Print this page

Kapitalisme, Sosialisme dan Straw Man Fallacy

Opini    | 11 Mei 2019 | Read 254 times
Kapitalisme, Sosialisme dan Straw Man Fallacy

"Kapitalisme pasar bebas merupakan ideologi yang sudah melahirkan banyak kejahatan dan penderitaan di bumi ini. Mulai dari pembunuhan, penyiksaan, hingga perampasan lahan-lahan warga merupakan akibat dari implementasi kebijakan pro pasar, seperti yang terjadi di Indonesia era Orde Baru serta di Chile era Pinochet." ujar salah satu kawan kuliah saya ketika kami sedang mendiskusikan gagasan dan ide-ide politik.

Bagi Anda yang suka berdiskusi tentang kapitalisme dan pasar bebas dengan mereka yang berafiliasi dengan gagasan kiri, pernyataan seperti diatas kemungkinan besar merupakan salah satu opini yang akan Anda dapatkan. Demonisasi kapitalisme pasar bebas, yang merupakan salah satu pilar terpenting dari gagasan libertarianisme, sebagai sesuatu keji yang telah menumbulkan banyak penderitaan dan kematian merupakan hal yang dapat dengan mudah kita temukan.

Suharto dan Pinochet merupakan dua dari sekian tokoh yang kerap dijadikan referensi oleh sebagian kalangan ketika membicarakan tentang kapitalisme dan ekonomi pasar, karena berbagai kebijakan reformasi ekonomi yang mereka lakukan, seperti privatisasi dan membuka pintu untuk investasi asing. Tak bisa dipungkiri bahwa, rezim Orde Baru serta rezim diktator militer di Chile merupakan rezim yang telah membawa banyak penderitaan dan kejahatan HAM berat terhadap banyak warga yang hidup dibawah kekuasaan mereka.

Dibawah rezim Orde Baru misalnya, penculikan aktivis pro demokrasi dan para pengkritik pemerintah merupakan hal yang tak jarang terjadi. Begitu juga dengan perampasan lahan petani secara paksa untuk kepentingan perusahaan yang dekat dengan penguasa. Perlindungan terhadap kebebasan berekspresi dan berpendapat nyaris tidak ada sama sekali.

Belum lagi berbagai pelaggaran HAM berat yang terjadi di berbagai wilayah, salah satunya adalah di wilayah yang sekarang menjadi negara berdaulat Timor Leste, yang dahulu bernama Timor Timur pada saat berada dibawah kekuasaan Indonesia. Menurut laporan Komisi untuk Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Timur tahun 2005, okupasi Indonesia telah menyebabkan kematian lebih dari 100.000 jiwa di wilayah tersebut.

Begitu juga dengan Chile dibawah Augusto Pinochet, yang menurut laporan Komisi Nasional untuk Penahanan Politik dan Penyiksaan Chile tahun 2004 telah membuat lebih dari 2.000 jiwa kehilangan nyawa serta lebih dari 27.000 orang mengalami penyiksaan. Salah satu tempat penyiksaan terhadap tahanan politik di Chile pada masa Pinochet yang paling dikenal adalah Villa Grimaldi di dekat kota Santiago, yang telah menahan sekitar 4.500 tahanan.

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dan Pinochet tentu merupakan hal yang sangat mengerikan, dan siapapun yang memiliki nurani niscaya akan mengutuk hal tersebut sekeras-kerasnya.

Akan tetapi bila demikian, lantas bagaimana dengan kritik keras sebagian kalangan kiri terhadap kapitalisme pasar bebas dengan merujuk pada Pinochet dan rezim Orde Baru? Apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang tepat?

*****

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, izinkan saya mengawali dengan ilustrasi singkat. Bayangkan bila Anda sedang berdiskusi dengan kawan Anda mengenai kebijakan terkait minuman beralkohol, dan Anda dalam hal ini berpandangan bahwa minuman beralkohol harus dilegalkan.

Anda mengemukakan bahwa, hampir seluruh kebijakan pelarangan minuman beralkohol tidak ada yang berhasil dan justru menimbulkan dampak negatif, seperti meningkatnya peredaran minuman beralkohol ilegal yang sangat berbahaya hingga dapat menimbulkan kematian. Selain itu, adanya pelarangan ini justru akan semakin memperkuat organisasi-organisasi kriminal seperti para penyelundup, karena hanya dari merekalah masyarakat yang ingin mengkonsumsi minuman beralkohol dapat mendapatkan produk yang diinginkannya.

Kawan Anda tersebut lantas memberi bantahan bahwa dengan minuman beralkohol dilegalisasi, maka anak-anak dengan mudah dapat membeli dan mengkomsumsi barang tersebut. Selain itu, seseorang juga dapat mengemudikan kendaraan dalam keadaan mabuk dibawah pengaruh alkohol yang tentunya sangat membahayakan pengguna jalan.

