Kerapuhan Ilmu Sosial

Opini    | 11 Apr 2018 | Read 538 times
Kerapuhan Ilmu Sosial

Apa perbedaan paling mendasar antara ilmu alam dan ilmu sosial? Sang begawan ekonomi mazhab Austria, Friedrich Hayek, di dalam esainya yang berjudul The Pretense of Knowledge (1974, ditulis sebagai pidato penerimaan hadiah Nobel bidang ekonomi) menjawab pertanyaan tersebut dengan gamblang.

Menurut Hayek, ada tiga perbedaan mendasar antara ilmu alam dan ilmu sosial. Perbedaan pertama terletak pada perbedaan kompleksitas variabel atau data. Ilmuwan yang bekerja mempelajari fenomena alam menghadapi kompleksitas data yang jauh lebih rendah ketimbang mereka yang berhadapan dengan fenomena-fenomena sosial. Seorang fisikawan bisa dengan yakin menetapkan korelasi antara dua variabel, misalnya antara massa benda dengan gaya resultan. Tetapi, seorang ekonom yang yakin bahwa ada korelasi antara total produksi suatu negara dengan pertambahan lapangan kerja akan kebingungan melihat fenomena stagflasi (situasi di mana aggregate demand stagnan tetapi tingkat pengangguran dan inflasi meninggi secara berbarengan). Ini karena variabel yang mempengaruhi peristiwa sosial jauh lebih banyak dan kompleks, dan ilmuwan sosial seringkali hanya mengambil beberapa variabel yang ia anggap penting dan, terutama, dapat diukur.

Perbedaan kedua: oleh karena variabelnya lebih kompleks, ilmuwan sosial hanya dapat memberikan prediksi yang bersifat umum, bukan prediksi-prediksi yang spesifik. Sementara astronom Edmond Halley mampu memprediksi dengan presisi kapan komet Halley akan muncul di masa depan, para ekonom masih kebingungan menentukan berapa level harga dan upah yang paling tepat untuk menurunkan tingkat pengangguran, meskipun mereka tahu secara garis besar bahwa jumlah pengangguran sangat dipengaruhi oleh perubahan pada level harga dan upah.

Perbedaan ketiga: lagi-lagi, karena variabel data yang mempengaruhi fenomena sosial sangat kompleks, ilmuwan sosial tidak bisa dengan mudah menguji hipotesa yang ia buat. Berbeda dengan ilmu alam di mana hasil uji coba di laboratorium dapat direproduksi berkali-kali dengan tingkat kepastian yang tinggi, variabel-variabel yang mempengaruhi fenomena sosial sangatlah kompleks dan seringkali tidak bisa diketahui secara menyeluruh.

Melalui ketiga perbedaan tersebut, Hayek kemudian mengingatkan kita betapa berbahayanya sikap pretensius dari pihak ilmuwan sosial yang menganggap fenomena sosial bisa dipelajari dan diperlakukan layaknya fenomena-fenomena di ilmu alam. Hayek menyebut sikap semacam itu sebagai scientism.

Mengapa Hayek mengatakan scientism berbahaya? Di dalam esainya, Hayek mengatakan bahwa kepercayaan diri yang dimiliki ilmuwan sosial bahwa ilmu yang mereka miliki adalah “saintifik/ilmiah” akan berujung pada charlatanism (Oxford Dictionaries mendefinisikan charlatan sebagai seseorang yang mengaku-aku punya pengetahuan atau keahlian khusus, padahal tidak; dengan kata lain: tukang tipu). Melalui klaim saintifik, ilmuwan sosial merasa memiliki kredibilitas untuk menerapkan “keahlian” mereka untuk mengatur-atur hidup orang lain demi membentuk suatu masyarakat ideal. Ini tentu saja berbahaya, terutama bagi mereka yang menyadari pentingnya kebebasan dan tanggung jawab individu dalam menjalani hidup masing-masing.

