Ekonomi Uber: Bagaimana Pasar Berubah dalam Sharing Economy

Opini    | 31 Jul 2015 | Read 2407 times  
Ekonomi Uber: Bagaimana Pasar Berubah dalam Sharing Economy Sumber Illustrasi: Istimewa

Uber, Lyft, Airbnb. Nama-nama merek ini mendominasi tajuk utama berita beberapa tahun belakangan ini dan sering disandingkan dengan istilah "ekonomi berbagi” (sharing economy). Tetapi apa sebenarnya ranah baru perdagangan ini? Bagaimana dia berbeda dengan perdagangan tradisional masa lalu? Ini adalah empat cara bagaimana ekonomi berbagi secara fundamental mengubah dunia di sekitar kita.

Turunnya Biaya Transaksi

Setiap hari kita menginginkan barang dan jasa yang bisa disediakan oleh orang-orang di sekitar kita, tetapi kita tidak mengetahui bagaimana bisa berkoordinasi dengan penjual potensial ini. Orang yang membawa kendaraan yang mengambil rute ke tempat kerja yang sama dengan anda mungkin saja mau memberi anda tumpangan dengan tarif yang rendah. Mesin pemotong rumput bekas yang anda ingin beli bisa saja anda dapatkan dan langsung ambil dari basement tetangga anda. Sebenarnya yang menjadi penghalang antara pembeli dan penjual adalah biaya transaksi - waktu, uang, dan usaha yang diperlukan untuk mewujudkan pertukaran pasar. Sebelum zaman internet, bagi produsen, biaya berbagai peraturan dan kewajiban, dan biaya untuk membawa barang mereka ke pasar sangat tinggi, begitu juga biaya bagi konsumen untuk mengetahui siapa yang bisa dipercaya. Sebagai hasilnya, pertukaran pasar sering difasilitasi oleh perusahaan, perantara, atau bahkan agensi pemerintah.

Ekonomi berbagi mengacaukan model lama ini dengan secara langsung menghubungkan produsen dengan konsumen, menghilangkan kebutuhan bagi banyaknya perantara yang ada. Sebagai gantinya bekerja untuk perusahaan taksi, pengemudi saat ini bisa langsung menyalakan telepon seluler-nya dan menawarkan tumpangan bagi orang-orang di jalanan lewat aplikasi seperti Uber, Lyft, atau Sidecar sebagai kontraktor independen. Bukannya bergantung pada pembuat ulasan profesional atau regulator pemerintah untuk mengetahui restoran mana yang akan menyediakan makanan terbaik, konsumen bisa bergantung pada ulasan dari warga biasa yang lain lewat Yelp, TripAdvisor, atau GoogleMaps. Pasar sedang menemukan batas kemungkinan yang baru, menyebarkan informasi, menurunkan harga, dan membuka kesempatan kewirausahaan baru dalam derajat yang tidak pernah ada sebelumnya.

Hambatan yang Dihilangkan

Sementara teknologi terus menurunkan biaya transaksi, banyak hambatan yang dihadapi oleh produsen untuk masuk ke pasar sedang secara sama sekali dihilangkan - atau yang disebut sebagai “hambatan untuk masuk” (Barriers to Entry). Mungkin yang paling membebani adalah izin kerja, yang pada intinya sebenarnya hanyalah surat izin dari pemerintah untuk bekerja pada satu industri. Gantinya membayar biaya yang sangat tinggi di kota metropolitan seperti New York untuk membeli izin taksi (yang biasanya dijual pada harga lebih dari satu juta dollar per izin) pemilik mobil sekarang bisa mengontrakkan jasa mereka dengan sedikit sedikit usaha yang tidak lebih dari sekedar pemeriksaan latar belakang. Gantinya harus bergulat dengan kesibukan mendapatkan ijin mendirikan hotel, orang-orang bisa langsung menyewakan rumah mereka lewat Airbnb atau Couchsurfing yang tidak memerlukan persetujuan siapapun selain tamu mereka.

Dengan menurunkan halangan untuk masuk, ekonomi berbagi dapat membantu mengurangi kemiskinan. Dengan memungkinkan wiraswasta berpendapatan rendah - yang jika tidak malah akan kalah dalam persaingan harga karena tingginya biaya izin usaha - kesempatan untuk berhasil dalam pasar yang aman dan legal. Menurut Institute for Justice, izin usaha rata-rata untuk pendapatan rendah mensyaratkan para pekerja untuk menghabiskan sembilan bulan pelatihan dan biaya $200. Biaya ini bisa menjadi perbedaan antara sukses atau miskin bagi banyak calon wirausahawan baru, tetapi ekonomi berbagi dengan secara cepat menghilangkan semua rintangan ini - dan malah, memungkinkan inisiatif baru ini menjadi jalan menuju kesejahteraan.

