KAUM BURUH DAN KAPITALIS, BERSATULAH!

Opini    | 27 Mei 2019 | Read 182 times
KAUM BURUH DAN KAPITALIS, BERSATULAH!

“Yang dinanti-nanti datanglah: Satu Mei! Hari manakah yang lebih besar daripada hari ini”

-Njoto, Wakil Ketua II CC PKI

Bulan Mei mungkin terasa biasa saja bagi sebagian orang, namun bagi kaum buruh, bulan Mei adalah bulan yang sakral dan agung. Bulan Mei bisa dikatakan sebagai momen solidaritas buruh sedunia (tanpa melihat sekat suku atau negara). Panji merah yang menjadi simbol mereka berkibar menghiasi langit-langit pada bulan Mei, dengan tuntutan yang selalu diulang-ulang tiap tahunnya.

Jika kita menelusuri sejarah pergerakan kaum buruh, pergerakan kaum buruh tidak lepas dari perkembangan Revolusi Industri yang berlangsung di Eropa pada tahun 1750-1850. Pada masa itu, perkembangan industri yang ditopang oleh kemajuan tekhnologi telah menciptakan kelompok pekerja yang kemudian meminpin suatu kelas, kelas buruh.

Berkat pesatnya indutrialisasi di Eropa, barang-barang menjadi melimpah, murah dan efisien. Industri juga membutuhkan tenaga kerja yang banyak untuk mengoperasikan mesin-mesinnya. Karena itu, dimasa Revolusi Industri terjadi urbanisasi yang cukup besar, dimana orang-orang desa beradu nasib di kota mencari pekerjaan demi hidup yang layak.

Amat disayangkan pada masa Revolusi Industri kesejahteraan Buruh belum terlalu diperhatikan, puncaknya pada 1 Mei  1886 di Chicago dan di beberapa kota terjadi demonstrasi massal. Para buruh  menuntut perubahan jam kerja dari 10 jam menjadi 8 jam sehari. Protes berlangsung hingga 3 Mei yang kemudian berubah menjadi tragedi kekerasan. Untuk mengenang aksi demonstrasi tersebut, pada tahun 1889 Konferensi Sosialis Internasional menyatakan tanggal 1 Mei  menjadi hari peringatan pergerakan kaum buruh internasional.

Di Indonesia, momen 1 Mei telah diresmikan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak tahun 2013. Entah apakah pemerintah ingin memperbaiki citra dimata kaum buruh atau hanya upaya untuk mengurangi mobilisasi massa pekerja ketika peringatan 1 Mei. Apapun alasannya, momen 1 Mei di Indonesia tetap saja memiliki nilai sakral sebagai momen unjuk kekuatan kelas pekerja di Indonesia.

 

Buruh Vis a vis Kapialis

Narasi masalah perburuhan, baik yang terdapat dalam internet ataupun buku-buku, selalu bernada sumbang terhadap kehidupan kaum buruh, lebih-lebih terhadap apa yang dinamakan “sistem kapitalisme”. Kemiskinan dan melaratnya kelas pekerja selalu diasosiasikan sebagai bentuk penindasan yang dialami oleh buruh.

Dan banyak orang yang menganggap bahwa kesalahan tersebut adalah akibat dari “sistem kapitalisme”. Kapitalisme selalu dikambinghitamkan sebagai biang kerok dari kemiskinan dan penindasan. Kapitalisme selalu dianggap sebagai suatu monster.

Tanggal 1 Mei  seolah menjadi momen dimana kaum buruh harus mengutuk kaum kapitalis dan pemerintah yang menjadi “kaki-tangan” penindas.  Para investor dan pengusaha selalu dipandang  sebagai maling-maling jahat yang dengan nyaman menghisap darah dan keringat kaum pekerja. Semangat revolusioner kalangan buruh dan juga para aktivis kiri bersumber dari asumsi bahwa KAPITALIS ADALAH MONSTER PENINDAS!!

Pada peringatan May Day yang lalu, media meliput kelompok massa berpakaian hitam yang turut meramaikan aksi solidaritas kaum buruh. Selain melakukan aksi long march, mereka melakukan aksi-aksi perusakan terhadap properti umum. Tindakan pengerusakan oleh mereka –yang rata-rata masih muda- dianggap sebagai bentuk perlawanan heroik terhadapsi penindas.

 

 

Merajut Hubungan Buruh dan Kapitalis

Bisakah si kapitalis dan si proletar bergandengan tangan? Menurut mereka yang sudah sensi dengan istilah “kapitalis” jelas saja mereka akan menolak mentah-mentah ajakan rekonsiliasi antara buruh dan kapitalis. Para aktivis kiri dan anarki berpendapat bahwa kapitalisme adalah sumber krisis ekonomi dunia, kapitalisme sistem tak berkemanusiaan, kapitalisme telah merusak alam dan lingkungan.

Stigma negatif terhadap kapitalisme ini justru tidak selalu berimbang dan tidak sesuai fakta. Jika mereka yang menganggap kapitalisme sebagai musuh telah melihat fakta yang sebenarnya bahwa kapitalisme dan pasar bebas adalah sistem yang menyelamatkan umat manusia, mungkin mereka akan insyaf dari memusuhi kapitalisme..

