Menjadi John Galt

Opini    | 16 Feb 2017 | Read 989 times
Menjadi John Galt

“Aku bersumpah demi hidupku dan demi cintaku terhadapnya, bahwa aku tidak akan pernah menghamba demi hidup orang lain, dan tak akan pula meminta orang lain untuk menghamba demi hidupku.” –John Galt

John Galt adalah tokoh fiksi dalam Atlas Shrugged, novel karya Ayn Rand yang diterbitkan pada tahun 1957. Novel tersebut menceritakan bahwa penerapan nilai-nilai kolektivis sebagai dasar pengambilan kebijakan yang penuh koersi, tidak akan pernah berhasil mendorong peradaban manusia untuk terus maju ke depan. Sebaliknya, penerapan nilai-nilai kolektivis dengan alasan-alasan kunonya seperti mitos-mitos terkait kepentingan publik maupun pemerataan justru akan menjadi disinsentif bagi tiap-tiap individu untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Dalam novel itu diceritakan bahwa penerapan nilai-nilai kolektivis dan campur tangan pemerintah dalam bidang ekonomi merupakan suatu masalah yang besar.

Hilangnya insentif individual untuk dapat terus mengembangkan dirinya, tentu pada akhirnya akan berdampak pada merosotnya peradaban, ilmu pengetahuan, dan perekonomian. Tidak ada yang diuntungkan dengan hal tersebut. Peradaban hanya akan maju apabila tiap-tiap individu masih memiliki insentif untuk mengembangkan dirinya sendiri berdasarkan semangat, tujuan, dan keinginan yang individual, yang berbeda satu dengan lainnya. Indikasinya dapat terlihat dari ada dan berkembangnya pasar yang kompetitif sebagai proses enterpreneurial discovery, yang mendorong tiap-tiap individu untuk tetap mengembangkan dirinya.

Ayn Rand mengisahkan John Galt sebagai sosok manusia yang ideal. Galt adalah seorang filsuf dan seorang inventor yang percaya tentang kekuatan dan kecemerlangan akal dan kehendak manusia, dan hak masing-masing individu untuk menggunakan serta memanfaatkan akal dan kehendaknya semata-mata untuk kepentingan diri sendiri.

Dia bertindak sebagai seorang lawan atau penantang yang bersikap sangat individualistis terhadap struktur sosial dan ekonomi yang sangat mengedepankan nilai-nilai kolektivis. Singkat kata, Galt adalah sosok yang berjuang untuk memanusiakan manusia, Galt adalah seorang individu yang mencintai dirinya sendiri, Galt adalah perwujudan dari Objektivisme yang diusung oleh Ayn Rand.

Dengan semangat yang teramat besar untuk mengembangkan dirinya sendiri, John Galt secara tidak langsung memberikan keuntungan pula bagi banyak orang, dan kontribusi yang signifikan pula bagi peradaban manusia. Galt menginspirasi banyak orang untuk hidup bagi dirinya sendiri, untuk menolak perbudakan, dan menolak menjadi budak.

Ada satu hal yang dapat kita petik dari kisah tersebut, yaitu bahwa menghormati hak tiap-tiap individu untuk mengejar dan mengusahakan minat serta kehendaknya untuk mengembangkan dirinya sendiri, pada akhirnya akan membuahkan hasil yang terbaik pula bagi orang lain. Hal tersebut telah diamini pula oleh Adam Smith dengan metafornya yang terkenal Invisible Hand.

Suka atau tidak suka, pada dasarnya setiap manusia bertindak dan berperilaku untuk pemenuhan kepentingan dan tujuan dirinya sendiri, dan atas rasionalitasnya sendiri yang sifatnya individual dan unik, tidak bisa dan tidak perlu diseragamkan antara satu individu dengan individu lainnya. Hal tersebut adalah hal yang baik adanya dan manusiawi.

Dengan semangat itu pula yang mendorong peradaban untuk terus maju ke depan. Sifat self-centrist dan individualistis yang merupakan sifat dasar manusia mendorong tiap-tiap individu untuk terus berusaha menjadi yang terbaik, dengan cara mengembangkan dirinya sendiri, dan dengan menciptakan atau melakukan sesuatu yang pada akhirnya juga akan memberikan nilai untuk masyarakat luas dan untuk peradaban manusia.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Tidak ada yang salah dengan sifat dasar manusia yang self-centrist dan individualistis. Menurut Ludwig von Mises dalam bukunya Human Action (1949), tujuan utama dari aksi manusia selalu merupakan pemenuhan atas keinginan dan tujuan dari manusia yang bertindak sendiri.

Tidak ada tolok ukur maupun standar  yang kuat maupun  lemah dari pemenuhan atas keinginan dan tujuan tersebut, selain yang didasarkan pada penilaian masing-masing individu sendiri, yang berbeda antara satu individu dengan lainnya, dan berbeda pula antara satu individu yang sama di satu waktu dan keadaan tertentu dengan individu yang sama di waktu dan keadaan yang lain. Tak ada pihak lain, selain individu terkait sendiri, yang dapat menetapkan maupun memutuskan apa yang dapat membuat individu lainnya bahagia, karena kepuasan dan kebahagiaan adalah hal yang individual.