Perangkap Peraturan/Regulatory Capture (Peraturan-peraturan yang dibuat oleh kelompok yang berkepentingan) menjadi Tantangan

Tentu saja, semua perubahan yang baik ini memunculkan tantangan baru. Bidang usaha yang sudah mapan akan berjuang untuk mempertahankan bisnis model kunonya karena memang mereka diuntungkan ketika biaya transaksi dan halangan untuk masuk bisa mengusir pesaing baru. Contohnya, layanan berbagi tumpangan seperti Uber menghadapi tantangan peraturan legal di hampir semua kota besar yang mereka masuki. Yang paling terakhir, Pemerintah Kota Portland, Oregon, memerintahkan Uber untuk menghentikan jasanya karena pengemudinya tidak memiliki izin taksi. Beberapa pemerintah kota menjadi bahkan ganas dalam memerangi ekonomi berbagi. Kota New York, contohnya, mengancam menutup Uber, Lyft, dan Airbnb, dan baru-baru ini bahkan mengancam warganya yang berkumpul secara sukarela untuk saling berbagi makanan.

Para pembuat peraturan sering sangat memusuhi para pemain baru dalam pasar karena tekanan yang luar biasa yang mereka terima dari mereka yang punya kepentingan. Proses untuk melobi para pejabat pemerintah untuk mengeluarkan hukum yang menguntungkan bagi sekelompok kepentingan bisnis ini disebut “perangkap peraturan” (regulatory capture). Hotel, restoran, pengemudi taksi, dan berbagai pihak lainnya terancam dengan persaingan baru dari ekonomi berbagi dan mereka berkepentingan untuk menjaga agar halangan untuk masuk menjadi tinggi sehingga mereka bisa mendapatkan lebih banyak untung dari pasar yang terperangkap. Drama ini secara lebih khusus sangat kelihatan jika anda melihat industri transportasi, ketika layanan mobil seperti Uber yang sering mengiklankan layanan dengan tarif yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan taksi. Kepentingan ekonomi sangat tertanam di banyak industri sehingga kita melihat regulatory capture tidak akan lenyap dalam waktu dekat. Ekonomi berbagi tentu saja akan menghadapi banyak tantangan, tetapi para pembuat peraturan harus ingat bahwa persaingan berarti lebih banyak kesempatan untuk munculnya kewirausahaan di dalam masyarakat kelas bawah dan menengah, dan juga menurunkan harga bagi konsumen - yang memberi mereka uang lebih untuk dibelanjakan atau diinvestasikan di tempat lain, sehingga menumbuhkan ekonomi.

Penghancuran Kreatif (Creative Destruction) Pada Akhirnya Akan Menang

Walaupun regulatory capture bisa menjadi “polisi tidur” yang memperlambat kecepatan ekonomi berbagi, pemerintah pasti tidak bisa menghentikan kemajuan teknologi. Wirausahawan akan terus menemukan alat baru untuk membuat barang dan jasa menjadi lebih baik, cepat, dan murah. Kekuatan pemerintah tidak bisa menekan keinginan konsumen. Perusahaan seperti Uber telah menunjukkan bahwa mereka mereka menyadari akan hal ini dengan membuka usaha mereka di banyak kota, dimana status legal operasi mereka belum jelas, atau bahkan dilarang. Beberapa pemerintah lokal dan negara bagian mencoba untuk mengambil inisiatif lebih dahulu dan mendekati Uber untuk bersama menyusun regulasi yang cocok untuk abad 21. Colorado, contohnya, menjadi negara bagian pertama yang secara resim melegalisasi layanan berbagi tumpangan.

Industri yang sudah mapan harus juga belajar untuk berubah untuk menyesuaikan dengan kenyataan kemajuan teknologi, atau mereka akan usang - sebuah proses ekonomi yang disebut penghacuran kreatif, dimana penemu (inovator) menciptakan tekanan persaingan yang mendorong pelaku pasar untuk meninggalkan model yang sudah tidak efisien dan memperbaiki jasanya. Industri taksi contohnya, meluncurkan aplikasi berbagi tumpangan pada tahun 2011 yang disebut Hailo yang ditujukan untuk bersaing dengan layanan berbagi tumpangan yang baru, walaupun gagal total dan menghentikan layanannya di pasar Amerika Utara.

Gema dari gangguan yang digaungkan oleh ekonomi berbagi pastinya sudah didengar oleh pelaku pasar yang sudah berdiri lama dan mapan. Konsumen akan selalu menginginkan produk yang terbaik dengan harga terendah. Adalah terserah pelaku usaha untuk mau ikut dalam permainan dengan menyediakannya atau tertinggal di belakang.

 

*) Diterjemahkan dari Website ATLAS Network “Uber Economics: How Markets Are Changing in the Sharing Economy

Casey Given

Casey Given adalah Direktur “Young Voices”, sebuah program dari Students for Liberty yang bertujuan mempromosikan kebijakan perspektif libertarian di media. Given juga merupakan kandidat Master Kebijakan Publik di George Washington University, dan aktif sebagai Presiden dari Liberty Toastmasters di Washington D.C. Amerika Serikat.