Traumatik Masyarakat oleh Benih Terorisme

Opini    | 24 Agu 2018 | Read 236 times
Traumatik Masyarakat oleh Benih Terorisme

Beberapa hari yang lalu kita baru saja menikmati perayaan hari ulang tahun ke-73 Republik Indonesia. Hari kemerdekaan yang bersamaan dengan perhelatan akbar pesta olahraga Asian Games yang diadakan di Indonesia, membuat suasana hari kemerdekaan bertambah semakin semarak dan bergairah.

Ditengah-tengah euforia hari kemerdekaan dan perhelatan Asian Games, jagad media sosial dihebohkan oleh suatu video yang merekam  acara pawai budaya di Probolinggo, jawa Timur, yang dianggap menampilkan atribut kelompok radikal. Acara pawai yang diikuti  oleh anak-anak  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) tersebut sebenarnya bertujuan untuk mempringati hari kemerdekaan Indonesia.

Namun, salah satu peserta karnaval, yaitu  TK Kartika V Probolingggo, menampilkan tema yang tergolong unik, yaitu membawa tema "Perjuangan Bersama Rasulullah untuk Meningkatkan Iman dan Taqwa".

Penampilan yang tidak umum dari TK Kartika,  yaitu menampilkan barisan wanita bercadar hitam beserta replika senjata laras panjang. Penampilan tersebut membuat terkesan dengan kelompok milisi bersenjata, alias kelompok teroris daripada memberi pesan perjuangan Rasulallah. Sontak saja video yang menampilkan pawai anak-anak berartibut “mirip” milisi ISIS langsung viral dan menghebohkan Netizen.

Viralnya video yang menampilkan TK Kartika tersebut membuat masyarakat gempar sekaligus cemas. Banyak netizen berkomentar bahwa bibit-bibit radikalisme sudah muncul lewat karnaval tersebut. Pihak TK Kartika langsung meminta maaf sekaligus membantah anggapan tersebut, sebab mereka tidak bermaksud menampilkan suatu gambaran kelompok  ISIS atau kelompok ekstrim apapun.

Opini negatif yang mengarah kepada TK yang berada dalam naungan Kodim 0820 Probolinggo ini membuat pihak Kapolres Kota Probolinggo, AKBP Alfian Nurrizal berencana akan mengusut dan mencari tahu siapa penyebar video tersebut. Menurut Alfian, penyebar video tersebut telah menampilkan potongan tidak lengkap sekaligus menebarkan keresahan, kebencian dan pencemaran nama baik terhadap pihak TK Kartika.

Tidak ada masalah dengan cadar dan tidak ada masalah dengan tema yang bertujuan menghayati perjuangan Rasulallah. Tetapi yang menjadi masalah, jika konteks tema dan atribut tidak sesuai pada tempatnya, apalagi kostum itu dibawakan oleh anak-anak yang masih belia.

Acara yang diselenggarakan oleh panitia karnaval bertujuan memperingati hari kemerdekaan Indonesia, tentunya apa yang ditampilkan TK Kartika bisa dibilang tidak sejalan bahkan keluar dari tema acara yang tujuannya memberi spirit nasionalisme bagi setiap lapisan dan golongan masyarakat kota Probolinggo tanpa memandang agama dan kelompok.

Yang menjadi kontroversi adalah kostum anak-anak belia tersebut membangkitkan kembali ingatan kolektif masyarakat tentang milisi bersenjata ISIS. Tentu kita tidak bermaksud megeneralisir bahwa wanita bercadar itu teroris, tetapi atribut cadar plus replika senjata api lebih mirip dengan para pemberontak dan teroris yang merusak di Timur Tengah ketimbang perjuangan suci Rasulallah yang tentunya tidak mungkin menggunakan senjata api moderen.

Wajar  jika video tersebut viral dan mengagetkan masyarakat. Sebab rasa traumatik terhadap terorisme membuat masyarakat menjadi sentimen dan defensif terhadap simbol-simbol yang “mirip” kelompok teroris. Pihak kepolisian juga sebaiknya tidak perlu terlalu jauh untuk mengusut perekam video tersebut, opini negatif masyarakat terhadap atribut yang dipakai anak-anak belia tersebut  merupakan sesuatu yang bisa dimaklumi sebagai bentuk antipati mereka terhadap terorisme.

Bangsa Indonesia  telah puluhan kali dilukai oleh para teroris berartribut agama yang tak segan membunuh orang lain. Wajar jika pengalaman kelam tersebut menghadirkan image negatif terhadap kostum peserta TK Kartika, walaupun TK Kartika sendiri membantah.  

Dalam menanggapi hal, ini aparat dan masyarakat tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Yang penting dan harus dilakukan adalah komunikasi dan pengertian agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Peristiwa ini telah memberi suatu pelajaran terpenting bahwa tidak ada tempat bagi terorisme bagi masyarkat Indonesia. Dan upaya untuk mencegah dan memberantas terorisme perlu dan harus diawali melalui pendidikan yang terbuka, inklusif dan toleran untuk sesama.

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]