Namun poin penting yang ingin saya sorot dari esai The Pretense of Knowledge justru terletak di bagian akhir, ketika Hayek menuliskan perbedaan keempat dan terakhir, tetapi (menurut saya) justru menjadi perbedaan paling penting, antara ilmu alam dan ilmu sosial: kegagalan eksperimentasi sebuah teori atau hipotesa di dalam ilmu alam tidak akan membawa bencana sosial sedahsyat apabila ilmuwan sosial mengalami kegagalan eksperimentasi teori-teori sosial. Sebaliknya, kesuksesan eksperimentasi di dalam ilmu alam biasanya menjadi keuntungan besar bagi umat manusia, sedangkan kesuksesan eksperimentasi teori sosial biasanya hanya akan diatribusikan kepada kelompok-kelompok kepentingan tertentu (anggota partai, pejabat pemerintah, atau pahlawan revolusi).

Sebagai contoh, bayangkan seorang fisikawan yang mencoba menciptakan mesin gerak perpetual, yakni mesin yang dapat bergerak terus-menerus secara abadi tanpa memerlukan sumber energi (dengan kata lain, mesin ini mencoba melanggar hukum termodinamika pertama atau kedua). Jika upaya ini gagal, kegagalan tersebut hanya akan menjadi kegagalan individual sang fisikawan, tanpa membawa dampak kerugian yang signifikan bagi masyarakat sekitarnya. Tetapi, jika eksperimen tersebut berhasil, yang diuntungkan bukan saja sang fisikawan (yang akan dianggap berjasa besar menemukan sumber energi abadi), tetapi umat manusia secara keseluruhan.

Sebaliknya, di dalam eksperimentasi ilmu sosial, logika asimetri untung/rugi semacam itu menjadi terbalik. Untuk menguji coba teori-teori ilmu sosial, para ilmuwan sosial perlu menerapkan perubahan radikal terhadap hajat hidup orang banyak. Tidak seperti eksperimentasi ilmu alam, eksperimentasi teori sosial memerlukan partisipasi masyarakat luas (terutama teori-teori yang sifatnya revolusioner). Oleh sebab itu, kegagalan eksperimentasi akan menjadi bencana sosial, sedangkan kesuksesan eksperimentasi hanya akan teratribusi secara parsial kepada para ilmuwan sosial (para revolusioner), terutama karena preferensi tiap orang terhadap idealitas sosial selalu bersifat majemuk.

Berdasarkan perbedaan keempat ini, kita bisa melihat bahwa Hayek (tanpa sadar) sebetulnya sedang menjelaskan apa yang disebut oleh Nassim Taleb sebagai fitur “convexity” di dalam eksperimentasi ilmu alam dan ilmu sosial. Apa itu fitur convexity?

Convexity adalah ketidakseimbangan atau asimetri antara imbal hasil positif dan negatif. Sesuatu disebut convex apabila memiliki risiko imbal hasil negatif (kerugian) yang sangat kecil dan terbatas, tetapi memiliki potensi imbal hasil positif (keuntungan) yang sangat besar dan tidak terbatas. Selain contoh eksperimentasi ilmu alam di atas, contoh lain adalah profesi youtuber. Menjadi youtuber memiliki fitur convexity karena kerugiannya sangat kecil. Misalkan Anda mengunggah video, hal buruk yang mungkin terjadi adalah video Anda diabaikan oleh audience, atau kemungkinan terburuk: Anda di-bully oleh audience karena konten yang Anda rekam kualitasnya begitu jelek. Tetapi risiko ini tidak sebanding dengan apabila video Anda viral dan disukai orang banyak (Anda bisa jadi milyuner seperti Pewdiepie, misalnya).

Sedangkan situasi dimana imbal hasil positif lebih kecil daripada imbal hasil negatif disebut memiliki fitur convex negative atau concave. Contoh situasi concave adalah situasi-situasi di mana kita rentan terkena peristiwa black swan negative, seperti misalnya menggunakan seluruh tabungan yang kita miliki untuk trading saham/forex berdasarkan insting atau perasaan belaka. Pada situasi semacam itu, berapa pun profit yang Anda peroleh dari bermain saham/forex tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit kehilangan seluruh tabungan hidup Anda dalam sekejap. Atau contoh lain: suatu negara yang sukses mencetak pertumbuhan ekonomi moderat 5 persen setiap tahun, namun tiba-tiba mengalami krisis besar yang menghapus semua pertumbuhan tersebut karena terlalu mengandalkan model proyeksi ekonomi yang terlihat “saintifik”.

