Gaya Hidup Libertarianisme

Opini    | 6 Nov 2017 | Read 150 times
Gaya Hidup Libertarianisme

Setiap individu pasti memiliki gagasan akan gaya hidup yang baik. Gagasan ini dapat didasari oleh berbagai hal, mulai dari kebiasaan masyarakat tempat individu tersebut berasal, selera pribadi, nilai-nilai agama dan kepercayaan, hingga ideologi politik.

Seseorang yang memiliki rasa patriotisme yang tinggi terhadap negara pasti akan menegaskan pentingnya menjaga dan melestariakan "kebudayaan nasional." Hal tersebut dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk, mulai dari mengkonsumsi makanan asli Indonesia daripada kuliner dari negara lain,  menggunakan pakaian tradisional seperti batik, menonton film hasil karya anak bangsa, mempelajari tarian dan lagu-lagu daerah, hingga menyaksikan berbagai pertunjukan budaya khas nusantara, seperti wayang.

Pribadi yang memegang keyakinan terhadap agama yang kuat tentu akan menyatakan bahwa gaya hidup yang baik adalah gaya hidup yang mengikuti berbagai ajaran dan aturan agama secara menyeluruh. Menggunakan pakaian yang sesuai dengan ajaran agama, tidak mengkonsumsi makanan yang dilarang, serta lebih mengutamakan untuk melakukan transaksi dan kegiatan ekonomi dengan pihak lain yang seiman merupakan beberapa dari sekian banyak perwujudan atas pandangan tersebut.

Individu yang mempunyai gagasan kosmopolitanisme niscaya akan menekankan perlunya seseorang untuk berani mencoba berbagai produk budaya yang berbeda dengan tempat ia berasal, serta tidak takut untuk mengadopsi berbagai progres dan kemajuan yang ditawarkan oleh bangsa-bangsa lain. Sikap kritis atas budaya kita sendiri merupakan sesuatu yang sangat penting, dan apabila ada produk budaya kita yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kemajuan dan nilai-nilai modernitas, maka hal tersebut sudah seharusnya dihapuskan.

Dengan beragamnya pandangan terhadap gaya hidup yang baik diantara individu-individu yang hidup dalam masyarakat, tak jarang timbul gesekan dan konflik. Seorang patriotis yang ingin melestarikan budaya tradisional melalui pementasan tarian daerah misalnya, bukan tidak mungkin akan menghadapi penolakan dari pihak lain yang memiliki keyakinan kuat terhadap agama, yang berpandangan bahwa beberapa hal yang terkait dengan tarian tradisional merupakan sesuatu yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran agama yang ia anut. Tidak mustahil pula bila konflik dan gesekan tersebut akan berujung pada tindakan kekerasan.

Selain itu, tak jarang pula pihak-pihak yang memiliki kekuasaan politik untuk memaksakan apa yang mereka anggap sebagai gaya hidup yang baik dan sesuai kepada masyakarat dalam berbagai cara mulai dari yang paling "halus", seperti memaksa para pembayar pajak untuk membiayai produk tertentu melalui program subsidi, hingga cara-cara yang keras seperti pelarangan, pembredelan, hingga pemenjaraan. Di Indonesia sendiri ada sangat banyak contoh mengenai hal tersebut, baik di masa lalu maupun yang bisa kita saksikan langsung saat ini.

Pada era Orde Lama misalnya, Presiden Sukarno pernah memenjarakan anggota grup musik Koes Bersaudara pada tahun 1965, lantaran mereka menyanyikan lagu-lagu barat seperti The Beatles dan Elvis Presley. Langkah memenjarakan Koes Bersaudara tersebut juga secara eksplisit ditegaskan oleh Sukarno pada pidato hari kemerdekaan tahun 1965 di depan Gerakan Mahasiswa Indonesia, dimana ia menyatakan "Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia kenapa mesti Elvis-elvisan?!"

Kebencian Sukarno terhadap apa yang ia anggap sebagai budaya dan gaya hidup Barat memang sudah menjadi rahasia umum. Enam tahun sebelum Koes Bersaudara dimasukkan ke dalam bui, tepatnya dalam pidato perayaan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus 1959, Sukarno dengan lantang mengatakan, "Dan engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau yang tentunya anti-imprialisme ekonomi, engkau yang menentang imprialisme politik, kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau banyak yang masih rock ‘n roll - rock‘n roll-an, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainya lagi? Kenapa di kalangan engkau banyak yang gemar membaca tulisan-tulisan dari luaran, yang nyata itu adalah imperialisme kebudayaan?”

