Libertarianisme dan Beban Pembuktian Untuk Kebebasan

Opini    | 16 Apr 2019 | Read 174 times
Libertarianisme dan Beban Pembuktian Untuk Kebebasan

"Mengapa warga sipil seperti kita membutuhkan senjata semi-otomatis?"

Inilah pertanyaan yang kerap muncul di media massa setiap ada kasus penembakan massal yang terjadi di Amerika Serikat, yang diutarakan baik oleh politisi, jurnalis, maupun akademisi. Penembakan massal dengan menggunakan senjata semi-otomatis merupakan hal yang tak jarang terjadi di negeri Paman Sam tersebut.

Penembakan di konser musik Las Vegas pada tahun 2017 yang menewaskan 58 jiwa, penembakan di sekolah dasar Sandy Hook pada tahun 2012 yang membuat 27 orang kehilangan nyawa, hingga penembakan di klub malam di kota Orlando yang telah mengambil kehidupan 49 orang merupakan beberapa contoh dari berbagai penembakan massal yang terjadi di Amerika Serikat dalam dekade terakhir yang melibatkan senjata semi-otomatis. Maka tidak mengherankan bahwa pertanyaan "mengapa kita membutuhkan jenis senjata tersebut" merupakan hal yang banyak diutarakan oleh berbagai pihak.

Amerika Serikat sendiri merupakan negara yang dikenal sangat melindungi kebebasan memiliki senjata untuk warganya. Hal tersebut dituangkan dalam amandemen konstitusi Amerika Serikat kedua, yang berbunyi "Milisi yang diregulasi merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga negara yang bebas, dan oleh sebab itu, hak warga negara untuk memiliki dan menggunakan senjata, tidak boleh dilanggar."

Amandemen ini hampir selalu menjadi dasar keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat untuk menghapus aturan yang dianggap mencederai kebebasan memiliki senjara api. Selain itu, ia juga jerap menjadi fondasi argumen dari kelompok-kelompok advokasi kepemilikan senjata yang menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak memiliki wewenang untuk merampas kebebasan memiliki senjata warganya dalam bentuk apapun.

Kembali ke awal tulisan, apakah pertanyaan "mengapa warga Amerika butuh untuk memiliki senjata semi-otomatis" merupakan hal yang relevan? Bila mengacu pada aspek hukum, jawabannya sangat sederhana, bahwa pertanyaan tersebut merupakan hal yang tidak relevan karena, terlepas dari butuh atau tidak, hak memiliki senjata merupakan sesuatu yang dilindungi oleh konstitusi.

Lebih jauh lagi, apakah bentuk pertanyaan tersebut merupakan sesuatu yang tepat? Apakah burden-of-proof, atau beban pembuktian seseorang untuk memiliki atau menggunakan sesuatu berada pada pemilik dan pengguna barang tersebut, atau justru ada pada pihak yang ingin melarangnya?

*****

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, izinkan saya menulis ilustrasi sederhana. Bayangkan bila Anda sehari-hari terbiasa menggunakan celana panjang hitam untuk pergi ke kantor. Entah mengapa, itu merupakan kebiasaan yang sering Anda lakukan selama bertahun-tahun, dan Anda tidak pernah berpikir secara mendalam untuk mempertanyakan mengapa hal tersebut menjadi kebiasaan Anda.

Singkat cerita, Anda merasa bosan dengan kebiasaan Anda tersebut, dan suatu hari, Anda memutuskan untuk menggunakan celana berwarna biru untuk ke kantor. Setelah sampai di kantor, seorang rekan Anda melihat Anda menggunakan celana dengan warna yang berbeda, dan ia pun merasa aneh karena terbiasa melihat Anda menggunakan celana panjang hitam.

Rekan Anda tersebut akhirnya bertanya mengapa Anda menggunakan celana berwarna biru. Anda pun menjawab karena Anda bosan menggunakan celana panjang hitam dan sekali-kali ingin mengganti gaya busana. Rekan Anda tersebut tidak terima dengan penjelasan Anda dan merasa justifikasi Anda untuk menggunakan celana panjang biru tidak kuat. Ia mengatakan bahwa ia tahu Anda memiliki celana lain selain yang berwarna biru untuk digunakan ke kantor, dan rekan Anda bersikukuh bahwa bila Anda tidak bisa menemukan argumen yang kuat dan jelas untuk menjustifikasi gaya berbusana Anda hari itu, maka lebih baik Anda pulang ke rumah untuk mengganti celana Anda, atau tidak usah datang ke kantor.

Ilustrasi diatas mungkin terdengar sebagai sesuatu yang sangat konyol, mengada-ada, dan tak masuk akal. Sebagian pembaca mungkin berpikir bahwa ilustriasi tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaan terkait mengapa warga Amerika Serikat membutuhkan senjata semi-otomatis.

Bila dilihat secara sekilas, pandangan tersebut mungkin benar adanya. Namun, pada dasarnya bahwa cerita yang saya paparkan di atas dengan pertanyaan yang saya tulis di awal artikel ini memiliki benang merah yang sama, yakni hal tersebut merupakan contoh dimana bukti pembuktian, atau burden-of-proof sesorang untuk menggunakan kebebasan mereka justru dikenakan kepada orang yang memiliki kebebasan tersebut.

Mungkin ada dari pembaca yang merasa bahwa, meskipun demikian, senjata semi-otomatis dan celana panjang bukanlah hal yang dapat disejajarkan. Senjata semi-otomatis merupakan sesuatu yang membahayakan dan bila dipergunakan dapat menimbulkan banyak korban jiwa, sementara celana panjang tidak dapat membahayakan orang lain.

