Mengapa Memusuhi LGBT?

Opini    | 13 Jul 2017 | Read 266 times
Mengapa Memusuhi LGBT?

Sulit rasanya dunia modern berkembang pesat tanpa teknologi komputer, digital dan internet. Sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada Alan Turing atas teknologi dan dunia digital yang kita nikmati saat ini.

Alan Turing merupakan matematikawan super jenius, pada usia yang sangat muda telah mencatatkan prestasi akademik yang luar biasa dengan menciptakan abstraksi matematika sebagai dasar menciptakan “otak” di balik mesin yang kini dikenal dengan nama komputer.

Pada tahun 1936, pada usia 22 tahun, Turing mempresentasikan paper berjudul “On Computable Numbers” yang menjelaskan tentang mesin sederhana yang mampu menghitung (computing) apa saja sesuai dengan apa yang diinstruksikan. Mesin ini kemudian disebut sebagai “Universal Turing Machine” dan diakui sebagai pijakan awal untuk penemuan mesin komputer modern.

Kontribusi Alan Turing juga membantu militer Inggris pada Perang Dunia II. Turing direkrut oleh militer Inggris untuk memecahkan sandi militer Jerman yang dihasilkan dari mesin ‘Enigma’. Pada saat itu, Enigma merupakan alat pembuat sandi yang sulit dipecahkan dan membantu militer Nazi Jerman berkomunikasi dengan pasukan atau pasokan. Mesin yang dibangun Turing ‘Bombe’ digunakan untuk memecahkan kode sandi mesin Enigma yang digunakan Nazi Jerman. Berkat kontribusinya memecahkan sandi Nazi Jerman, Perang Dunia II disebut berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan.

Tetapi kontribusi penting Alan Turing bagi kemajuan teknologi dan negaranya menjadi sia-sia. Mengakui orientasi seksualnya adalah homoseksual, Turing dihukum oleh pemerintah Inggris yang pada saat itu melarang perilaku homoseksual. Turing diancam dengan hukuman penjara, atau dikebiri secara kimiawi untuk “menyembuhkan” homoseksualitasnya. Turing akhirnya memilih pilihan kedua, yang kemudian membuatnya menderita dan bunuh diri.

(Sempat beredar cerita legenda urban bahwa logo apel digigit yang menjadi logo Apple merupakan penghargaan pendiri Apple untuk kontribusi Alan Turing yang menggunakan apel bersianida untuk bunuh diri.)

Menyusul disahkannya kesetaraan hak bagi kelompok Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) di Inggris, pada tahun 2009 Perdana Menteri Inggris kemudian meminta maaf atas perlakuan tidak layak yang diterima Alan Turing. Empat tahun berselang, Ratu Elizabeth II memberikan pengampunan resmi kepada Alan Turing, mengembalikan nama baiknya sebagai ilmuwan besar dan pahlawan perang bagi negaranya.

Di saat banyak negara sudah memberikan kesetaraan hak bagi kelompok LGBT, Indonesia justru terus berjalan mundur. Baru-baru ini, beberapa organisasi keagamaan melakukan gerakan boikot gerai kopi Starbucks yang dianggap sebagai perusahaan yang membela LGBT. Salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, juga meminta agar pemerintah mencabut izin usaha Starbucks di Indonesia karena tidak sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia.

Mengapa Memusuhi LGBT?

Dalam dunia kesehatan, LGBT tidak dianggap sebagai penyakit atau gangguan jiwa. Asosiasi psikiatri di seluruh dunia telah menghapuskan LGBT dari daftar penyakit kejiwaan (DSM/Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) di tahun 1973. Dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ) yang menjadi panduan psikiatri di Indonesia, orientasi seksual – termasuk LGBT tidak boleh dianggap sebagai salah satu bentuk gangguan.

Selayaknya Alan Turing, Kelompok LGBT adalah manusia biasa yang kebetulan memiliki perbedaan orientasi seksual. Mereka hidup, berkarir, berprestasi, dan bermasyarakat seperti orang-orang pada umumnya. Yang membedakan adalah perlakuan diskriminatif dari aturan hukum dan stigma yang dilekatkan oleh masyarakat.

Selain usaha boikot Starbucks yang mendukung LGBT, beberapa bulan lalu beredar berita bahwa Universitas Andalas di Padang, Sumatera Barat mengharuskan surat pernyataan bebas LGBT dalam syarat calon mahasiswa baru. Pihak Universitas Andalas kemudian menghapus persyaratan tersebut setelah menjadi kontroversi tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Banyak argumen yang menjelaskan mengapa orang menjadi homophobia, tetapi salah satu yang sesuai dengan konteks Indonesia adalah ketidakpahaman dan salah memahami tentang apa itu LGBT. Banyak mitos yang menyesatkan pemahaman orang-orang awam seperti bahwa homoseksualitas itu adalah penyakit, homoseksualitas bisa menular, dan homoseksualitas menularkan virus HIV. Beberapa hal ini nyatanya mitos dan tidak sesuai dengan fakta medis dan sains.

Ketidakpahaman ini biasanya bersumber jarak dan lingkungan yang berbeda. Pengalaman pribadi berinteraksi dengan orang yang berbeda akan sangat membantu memahami dan menghormati perbedaan. Banyak homophobia merasa anti-LGBT karena membaca berita atau tulisan yang anti-LGBT, walaupun tidak pernah sekalipun berkenalan atau berinteraksi dengan kelompok LGBT. Kebencian disulut oleh sesuatu yang jauh dan sulit dipahami, sehingga fakta mudah disesatkan.

Kampanye boikot terhadap Starbucks juga terasa janggal, terdapat 379 perusahaan yang pada tahun 2015 ikut mendukung disahkannya pernikahan sejenis di Amerika Serikat. Daftar tersebut mencakup banyak perusahaan terkemuka di dunia seperti Apple, Microsoft, Facebook, Twitter, Coca-Cola, dan seterusnya. Benarkah kita ingin memboikot semua produk perusahaan-perusahaan ini?

Tentu saja, melakukan boikot adalah merupakan hak, namun boikot dengan mendasarkan pada kebencian kelompok (homophobia) jelas merupakan perilaku diskriminatif yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

 

Iqbal Dawam Wibisono

Iqbal Dawam Wibisono adalah lulusan Ilmu Ekonomi Unpad. Saat ini Iqbal bekerja sebagai asisten peneliti di Center for Economics & Development Studies (CEDS), tim riset di Youth Freedom Network (YFN) dan aktif sebagai ketua Studium Veritatis, klub kajian dan diskusi ekonomi, sosial, dan politik di Bandung. Iqbal penah terlibat dalam penelitian sektor informal di Indonesia yang dilakukan oleh CEDS bekerja sama dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) juga terlibat dalam penelitian analisis kinerja pasar jasa penerbangan di Indonesia yang dilakukan oleh CEDS dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Iqbal bisa dihubungi melalui email: [email protected]