Apakah Masyarakat Tanpa Kelas Utopia?

Opini    | 26 Sep 2018 | Read 183 times
Apakah Masyarakat Tanpa Kelas Utopia?

Sampai detik ini pemikiran Karl Marx dan teoritikus Marxis lainnya masih digemari dan dibaca oleh berbagai kalangan, khususnya oleh kaum muda. Revolusi ala Marxis yang merindukan perubahan kearah perbaikan hidup dan persatuan masyarakat dunia dalam naungan komunisme sangat menarik bagi para aktivis dan mahasiswa yang masih terbuai dalam angan-angan romantika.

Memang harus diakui, hanya orang bodoh dan gendeng saja yang tidak menyukai tujuan dan dasar-dasar komunisme atau sosialisme, dimana kesetaraan, persaudaraan umat manusia dapat terbina tanpa sekat dan tanpa ada lagi kontradiksi-kontradiksi seperti perang dan konflik. Kehidupan manusia bahagia  secara ekonomi ataupun secara batin. Pokoknya masyarakat yang digambarkan oleh kaum komunis adalah masyarakat surgawi yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan,

Gimana kita tidak senang, setiap orang ingin hidup makmur, ingin damai, ingin bahagia selama-lamanya, bahkan matipun ingin tersenyum  agar sesudah mati juga bahagia? Nah  Marx dan Engels berusaha merumuskan suatu jalan hidup untuk menuju kebahagiaan manusia, dan jalan “lurus” itu dinamakan Komunisme. Karl Marx dan Friedrik Engels telah menjadi Nabi baru dalam masyarakat Eropa, dan komunisme menjadi suatu doktrin mahdiisme atau messianik yang dianggap bisa membebaskan umat manusia dari belenggu kemiskinan dan kesedihan.

Salah satu doktrin (atau dogma) kaum Marxis adalah terciptanya suatu masyarakat tanpa kelas, dimana nanti pasca revolusi proletarian, era komunisme akan menghilangkan sekat-sekat kelas, menghapus kepemilikan produksi secara individu, dan uang tidak dibutuhkan lagi (sehingga manusia komunis tidak butuh cari uang). Dalam teori sosiologi Marxis, manusia di era feodalisme dan kapitalisme terdapat pemisahan dalam kelas dalam masyarakat. Kelas-kelas dalam masyarakat tersebut menunjukkan strata sosial dan juga status sosialnya di masyarakat. Kelas-kelas ini ditentukan oleh kekayaan, profesi, pangkat, serta pendidikan.

Kelas-kelas dalam masyarakat inilah yang membuat ikatan dan hubungan antar manusia terputus alias tersekat. Ada diskriminasi antara yang kaya dengan yang miskin, si kapitalis dengan si buruh, si tuan tanah dengan si petani. Semua itu mencerminkan adanya kelas atas yang tidak mungkin bersatu dengan kelas bawah. Diskriminasi antarkelas dimana golongan kaya memarjinalkan si miskin, membuat hubungan antar kelas bersifat konflik. Marx menilai tidak ada kesetaraan dan kebebasan dalam masyarakat kapitalis, sebab si kapitalis atau borjuasi selalu mendiskreditkan si miskin. Bahkan lebih dari itu, Marx menilai si kaya menghisap atau memperalat si miskin untuk mengokohkan kekayaannya.

Melihat kenyataan ini, Karl Marx berpendapat, mau tak mau harus ada revolusi yang menyeluruh. Revolusi tersebut digerakan oleh kaum proletarian yang tertindas untuk melawan kelas penindas. Hanya dengan revolusi, kelas penindas akan hancur dan ini berarti revolusi proletarian akan mengarah pada hilangnya kelas-kelas. Hilangnya kelas-kelas ini berarti membawa masyarakat dari era kapitalis menuju era komunis yang egaliter dan demokratis.

Suatu Utopian?

