‘Fitsa Hats’ dan Air Mata Basuki

Opini    | 1 Feb 2017 | Read 44387 times
‘Fitsa Hats’ dan Air Mata Basuki

"Saya itu jadi presiden cuma modal dengkul, itu pun dengkulnya Amien Rais," kata Abdurahman Wahid (Gus Dur). Lelucon ini kerap dilontarkan oleh Presiden ke-4 RI ini di berbagai kesempatan. Bagi yang paham konteksnya pasti akan tertawa terbahak-bahak. Bahkan, Amien Rais sendiri mungkin bisa tertawa mendengarnya.

Ceritanya sangat unik. Sungguh di luar dugaan Amien, basa-basinya yang ingin mendorong Gus Dur menjadi Presiden ternyata ditanggapi serius. Lalu, Guru Besar UGM ini harus ikhlas hanya sekedar menjadi ketua pemandu sorak untuk seorang kyai kampung dengan poros tengahnya. Hingga hari ini, semua orang tahu Amien masih memendam luka.

Di balik lelucon "dengkul" ternyata tersimpan drama tragedi yang pilu. Politik hari ini sudah kehilangan semua itu. Jenaka telah mati, narasi politik serius dan penuh kebencian telah menggantikannya.

Pilkada Jakarta sebenarnya tidak seru sama sekali. Bagi saya, pesta demokrasi ini lebih tepat dianggap menakutkan dan tegang. Semua saling menghujat dan membenci.

Tadinya, saya berharap sosok seperti Pandji Pragiwaksono di tim sukses Anies-Sandiaga atau Sophia Latjuba di tim sukses Ahok-Djarot yang berprofesi sebagai pekerja seni dapat membuat politik lebih rileks. Tetapi, mereka ternyata juga tidak mampu.

Lepas dari kebaikannya, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) adalah orang yang paling bertanggung jawab atas ini semua. Tawa dan canda dalam politik ala Gus Dur sudah dikuburnya dalam-dalam.

"Saya tidak takut mati!" dan "Ditembak gue juga ga takut!" adalah kalimat yang begitu sering diucapkan Ahok. Politik menjadi urusan hidup dan mati seseorang. Padahal, politik butuh orang yang mampu merawat kehidupan. Ahok adalah sebuah merek politik sesat pikir, yang dikonsumsi secara masif.

Tetapi mungkin juga ada benarnya, Ahok memang menganggap politik adalah urusan hidup-mati. Selain sebagai politisi, saya tidak tahu apa yang bisa dilakukan Ahok.

Tidak ada yang tahu persis Ahok sebenarnya memiliki perusahaan apa, bergerak di bidang apa, berapa keuntungannya, berapa orang tenaga kerjanya, dan berapa pajak yang telah dibayarkan pada negara setiap tahunnya. Saya sudah cari tahu dimana-mana, tetapi tidak ada jawabnya. Kalau ada yang punya datanya dan mau berbagi, saya akan sangat berterima kasih.

Lepas dari masalah-masalahnya, Sandiaga Uno jauh lebih jelas sebagai seorang pengusaha. Makanya, saya agak yakin Sandiaga tidak memandang Pilkada DKI sebagai sebuah ajang hidup-mati. Jika kalah, tinggal masuk kantor lagi.

Jika Anies yang kalah, ijazah S-3nya paling tidak masih berguna. Dia bisa kembali menjadi pendidik, penulis, atau motivator. Apalagi, kursi Mario Teguh tengah kosong. Mas Anies masih bisa jualan barang lain.

Agus Yudhoyono jangan ditanya. Pilkada DKI hanya urusan kecil. Sang Ayah sudah siapkan kursi nomor satu di Partai Demokrat. Sementara itu, Silvya Murni juga tidak terlalu pusing. Dia bisa kembali ke kampus dengan gelar Professornya.

Kehilangan kursi DKI akan jadi bencana buat Ahok. Tidak heran dia begitu serius dan tempramen jika ada yang coba mengusik. "Ibu maling! Ibu maling!" Katanya pada seorang warga yang komplain di depan umum.

Politik kehilangan rasa komedi. Semua orang menjadi tak segan marah, membenci, dan mengadu domba. Sebagai sebuah narasi politik, apa yang dibangun oleh Ahok sangat buruk untuk masa depan demokrasi.

Kita sudah lihat hasilnya sekarang. Apa saja kata yang terlontar malah jadi bahan untuk saling mempolisikan. Setiap kelompok sedang berlomba-lomba memasukan orang sebanyak-banyaknya ke dalam penjara. Mulai dari Al-Maidah 51, hingga insiden ‘Fitsa Hats’.

Selain marah dan mengamuk, politik juga bisa buat Ahok menangis sendu. Cerita-cerita keakrabannya dengan orang Islam diumbar untuk meyakinkan publik bahwa dia bukan penista agama.

Narasi Ini sedikit berbeda dengan retorika Ahok biasanya. Kalau memang tidak takut masuk penjara, apa gunanya air mata? Kalau tidak takut mati, untuk apa menangis? Tetapi yang pasti, air mata selalu menyentuh hati.

Jika memang tawadhu kepada Gus Dur, belajarlah dengan seksama. Jangan hanya mengutip namanya saat merasa terdesak semata. Politik adalah tawa dan kehidupan, bukan sebuah jalan untuk menyerahkan nyawa. Semoga komedi kembali berdenyut dalam politik kita.

Arie Putra

Arie Putra adalah alumni Departemen Sosiologi FISIP UI. Ia juga menjadi associate di Universitas Indonesia Liberal and Democracy Study Club (UILDSC). Bisa dihubungi via email: [email protected] dan twitter: @arieptr.