SEKTE ISMAILIYAH: DARI RADIKAL KE LIBERAL

Opini    | 11 Jun 2019 | Read 413 times
SEKTE ISMAILIYAH: DARI RADIKAL KE LIBERAL

Kekerasan dan teror atas nama agama telah memenuhi catatan kelam awal abad 21. Munculnya kelompok Al-Qaeda, Taliban dan ISIS  yang membawa unsur agama kedalam politik kekerasan mereka membuat masyarakat dunia ketakutan dan menyalahkan agama Islam sebagai biang terorisme.

Perkembangan paham radikal dalam agama Islam memang tidak dipungkiri, belakangan ini Lembaga Wahid Institute, sebuah lembaga yang dibentuk untuk mengembangkan Islam moderat, telah melakukan survei 1.520 responden dengan metode multi stage random sampling. Hasil akhir dari survei tersebut dapat disimpulkan sebanyak 0,4 persen penduduk Indonesia pernah bertindak radikal. Sedangkan 7,7 persen mau bertindak radikal kalau memungkinkan. Dengan kata lain, ada 11 juta orang yang berpotensi untuk bertindak radikal.

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170814172156-20-234701/survei-wahid-institute-11-juta-orang-mau-bertindak-radikal

Hasil survei ini tentu sangat mengkhawatirkan sekaligus membuat stigma negatif terhadap orang-orang Islam. Banyak penganut Muslim di negara-negara yang mayoritas nonmuslim merasa kesulitan dan mendapat diskriminasi, contohnya adalah Myanmar. Meskipun tindakan diskriminasi terhadap kaum Muslim merupakan tindakan yang disesalkan, sebab korban dari aksi terorisme bermotif agama sebagian besar juga penganut Islam.

 

Assassin: Bapak “Jihad” melalui Teror

Fenomena teror bermotif agama sebenarnya bukan hal baru. Sebelum ISIS, Al-Qaedah, Taliban, dan Boko Haram menakuti dunia dengan aksi teror, di abad ke 12 muncul kelompok teror yang dikenal orang-orang sebagai kelompok Assassin. Dalam bahasa Inggris, assassin berarti pembunuh (sedang assassinate berarti membunuh) kata tersebut tidak muncul begitu saja dari ruang kosong tapi juga memiliki nilai historis.

Kata assassin merujuk pada kelompok Hashassin, pengikut Hassan bin Sabbah yang menguasai gunung Alamaut di Persia (Iran sekarang). Hashassin sangat ditakui oleh berbagai kalangan. Para penguasa Arab, pedagang China dan juga tentara salib Eropa mengenal riwayat kekejaman dan aksi teror dari kelompok Hashassin ini.

Assassin merupakan pecahan dari kelompok Ismailiyah. Sekte Ismailiyah sendiri adalah salah satu sub ordo dari Madzhab Syiah. Kelompok Syiah Ismailiyah  merupakan pengikut Ali bin Abi Thalib. Dalam kepercayaan Sekte Islam Sunni (Ahlussunnah) kepemimpinan jatuh ketangan  Khulafa ar Rasyidin, Khalifah yang  empat, namun kelompok Syiah Ismailiyah percaya bahwa kepemimpinan Islam secara langsung jatuh kepada keluarga Nabi Muhammad (Ahl bayt) yaitu Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Hasan dan Imam Husein.

Nama Ismailiyah dinisbatkan dari nama pemimpin spiritual mereka, Imam Ismail bin Jafar (yaitu cucu dari Ali bin Abi Thalib). Pada tahun 899 M pengikut Ismaili menguasai daerah Arab bagian Timur yang berpusat di kota Al-Hasa, kelompok ini bernama Qaramitha atau Qarmatian. Sedang di Mesir, pada tahun 909 kelompok Ismailiyah mendirikan pusat kekhalifahan Fathimiyah dengan ibukota di Qahira atau Kairo sekarang.

 Hashassin atau Assassin adalah salah satu fraksi politik dalam kekhalifahan Fathimiyah. Ketika Imam Mustansir billah wafat, kekhalifahan dan Imamah jatuh kepada anak sulungnya, Nizar Al-Mustafa dinillah. Namun perdana menteri (wazir) Fatimiyah, Al-Afdhal mengudeta kepemimpinan Nizar dan mengangkat Ahmad Musta’li sebagai Khalifah Fathimiyah.