Seperti yang saya bilang, hanya orang bodoh dan gendeng yang tidak menyetujui dasar-dasar dan tujuan komunisme, tetapi bukan berarti kita akan gendeng jika mencoba memberi kritik dan juga mempertanyakan dengan akal sehat dogma Marxis tersebut, yaitu apakah benar masyarakat tanpa kelas bisa tercipta?

Manusia pada dasarnya bukan makhluk yang sempurna, dan ini nyata, bukan khotbah. Secara alami manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, saling berbeda, dan tidak sama. Perbedaan ini menandakan bahwa kesenjangan itu memang alami dari manusia. Bayangkan saja tidak semua orang berwajah tampan atau cantik, tidak semua orang memiliki minat bakat yang sama, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama, dan tidak semua orang bebas memilih untuk dilahirkan di keluarga orang kaya atau miskin.

Meminjam istilah filsuf Martin Heidegger, mungkin perbedaan dan kesenjangan dalam diri manusia dengan manusia lain adalah faktisiteit atau “keterlemparan” dimana manusia tidak bisa memilih apa yang menjadi ketentuan bagi dirinya, termasuk kesenjangan dan perbedaan dengan orang lain. Dari dasar perbedaan antar manusia inilah yang nanti akan menciptakan kelas-kelas. Namun, kaum Marxis tetap ngotot bahwa terciptanya kelas sosial ini disebabkan adanya penghisapan antara individu dengan individu, yaitu ketika produksi secara komunal diambil alih menjadi milik privat. Tentu pendapat kaum marxis itu terlalu paranoid dalam menjabarkan munculnya asal mula kelas, dimana kaum Marxis selalu menuduh bahwa kelas tercipta dari penghisapan dan kecurangan kaum kaya.

Kita beri contoh sederhana untuk menolak premis kaum Marxis tersebut. Misalkan  ada 1 orang yang rajin dan 1 orang yang malas. Orang yang rajin ini giat berkerja dan menggarap sawah secara telaten dan cerdas dalam mengelolanya, sedangkan orang yang malas hanya menggarap sawah seadanya dan mengelola secara serampangan. Otomatis kita bisa mengetahui bahwa si rajin akan mendapatkan hasil yang berlimpah daripada si malas.

Dalam contoh di atas, sangat rasional jika si rajin yang menggarap sawah dengan cerdas dan cermat akan lebih kaya daripada si malas yang menggarap sawah secara serampangan. Cara kerja, motivasi kerja, kecerdasan dalam bekerjalah  yang membentuk kelas-kelas dalam masyarakat. Dan apa yang didapat oleh si rajin adalah murni hasil usahanya tanpa menghisap si malas. Jadi, kekayaan bukanlah pencurian dan kelas-kelas masyarakat tercipta secara alami tanpa ada individu yang dihisap.

Perbedaan profesi atau pekerjaan juga bukan suatu bentuk ketidakadilan. Jika kaum Marxis melihat cara berproduksi, status pendidikan, dan kekayaan adalah bentuk diskriminasi, pada kenyataannya tidak demikian. Justru perbedaan pekerjaan membuat orang saling melengkapi satu sama lain. Contohnya seorang tukang bangunan membutuhkan penjual es keliling untuk menghilangkan letihnya, dan si penjual es tersebut juga membutuhkan si tukang bangunan untuk keperluan rumahnya. Orang yang berprofesi sebagai cleaning service sangat membutuhkan pengusaha yang memberi pekerjaan mereka, dan si pengusaha juga sangat membutuhkan peran cleaning service untuk membuat nyaman dan mempercantik kantornya.

Disini dapat kita lihat bahwa perbedaan profesi tersebut saling melengkapi dan saling membutuhkan. Kenyataannya, tidak ada diskriminasi karena manusia saling membutuhkan peran masing-masing untuk melengkapi hidupnya. Si kaya butuh si miskin dan si miskin butuh si kaya. Seorang pengusaha butuh buruh untuk menggerakkan usahanya dan si buruh membutuhkan pengusaha untuk mengangkat harkat hidupnya lewat gaji yang ia dapatkan dari bekerja. Jadi, perbedaan kelas dan profesi tidak berarti menghalangi manusia berhubungan satu dengan yang lain.

