Stik Hoki Kesejahteraan Manusia

Opini    | 22 Apr 2016 | Read 1203 times
Stik Hoki Kesejahteraan Manusia landlopers.com

Sangat sulit untuk dibantah bahwa saat ini kita hidup di masa-masa keemasan peradaban manusia. Dibandingkan dengan dua atau tiga ratus tahun yang lalu, saat ini kita hidup di jaman dimana tingkat kesejahteraan berada di titik paling tinggi.

Jika anda lahir di jaman dulu, katakanlah tahun 1000–1500 Masehi, kemunginan besar anda akan lahir dalam kondisi miskin: makanan sulit di dapat dengan menu yang tidak beragam, pakaian lengkap berbahan katun merupakan barang mewah yang hanya dimiliki para bangsawan, dan rumah anda hanya terdiri dari bahan-bahan non-permanen tanpa lantai ataupun atap yang kokoh.

Di masa itu, angka harapan hidup anda hanya akan mencapai usia 40-50 tahun. Belum ada vaksin yang dapat mencegah anda dari penyakit berat seperti cacar, polio, malaria, kaki gajah, atau penyakit kuning. Tidak ada jaminan sosial, lapangan pekerjaan terbatas, dan akses pendidikan merupakan previlese.

Semua itu tiba-tiba berubah memasuki abad ke-19. Kemakmuran secara perlahan menjadi “norma”. Orang-orang mulai bisa menikmati hal-hal yang tadinya hanya dapat dinikmati oleh kelompok elit. Saat ini, orang-orang yang masuk dalam kategori “miskin” setidaknya akan memiliki berbagai kebutuhan dasar: makan tiga kali sehari, pakaian bersih, tempat tinggal layak, air bersih, akses pendidikan, dan jaminan kesehatan.

Tentu saja kita masih bisa melihat berbagai kondisi kemiskinan yang ekstrem. Tetapi, kemiskinan semacam itu yang dulunya dianggap lumrah, sekarang justru dianggap sebagai anomali. Dulu filsuf-filsuf bertanya “apa sebab-sebab kemakmuran?” karena kemakmuran begitu langka. Sekarang para ahli ekonomi dan politik justru bertanya “apa sebab-sebab kemiskinan?”.

Perubahan dari kemiskinan menjadi kemakmuran ini bukan fenomena biasa. Beberapa orang bahkan menyebutnya sebagai mukjizat karena peningkatannya mencapai hingga 100 bahkan 200 kali lipat dari sebelumnya. Hal itu tergambar pada grafik berikut:

 

Grafik di atas dikenal sebagai “stik hoki kesejahteraan manusia” (the hockey stick of human prosperity) karena bentuk grafiknya yang mirip stik yang digunakan dalam olah raga hoki. Sebagaimana bisa dilihat pada grafik di atas, selama ratusan, bahkan ribuan tahun manusia hidup dalam kemiskinan yang stagnan, namun tiba-tiba kesejahteraan manusia melesat memasuki abad ke-19.

Salah satu faktor terjadinya “mukjizat” ini, tentu saja, adalah revolusi industri. Penemuan mesin-mesin industri secara efektif mendorong output dan efisiensi produksi. Berkat revolusi industri, untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia mengalami keberlebihan produksi.

Tetapi ada aspek lain yang lebih signifikan selain output produksi. Jika kita perhatikan, ada perbedaan mencolok antara moda kehidupan orang-orang jaman dulu dengan saat ini, yakni soal diversifikasi dan spesialisasi peran sosial.

Orang-orang jaman dulu memproduksi semua kebutuhan mereka secara mandiri dan dari nol. Jika ingin mendapatkan makanan, mereka harus menanam, memanen, dan mengolah sendiri bahan-bahan yang mereka perlukan. Jika ingin memiliki baju, mereka menenun dan menjahitnya sendiri. Diversifikasi dan spesialisasi bidang pekerjaan hanya berlaku di dalam lingkup rumah tangga.

Saat ini, kita hidup di jaman dimana diversifikasi dan spesialisasi adalah kunci. Satu individu hanya perlu fokus bekerja pada satu bidang tertentu, selebihnya diserahkan pada mekanisme pasar dan perdagangan bebas. Hal ini membuat hidup menjadi lebih efisien dan, pada gilirannya, akan meningkatkan kemakmuran.

Coba anda perhatikan: dalam sehari ada berapa banyak barang atau jasa yang anda konsumsi? Ketika bangun pagi, anda bergegas untuk mandi. Di dalam kamar mandi, anda mengkonsumsi begitu banyak barang: sabun, sampo, pasta gigi, sikat gigi, handuk, dan, tentu saja, air bersih. Selesai mandi, anda menikmati sepiring nasi goreng, telur, dan secangkir kopi. Mungkin sambil baca koran atau menonton berita di TV.