Orang sering salah kaprah dengan sifat individual maupun self-centrist manusia tersebut. Saat mendengar kata self-centrism atau individualisme, yang terlintas di benak banyak orang hanyalah ketidakpedulian terhadap sesama, keserakahan, maupun segala hal yang buruk. Saat mendengar kata-kata tersebut, orang sering kali langsung berpikir mengenai orang yang tidak bermoral yang tidak segan menipu, mencuri, atau bahkan membunuh orang lain hanya untuk kepentingan dan nafsu dirinya sendiri.

Sehingga manusia membutuhkan campur tangan pemerintah yang besar di segala bidang kehidupannya untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Banyak orang menganggap bahwa manusia yang bersikap sebagaimana layaknya manusia, yaitu yang self-centrist dan individualis, adalah manusia-manusia yang layak dipermalukan atau bahkan jahat. Self-centrism dan individualisme yang sebenarnya tidak berarti seperti itu.

Menurut Ayn Rand, Selfishness berarti: mengikuti akal sehat bukan keinginan maupun hal-hal lainnya yang tak berdasar, bekerja keras untuk mencapai hidup yang bertujuan dan produktif, meraih harga diri yang sejati, mengejar kebahagiaan diri sendiri sebagai tujuan moral yang tertinggi, dan meraih kesejahteraan dengan cara memberikan nilai kepada orang lain sebagai individu, menukar nilai dengan nilai. Seorang inventor yang berhasil melakukan suatu invensi yang berguna bagi orang banyak, mungkin pada dasarnya termotivasi atau mendapat insentif untuk melakukan tersebut karena hal-hal yang bersifat individual atau self-centrist.

Tapi pada akhirnya, apabila dia memasarkan penemuan tersebut, penemuannya juga akan berguna bagi banyak orang, bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Seorang pengusaha yang pada dasarnya hanya ingin mendapatkan kekayaan dan penghidupan yang lebih baik, mau tidak mau juga menguntungkan orang-orang lainnya, seperti konsumennya yang masalahnya dipecahkan dengan barang atau jasa yang ditawarkannya, maupun karyawan-karyawannya yang mendapatkan pekerjaan dari pengusaha tersebut.

Falsafah hidup Rand bukanlah cerita tentang dunia khayalan yang tak pernah ada. Falsafah hidup Rand adalah falsafah hidup untuk hidup di dunia ini, untuk menghadapi realita yang tak perlu kita harapkan untuk dapat kita tulis ulang atau kita hindari, melainkan kita hadapi dengan sungguh-sungguh.

Falsafah hidup Rand adalah solusi yang ditawarkan Rand bagi tiap-tiap kita, untuk memenangkan dunia yang kita impikan. Kita yang memiliki keinginan untuk menghadapi kenyataan dunia, berdamai dengan akal sehatnya, serta menjadikan hidupnya sendiri sebagai tujuan moral tertinggi pada dasarnya adalah seorang objektivis.

Saya meyakini Kita adalah John Galt. Kita yang tidak hanya berharap, tapi benar-benar mengejar apa yang kita impikan. Kita yang memperjuangkan kebebasan. Kita yang memperjuangkan perdamaian. Kita yang menggunakan akal sehat dan kehendak bebas untuk menghadapi kenyataan.

Tiap-tiap kita yang menolak untuk menjadi budak maupun memperbudak. Tiap-tiap kita yang memilih untuk hidup dengan tujuan dan arahan kita sendiri, dan juga menghargai keberagaman tujuan hidup orang lain.

Sebagai individu yang merdeka, kita semua memiliki pilihan. Apabila kita memilih untuk mendukung gagasan-gagasan anti-individualisme yang membatasi kehendak masing-masing kita sebagai individu untuk mengembangkan diri kita masing-masing, apalagi yang dipaksakan oleh pemerintah, niscaya peradaban kita akan semakin terbelakang.

Namun, apabila kita percaya pada gagasan bahwa tiap-tiap kita sebagai individu memiliki hak untuk mengembangkan diri masing-masing, bahwa hidup kita adalah sepenuhnya hak milik pribadi kita yang paling sakral, dan bahwa arah hidup kita adalah sesuatu yang hanya dapat ditentukan oleh kita sendiri, maka berhentilah untuk mendukung mereka yang menindas kita, berhentilah membiarkan sistem yang ada memperlakukan kita dengan sewenang-wenang. Sesuatu yang jahat hanya dapat terjadi atas ijin dari yang baik. Dan diam serta pasrahnya mereka atau kita yang baik adalah bentuk pemberian ijin secara tidak langsung.

Mari menjadi seperti John Galt, mari membangun dunia yang berlandaskan semangat kebebasan dan penghormatan terhadap pilihan tiap-tiap individu. Dunia yang kita inginkan dan kita cita-citakan dapat kita menangkan.

Imantaka Nugraha

Imantaka Nugraha adalah lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan menulis skripsi mengenai perbandingan klasifikasi hukum Bitcoin sebagai barang ekonomi. Studinya di FHUI berfokus pada hukum telematika, hukum tentang kegiatan perekonomian, serta hukum administrasi negara. Pada tahun 2017, dinobatkan menjadi satu dari tiga finalis dalam penghargaan Student of The Year di ISFLC Award yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh Students For Liberty di Washington D.C., Amerika Serikat. Pada saat ini, aktif di Students For Liberty Indonesia.