Menyoal Kembali Efek Trickle-Down Economics

Opini    | 9 Agu 2018 | Read 112 times
Menyoal Kembali Efek Trickle-Down Economics

Khalayak sudah sering membicarakan tentang trickle-down economics atau dalam bahasa Indonesia biasanya disebut “efek menetes ke bawah”, namun tidak banyak yang benar-benar mempelajarinya. Banyak politisi bahkan kaum intelektual begitu sering menggunakan istilah ini, tapi ironisnya istilah ini justru hampir tidak digunakan oleh para ekonom. Terlebih karena istilah ini lebih dipahami sebagai kecenderungan politik yang masih berlaku di seluruh dunia.

Ungkapan berlebihan muncul di Indonesia baru-baru ini melalui dua tokoh masyarakat. Meskipun saling bertentangan dalam isu-isu ekonomi saat ini, kedua tokoh tersebut benar-benar sepakat dan menggunakan teori trickle-down economics. Hal ini menunjukkan kekuatan ekspresi jika seorang tokoh masyarakat di sisi yang berlawanan akan menggunakan istilah yang sama untuk menyatakan sesuatu, meskipun di kesempatan berbeda. Sayangnya, istilah trickle-down economics ini sebenarnya tidak memiliki tingkatan yang umum dan teoritis, bahkan tidak terbukti kebenarannya. 

Arti gagasan mengenai efek menetes ke bawah ini adalah bahwa orang kaya menjadi semakin kaya karena menjadi penghasil kekayaan dan kekayaan tersebut pada akhirnya hanya akan "menetes" kepada orang miskin. Hal inilah yang membuat orang miskin lebih dirugikan dan semakin miskin. Fenomena ini lebih jelas dikatakan oleh seorang anggota parlemen Partai Buruh dari Selandia Baru sebagai "orang kaya yang kencing pada orang miskin”.

Cara yang biasa digunakan dalam mempraktekkan teori ini adalah dimana seorang tokoh masyarakat akan mendukung pengurangan pajak untuk bisnis dan para orang berduit. Akhirnya, meskipun orang kaya semakin kaya karena tingkat pajak yang rendah, hal ini dianggap akan memberikan banyak manfaat dan kekayaan bagi orang miskin karena pada akhirnya akan "menetes" kepada mereka.

Hal ini memang terdengar tidak masuk akal. Meskipun masuk akal dan menggelitik rasa keadilan kita, hal ini tetap saja tidak bisa dinalar dan tidak sesuai teori, apalagi teori ekonomi. Mungkin itulah alasan mengapa politisi lebih cenderung menggunakan istilah ini daripada para ahli ekonomi. Meski diakui cara ini bisa membangun semangat emosional di antara basis pemilih, tetapi sekali lagi, tidak ada ekonom yang pernah memiliki teori seperti itu atau kebijakan yang mendukungnya.

Terus Memberi Lebih kepada yang Kaya

Hal ini semakin parah dengan adanya politisi dan tokoh masyarakat yang terus menggunakan istilah politik secara luas. Selama kampanye kepresidenannya, Presiden Obama membantu menjelaskan trickle-down economics dengan mengatakan bahwa "Kita harus memberi lebih banyak dan lebih banyak kepada mereka yang kaya dan berharap kemakmuran itu akan sampai ke semua orang." Apa yang Presiden Obama dan banyak orang katakan sebetulnya adalah bahwa kita hanya memberikan lebih banyak kepada orang kaya dengan kebijakan-kebijakan yang mendukung mereka. Dimulai dari pemotongan pajak atau capital gain, intinya adalah bahwa pemerintah sebenarnya sedang memberi kepada orang kaya.

Seorang ekonom bernama Thomas Sowell meminta kita untuk mempertimbangkan dengan berhenti sejenak lalu berpikir. Dia mempertanyakan apa gunanya kita memberikan kepada orang A dengan harapan bahwa itu menetes ke orang B? Mengapa tidak kita potong si "perantara" ini lalu memberikan langsung kepada orang B? Jika kita khawatir bahwa kekayaan tersebut hanya akan menetes ke bawah, maka seharusnya kita berhenti memberikannya kepada orang kaya dan berikan kepada orang miskin secara langsung. Mereka yang menggunakan istilah trickle-down economics tersebut seharusnya berfikir mengapa pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk membiarkan sebagian besar kekayaan hanya menjangkau orang kaya, tidak ditransfer langsung ke orang miskin.

Oleh karena itu, dalam kasus dimana pemerintah terlibat, kita seharusnya tidak mengurangi tarif pajak dengan harapan keuntungan atau kekayaan sampai kepada orang miskin, tetapi mengambil kekayaan dan memberikannya kepada orang miskin secara langsung. Mengapa harus ada pemerintah sebagai “perantara” dan membiarkan kekayaan itu langsung sampai kepada orang miskin bukan melalui orang kaya? Mengapa bukan dengan mengesahkan undang-undang yang mengharuskan bisnis dan orang kaya memberi langsung kepada orang miskin dan yang membutuhkan? Faktanya, mungkin cara ini akan lebih efektif karena tidak ada biaya "perantara" yang akan dikeluarkan. Inilah yang disebut dengan permainan zero-sum yang sebenarnya hanya membutuhkan refleksi dalam berlogika.