Asimetri semacam inilah yang menjadi isu sentral filosofi Nassim Taleb mengenai black swan dan antifragility. Keseluruhan jerih payah intelektual Taleb adalah semata-mata untuk memperingatkan kita tentang pentingnya memahami perbedaan situasi convex dan concave, serta pentingnya untuk selalu berupaya mendekatkan diri kita pada posisi convex dan menjauhi yang concave, karena kedua hal inilah yang menentukan apakah diri kita termasuk dalam kategori antifragile atau justru rentan terhadap peristiwa black swan.

Melihat persoalan dari kaca mata Talebian semacam ini membuat kita mampu memahami peringatan Hayek secara lebih jelas. Sekarang kita tahu bahwa kita sebaiknya menjauhi segala bentuk eksperimentasi teori-teori sosial yang melibatkan masyarakat luas karena, sebagaimana sudah saya jelaskan, hal tersebut bersifat concave (fragile).

Hal ini bukan berarti ilmu-ilmu sosial menjadi tidak ada gunanya sama sekali. Ilmu sosial hanya menjadi berbahaya ketika ia memproduksi suatu pengetahuan yang bersifat preskriptif, yakni pengetahuan yang berisi rumusan-rumusan teoritis yang dianggap harus diterapkan kepada masyarakat sebagai jalan menuju perbaikan sosial. Tetapi, ilmu sosial dapat menjadi berguna ketika ia memproduksi sejenis pengetahuan yang bersifat cautionary (peringatan) terhadap bahaya kesombongan intelektual yang merasa mampu memahami fenomena sosial yang sesungguhnya kompleks dan tak terukur.

Sejauh yang saya amati, setidak-tidaknya ada dua tradisi pemikiran di dalam ilmu sosial yang berupaya memproduksi pengetahuan yang bersifat preskriptif. Pertama adalah tradisi Marxisme, yang mengklaim memiliki rumusan “saintifik” menuju jalan keselamatan umat manusia di dunia. Syukurlah, melalui berbagai percobaan historis yang menyakitkan, ide Marxisme kini nyaris tinggal nama. Tradisi pemikiran yang kedua adalah saintisme ekonomi. Inilah tipe saintisme ilmu sosial yang masih populer hingga hari ini. Wujudnya bisa kita lihat pada ilmu ekonomi arus utama yang menjadi backbone bagi banyak pengambilan kebijakan publik strategis di seluruh dunia.

Mengingat teori-teori ilmu sosial bersifat concave, adalah penting bagi kita untuk mencari cara agar para ilmuwan sosial tidak dapat semena-mena menerapkan disiplin ilmunya ke dalam masyarakat. Untuk itu kita bisa mengeksploitasi kesukaan mereka terhadap segala hal yang berbau akademis: saya menyarankan untuk mengurung ilmuwan-ilmuwan sosial, dan juga orang-orang yang punya kecenderungan saintisme sosial, ke dalam lingkungan akademik yang steril seperti universitas (sebisa mungkin kampus-kampus yang terkenal seperti Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada, sekedar untuk memuaskan rasa haus ego mereka akan prestise) untuk membatasi hasrat eksperimentasi intelektual mereka hanya pada lingkup akademik belaka. Dengan begini, para ilmuwan sosial ini bisa bermain-main dengan “metode saintifik” mereka tanpa harus menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat.

 — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — ——

P.S. Jika anda bertanya-tanya adakah upaya sosial yang bersifat convex, maka jawabannya adalah “ada”, yakni entrepreneurship atau kewirausahaan. Di dalam entrepreneurship, setiap kegagalan usaha akan terlokalisir menjadi kegagalan individual sang entrepreneur. Tetapi, kesuksesan usaha tidak hanya menjadi kesuksesan sang entrepreneur, tetapi juga menjadi benefit bagi masyarakat luas. Contoh yang paling mencolok, tentu saja, adalah James Watt yang mematenkan mesin uap (memicu revolusi industri). Sedangkan contoh yang lebih kontemporer kita bisa menyebut Henry Ford (assembly line), Bill Gates, Steve Jobs, dan Elon Musk.

Djohan Rady

Djohan Rady adalah alumnus S2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia. Kontributor tetap untuk Suara Kebebasan dan co-founder Indo-libertarian, sebuah komunitas libertarian di Indonesia. Bisa dihubungi di email [email protected] dan twitter @djohanrady