Selamat Hari Buruh dan Hari Kapital

Opini    | 1 Mei 2017 | Read 597 times
Selamat Hari Buruh dan Hari Kapital

Berangkat dari judul di atas, barangkali kita akan langsung bertanya-tanya, adakah hari “kapital”, atau harinya para “pemilik modal”? Sebenarnya tidak ada. Tapi sebagai orang yang percaya pada kapitalisme, saya berani merayakan “hari kapital”, dalam pengertian bahwa kapital dalam ilmu ekonomi adalah niscaya, bersamaan dengan hari buruh, atau May day setiap tahunnya.

Sebab, saya akan sangat merasa berdosa jika saya ikut merayakan hari buruh tapi mendustai diri terhadap kedudukan kapital dalam realitas ekonomi umat manusia. “mengapa kita punya Hari Buruh di Amerika namun tidak punya Hari Kapital, sedangkan buruh dan kapital sangat bergantung satu sama lain?” Tanya Lawrence W. Read dalam esainya, Happy Capital Day?  di Fee.org.

Esai dari Lawrence ini yang menginspirasi saya untuk menulis tema ini. Dan saya sempat berpikir, kita barangkali mesti punya hari kapital, tidak hanya hari buruh. Tapi apa pentingnya? Apakah ketika ada hari kapital, kelas kapitalis juga merayakannya dengan parade sekaligus tuntutan-tuntutan jaminan sosial dan segala macam intervensi demi kesejahteraan sosial pada pemerintah? Rasanya kita hanya perlu hukum yang adil untuk menjaga dan melestarikan kebebasan ekonomi.

Tapi hari buruh tidak hanya hari yang dirayakan tiap tahun pada tanggal satu Mei di seluruh dunia, atau hanya long march yang diarahkan ke istana negara dengan ribuan massa buruh. Tidak. Kita semua tahu di dalamnya terdapat tuntutan-tuntutan massa yang sudah disiapkan oleh para aktivisnya untuk pemerintah. Tuntutan-tuntutan yang kerap diajukan soal kenaikan upah buruh, jaminan sosial, dan pengurangan jam kerja; sebuah upaya politis untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah.

Dan berdasarkan fakta historisnya, hari buruh memang lahir dari upaya meraih kendali ekonomi-politis dalam perkembangan kapitalisme industri pada awal abad 19, terutama di Eropa Barat dan Amerika Serikat.

Basis tuntutannya adalah meminta intervensi pemerintah lewat kebijakan ekonomi, dengan asumsi jika para kapitalis tidak dikontrol, maka mereka akan mengeksploitasi buruh, menghisap keringat buruh. Tapi inilah upaya-upaya politis kaum sosialis untuk mengarahkan otoritas politik dan mengabaikan kebebasan ekonomi.

Di sini saya akan menekankan peran teramat penting kapitalis, yang kerapkali sengaja dihilangkan. Kapitalis di sini perlu dibedakan dengan kapitalisme dalam perkembangannya, seperti kapitalisme kroni/kapitalsime negara, yang nyaris dilupakan banyak orang, bahkan cenderung tidak dianggap sebagai bagian dari rakyat. Dalam narasi imajiner sosialis, kapitalisme selalu sebagai negasi dari rakyat.

Di mata  mereka, sang kapitalis adalah monster rakus yang harus diatasi, sebab ia adalah mesin eksploitasi buruh yang berlumur ketidakadilan. Namun, benarkah anggapan itu? Benarkah bahwa hubungan antara buruh dan kapitalis sejahat itu? Rasanya kita perlu menengok ekonom Austria yang dengan cemerlang menggugat anggapan itu, Eugen von Bohm-Bawerk.

Untuk membahas hubungan buruh dan kapitalis, otomatis kita akan merujuk pada mereka yang menyediakan basis ideologis terhadap eksistensi keduanya. Karl Marx adalah salah satu eksponen utama gerakan buruh. Dan terkait dengan buruh, yang diorganisir menurut ajaran Marx demi menentang eksploitasi kapitalis, ditantang oleh murid Menger ini.

Bohm-Bawerk mampu membawa teori Austria ke arah baru, khususnya di bidang teori pertumbuhan ekonomi dan kapital. Ia juga adalah ekonom pertama yang membahas Marx secara serius dan melancarkan serangan keras pada teori eknomi Marx. “Bohm adalah lelaki yang menjawab Marx”, ungkap Skousen.

Bohm-Bawerk memperkenalkan kritiknya terhadap Marx dalam karya klasiknya, Capital and Interest (1884) di mana untuk pertama kalinya Ia mengulas tuntas sejarah teori bunga sejak masa purba. Bagian pertama dari karya ini membahas teori eksploitasi Rodbertus, Proudhon, Marx dan sosialis lainnya.

Dalam bab 6 telah dikemukakan bahwa teori nilai surplus Marx menyatakan buruh seharusnya menerima nilai penuh dari produk yang mereka hasilkan. Pemilik tanah yang mendapatkan sewa dan kapitalis yang mendapatkan profit dan bunga mengeksploitasi buruh dan merampas hasil kerja mereka. Secara umum, inilah keyakinan dasar dari semua gerakan buruh dalam mendorong kebijakan pemerintah ke arah kebijakan yang sosialistik, tak terkecuali di Indonesia.

Tapi apakah benar, semalang itu nasib para buruh di bawah kapitalis, dan sejahat itu kapitalis terhadap buruh, sehingga kapitalis nyaris tak menanggung kesulitan dan biaya apapun?