Untuk aktivitas di pagi hari saja, anda sudah berinteraksi dengan begitu banyak barang. Pernahkah anda berpikir dari mana semua barang-barang itu berasal dan mengapa anda bisa mendapatkannya dengan mudah?

Satu hal yang pasti: barang-barang itu tidak dibuat oleh satu orang belaka. Secangkir kopi yang anda minum harus melalui berbagai fase produksi dan campur tangan puluhan atau bahkan mungkin ratusan pekerja dari berbagai divisi: mulai dari petani kopi, pengepul biji kopi, pekerja pabrik, desainer produk, pemasar, hingga distributor.

Laptop atau smartphone yang sedang anda gunakan saat ini pun juga sama. Komponen-komponen laptop anda tidak diproduksi oleh satu perusahaan dan segelintir pekerja belaka. Layarnya mungkin berasal dari sebuah perusahaan di Korea Selatan, motherboard-nya berasal dari Taiwan, dan peranti lunaknya didesain oleh orang-orang di California.

Diversifikasi produksi semacam ini membuat proses produksi menjadi lebih efisien dan menekan ongkos produksi. Hasilnya: mesin komputer yang dua puluh tahun lalu masih dianggap barang mewah sekarang bisa dimiliki oleh pelajar sekolah menengah.

Itulah kekuatan diversifikasi dan spesialisasi. Saat ini kita hidup di jaman dimana kita hanya perlu mengerjakan satu jenis pekerjaan, tetapi kita bisa mendapatkan begitu banyak hal. Bandingkan dengan nenek moyang kita jaman dulu yang harus memiliki berbagai keahlian dan keterampilan hanya untuk sekedar bertahan hidup.

Aspek selanjutnya yang tidak kalah penting adalah pasar bebas. Diversifikasi dan spesialisasi tidak akan berarti apa-apa jika hasil kerja dan produksi tidak bisa dipertukarkan secara bebas.

Upah saya dari hasil menulis artikel ini tentu tidak akan ada nilainya jika tidak bisa saya pertukarkan dengan barang atau jasa yang saya butuhkan karena peredaran suplainya dihambat. Sama juga: hasil panen para petani beras di Vietnam tidak akan berarti banyak jika tidak bisa dijual secara bebas, karena masing-masing negara hanya mau mengkonsumsi beras produksi dalam negerinya sendiri. Pertukaran dan perdagangan adalah cara paling efektif dan fair bagi umat manusia untuk saling melengkapi kebutuhannya masing-masing.

Kesemua aspek ini: revolusi industri, diversifikasi, spesialisasi, dan pasar bebas, merupakan pemicu utama dari “mukjizat” peningkatan kesejahteraan manusia. Saat ini kita telah menjadi begitu makmur sampai-sampai ada begitu banyak hal yang kita terima sebagai sesuatu yang “sudah semestinya” (taken for granted). Kita tidak sadar bahwa pakaian yang kita kenakan, tempat tidur yang kita rebahi, serta berbagai jenis bahan makanan yang memenuhi kulkas kita, hanya dapat tersedia karena aspek-aspek yang sudah disebut di atas.

Maka saya tidak heran jika masih banyak orang yang, atas dasar ketidaktahuan, menolak ide-ide mengenai kebebasan ekonomi. Mereka menolak pasar bebas dan kompetisi karena tidak memahami betapa makmurnya mereka jika dibandingkan dengan kehidupan ratusan tahun yang lalu, dimana aktivitas produksi dan ekonomi berlangsung secara tribalistik.

Tetapi hukum keras ekonomi akan terus berlaku entah anda setuju dengan pasar bebas atau tidak. Negara-negara akan tetap makmur selama mereka membuka diri terhadap perdagangan, dan mereka akan tetap miskin jika menutup diri dalam nasionalisme sempit. Hukum ekonomi, sebagaimana hukum gravitasi, tidak pernah peduli dengan preferensi dan ideologi politik kita.

Keputusan terakhirnya ada di tangan kita: mau tetap bersikukuh mempertahankan ideologi yang anti-kebebasan ekonomi atau mulai rela menekan ego ideologis kita demi menerima kebenaran hukum ekonomi?

Djohan Rady

Djohan Rady adalah alumnus S2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia. Kontributor tetap untuk Suara Kebebasan dan co-founder Indo-libertarian, sebuah komunitas libertarian di Indonesia. Bisa dihubungi di email [email protected] dan twitter @djohanrady