan mengkampanyekan anti senjata nuklir. Gorbachev bersedia satu duduk satu meja dengan rivalnya George Bush Sr. untuk menghentikan program nuklir yang mengancam masyarakat dunia.

Program Perestroika dalam bidang ekonomi, adalah membuat  program “Sentralisme Baru” yang sebenarnya suatu program desentralisasi. Di Soviet, semua perusahaan adalah milik negara. Dengan demikian, wajar jika pada masa sebelum Perestroika, elit partai dan kaum birokrat ikut campur tangan dalam mengurus perusahaan. Campur tangan elit partai dan dikte dari birokrat terhadap perusahaan-perusahaan di Soviet, membuat produktivitas menurun, kinerja perusahaan tidak efisien, dan timbul sikap acuh tak acuh dari pengelola perusahaan.

Gorbachev kemudian memberikan kebebasan yang luas pada pengelola pabrik dan pertanian Soviet untuk mengurus manajemen perusahaannya tanpa ada campur tangan dari birokrat partai atau aparat pemerintahan. Normalisasi bagi perusahaan di Soviet bertujuan untuk mendorong kreativitas tiap perusahaan untuk mengembangkan produk yang terbaik.

Prinsip dasar komunis adalah negara memiliki seluruh alat produksi. Setiap toko, restoran, agen koran, serta semua badan usaha dikelola atau milik negara. Di Soviet, masyarakat selalu antri untuk membeli kebutuhan pokok. Ini disebabkan jumlah toko dan pusat perbelanjaan tidak sebanyak di negara kapitalis. Semua barang yang dijual memiliki kualitas dan harga yang sama, sehingga pembeli tidak bisa memilih dan melakukan penawaran harga.

Penulis mengambarkan bahwa  di Soviet orang berbelanja bukan untuk cuci mata, tetapi benar-benar ingin membeli. Antrian yang panjang karena toko tidak mampu menampung keinginan pembeli. Jumlah toko yang sedikit dan juga jam operasional toko yang sempit (dari pukul 08.00 dan serentak tutup pada jam 21.00) akhirnya membuat pembeli antri berjubel untuk mendapatkan barang.

Perestroika yang baru diterapkan pada bulan Juli 1987 bertujuan untuk mengubah budaya kerja masyarakat Soviet dimasa depan. Yang menjadi problem pada masa itu, karena setiap usaha toko adalah milik negara, para pengelola bersikap acuh dan tidak memiliki rasa tanggung jawab. Di Soviet, tidak mengenal istilah “pembeli adalah raja”, sehingga para pekerja toko tidak merasa perlu memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen. Toh, mereka yang butuh...

Sikap pedagang Soviet tentu berbanding terbalik dengan negara-negara kapitalis seperti Amerika, dimana para penjual harus berusaha jungkir-balik untuk menarik dan memuaskan pelanggan. Di negara sosialis seperti Uni Soviet, penghargaan terhadap pembeli tidak ada, bahkan untuk restoran, para pelayan hanya bertugas sebagai penjaga kasir dan membereskan makanan, selebihnya self service.

Pola kerja Soviet yang berdampak pada stagnasi ekonomi ini, berusaha untuk diubah lewat Perestroika. Di zaman Brezhnev dan Chernenko, setiap toko dan pabrik sangat dimanja oleh pemerintah. Jika ada perusahaan yang mengalami kerugian, maka pemerintah akan turun langsung plus memberikan dana bantuan. Di era Gorbachev, kebiasaan itu diubah, setiap perusahaan yang bangkrut atau kerugian, maka pemerintah tidak akan memberi bantuan, agar tiap pengelola usaha atau Kolkhoz memutar otak dan berinovasi secara mandiri untuk mengelola usahanya.

Jika dulu pemerintah komunis mengontrol perusahaan secara ketat, baik urusan pendirian, pengelolaan, jumlah barang yang di produksi, serta manajemennya, di era Gorbachev pola kebijakan yang tidak efektif itu dihapus. Gorbachev memberikan hak otonomi yang besar bagi pengelola usaha untuk membuka dan mengatur perusahaan. Bahkan, Gorbachev mengizinkan (sejauh tidak melanggar prinsip sosialis) perusahaan milik pribadi.

Perestroika mengendorkan kontrol pemerintah terhadap jalannya perekonomian negara, serta memberikan sedikit peluang bagi kapitalisme untuk hidup dan berkembang di negara sosialis tersebut. Jika komunisme biasanya sangat alergi dengan kapital dan bisnis, komunisme dibawah Gorbachev justru membuka diri pada pasar. Gorbachev melepaskan kontrol harga barang-barang pokok dan memberi peluang bagi para investor untuk menanam modal di Uni Soviet.

