Opium Populisme Dalam Krisis Yunani dan Venezuela

Opini    | 24 Agu 2015 | Read 1211 times  
Opium Populisme Dalam Krisis Yunani dan Venezuela Krisis Kelangkaan Pangan Melanda di Karakas, Venezuela. Sumber Foto: Istimewa

“Purpose of economics is to help decision makers make better decision”
W.J Granger

Populisme Tsipras dan Maduro

Kemenangan partai kiri Syriza pada pemilihan umum Yunani awal tahun kemarin mengantarkan Alexis Tsipras sebagai perdana menteri ke-186 Yunani. Kemenangan Syriza dilanjutkan dengan referendum yunani atas keanggotaan Uni Eropa. Referendum Yunani juga menandakan kemenangan politik populisme.

Kebanyakan dari politik populisme menarik hati rakyat ketika kondisi krisis. Dan mudah ditebak penyebab krisis paling gampang adalah menuding rejim ekonomi global sebagai meminjam istilah Yanis Varoufakis dalam The Global Minotaur: America, the True Origins of the Financial Crisis and the Future of the World Economy (2011) sebagai “minotaur” (dalam mitologi yunani berupa monster berbentuk manusia berkepala banteng) yang memporakporandakan negara dengan krisis. Padahal apabila melihat kasus Yunani secara jernih, rasio hutang yang tinggi sekitar 120 persen disebabkan oleh beban yang harus ditanggung negara kesejahteraan Yunani (walfere state), beban dana pensiun, korupsi, dan problem kronis lainya. 

Pendapatan yang notabene hanya disokong oleh sektor turisme tidak mampu menopang model negara kesejahteraan. Konsekuensi logisnya adalah defisit anggaran menjadi besar, inflasi tinggi, keluarnya dana dalam pasar keuangan Yunani (capital outflow) dan ujungnya adalah krisis Yunani. Besar pasak daripada tiang berlaku di Yunani.     

Lain Ladang, Lain belalang. Peribahasa tersebut relevan untuk dipertanyakan dalam krisis Yunani dan Venezuela. Apabila populisme Yunani menuding penyebab krisis adalah rejim ekonomi global yang digambarkan seperti “minotaur” dengan Troika (European Commission, IMFd an ECB) sebagai agennya, populisme Venezula di bawah Nicolas Maduro menuding oposisi yang menyebabkan krisis Venezuela

Seirama dengan kasus Yunani, pendapatan Venezuela yang hanya ditopang sektor energi menjadi rentan krisis ketika harga minyak turun. Produksi minyak Venezuela menyumbang 95 persen dari pendapatan ekspor dan digabungkan dengan gas, minyak menyumbang 25 persen dari PDB negara. Dengan 96% pendapatan devisa dari ekspor minyak mentah, Bloomberg memperkirakan bahwa akibat anjloknya harga minyak mentah di dunia, Venezuela telah kehilangan pendapatan sebesar USD 10 miliar sepanjang tahun 2014 yang lalu.

Standard & Poor's (2014) menjelaskan resesi ekonomi, inflasi yang tinggi dan meningkatnya tekanan likuiditas eksternal akan terus mengikis kemampuan pemerintah untuk membayar kewajiban eksternal selama dua tahun ke depan. Dan konsekuesinya penurunan peringkat kredit dan ditempatkan pada speculative grade yang berarti resiko gagal bayar utang.

Pelajaran dua krisis Yunani dan Venezuela adalah bahwa ekonomi berjalan sendiri menggunakan logika saintifik, sedangkan populisme berdiri pada logika opium yang ketika dikonsumsi berakibat memabukkan. Situasi demikian seperti yang ditulis majalah ekonomi bergengsi The Economist yang menyatakan bahwa “the economics team is an uncomfortable mix of technocrats and politically connected buissinesmen”.

Populisme dan Perdebatannya

Ulasan teoritik tentang populisme dalam tradisi ilmu politik sudah sejak lama diperdebatkan dan tidak mendapatkan definisi yang tunggal. Britanica menjelaskan “populism is political program or movement that champions the common person, usually by favourable contrast with an elite. Populism usually combines elements of the left and the right, opposing large business and financial interests but also frequently being hostile to established socialist and labour parties.

