Apakah Aborsi Merupakan Hak Perempuan?

Opini    | 22 Des 2016 | Read 2312 times
Apakah Aborsi Merupakan Hak Perempuan? ihradio.com

Kapan manusia diakui sebagai pribadi yang utuh? Inilah pertanyaan besar yang terus diperdebatkan selama ribuan tahun, sejak era Yunani kuno hingga pada detik ini. Penentuan awal seseorang diakui sebagai pribadi yang utuh merupakan konsep yang sangat penting karena hal tersebut merupakan salah satu fondasi untuk mengimplementasikan berbagai konsep hak dasar yang wajib dilidungi dan dijunjung tinggi, diantaranya adalah hak untuk hidup. Pertanyaan ini juga merupakan pertanyaan utama yang kerap diajukan dalam perdebatan mengenai berbagai isu sosial, salah satunya adalah aborsi.

Bila dikerucutkan, setidaknya ada dua pandangan besar yang saling bersebrangan. Pandangan pertama yang berpendapat bahwasanya seseorang menjadi pribadi yang utuh dan berhak untuk mendapatkan pertimbangan moral adalah sejak masa pembuahan di dalam rahim. Oleh karenanya, dalam pandangan ini terminasi kehamilan dianggap sebagai suatu tindakan yang sangat tidak bermoral dan patut untuk dipidanakan karena hal tersebut setara dengan tindakan pembunuhan terhadap manusia yang sudah lahir. Pandangan pertama ini dikenal dengan istilah pro-life.

Sementara pandangan kedua menyatakan bahwa seseorang baru diakui menjadi pribadi yang utuh pada saat ia lahir. Janin, apalagi embriyo, dipandang bukan sebagai pribadi yang sudah utuh dan oleh karena hal tersebut tidak memiliki hak–hak yang melekat sebagaimana manusia yang sudah dilahirkan. Seseorang yang berpandangan demikian pada umumnya mendukung hak seorang perempuan untuk melakukan tindakan terminasi kehamilan dengan alasan apapun karena hal tersebut dianggap sebagai salah satu bagian dari hak kebebasan reproduksi yang harus dijunjung tinggi dan dilindungi. Oleh karenanya, pandangan kedua ini dikenal dengan istilah pro-choice.

Perdebatan mengenai hal tersebut juga merupakan polemik yang besar dalam diskursus libertarianisme. Di Amerika Serikat sendiri misalnya, menurut survei American National Election Study pada tahun 2008 menyatakan bahwa 62% seseorang yang menganggap dirinya sebagai libertarian memiliki pandangan pro-choice dan 37% berpandangan pro-life. Berbagai tokoh dan pemikir libertarianisme sendiri juga terbelah dalam isu aborsi dan hak kebebasan reproduksi ini, diantaranya mantan anggota kongres Amerika Serikat, Ron Paul, dan aktivis politik kondang dari partai Libertarian Amerika, Austin Petersen, yang berpegang teguh terhadap sikap anti-aborsi di satu sisi, serta ekonom Murray Rothbard, novelis Ayn Rand dan mantan gubernur Gary Johnson menyatakan bahwa aborsi merupakan salah satu hak dasar yang wajib dimiliki oleh setiap perempuan di sisi lain.

Pro-Life vs Pro-Choice

Libertarianisme merupakan gagasan yang sangat menjunjung tinggi hak individu dan hak kepemilikan pribadi, dan oleh sebab itu, aborsi merupakan isu yang tidak bisa dilepaskan dalam diskursus libertarianisme. Perbedaan pandangan mengenai awal mula melekatnya hak individu kepada setiap manusia tentu akan menghasilkan pemahaman yang berbeda pula. Kapankah seseorang diakui sebagai pribadi yang utuh dan berhak untuk mendapatkan pertimbangan moral? Apakah embrio dan janin memiliki hak seperti manusia yang sudah dilahirkan?