Argumen tersebut ada benarnya, dan saya bukan berarti lantas mensejajarkan efek dari senjata semi-otomatis dengan celana panjang berwarna biru. Yang menjadi benang merah bagi saya, sekali lagi, bukan pada aspek barang apa yang dinyatakan dilarang untuk dimiliki atau digunakan, namun argumen yang dipakai untuk menjustifikasi pelarangan tersebut.

Libertarianisme mengakui bahwa setiap individu merupakan entitas yang otonom. Kebebasan merupakan hal yang terberi kepada setiap individu, siapapun dia, terlepas dari perbedaan warna kulit, suku, etnis, agama, orientasi seksual, jenis kelamin, asal negara, ataupun identitas-identitas lain yang melekat pada diri individu tersebut.

Kebebasan dimaknai oleh libertarianisme sebagai keadaan dimana seseorang terbebas dari agresi pihak lain, baik terhadap hidupnya, tubuhnya, ataupun properti yang dimilikinya. Agresi tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, baik individu lain, kelompok masyarakat, ataupun institusi negara.

Setiap individu memiliki kebebasan mutlak untuk menggunakan hal-hal yang dimilikinya sesuai dengan kehendaknya, tentu selama tidak mencederai dan merampas kebebasan orang lain. Kita memiliki kebebasan menggunakan pikiran kita untuk menuangkan ide-ide yang kita miliki, serta menyebarkan gagasan tersebut. Kita memiliki kebebasan menggunakan tubuh kita sesuai yang kita inginkan. Kita memiliki kebebasan menggunakan uang yang kita miliki untuk membeli serta mengkonsumsi barang serta jasa yang menurut kita, dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik dan lebih bermakna.

Oleh karena itulah, bukti pembuktian untuk membatasi kebebasan seseorang harus berada pada pihak yang ingin membataskan kebebasan tersebut, bukan pada seseorang yang ingin menggunakan kebebasannya. Siapapun yang ingin membatasi kebebasan sesorang, apakah itu individu, organisasi masyarakat, atau pejabat negara, harus dapat memberi argumen dengan menggunakan penalaran yang logis serta pembuktian empiris untuk mendukung tindakannya. Apabila mereka tidak memiliki argumen tersebut, maka keputusan mereka untuk membatas kebebasan seseorang tidaklah valid dan harus segera dibatalkan.

Diskursus mengenai bukti pembuktian akan kebebasan seseorang untuk melakukan sesuatu merupakan hal yang dapat kita temui dimana saja, apalagi di tanah air. Dalam pembahasan mengenai ganja saja misalnya, dengan mudah kita dapat menemukan pertanyaan "mengapa ganja harus dilegalkan?"

Pertanyaan tersebut merupakan bentuk pertanyaan yang tidak tepat, karena beban pembuktian untuk mendukung legalisasi ganja ada pada pihak-pihak yang ingin menggunakan kebebasannya untuk menggunakan tanaman tersebut. Tubuh seseorang merupakan mutlak dimiliki oleh orang tersebut, dan apabila ada seseorang yang tidak diakui merupakan pemilik mutlak dari tubuhnya, maka ia tak ubahnya budak yang dimiliki oleh orang lain.

Kepemilikan seseorang terhadap tubuhnya harus diikuti dengan pengakuan bahwa ia memiliki kebebasan mutlak untuk menggunakan tubuhnya sesuai dengan yang ia inginkan, tentu selama tidak melukai dan mengambil kebebasan orang lain. Mengkonsumsi ganja merupakan aktivitas yang tidak mencederai kebebasan individu manapun, dan bila memang ada efek negatif dari barang tersebut, seperti merusak kesehatan diri, maka individu yang mengkonsumsinya harus berani bertanggung jawab atas pilihan yang ia ambil.

Oleh karena itu pertanyaan yang tepat bukanlah mengapa ganja harus dilegalkan, akan tetapi "mengapa ganja dilarang untuk dikonsumsi?" Dengan demikian, burden-of-proof berada di pihak yang ingin membatasi kebebasan seseorang untuk untuk mengkonsumsi zat tertentu, dalam hal ini negara. Apabila negara tidak bisa memberikan jawaban menggunakan penalaran yang logis serta pembuktian empiris untuk mendukung tindakannya, atau apabila jawaban yang diberikan negara bisa dibantah oleh seseorang yang ingin mengkonsumsi ganja dengan argumen yang lebih logis serta didukung oleh pembuktian empiris, maka keputusan negara tersebut tidak boleh diimplementasikan.

Meletakkan beban pembuktian seseorang untuk menggunakan kebebasannya pada diri orang tersebut merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Dengan demikian, kebebasan individu menjadi hal yang tidak diakui lagi, dan individu tak ubahnya menjadi budak penguasa atau masyarakat karena ia harus bisa memberi justifikasi atas semua pilihan yang ia ambil, apalagi bila pilihan tersebut merupakan hal yang dianggap buruk dan tidak sesuai dengan keinginan mereka yang memiliki kuasa atau orang-orang yang hidup disekelilingnya.

Seperti yang dipaparkan oleh penulis dan wakil direktur eksekutif lembaga think tank libertarian Amerika Serikat Cato Institute, David Boaz, dalam bukuya, The Libertarian Mind, bahwa "penggunaan wewenang kekuasaanlah, dan bukan penggunaan kebebasan, yang membutuhkan justifikasi" (It’s the exercise of power, not the exercise of freedom, that requires justification.)

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]