Contoh nyata lain yang masih bisa kita saksikan saat ini adalah pemberlakukan syariat Islam di Provinsi Aceh, dimana perempuan dilarang menggunakan pakaian yang dianggap "tidak sesuai" dengan ajaran agama, seperti celana pendek. Satpol PP Provinsi Aceh merupakan aparatur negara yang kerap melakukan razia di jalan-jalan, diantaranya untuk memastikan bahwa aturan syariat Islam yang berlaku dapat ditaati oleh seluruh warga Aceh secara menyeluruh.

Pemaksaan gaya hidup tertentu kepada masyarakat oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan politik tidak hanya dapat kita temukan di Indonesia atau negara-negara timur lainnya. Di negara bebas seperti Perancis misalnya, pada tahun 2016 dunia dikejutkan dengan adanya peraturan di beberapa kota, seperti Nice, yang melarang pemakaian baju renang perempuan yang menutupi seluruh tubuh hingga rambut, yang dikenal dengan nama burkini.

Tidak hanya dukungan dari politisi lokal, adanya peraturan tersebut juga mendapat dukungan dari banyak politisi tingkat nasional di Prancis. Kandidat calon presiden Prancis pada pemilihan presiden tahun lalu dari partai kanan ekstrim, Marine Le Pen, misalnya, menyatakan, "fenomena burkini merupakan pertanda meningkatnya kelompok fundamentalis muslim di Perancis." Mantan presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, juga mendukung agar peraturan tersebut diberlakukan di seluruh teritorial Prancis, dan menyatakan bahwa burkini merupakan ancaman bagi identitas nasional Perancis.

Lantas, bagaimana pandangan libertarianisme dalam menyikapi hal demikian? Gaya hidup manakah yang lebih baik? Apakah kita harus melestarikan budaya lokal, menaati aturan agama secara komprehensif, atau mengadopsi berbagai gaya hidup dan budaya dari negara lain?

*****

Libertarianisme merupakan sebuah gagasan yang mengakui bahwa individu merupakan subjek yang otonom, dan merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Seperti yang ditulis pada paragraf pertama artikel ini, libertarianisme mengakui bahwa setiap individu memiliki gagasan yang berbeda-beda mengenai gaya hidup yang baik dan patut untuk diadopsi.

Pengakuan terhadap otonomi individu bukan lantas berarti sama dengan menyatakan bahwa identitas seseorang merupakan sesuatu yang tidak ada. Bahwa setiap individu memiliki identitasnya masing-masing adalah fakta sosial yang tidak bisa dibantah.

Namun, libertarianisme menekankan  bahwa janganlah identitas tertentu yang dimiliki oleh seorang individu lantas dijadikan sebagai batas atau penghalang mengenai gaya hidup yang boleh atau tidak ia adopsi. Individu sebagai subjek yang otonom berarti ia memiliki hak yang penuh untuk membuat pilihan bagi dirinya masing-masing, untuk mengadopsi identitas baru apabila identitas yang lama ia sudah anggap tidak sesuai, serta untuk melakukan interpretasi yang berbeda-beda dari identitas yang dimiliknya, yang diekspresikan melalui gaya hidup yang beragam.

Saya misalnya, berasal dari suku Jawa dan lahir dari keluarga yang beragama Islam. Namun, perkara apakah saya sebagai orang Jawa harus turut melestarikan budaya Jawa atau tidak,  atau apakah saya harus menjalakankan gaya hidup yang sesuai dengan agama tertentu atau tidak harus sepenuhnya berada di tangan saya sendiri.

Tidak ada entitas apapun di luar diri saya sendiri yang memiliki hak untuk memaksa saya, sebagai subjek yang otonom, mengenai gaya hidup apa yang boleh saya adopsi, baik keluarga, masyarakat, organisasi massa, ataupun negara. Dan pada saat yang sama, saya juga tidak bisa membuat keputusan bagi orang lain mengenai gaya hidup seperti apa yang boleh atau tidak mereka adopsi, karena pengakuan individu sebagai subjek yang otonom tidak bisa hanya diberlakukan bagi diri sendiri, namun juga harus diberlakukan secara universal bagi seluruh individu lainnya tanpa terkecuali.