Di dalam negeri perdebatan populisme paling baru dan setidaknya mewakili dua perspektif pemikiran politik populisme dilakukan oleh Burhanudin Muhtadi melalui tulisan “Populisme: Madu Atau Racun Bagi Demokrasi?”  dan Airlangga Pribadi dengan tulisan “Menjernihkan Populisme”. Burhanudin Muhtadi dengan posisi argumen yang kalau disimpulkan bernada sangat Isaiah Berlin, yaitu “memang ada sebuah sepatu berbentuk populisme, namun tak ada satupun kaki yang cocok mengenakannya” sedangkan Airlangga Pribadi lebih menarik kembali pada pemikiran politik bahwa dikotomi populisme yang tidak monolitik karena ekspresi populisme tidak hanya politik kiri tetapi juga kanan. Dengan basis asumsi bahwa populisme merupakan ekspresi politik rakyat melawan borjuasi dan oligarki rezim politik.   

Tulisan ini tidak menawarkan perdebatan baru dalam populisme karena argumen pada tulisan ini didasarkan pada perdebatan yang sudah ada. Mengandung kelemahan memang tetapi apabila menggunakan terminologi Kuhnian sebagai paradigma dan mengkontekstualkan populisme dalam dua krisis Yunani dan Venezuela, tawaran Berlin menjadi sangat relevan, bahwa obat krisis dari populisme memang ada tetapi tak ada satupun yang menyasar problem fundamental, sedangkan ekspresi politik rakyat secara praksis akan selalu berputar pada apa yang disebut Robert Michael sebagai “iron law of oligarchy” bahwa setiap kekuasaan akan menghasilkan oligarki. Perlawanan oligarki akan menghasilkan bentuk oligarki baru.

Opium Populisme Minotaur

Konteks krisis ekonomi dan populisme menjadi problematik dan menuntun pada perdebatan yang kontraproduktif. Populisme Yunani membawa Syriza dan Referendum untuk menolak proposal troika dan keluar dari eurozone. Apabila dari prespektif populisme minotaur, dengan keukehnya proposal euro sebagai bentuk kepentingan Minotaur yang memangsa yunani. Padahal apabila ditelisik lebih dalam, terbentuknya regionalisme Eropa didasarkan pada asumsi supranasionalisme dimana “spill over effect” menjadi basisnya.

Pertanyaan dasarnya siapa yang diuntungkan dengan krisis Yunani? Secara sederhana dalam ekonomi dengan penyatuan pasar Eropa, maka akan menghasilkan skala ekonomi dan efek spill over, juga akan merembet pada masa depan regionalisme eropa. Ibarat berdagang, Jerman dan Perancis sudah mengeluarkan modal besar (pelambatan ekonomi, inflasi dan pengangguran yang tinggi) untuk menyokong Uni Eropa, tetapi hanya akan runtuh dengan krisis Yunani yang akan berakibat pada efek rembetannya. Jadi, krisis Yunani tidak menguntungkan siapa-siapa.

Begitu juga dengan populisme Maduro, menyalahkan oposisi karena konspirasi yang menyebabkan krisis guna mendulang legitimasi yang sudah menurun menghasilkan kebijakan yang kontraproduktif dan tidak menyelesaikan masalah. Kebijakan populisme Maduro hanya mendasarkan nasib dan seraya berdoa agar harga minyak kembali naik yang dapat menyehatkan neraca perdagangan dan menyehatkan ekonomi Venezuela.

Kedua situasi di Yunani dan Venezuela mengajarkan betapa pendapat W.J Granger, yaitu “Purpose of economics is to help decision makers make better decision” menjadi sangat penting meskipun terpaksa harus meminum obat pahit yang menyehatkan. Siapa yang mau coba, mengikat pinggang kencang-kencang dengan pengetatan anggaraan? Siapa yang mau susah? Jelas tidak ada yang mau. Dan populisme berpijak pada jawaban atas pertanyaan tersebut.
Mengakhiri tulisan ini, penulis menggunakan pendapat A Prasetyantoko dalam buku “Krisis Finansial” (2009:165) dengan mengutip ilmuan Hyman Minsky, seorang penstudi tentang krisis finansial berhalauan post-keynesian yang berpendapat bahwa instabilitas ekonomi sejatinya hanya bersifat internal (endogen) bukan sesuatu yang datang dari luar dan faktor dari luar hanya “mempercepat” saja. Begitu juga krisis Yunani dan Venezuela, Minotaur yang dikampanyekan populisme hanya mempercepat, sedangkan penyakitnya ada dalam perilaku kita sendiri.
  

 
 

Rafli Zulfikar

Rafli Zulfikar adalah Lulusan Hubungan Internasional, Universitas Jember. Peneliti di Politica Research Centre dan Koordinator Lembaga Kajian Social Science and Humanities (Societies). Bisa dihubungi melalui email: [email protected] dan twitter: @raflizulfikr