Mendasari pada gagasan bahwa seseorang sudah menjadi pribadi yang utuh sejak masa pembuahan, mantan anggota kongres Amerika Serikat, Ron Paul memiliki pandangan bahwasanya tindakan aborsi sama dengan pembunuhan dan oleh karena itu harus dilarang sepenuhnya, dengan pengecualian apabila janin yang dikandung berpotensi membahayakan kesehatan sang calon ibu.

Dalam artikelnya yang berjudul “Being Pro-Life Is Necessary to Defend Liberty”, Paul menyatakan bahwasanya legalisasi tindakan aborsi merupakan salah satu bentuk dari tirani negara, karena dalam hal ini negara telah secara ekplisit menyatakan bahwasanya ada sebagian manusia yang dinyatakan bukann sebagai pribadi yang utuh dan oleh karena itu bisa dihilangkan nyawanya oleh manusia lainnya. Untuk itu, Paul menulis, sangat penting bagi kalangan libertarian pro-life untuk meyakinkan kelompok libertarian yang mendukung hak aborsi bahwasanya aborsi dan kemerdekaan individu merupakan sesuatu yang sangat kontradiktif dan tidak dapat dipersatukan.

Ron Paul dalam artikelnya juga menentang keras pandangan kelompok libertarian yang menjustifikasi tindakan aborsi atas dasar hak kepemilikan perempuan atas tubuhnya. Paul menulis bahwa bila pandangan demikian diterima, maka setiap orang lantas memiliki hak untuk membunuh siapapun yang berada di dalam properti yang ia miliki, dan hal tersebut telah melanggar kebebasan individu dan hak hidup seseorang.

Berbeda 180 derajat dari pandangan Ron Paul, filsuf dan novelis Ayn Rand dalam bukunya, “The Voice of Reason”, menulis bahwasanya hak baru didapatkan oleh seseorang apabila ia sudah “menjadi manusia”, bukan pada entitas yang masih “berpotensi menjadi manusia.” Oleh karenanya, setiap perempuan memiliki keputusan mutlak atas tubuhnya untuk memutuskan apakah ia akan mempertahankan kandungannya atau tidak, karena janin dan embriyo belumlah menjadi manusia seutuhnya dan tidak memiliki hak apapun. Pelarangan aborsi, ditulis Rand, merupakan pelanggaran atas kepemilikan tubuh seorang perempuan.

Ekonom asal Amerika Serikat, Murray Rothbard juga mengemukakan pandangan yang serupa. Dalam bukunya, “The Ethics of Liberty”, Rothbard menulis bahwasanya salah satu prinsip yang dijunjung tinggi oleh libertarianisme adalah apa yang dikenal dengan prinsip non agresi (non-aggression principle), bahwa setiap individu memiliki kebebasan mutlak untuk melakukan apapun yang mereka inginkan selama tidak mencederai orang lain ataupun properti yang mereka miliki.

Dengan menggunakan argumen kepemilikan diri (self ownership) sebagai dasar, Rothbard menulis bahwasanya tidak ada entitas apapun yang berhak hidup dengan menjadi “parasit” di tubuh orang lain. Janin yang hidup di dalam tubuh seorang perempuan diluar dari keinginan perempuan tersebut sama saja dengan agresi terhadap hak atas kepemilikan tubuh, dan tentunya jelas melanggar prinsip non agresi yang sangat dijunjung tinggi oleh libertarianisme.

Evictionism Sebagai Jalan Ketiga

Perdebatan antara kelompok pro-life dan pro-choice kemungkinan besar tidak akan pernah terselesaikan. Untuk itu, adalah Walter Block, seorang ekonom asal Amerika Serikat dan juga peneliti senior Ludwig von Mises Institute yang menawarkan pendangan berbeda mengenai aborsi dari sudut pandang libertarianisme. Dalam jurnal akademisnya yang berjudul “Compromising the Uncompromisable: A Private Property Approach to Resolving the Abortion Controversy” Block memperkenalkan gagasan yang disebut dengan Evictionism.

Block memulai gagasannya dengan menyetujui pandangan kelompok pro-life dengan menyatakan bahwasanya seseorang diakui menjadi pribadi yang utuh sejak pada masa pembuahan oleh karena itu berhak untuk mendapatkan pertimbangan moral dan hak-hak dasar sebagaimana manusia lainnya yang sudah dilahirkan.