Selanjutnya, mari pertimbangkan bagaimana proses ekonomi bekerja. Siapapun yang memiliki pemahaman dasar tentang keuangan tahu bahwa keuntungan didapatkan oleh pemilik setelah segala macam pengeluaran termasuk gaji, investasi awal, sewa, dan lain sebagainya telah dibayarkan. Selain itu, keuntungan tersebut tidak langsung didapatkan terutama bagi orang yang memulai bisnis. Diperlukan waktu dan risiko yang sangat besar untuk mendapatkan keuntungan, sehingga pada akhirnya pemilik terjun ke dunia bisnis, dan berhasil.

Antara waktu investasi awal dan keuntungan, hal ini tergantung pada jenis industri, bisa memakan waktu bertahun-tahun, membutuhkan banyak karyawan, layanan dan biaya lain yang juga harus dibayar akan memberikan banyak orang termasuk orang miskin lebih banyak kekayaan dan peluang. Politisi yang menggunakan istilah “menetes” ini hampir tidak pernah mengangkat masalah ini karena mereka tahu lebih mudah membicarakannya daripada benar-benar melihat realita ekonomi.

Fakta dan Bukti dari “Efek Menetes”

Fakta trickle-down economics sendiri sebenarnya mengisyaratkan bahwa kekayaan tidak dapat ditransfer cukup dan cepat dari orang kaya ke orang miskin. Alih-alih menetes ke bawah, proses ini lebih seperti air mengalir dari botol yang hampir kosong, padahal seharusnya bisa mengalir seperti air terjun. Jika itu hanya menetes ke bawah, kekayaan ini bisa dibawa pergi ke luar negeri, atau lebih banyak kepada orang kaya kemudian semakin menciptakan lebih banyak ketidaksetaraan, seperti yang sering dikatakan oleh tokoh-tokoh publik biasanya.

Dengan demikian, seringkali tanpa diskusi tentang jumlah dan/atau seberapa cepat kekayaan seharusnya dibagikan, tokoh-tokoh tersebut masih menyatakan bahwa kekayaan memang sebaiknya hanya “menetes”. Tetapi hal ini hanya dibenarkan oleh para politisi yang sudah biasa menggunakan istilah tersebut. Sebenarnya ini menimbulkan banyak pertanyaan mendasar dan kita bisa melihat realitas apa yang terjadi ketika tarif pajak meningkat atau menurun dan bagaimana hal ini benar-benar bertentangan dengan tujuan mereka yang berorientasi politik.

Jika tujuannya adalah untuk meningkatkan lebih banyak kekayaan untuk diberikan kepada orang miskin, tarif pajak yang lebih tinggi akan diberlakukan untuk meningkatkan pendapatan orang miskin. Tetapi hal itu tidak sepenuhnya benar. Di Amerika Serikat, antara tahun 1980 dan 1988, margin tingkat pajak atas menurun dari 70% menjadi 28%.

Alih-alih pendapatan pajak lebih sedikit atau lebih banyak kekayaan yang disimpan oleh orang kaya, jumlah penerimaan federal meningkat dari USD 599 menjadi 991 miliar antara 1981 dan 1989. Di Indonesia, tingkat pajak total (% dari keuntungan komersial) menurun dari 32,2% menjadi 29,7% antara 2013 dan 2015, bahkan ketika Indonesia sedang menghadapi kejatuhan ekonomi. Namun Indonesia mencatat pertumbuhan penerimaan pajak (LCU saat ini) sebesar Rp 1,077 Quadrillion pada 2013 menjadi IDR 1,239 Quadrillion pada tahun 2015.

Terlepas dari bisa diterima atau tidak, setidaknya akan ada lebih banyak kekayaan bisa sampai kepada yang membutuhkan. Dan apakah hal itu benar-benar terjadi atau tidak, hampir tidak ada fakta-fakta yang mendukung melainkan lebih banyak berorientasi pada politik. Kekhawatiran bahwa jika tarif pajak tidak dinaikkan, orang miskin tidak akan mendapat manfaat dan orang kaya akan menyimpan lebih banyak kekayaan mereka, hal ini bisa disalahartikan, seperti yang terlihat ketika penerimaan pajak (atau kekayaan kepada pemerintah dan kemudian seharusnya disalurkan kepada orang miskin) masih meningkat.

Pada akhirnya, kitalah yang harusnya berhati-hati saat tokoh masyarakat, politisi dan intelektual menggunakan istilah tersebut. Ketika mencoba memahami ekonomi dan pengaruhnya terhadap pendapatan dan mata pencaharian orang, sebaiknya kita tidak cenderung retorik dan ekspresif. Terlalu banyak yang akan kita pertaruhkan jika kita hanya mendengarkan "suara-suara negatif yang terdengar cerdas" (Budget Model Penn Wharton). Perlu dicatat juga bahwa ungkapan itu tidak berasal dari seorang ekonom, melainkan seorang komedian.

Daniel Kasenda

Aspiring Political Economy Observer and Thomas Sowell fan