Anggaplah jika mereka itu benar dan sistem kapitalisme harus dilenyapkan, tentu kita akan bertanya balik, apakah dengan lenyapnya kapitalisme saat ini maka otomatis kesulitan-kesulitan umat manusia dewasa ini otomatis selesai? Apakah dengan meniadakan para usahawan dan investor, maka kemiskinan akan langsung hilang? Apakah para aktivis utopian itu telah membangun sistem yang menjamin semua manusia makmur dan kaya?

Jawabnya: TENTU TIDAK.

Jangan lupa bahwa berkat industri yang dibangun si kapitalis, masyarakat mendapat lapangan kerja yang berarti menyelamatkan perekonomian mereka. Berkat si kapitalis pula harga produk yang kita konsumsi dan kita gunakan menjadi murah dan terangkau. Berkat si kapitalis juga, inovasi teknologi dan penemuan berkembang pesat. Dan secara luas, berkat si kapitalis juga tingkat kemiskinan manusia saat ini dapat ditekan setengahnya, dan terus menurun. Silahkan lihat https://www.voaindonesia.com/a/bank-dunia-kemiskinan-ekstrem-turun-di-seluruh-/4579475.html

Apa salah si kapitalis sehingga mereka dituding maling oleh serikat buruh dan aktivis utopian? Si kapitalis pada dasarnya hanya manusia biasa yang mau berusaha. Mari kita berpikir. Misalkan, Dirman adalah seorang pedagang bakso yang ulet dalam bekerja dan juga inovatif dalam berusaha. Lama-lama, usaha Dirman menjadi sukses besar dan memiliki brand. Tentu apa yang diusahakan Dirman adalah murni hasil kreativitasnya, bukan mencuri milik orang lain. Dirman yang memiliki usaha besar bahkan dapat membantu orang lain yang membutuhkan lapangan pekerjaan.

Ilustrasi diatas adalah perumpamaan bahwa para penguasah (atau si kapitalis) adalah manusia yang mempunyai semangat kerja dan kreativitas yang tinggi. Alih-alih mencuri, para kapitalis justru membuka lapangan pekerjaan sehingga orang-orang yang menganggur mendapat pekerjaan untuk mensejahterakan hidupnya.

Seorang kapitalis mendapatkan kesuksesan usahanya bukan melalui pemerasan buruh, tetapi dari hasil jerih payahnya membangun perusahaan dari nol. Sangat tidak etis jika kita merampas hasil kerja keras orang lain hanya karena tuduhan bahwa orang tersebut adalah maling jahat.

Ayn Rand, seorang filsuf berdarah Rusia, mengecam tindakan yang dilakukan oleh kaum Bolshevik Rusia yang menjarah dan menyita harta para pengusaha. Bagi Rand, seharusnya orang-orang yang tidak bekerja produktif dan mengunakan nalar kreatif mereka untuk berwirausaha, sepatutnya berterimakasih kepada para kapitalis yang turut memberikan rezekinya kepada mereka dengan membuka lowongan pekerjaan dan memberi gaji tetap.

 Besarnya peran kapitalis dalam perekonomian global saat ini dan kepada masyarakat umum, tidak berarti  buruh tidak memiliki peran penting. Buruh bukanlah budak yang bisa disuruh-suruh oleh kaum kapitalis dan juga bukan hewan yang bisa diperas tenaganya. Seyogyanya peran buruh sangat vital dalam perkembangan industri wa bil chusus sistem kapitalisme.

 Tanpa buruh, suatu perusahaan tidak akan bisa berjalan dengan baik, produksi akan macet, dan dampaknya akan meluas ke perekonomian nasional. Memang sejujurnya masih ada masalah-masalah perburuhan yang harus kita selesaikan bersama, seperti penetapan upah yang layak, jam kerja yang manusiawi, serta hak libur untuk para buruh.

Banyak orang melihat antara buruh dan kapitalis bagai dua sisi koin yang tidak bisa bertemu, bahkan bagai air dan api. Namun, stigma tersebut justru keliru sama sekali. Antara buruh dan kapitalis memiliki keterikatan yang kuat dalam suatu perusahaan. Karena itulah, buruh adalah rekan kerja atau mitra bisnis yang setara dengan si kapitalis.

Sebagaimana pendapat Anthony Giddens, hubungan buruh dan kapitalis seyogyanya harus dipertahankan. Serikat buruh bisa menjembatani kontradiksi antara kepentingan buruh dan kaptalis. Melalui serikat buruh,  hak dari para pekerja terjaga. Serikat buruh juga dapat berfungsi sebagai perantara buruh-kapitalis.

Serikat harusnya bukan seketar organisasi yang bisanya “ngompor-ngompori” hubungan buruh dan kapitalis. Seharusnya dengan adanya serikat buruh, komunikasi buruh dan kapitalis bisa terjalin sehingga terbangun hubungan positif yang bermanfaat bagi kelangsungan perusahaan.

Buruh bukanlah budak atau komoditas yang tenaganya bisa diperas seenaknya. Relasi  keduanya murni karena mitra dalam berbisnis. Sangat baik jika setiap bulan Mei bukan hanya diperingati sebagai hari digdaya buruh, tetapi juga hari solidaritas antara buruh dan kapitalis. BURUH DAN KAPITALIS: BERSATULAH!

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]