Libertarianisme bukanlah gagasan yang gemar mengatur dan mengurusi pilihan pribadi dan gaya hidup seseorang. Oleh karena itu, bila ada seseorang yang menanyakan kepada saya, "manakah yang lebih baik, apakah perempuan yang memakai rok mini atau hijab? Apakah mendengarkan lagu daerah atau lagu-lagu Elvis dan The Beatles? Apakah menyaksikan pertunjukan wayang atau drama Hamlet karya Shakespeare?" bagi saya pertanyaan tersebut tidak penting dan relevan. Semua opsi tersebut sama saja dan tidak ada pilihan yang lebih baik daripada yang lain.

Yang lebih penting untuk ditanyakan adalah, apakah subjek yang mengambil salah satu diantara opsi tersebut berdasarkan karena keputusannya sendiri atau karena ia dipaksa oleh pihak lain diluar dari dirinya. Seseorang perempuan yang memutuskan untuk memakai rok mini karena berdasarkan keinginannya sendiri merupakan keputusan yang lebih baik daripada seorang perempuan yang terpaksa memakai hijab hanya karena hal tersebut diwajibkan oleh pemerintah tempat ia tinggal.

Begitu pula seseorang yang mendengarkan lagu-lagu The Beatles dan Elvis karena keinginannya sendiri jauh lebih baik daripada seseorang yang terpaksa mendengarkan lagu daerah karena lagu-lagu Barat dilarang oleh negara. Individu yang menonton drama Shakespeare karena keputusannya sendiri jauh lebih baik daripada seseorang yang menonton pertunjukan tradisional hanya karena ia dipaksa oleh pihak tertentu. Misalnya, karena hal tersebut merupakan bagian dari program kurikulum wajib institusi pendidikan tempat ia menimba ilmu. Dan hal tersebut juga berlaku sebaliknya.

Tidak ada siapapun yang dapat mengklaim bahwa gaya hidupnya lebih baik daripada gaya hidup yang berbeda dengan cara melarang individu lainnya membuat keputusan bagi dirinya sendiri. Seorang yang patriotis tidak bisa menyatakan bahwa musik dan tarian yang berasal dari tempat ia dilahirkan merupakan produk budaya yang lebih baik, namun lantas melarang pementasan atau pertunjukan musik dan tarian dari budaya lain.

Individu yang sangat taat beragama tidak bisa memberi klaim bahwa pakaian yang ia gunakan merupakan busana yang lebih baik dengan cara melarang orang lain menggunakan pakaian yang berbeda. Justru bagi saya, seseorang yang memaksa individu lain untuk mengikuti gaya hidup yang dianggapnya lebih baik dan sesuai merupakan bentuk pernyataan eksplisit bahwa gaya hidup yang ia adopsi merupakan sesuatu yang lebih inferior daripada bentuk gaya hidup lainnya yang ingin ia larang.

Ketika seseorang ingin melarang gaya hidup apapun yang berbeda dari yang ia adopsi, dengan mengatasnamakan hal apapun, baik untuk "melestarikan budaya nasional" "melawan budaya imperialisme" hingga "menanamkan nilai-nilai keagamaan", maka sama saja ia menyatakan bahwa gaya hidup yang diadopsinya lebih inferior daripada gaya hidup lain, dan oleh karena itu ia tidak bisa meyakini individu lain untuk mengadopsi gaya hidupnya dengan menggunakan pendekatan persuasi dan argumen rasional, sehingga satu-satunya acara adalah dengan melakukan pelarangan dan pemaksaan.

Mengutip filsuf dan novelis kelahiran Rusia, Ayn Rand, bahwa "hanya ada 2 cara manusia dimana manusia bisa berurusan satu sama lain: dengan menggunakan senjata atau logika. Dengan melakukan pemaksaan atau persuasi. Mereka yang mengetahui bahwa mereka tidak dapat memenangkan urusan dengan menggunakan logika, maka mereka akan mengambil jalan dengan menggunakan senjata."

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan dan mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia. Haikal juga merupakan anggota Charter Team dari organisasi Students for Liberty (SFL) dan mewakili SFL Indonesia dalam Asia Liberty Forum pada bulan Februari tahun 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, ia adalah salah satu pendiri dan koordinator Indo-Libertarian, sebuah komunitas libertarian pertama di Indonesia. Haikal dapat dihubungi melalui twitter: @HaikalKurnia dan email: [email protected]