Berangkat dari tuduhan Marx dan para pengikutnya terhadap sifat kapitalis,  Bohm-Bawerk mengajukan argumen, yang dinamakannya argumen “menunggu” dari kapitalisme. Di sini, ia bersandar pada teori bunga yang ditahan (abstinence theory of interest), sebuah konsep yang sebelumnya dikembangkan oleh Nassau William Senior. Berbeda dengan buruh, sang kapitalis menahan diri untuk melakukan konsumsi dan menggunakan tabungan mereka untuk berinvestasi dalam barang modal dan barang produksi.

Semuanya dilakukan dalam rangka untuk mengembangkan barang dan jasa. Pendapatan bunga mencerminkan faktor menunggu dalam kehidupan eknomi, dan karena itu dijustifikasi sebagai kompensasi yang sah untuk kapitalis. Produsen barang konsumen harus menunggu barang-barang mereka diproduksi dan dijual ke konsumen sebelum barang-barang itu dibeli. Ringkasnya, kapitalis, pengusaha, investor, dan pemilik tanah harus menunggu untuk dibayar.

Tetapi bagaimana dengan buruh yakni para tenaga kerja? Mereka tak perlu menunggu. Mereka setuju melakukan sejumlah pekerjaan tertentu dengan mendapat upah atau gaji, dan mereka dibayar setiap bulan atau setiap minggu, tanpa peduli produk mereka terjual atau tidak. Mereka tak perlu merisaukan utang investasi atau perubahan pasar. Mereka mendapat bayaran dengan lancar, dengan asumsi majikan mereka jujur dan mampu. Dalam kenyataannya, pemilik modal selalu membayar di muka untuk gaji karyawan sebelum mendapat bayaran dari produk yang terjual. Seperti ditulis Bohm-Bawerk, “pekerja tidak bisa menunggu, mereka terus bergantung kepada orang-orang yang sudah mempunyai produk intermedite, atau kapitalis”.

Lebih lanjut, bagaimana dengan tingkat risiko yang dihadapi buruh dan kapitalis? Kapitalis bisnis mengambil risiko sedangkan pekerja tidak, jawab Bohm-Bawerk. Para buruh mendapatkan bayaran secara teratur dan, jika bisnis bangkrut, mereka paling-paling hanya kehilangan gaji, mereka hanya mencari pekerjaan lain. Tetapi kapitalis harus menanggung keruntuhan financial, utang yang banyak, dan kebangkrutan. Singkatnya, level risiko pekerja jauh lebih kecil ketimbang risiko sang kapitalis.

Bagaimana pasar akan mengimbangi risiko ini? Dengan memberikan bagian signifikan dari nilai produk kepada pengusaha kapitalis, melalui laba dan bunga.

Berangkat dari argumen dan teori Bohm-Bawerk di atas, apakah kita masih melihat—buruh dalam bingkai  faktor produksi—sebagai kelas sosial yang terus dieksploitasi? Atau yang selalu dirugikan sesuai dengan teori nilai surplus Marx, di mana sang kapitalis merampas hasil kerja mereka? Jika melihat perkembangan ekonomi politik hari ini, rasanya gagasan Marx tidak akan bertahan lama, terlepas dari apakah mereka sedang berhadapan dengan Kapitalsime versi negara atau kapitalis abal-abal.

Para pendukung gagasan Marx, di mana pun dan kapanpun, tidak pernah bisa melihat “kapital” secara positif. Berbeda dengan para pelopor mahzab Austria, yang mana melihat kapital sebagai kunci dan penyelamat umat manusia.

Terkait judul di atas, sekali lagi, saya merayakan “hari kapital” bersamaan dengan hari buruh, atau May Day dengan alasan-alasan yang saya paparkan sebelumnya. Masalahnya hanyalah bahwa hari buruh diresmikan dengan berbagai faktor sejarah dan sangat bersifat politis, sedang hari kapital tidak. Dan dengan perbedaan itu, menurut saya, tidak lantas membuat hari buruh adalah hari yang lebih layak dirayakan daripada hari kapital. Tetapi apa pentingnya merayakan hari kapital? Toh ia tetap “ada” dalam kehidupan manusia, sebagaimana juga buruh.

Kesimpulannya, kapital dan buruh adalah dua unsur yang tak bisa dipisahkan dalam hukum ekonomi. keduanya terpisah ketika menjadi politis. Seharusnya tak perlu ada dikotomi antara kapital dan buruh. Sebab, kita semua adalah pekerja.

Kita menabung dan berinvestasi, baik waktu dan tenaga. Simpulan ini berangkat dari pernyataan Laurence W. Read, dalam esainya, Happy Capital Day ? “bahwa jangan berpikir kapital hanyalah sesuatu yang dimiliki orang kaya atau kalangan elit saja. Sebab, kita juga adalah pekerja pada semua level pendapatan, dan itu disebut “capital-is”. Untuk itu, selamat hari buruh dan hari kapital.

Hendra Manggopa

Hendra Mangopa adalah anggota yang aktif di lingkaran Mises Club Indonesia dan penggiat di Amagi Indonesia, Organisasi Non Pemerintah yang didasarkan pada prinsip Libertarianisme, ingin membawa tradisi pemikiran Mazhab Austria ke dalam perbincangan ekonomi kita saat ini. Upaya Amagi diawali dengan pembukaan lingkaran studi bernama Mises Club Indonesia yang berpusat di Manado, Sulawesi Utara.