Lantas, bila demikan, bagaimana jika perempuan yang mengandung tersebut memutuskan untuk tidak menginginkan janin yang ada di kandungannya? Bukankah bila perempuan tersebut dipaksa untuk tetap mengandung merupakan bentuk pelanggaran atas hak kepemilikan tubuh? Dan bila ia melakukan aborsi, bukankah hal tersebut melanggar hak hidup dari janin yang dikandungnya?

Block dalam hal ini sama sekali tidak menafikan hak kepemilikan setiap perempuan atas tubuhnya masing-masing, dan justru sebagai seorang libertarian ia sangat menjunjung tinggi konsep tersebut. Untuk itu ia menawarkan solusi bahwa, meskipun setiap janin memiliki hak hidup yang harus dilindungi, bukan berarti ia lantas bisa hidup didalam rahim seorang perempuan yang tidak menginginkannya. Untuk itu, seorang perempuan yang tengah hamil boleh melakukan “pengusiran” (eviction) terhadap janin yang berada di dalam tubuhnya kapanpun dan untuk alasan apapun.

Dalam hal ini Block mengambil pandangan Rothbard yang menyatakan bahwa tidak ada seseuatupun yang berhak untuk hidup di dalam tubuh orang lain diluar dari keinginan sang pemilik tubuh. Namun bukan lantas hal tersebut menjadi justifikasi untuk tindakan “pembunuhan” terhadap janin, meskipun janin tersebut merupakan “parasit.”

Gagasan Block ini bisa dijelaskan melalui analogi yang sederhana. Andaikan, bila seseorang secara tiba-tiba memasuki rumah yang bukan miliknya tanpa izin, tentu pemilik rumah tersebut memiliki hak untuk mengusir orang tersebut, yang telah jelas melanggar hak kepemilikan orang lain.

Namun bukan lantas pemilik rumah tersebut bisa langsung membunuh orang yang memasuki kediamannya tanpa izin. Ia harus memulai upaya untuk mengusir orang tersebut dengan cara tanpa kekerasan, kecuali bila sudah diperingatkan beberapa kali dan orang tersebut tak kunjung juga meninggalkan hunian yang bukan miliknya, atau bila ada indikasi bahwa orang tersebut berpotensi melakukan kerusakan atau perbuatan yang mengancam keselamatan pemilik rumah tersebut dan keluarganya, maka tindakan kekerasan, sebagai langkah membela diri, meruapakan sesuatu yang masuk akal untuk dilakukan.

Sejalan dengan analogi diatas, maka seorang perempuan tidak memiliki hak untuk membunuh janin yang ada di dalam rahimnya, meskipun tidak perlu diperdebatkan bahwa rahim tersebut mutlak merupakan miliknya. Namun ia memiliki hak penuh untuk mengeluarkan janin tersebut dari dalam tubuhnya kapanpun ia inginkan, dengan cara semaksimal mungkin agar janin tersebut tetap hidup. Penghilangan nyawa janin tersebut dapat dibenarkan hanya apabila secara medis terbukti akan berpotensi untuk mencelakakan perempuan yang mengandungnya, karena tidakan tersebut dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri (self defense). Block juga membayangkan bila di masa depan teknologi medis sudah mempu untuk membuat janin tetap hidup diluar dari rahim ibunya pada tahap apapun, maka tindakan untuk menjaga agar janin tersebut dapat meneruskan kehidupannya merupakan sesuatu yang wajib untuk dilakukan.

Sebagai penutup, tidak dapat dihindari bahwa aborsi akan terus menjadi perdebatan dalam diskursus libertarianisme. Saya pribadi berpendapat bahwasanya gagasan Walter Block mengenai evictionism merupakan upaya yang sangat baik untuk mempertemukan dua pandangan yang sangat berseberangan. Selain itu, Block patut untuk mendapat apresiasi besar karena telah mampu memperkaya wacana dalam tubuh libertarianisme.

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]