Anda pun menyanggah bantahan dari kawan Anda tersebut. Anda menyatakan bahwa Anda tidak pernah menyetujui untuk memperbolehkan anak-anak membeli dan mengkonsumsi minuman beralkohol, atau mengemudi kendaraan dalam keadaan mabuk.

Menyetujui legalisasi menuman beralkhol bukan berarti lantas juga memperbolehkan anak-anak usia dini untuk mengkonsumsi produk tersebut. Anda mengatakan bahwa harus tetap ada batas usia minimum seseorang diperbolehkan membeli dan mengkonsumsi minuman beralkohol. Apabila ada penjual yang melanggar aturan tersebut, maka harus diberi sanksi keras, baik dalam bentuk denda hingga pencabutan izin usaha. Begitu pula dengan menyetir dalam keadaan mabuk, hal tersebut haruslah tetap dilarang. Apabila ada pengemudi yang membawa kendaraan dalam pengaruh alhokol maka ia harus diberi hukuman sesuai dengan peraturan yang ada.

Namun kawan Anda tersebu tetap tidak menerima penjelasan Anda, dan ia tetap bersikukuh bahwa Anda menyetujui bahwa anak dibawah umum dapat mengkonsumsi minuman beralkohol, serta memperbolehkan menyetir dalam keadaan mabuk. Kawan Anda tersebut akhirnya memilih untuk pergi dari diskusi.

Ilustrasi diatas merupakan salah salah satu contoh kesalahan logika (logical fallacy) yang tak jarang kita jumpai dalam perdebatan atau diskusi publik, yang dikenal dengan nama straw man fallacy. Straw man fallacy merupakan bentuk kesalahan logika dimana seseorang berupaya membantah pendapat lawan, namun bukan dengan cara menyerang argumen yang dikemukakan, akan tetapi justru membantah hal yang tidak pernah diutarakan oleh lawan orang tersebut.

Atau dengan kata lain, seseorang yang melakukan straw man justru membuat argumen imajinasi yang ia ciptakan sendiri, yang jauh berbeda atau bahkan sangat bertolak belakang dari pandangan yang dikemukakan oleh lawan bicaranya. Lantas ia menyerang imajinasi yang ia ciptakan sendiri tersebut seraya berseloroh bahwa ia telah berhasil membantah argumen yang diutarakan oleh lawan bicaranya.

Straw man fallacy merupakan kesalahan logika yang sangat umum kita jumpat terutama dalam perdebatan mengenai ide-ide dan gagasan politik, dan mengasosiasikan atau menyamaratakan konsep kapitalisme pasar bebas dengan rezim Orde Baru dan Pinochet di Chile oleh kelompok kiri merupakan salah satu bentuk straw man yang paling nyata.

Kapitalisme pasar bebas yang dipahami oleh libertarianisme, sebagaimana yang diungkapkan oleh ekonom libertarian Murray Rothbard, adalah sistem jaringan pertukaran sukarela dimana produsen dapat bekerja, memproduksi serta menukarkan produk yang mereka buat dengan produk orang lain melalui harga yang disepakati secara sukarela.

Dengan kata lain, kapitalisme pasar bebas merupakan sistem ekonomi yang memberi kebebasan bagi individu untuk secara sukarela membuat pilihan ekonominya masing-masing sesuai dengan keinginannya. Ia bisa bekerja di tempat yang ia inginkan, mempekerjakan siapapun yang dikehendaki, serta membeli atau menjual produk apapun dan dari manapun sesuai dengan kepentingannya dengan harga berapapun yang disepakati.

Kapitalisme pasar bebas yang merupakan salah satu pilar terpenting dari libertarianisme sama sekali tidak menyinggung apalagi mengadvokasi tindakan-tindakan brutal yang dilakukan oleh rezim diktator terhadap rakyatnya. Lebih jauh, bila dilihat dari kacamata libertarianisme, tindakan-tindakan kejam seperti penyiksaan dan pembunuhan merupakan hal yang snagat tidak bisa ditolelir dan harus dilawan, karena libertarianisme merupakan gagasan yang menjunjung tinggi kemerdekaan individu, dan tidak boleh ada pihak apapun yang melakukan agresi terhadap individu lain atau properti yang dimilikinya, baik itu masyarakat atau institusi negara.

Selain itu, bila mengacu pada rezim Suharto sebagai contoh, menyatakan Orde Baru sebagai rezim yang mengimplementasikan kapitalisme pasar bebas tentu merupakan kesalahan yang sangat fatal. Adanya serangkaian kebijakan pemerintah seperti Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) misalnya, merupakan bantuk kebijakan central planning yang sangat bertentangan dengan kapitalisme pasar bebas yang berlandaskan pada mekanisme pasar.