 Hassan bin Sabbah  sebagai pengikut Nizar menolak mengakui Musta’li sebagai Khalifah. Singkat cerita kelompok Nizar (Nizariyyun) dibawah Hassan bin Sabbah mengkonsentrasikan kekuatan di sebuah Benteng daerah pengunungan Alamaut. Hassan bin Sabbah dijuluki sebagai Syakh al-Jabal (tetua gunung Alamaut) dan mendidik fida’i atau para santri-santri Hassan bin Sabbah yang setia, menjadi pasukan elit rahasia yang ditugasi untuk membasmi musuh-musuh kelompok Ismaili Nizari.

Kelompok Hashassin dinisbatkan pada kata “Hasha” atau ganja. Konon kabarnya sebelum mereka melakukan teror dan pembunuhan, para fida’i di indoktrinasi oleh Hassan bin Sabbah dengan ganja. Aksi pembunuhan yang mereka lakukan dirancang secara senyap dan hati-hati.

Para fida’i melakukan aksi terornya dengan sangat cepat dan tepat. Mereka membunuh dengan rapih para  musuh-musuhnya baik dari golongan  Sunni, sesama sekte Syiah, bahkan hingga pasukan Salib. Aksi-aksi teror mereka berhasil menciptakan ketakutan ditengah masyarakat pada masa itu.

Kelompok Assassin berhasil membunuh musuh utamanya Wazir Al-Afdhal Shahanshah, yang kemudian disusul pembunuhan Wazir Nizam al-Mulk, Ibn al-Khashshab dari Aleppo (1125), al-Bursuqi dari Mosul (1126), Raymond II dari Tripoli (1152), Conrad de Montferrat (1192), dan berhasil menyerang Pangeran Edward (yang menjadi Raja Inggris) pada tahun 1271.

Pada tahun 1256, Kelompok Assassin ditakhlukan oleh Pasukan Mongol. Imam Nizari sekaligus pemimpin kelompok Assassin, Imam Rukhnuddin Khurshah, dihukum pancung dan seluruh pengikut Nizari di Alamaut dan sekitarnya dibunuh.

Kepemimpinan Nizari kemudian beralih kepada Syamsuddin Muhammad, Anak Rukhnuddin. Imam Syamsuddin Muhammad kemudian mereformasi gerakan dakwah Ismaili Nizari, dan menghentikan aksi-aksi teror. Imam Syamsuddin memiliki pola gerakan yang berbeda, yaitu mengedepankan spiritualitas dan menyebarkan agama secara HUMANIS.

  

Assassin: Dari Teroris menjadi Humanis

Ali A. Rizvi, penulis buku Sang Muslim Ateis, banyak mengkritik praktik dan kepercayaan Islam yang dianggap sebagai biang dari gerakan radikal, namun kritiknya berhenti ketika ia membicarakan Muslim Ismaili Nizari. Rizvi memuji Ismaili Nizari sebagai Muslim yang progresif, pro sekuler, apolitis, humanis, pluralis dan sangat demokratis.

Madzhab Ismailiyah sebenarnya adalah kelompok yang inklusif, dalam menginterpretasikan AlQuran dan Hadits. Berbeda dengan kelompok salafi yang terlampau keras dan sempit dalam teks-teks keagamaan, Sekte Ismaili Nizari bersifat luwes dalam menafsirkan Al-Quran. Mereka menerima pemikiran-pemikiran Yunani, mistik, Rasionalisme Eropa selama tidak bertentangan dengan prinsip Tauhid yang mereka anut.

Pasca priode Alamaut, Imam-Imam Ismaili Nizari membimbing pengikutnya agar tidak melakukan dakwah dengan kekerasan. Bagi Muslim Ismaili, agama tidaklah bergerak konstan atau stagnan, tetapi dinamis.  Agama  selalu berkembang dan berubah. Agama-agama terus-menerus membentuk kembali ajarannya sendiri, meminjam, mengorientasikan kembali, mereformasi, dan membuang beberapa praktik yang sudah ada untuk ide-ide baru  sesuai dengan keadaan dan tempat mereka berada.

Sumber: https://ask.ismailignosis.com/article/22-is-religion-inherently-violent

 

Saat ini Imam Syiah Ismaili Nizari dipimpin oleh Aga Khan IV atau Shah Karim al-Husaini. Aga Khan IV memegang tampuk kekuasaan tertinggi dalam urusan spiritualitas Muslim Ismaili. Aga Khan sebagai keturunan Nabi Muhammad, memiliki otoritas untuk menafsirkan dan menyelaraskan ajaran Islam dengan perkembangan zaman.