Di bidang sosial dan budaya, Uni Soviet dibawah rezim Stalin dan Brezhnev, sangat alergi terhadap agama dan budaya luar negeri. Namun, sikap alergi dan tertutup itu, menurut Gorbachev, justru menyebabkan kebudayaan Soviet tidak berdialektika alias berkembang. Program Glasnost (keterbukaan) mengizinkan kebudayaan luar dan juga agama berkembang secara bebas. Musik rock n roll dibiarkan bebas bergema di sudut kota Moscow, bahkan band rock Soviet seperti Kino, mendapat sambutan hangat oleh masyarakat Soviet.

Kebebasan agama di Soviet juga ditandai dengan mulai banyaknya rumah ibadah yang berdiri di era Gasnost. Dibawah Gorbachev, urusan iman diberi kebebasan dan pemerintahan Gorbachev tidak akan memberikan kecaman terhadap agama manapun sebagaimana saat kaum komunis konservatif berkuasa.

Di bidang Pers, Pemerintah Soviet mengizinkan surat kabar-surat kabar berdiri dan bebas untuk mengkritik. Salah satu landasan dari Perestroika dan Glasnost yang dicanangkan oleh pemerintah adalah memberi kebebasan yang luas. Kebebasan pers berarti membuka peluang kritik otokritik, dan kritikan ini menjadi referensi oleh rezim Gorbachev untuk membenahi kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah.

 

DARI PERESTROIKA KE DEMOKRASI

Tujuan dasar dari program Perestroika dan Glasnost ialah menciptakan perkembangan dinamis bagi pembangunan Uni Soviet. Pemerintah Soviet dibawah Gorbachev sadar bahwa kebebasan dan demokrasi sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan. Negara tidak akan pernah bisa mengetahui keinginan, potensi, dan semangat mencipta masyarakat Soviet, jika tidak ada kebebasan bagi masyarakat untuk berkreasi dan berekspresi.

Stalinisme telah menciptakan budaya manusia robot, dimana para buruh dipaksa bekerja keras melebihi target produksi perhari (kerja semacam ini disebut Stakhanovisme dan telah dilarang dalam Undang-Undang perburuhan negara-negara kapitalis). Ya, mungkin Soviet berhasil menghilangkan “kapitalis individu”, tetapi menciptakan “kapitalisme negara” yang justru merampas kebebasan Individu.

Ketika sistem robot dan penyeragaman ala komunis terbukti menyebabkan stagnasi ekonomi dan budaya, menghidupkan kembali spirit kebebasan dan demokrasi di negara adalah syarat mutlak untuk keluar dari keadaan tersebut. Namun, program demokratisasi nampaknya terlambat dilakukan. Negara-negara bagian di Uni Soviet, seperti Ukraina, Latvia, Estonia, dan Lituania yang ditindas secara paksa oleh rezim Soviet ingin benar benar “bebas” dari Uni Soviet dan dogma komunis.

Ketika kaum konservatif partai komunis melakukan kudeta terhadap pemerintahan Gorbachev dan mengembalikan sistem komunis ala Stalin dan Brezhnev, rakyat di Rusia, Ukraina, Latvia, Moldova, Georgia dan Armenia menolak kudeta Agustus yang dipimpin oleh Gennandy Yanayev yang berujung pada kegagalan kudeta dan bubarnya Uni Soviet.

Uni Soviet memang ditakdirkan menjadi negara adidaya dengan umur yang pendek. Pengekangan terhadap kebebasan, kreativitas, dan juga ekonomi, berujung pada jatuhnya Uni Soviet kepada stagnasi dan kemunduran. Jika kita melihat kemajuan ekonomi dimasa Khruschev dan  Gorbachev, tidak lain karena dibukanya KEBEBASAN dalam ekonomi dan berpikir.

Kebebasan sangat penting bagi perkembangan suatu negara, sebab efek positif dari kebebasan membuat kebudayaan dan ekonomi negara menjadi berkembang secara dinamis. Venezuela saat ini menjadi negara yang (seolah) tidak belajar dari sejarah keruntuhan negara-negara Sosialis. Watak memanjakan rakyat dengan subsidi, monopoli pemerintah dalam bidang ekonomi, mengurangi kebebasan rakyat, justru menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan menghancurkan semuanya.  

*****

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]