Belum lagi berbagai tindakan perampasan lahan-lahan petani untuk kepentingan perusahaan, tentu merupakan hal yang tidak dapat diterima di dalam sistem kapitalisme pasar bebas, dikarenakan dalam sistem tersebut semua pertukaran barang dan jasa haruslah berdasarkan kesukarelaan (voluntary exchange) dan bukan dengan pengambilan paksa.

Dalam hal ini, kelompok kiri juga bukan satu-satunya pihak yang gemar menggunakan straw man fallacy untuk menentang pandangan yang mengadvokasi kapitalisme pasar bebas. Beberapa pihak di kelompok libertarian atau pendukung pasar bebas pun juga tak jarang melakukan hal yang sama terhadap mereka yang dianggap mengusung ide-ide sosialisme.

Terhadap salah satu kandidat calon presiden Amerika Serikat, Bernie Sanders misalnya, ada beberapa kalangan libertarian, sebagian diantaranya saya kenal secara personal, yang menyerang melalui cara mensejajarkan Sanders dengan diktator komunis seperti Joseph Stalin. Meskipun Sanders menyebut dirinya sebagai seorang sosialis, harus kita akui bahwa sosialisme bukanlah sesuatu yang monolitik.

Ada banyak bentuk varian dari sosialisme, dan yang diadvokasi oleh Sanders bukanlah bentuk sosialisme komunis yang diterapkan oleh Uni Soviet, akan tetapi sosialisme demokratik (democratic socialism). Selain itu, sepanjang sepengetahuan saya, tidak ada indikasi bahwa Sanders mendukung pembangunan kamp-kamp kerja paksa seperti Gulag, ataupun mengadvokasi genosida terhadap etnis tertentu seperti yang dilakukan Stalin terhadap warga Ukraina pada dekade 1930an.

Menyerang Sanders dengan menyebut dirinya sebagai Stalin merupakan salah satu bentuk ketidakjujuran intelektual, serta tidak dapat menyanggah argumen kebijakan sosialisme demokratik yang ia usung. Ada banyak platform kebijakan Sanders yang layak dan patut kita kritik keras tanpa harus dengan menggunakan cara-cara straw man.

Advokasinya terhadap menaikkan upah minimum misalnya, niscaya justru akan semakin mempersulit para tenaga kerja tidak terampil karena pelaku usaha dipaksa untuk membayar pekerja jauh di atas value yang dapat mereka berikan.

Selain itu, kebijakan Sanders untuk sarana kesehatan universal misalnya, berpotensi besar akan membuat waktu tunggu yang jauh lebih lama bagi para pasien seperti yang terjadi Kanada, serta akan menghilangkan kebebasan warga negara untuk memilih dokter serta rumah sakit yang mereka inginkan, sebagaimana yang sudah terlihat dari dampak kebijakan Obamacare. Belum lagi hal tersebut akan semakin meningkatkan utang pemerintah federal Amerika Serikat yang saat ini sudah sampai 20 triliun dolar.

Demikian juga dengan kelompok kiri, bila ingin mengkritik atau menentang gagasan kapitalisme pasar bebas yang diusung oleh libertarianisme, maka bantahlah argumen-argumen yang memang menjadi fondasi serta berbagai literatur menjadi sumber dari gagasan tersebut. Salah satu yang paling populer adalah ide mengenai proses mekanisme harga pasar misalnya, yang dikemukakan oleh tokoh ekonomi kelahiran Austria, F. A. Hayek, dalam esainya yang berjudul "The Use of Knowledge in Society."

Itulah mengapa setiap saya berdiskusi dan bertukar pikiran perihal gagasan politik dengan kawan-kawan saya yang berhaluan kiri, saya hampir selalu mengawalinya dengan mengatakan bahwa jangan menjadikan Soeharto dan Pinochet sebagai referensi untuk menyerang kapitalisme pasar bebas yang saya usung. Bila mereka tidak mau gagasan sosialismenya disalahartikan melalui asosiasi dengan kebrutalan serta kekejaman rezim Stalin, maka pada saat yang sama mereka juga jangan mensalahartikan gagasan yang saya usung.

Bila mereka tetap berupaya untuk menyerang gagasan kapitalisme pasar bebas dengan cara-cara straw man, maka jangan salahkan saya bila saya juga melakukan hal yang sama. Bagitu pula sebaliknya, bila kita tidak ingin gagasan yang kita usung disalahartikan oleh orang lain, maka kita juga jangan mensalahartikan ide-ide serta argumen yang berbeda dari yang kita miliki.

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]

FaLang translation system by Faboba