Jika Sekte Islam fundamental lain seperti Wahabisme, Zahiriyah, Khawarij bersikap keras terhadap paham-paham pluralisme, sekularisme, kesetaraan gender dan demokrasi, sebaliknya Ismaili Nizari menerima paham tersebut, bahkan dianggap sebagai bagian daripada  Islam. dalam salah satu pidatonya di Kanada, Aga Khan IV berkata:

“Pluralisme tidak berarti penghapusan perbedaan, tetapi menggandeng tiap perbedaan. Pluralisme yang asli memahami bahwa keragaman tidak melemahkan suatu masyarakat, justru memperkuatnya. Di dunia yang semakin menyusut (oleh globalisasi) semakin beragam, rasa pluralisme yang sejati adalah fondasi yang tak terpisahkan untuk perdamaian dan kemajuan manusia.”

Sumber: https://the.ismaili/embracing-diversity-global-pluralism

 Muslim Ismaili Nizari sedari awal telah membedakan antara urusan agama (spiritual) dengan politik (duniawi). Imam dalam Ismaili merupakan otoritas spiritual, bukan politik. Seorang Muslim Ismaili tetap mengakui kepemimpinan politik (baik pemerintahan Muslim atau nonmuslim) tanpa menafikan kepemimpinan spiritual Imam. Karena itulah Muslim Ismaili tidak canggung terhadap ide-ide demokrasi dan sekuleisme.

Ismailiyah bukan kelompok yang hobi berdebat sebagaimana dr. Zakir Naik. Mereka lebih suka membicarakan masalah kebaikan sesama, solidaritas, atau urusan hak asasi manusia ketimbang memperdebatkan masalah teologi.

Dalam masalah gender, Muslim Ismaili memberi porsi yang besar terhadap peran perempuan. Bagi Ismaili, perempuan bukan hanya setara dengan laki-laki,  masyarakat juga wajib menghormati dan mengakui peran mereka . Imam Hasan Ala Dzikrihissalam (Imam Muslim ke 23) malah melarang praktek poligami, “Jangan nikahi kecuali satu Istri sebagaimana saya hanya memiliki satu pasangan”

Bandingan dengan keadaan sekarang, di Indonesia, kalimat feminisme dianggap tabu dan bertentangan dengan Islam. para wanita diperintahkan menutup tubuh dan muka mereka sebagai bentuk ketaatan. Pada tahun 1905 di Zanzibar, Imam Sultan Muhammad Shah melarang praktik pemaksaan cadar bagi kaum wanita. “mentabir nurani lebih penting ketimbang tabir simbolik (dengan burqa dan cadar)”

 

Merubah Paradigma Beragama

Saat ini kaum Muslim dunia tengah berusaha keras untuk menghapus stigma negatif terhadap agama mereka. Mereka bersikeras bahwa Islam mengajarkan perdamaian dan tidak membenarkan aksi-aksi terorisme. Bahkan hampir diseluruh dunia, para tokoh Muslim secara tegas menggambarkan Islam sebagai agama perdamaian.

Namun jikalau Islam adalah agama damai mengapa masih ada kekerasan dan terorisme? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Prof. Quraish Shihab, bahwa paradigma dan pola emosi  manusialah yang membuat agama Islam dipandang sebagai agama yang menakutkan, bukan berasal dari ajaran Islamnya.

Hal yang terpenting untuk membersihkan nama Islam dari kekotoran para teroris dan kaum radikal, adalah merubah paradigma berpikir kita pada agama dan dunia. Jangan kita berpikir bahwa selain Muslim darahnya halal, atau menganggap dunia ini telah dikuasai para “kafir”. Jika pola pandang kita sudah dipenuhi kebencian dan negatif, niscaya pola keberagamaan kita juga negatif dan buruk.

Penganut Syiah Ismailiyah Nizari TIDAK MERUBAH agama Islam, tetapi menyesuaikan spirit Islam dengan konteks zaman. Di zaman demokrasi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, harusnya spirit Islam tentang “rahmatan lil alamin” yang harusnya dikedepankan. 

Muslim Ismaili sendiri mempunyai jaringan dakwah yaitu Aga Khan Development Network (AKDN) yaitu lembaga kemanusiaan yang berkiprah dalam masalah sosial, kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan. Dakwah. Atau menyiarkan Islam, bukan hanya lewat ceramah atau khutbah di mimbar dan media. Muslim Ismaili telah berhasil menyusun konsep dakwah modern, yaitu menyiarkan kedamaian dan wajah humanis Islam.

Kita tidak perlu merakit bom untuk mencapai “kejayaan Islam” atau memaki-maki agama lain agar orang tau kebenaran Islam. Cukup dekati sesama dengan nurani, sentuh dengan kasih, dan peluk dengan hangat setiap orang, maka kita telah menunjukan “wajah Islam” yang sesungguhnya

 

 

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]