Opini

Saya sudah lelah dan jengkel mendengar tuduhan kaum pengusung khilafah bahwa bobroknya negara ini karena liberalisme. Tuduhan yang didasarkan pada kurangnya pemahaman tentang apa itu liberalisme. Saya bahkan ingin menghadirkan argumen: Kalau negara ini bobrok, justru karena kita kurang liberal!
Hukuman mati. Sebuah slogan baru yang (mungkin) sedang menjadi buah bibir. Kehebohannya tidak kalah dengan batu akik. Di koran, di televisi hingga bahkan di bawah lampu remang warung-warung pantura, semua berbincang lebar menyoal bagaimana hukum menyelesaikan kisah hidup seseorang (capital punishment).
Terbitnya instruksi walikota Banda Aceh yang membatasi jam malam bagi perempuan di luar rumah menuai pro kontra. Paling tidak hal ini menjadi diskursus terhadap bagaimana negara dalam melaksanakan kekuasaannya acapkali bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan (justice) masyarakat.
Kitab undang-undang itu kini tidak ubahnya seperti sebuah bedil, strum listrik (electrocution), menara pancungan atau juga bahkan arak-arakan mazzatello (hukuman mati seperti membunuh sapi di era kepausan). Itulah, jikalau hendak kita kaitkan antara yang baku dengan imajinasi kita melalui teori kuasa simbol Pierre Bourdieu.
Dalam sebulan terakhir, pemberitaan dunia internasional tertuju kepada wilayah Asia Tenggara khususnya Myanmar. Hal ini lantaran persoalan ‘klasik’ kaitannya penanganan pengungsi Rohingya. Disebut klasik sebab persoalan yang melibatkan 1 hingga 1,5 juta penduduk Rohingya di Myanmar dan sekaligus tersebar di beberapa negara ini sudah terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya. Anne Richard…