Donald Trump adalah Kita

Opini    | 21 Nov 2016 | Read 1398 times
Donald Trump adalah Kita politico.com

Namanya Donald Trump. Dunia mengenalnya sebagai salah seorang pelaku bisnis properti asal negara Paman Sam, dan pembawa acara reality show The Apprentice. Pada pertengahan tahun 2015 lalu, ia mengumumkan akan menjadi salah seorang calon kandidat presiden Amerika Serikat dari partai Republik. Sayang seribu sayang, tidak ada satu pihak pun yang menganggap dirinya serius, bahkan para petinggi partai tempat ia bernaung. Mulai dari media–media raksasa seperti CNN dan New York Times, hingga para komedian acara tengah malam, diantaranya John Oliver, Bill Maher, dan Stephen Colbert berpandangan Trump tidak lebih dari seorang badut politik.

Sepanjang kampanyenya, pebisnis berambut jingga ini kerap mengeluarkan berbagai pernyataan yang kontroversial. Ia menyatakan bahwa imigran asal Meksiko merupakan pengedar narkoba dan pemerkosa, dan bersikukuh akan membangun tembok tebal sepanjang perbatasan selatan Amerika Serikat. Pasca penembakan yang terjadi di California oleh simpatisan ISIS, ia menyatakan akan melarang seluruh muslim untuk memasuki negeri Paman Sam tersebut dan akan menggunakan kembali cara–cara penyiksaan untuk menginterogasi terduga teroris. Ia bahkan berjanji untuk memilih kandidat hakim agung Amerika Serikat yang memiliki pandangan anti aborsi dan anti kelompok LGBT.

Berbagai pihak, baik politisi, media, dan para pelaku bisnis di negaranya langsung bereaksi keras. Mereka ramai–ramai mengecam Donald Trump. Mereka melabeli dirinya sebagai seorang rasis, seksis, homophobic, xenophobic (anti asing), bigot, dan sebagainya. Beberapa mitra bisnis Trump bahkan segera memutuskan kontrak, diantaranya stasiun televisi NBC yang mengambil langkah untuk tidak menyiarkan acara Miss Universe yang dimiliki oleh Trump. Bahkan para politisi Partai Republik sendiri menolak diasosiasikan dengan pemilik Trump Organization tersebut, diantaranya ketua DPR AS Paul Ryan, Senator John McCain, mantan gubernur Massachusetts Mitt Romney, hingga presiden ke-43 negeri Paman Sam, George W. Bush.

Namun rakyat Amerika Serikat ternyata berkehendak lain. Trump bukan hanya mampu menjadi kandidat calon presiden dari Partai Republik, mengalahkan semua politisi unggulan seperti Senator dari Texas, Ted Cruz dan Gubernur Wisconsin, Scott Walker. Trump bahkan mampu menduduki jabatan sebagai orang terkuat di bumi, mengalahkan mantan ibu negara Hillary Clinton dari Partai Demokrat. Dunia serentak terkejut. Mereka beramai–ramai mempertanyakan, bagaimana seorang yang paling tidak diunggulkan dalam pemilu Amerika Serikat tersebut, seorang yang dicap rasis, seksis, dan bahkan didukung oleh Ku Klax Klan, akhirnya mampu menjadi pemimpin negara–negara dunia pertama?

Donald Trump adalah Kita

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat memicu berbagai reaksi negatif di seluruh dunia, tidak terkecuali di tanah air. Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia tentu sangat kecewa dengan pembawa acara The Apprentice tersebut, terutama dengan janjinya untuk melarang muslim memasuki negeri Paman Sam.

Saya mempertanyakan, apakah para pembenci Trump di tanah air memang sungguh-sungguh, ataukah tak lebih hanya merupakan sentimen biasa yang dipicu dengan kebencian terhadap Amerika Serikat yang teramat sangat? Saya bayangkan, bila Trump maju sebagai pejabat publik di Indoensia, bukankah ia dapat menang dengan mudah?

Lihat saja platform kebijakan yang ditawarkan oleh Trump. Diskriminasi terhadap kelompok minoritas, ingin menghapuskan hak kelompok gay untuk menikah, melarang aborsi, dan sebagainya. Bukankah hal tersebut terdengar familiar? Bukankah praktik diskiriminasi terhadap minoritas merupakan bagian dari keseharian masyarakat Indonesia? Bukankah LGBT merupakan kelompok yang kerap tidak dianggap sebagai bagian dari masyarakat?

Tengoklah berbagai praktik diskriminasi yang terjadi di berbagai penjuru negeri. Pada tahun 2014 misalnya, organisasi pegiat Hak Asasi Manusia, Human Rights Watch menyatakan setidaknya dalam kurun tahun 2010 sampai 2012 saja sudah terjadi sekitar 750 kasus intoleransi dan kekerasan fisik yang menimpa penganut agama minoritas.

Pemicu tindakan kekerasan ini bukan hanya dilakukan oleh organisasi massa non-pemerintah, namun juga oleh aparatur negara seperti kementerian agama melalui berbagai surat edarannya, salah satunya terkait Ahmadiyah, juga organisasi keagamaan otoritatif yang mendapat dana dari pemerintah seperti Majelis Ulama Indonesia melalui berbagai fatwa–fatwanya terkait aliran yang dianggap sesat.

Bila Donald Trump ingin mengusir para imigran dari Meksiko yang bermukim di negaranya, kita juga melakukan hal yang sama, bahkan bukan kepada imigran, namun kepada warga negara kita sendiri yang sudah bermukim di Indonesia selama beberapa generasi. Pengusiran paksa warga Syiah dari tempat tinggal mereka di Sampang, Madura pada tahun 2013 misalnya, tidak lebih hanya karena menyakini pemahaman agama yang berbeda dengan masyarakat sekitar. Mereka bukan pendatang ilegal, bukan pula musuh negara. Tapi mereka diperlakukan layaknya seorang kriminal yang mengancam keutuhan Indonesia.

Selain itu, jika dalam wawancaranya dengan CNN, pemilik Trump Organization ini menyatakan akan memilih hakim agung Amerika Serikat yang menentang pernikahan sesama jenis, kita juga melakukan hal yang serupa dengan kelompok LGBT yang bermukim di tanah air. Jangankan pernikahan sesama jenis, bahkan hak mereka untuk melakukan aktivitas seksualnya pun juga terancam akan dikriminalisasi. Hal ini diperkuat dengan survei Pew Research tahun 2013 mengenai pandangan masyarakat terhadap homoseksualitas, dan di Indonesia hanya 3% dari responden yang menyatakan hal tersebut dapat diterima, sementara 97% lainnya menentang.

Mengecam Trump sembari menutup mata terhadap berbagai kebencian dan intoleransi yang ada di tanah air merupakan sikap munafik tingkat tinggi. Seolah kita menyatakan bahwa hanya Indonesia lah yang memiliki mandat dari Tuhan untuk mempersekusi kelompok–kelompok minoritas, tapi tidak negara lain. Bahwa hanya kaum mayoritas di negeri inilah yang diizinkan untuk memperlakukan penganut agama lain secara semena–mena, namun mereka berteriak–teriak jika di tempat lain terjadi yang sebaliknya.

Kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat seharusnya mampu membuat kita berintrospeksi. Bila kita bisa bersikap anti terhadap politisi yang membenci berbagai kelompok minoritas dari belahan benua lain, mengapa tidak kita lakukan hal serupa terhadap tokoh politik negeri sendiri?

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]