Lalu apakah cita-cita masyarakat tanpa kelas adalah khayalan utopia? Mungkin jawabannya: TIDAK JUGA. Seyogyanya nilai-nilai kesetaraan, kebebasan, humanisme dan keadilan dimata hukum yang dijunjung tinggi dalam libertarian atau paham liberalisme sangat mendukung asas persaudaraan dan kesetaraan antar manusia. Berpijak dari prinsip ini, paham kebebasanpun juga berusaha menciptakan masyarakat tanpa kelas, namun bukan seperti asumsi komunisme yaitu menghilangkan kelas-kelas secara ekstrim.

Masyarakat tanpa kelas dalam paham kebebasan dan liberalisme adalah menghapus diskriminasi, mempererat rasa persaudaraan, kesetaraan supremasi hukum, dan juga menolak segala sekat rasial, agama, dan golongan dalam berinteraksi antar sesama manusia. Cita-cita kebebasan yang saat ini terus tumbuh di berbagai negara, terbukti telah merekatkan ikatan sosial masyarakat sehingga terjalin hubungan harmonis antar kelas tanpa ada tendensi kebencian.

Pada kenyataannya Pasar Bebas atau Kapitalisme JUSTRU yang menghilangkan segala sekat kelas. Sebab dalam sistem pasar bebas, antara konsumen dan produsen bersifat setara. Si tukang akik yang menjual batu akik setara dengan si bos besar yang mau membeli batu akiknya dengan harga mahal. Kesetaran dalam transaksi pasar bebas ini menunjukan tidak adanya PAKSAAN atau PERAMPASAN dalam berekonomi. Relasi si kapitalis dengan si karyawan adalah hubungan bisnis. Si karyawan punya tenaga dan si kapitalis mempunyai modal (harus ditekankan bahwa modal si kapitalis ini didapat dari KERJA KERAS bukan penghisapan) jadi antara si kapitalis dan si karyawan kedudukannya setara.

Bahkan hingga detik ini berkat perkembangan kapitalisme yang begitu pesat, pemerataan dan kesejahteraan ikut meningkat pula. Banyak perusahaan yang memberi jaminan-jaminan serta bonus upah kepada para pekerja sehingga kehidupan kaum pekerja menjadi lebih baik dan TERUS MEMBAIK. Bandingkan dengan abad ke-14 dan ke-15, dimana kesenjangan kaya miskin sangat tinggi dan diskriminasi sosial sangat terasa oleh kaum lemah.

Gelombang liberalisme yang menyuarakan kebebasan dan kesetaraan justru telah membentuk suatau masyarakat yang egaliter, adil, dan saling menghargai. Negara liberal justru menanamkan semangat tersebut, sehingga faktanya kehidupan kaum miskin di negara-negara demokratis terus membaik, kesenjangan kemiskinan dapat di atasi dan yang tepenting setiap orang dapat berpendapat dan berpikir secara bebas tanpa melihat status sosial atau kelas.

Toh dengan melihat kenyataan ini, masyarakat tanpa kelas yang diimpikan oleh Karl Marx malah tidak berhasil diwujudkan oleh komunisme, tetapi oleh paham liberal yang menjunjung kapitalisme. Memang harus kita akui bahwa hingga saat ini masih terdapat arogansi dan kesenjangan kaya dan miskin, namun toh keadaan manusia saat ini jauh lebih baik daripada manusia 3 atau 5 abad sebelumnya.

Perbaikan hidup manusia di zaman ini yang lebih bebas dan lebih sejahtera dari masa-masa yang lampau, tak lepas dari peran para pemikir liberalisme yang menyuarakan ideologi kebebasan di seluruh dunia. Hingga saat ini ideologi kebebasan dan demokrasi masih disuarakan dan terus diperjuangkan. Tujuannya tak lain dan tak bukan untuk kebebasan, persaudaraan, kesetaraan, dan... yah bisa saja terjadi masyarakat tanpa kelas, dalam artian TIDAK ADA DISKRIMINASI didalamnya.    

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]