Apakah Pertemanan Layak Dikorbankan Demi Politik?

Opini    | 27 Mar 2019 | Read 347 times
Apakah Pertemanan Layak Dikorbankan Demi Politik?

Tanggal 17 April nanti, Indonesia akan menjalankan pemilihan umum serentak, yakni pemilihan umum presiden, serta pemilu legislatif baik di tingkat nasional maupun daerah. Meskipun demikian, efek dari diadakannya pesta demokrasi lima tahunan ini dapat kita rasakan sejak jauh-jauh hari, mulai dari kampanye media sosial, adanya spanduk dan baliho para kandidat calon yang tersebar dimana-mana, hingga topik pemilu yang memasuki pembicaraan kita sehari-hari baik dengan keluarga maupun kawan-kawan.

Pembicaraan mengenai politik menjelang pemilu dilakukan melalui berbagai medium, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Bila Anda aktif di media sosial Facebook atau Twitter misalnya, atau bila Anda bergabung dengan grup di media sosial seperti WhatsApp dengan kerabat atau kawan-kawan, besar kemungkinan Anda akan ikut terlibat, atau setidaknya menyaksikan pembicaraan tersebut.

Tidak sedikit teman-teman saya yang menceritakan bahwa sejak memasuki tahun pemilu, topk pembicaraan mereka, baik dengan keluarga maupun teman-teman, menjadi berubah. Mereka kerap membicarakan perihal mengenai politik dan pemilu. Hal tersebut tidak hanya terjadi di media sosial, namun juga secara langsung di berbagai kegiatan, seperti pada saat makan malam misalnya. Pembicaraan tersebut pun tidak jarang dilakukan dengan nada emosi, keras kepala, hingga berujung pada keributan dan perdebatan yang tiada akhir yang tentunya memiliki dampak yang sangat negatif terhadap hubungan personal kita dengan orang lain.

Polarisasi masyarakat dikarenakan pemilihan umum memang merupakan konsekuensi yang harus dihadapi di dalam negara demokrasi. Hal tersebut juga merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari, terutama yang terkait dengan pemilihan presiden. Pendukung dari kedua kubu kerap menyatakan bahwa pilihan mereka merupakan satu-satunya yang terbaik, serta mengatakan bahwa kandidat lawan merupakan pembawa bencana yang harus dilarang untuk berkuasa.

Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun juga di negara demokrasi lain seperti Amerika Serikat dan Perancis. Bila di tanah air pendukung salah satu calon kerap menuduh kubu lain sebagai pendukung diktator yang didukung kelompok religius fundamentalis, sementara kandidat lain menduduh lawannya sebagai pembohong yang hanya memberikan janji-janji palsu serta terbukti gagal mengurus negeri, lain halnya dengan di Amerika Serikat.

Di negeri Paman Sam, yang melaksanakan pemilihan presiden tahun 2016, pendukung Hillary Clinton menuduh Donald Trump sebagai seorang rasis yang gemar berbohong dan sangat berbahaya. Sementara, pendukung Trump menuduh Clinton sebagai seorang politisi yang korup yang harus dipenjara. Pada pemilihan presiden tahun 2017 di Perancis, pendukung Emmanuel Macron menuduh Marine Le Pen sebagai seorang fasis, xenophobic, dan nasionalis radikal. Di sisi lain, pendukung Le Pen menuduh Macron sebagai seorang globalis yang pro terhadap kepentingan asing dan pengungsi daripada masyarakat Perancis.

Pada pemilihan presiden Amerika Serikat dua tahun lalu, polarisasi yang terjadi sangat besar dan membawa dampak pada pola hubungan antar individu di dalam masyarakat Amerika. Pada bulan Desember tahun 2016 misalnya, NBC melaporkan bahwa setidaknya 17% penduduk Amerika Serikat yang menggunakan media sosial telah memblokir kawan-kawan mereka yang berbeda haluan politik, serta 31% masyarakat Amerika terlibat dengan perdebatan yang sangat panas seputar pemilihan presiden dengan kerabat dan orang-orang terdekat mereka.[1]

Rusaknya pertemanan dan hubungan antar keluarga dikarenakan perbedaan pandangan politik tentu sesuatu yang harus dihindari. Sehubungan dengan hal tesebut, itulah yang menjadi tujuan dari seorang ekonom dan akademisi libertarian asal Amerika Serikat, Jeffrey Tucker, yang menulis artikel berjudul "Don't Lose Friendships Over Politics",  yang dipublikasi oleh lembaga libertarian Foundation for Economic Education (FEE).

Melihat fenomena polarisasi yang terjadi di Amerika Serikat, Tucker dalam artikelnya menulis bahwa ia pun juga merasakan hal tersebut, dimana ia kehilangan kawan yang disebabkan oleh perbedaan pandangan politik. Tucker memberi contoh, ia pernah terlibat dalam perdebatan panas dengan seorang kawan dekatnya tentang kebijakan perubahan iklim, dimana Tucker menyatakan bahwa ia masih agak ragu mengenai data ilmiah terkait dampak perubahan iklim. Langsung kawan dekat Tucker tersebut menjadi naik pitam dan menuduh Tucker sebagai seorang anti-sains dan langsung pergi begitu saja.

Bila kita membiarkan politik menentukan pertemanan kita dan hubungan personal kita dengan individu lain, maka satu-satunya yang mendapat kerugian adalah diri kita sendiri. Tucker menulis setidaknya ada tiga poin utama tentang mengapa kita harus bersedia untuk berdialog dengan kawan kita yang berbeda pandangan politik, serta jangan menjadikan politik sebagai hal yang mengatur hubungan kita dengan individu lain.

Poin pertama adalah, bila kita menolak untuk membaca dan mengetahui pandangan yang berbeda, maka kita sama saja dengan mengisolasikan diri dari kritik, yang dimana dari kritik tersebut besar kemungkinan kita dapat mengetahui sesuatu yang baru. Menutup dari dari pendapat yang tak sama dengan yang kita miliki, apapun bentuknya termasuk hal-hal yang berkaitan dengan politik, akan cenderung membawa kita pada jurang dogmatisme dan menganggap diri kita yang paling benar.

Tidak ada manusia yang sempurna dan 100% bebas dari kesalahan, sebagaimana juga yang ditulis oleh filsuf liberal klasik kelahiran Inggris John Stuart Mill, dalam bukunya On Liberty. Dengan berdialog dengan orang yang berbeda pandangan, kita akan memiliki kesempatan untuk mengoreksi diri apabila ada pendapat kita yang mengandung kesalahan.

Lantas bagaimana bila pandangan kita memang yang paling benar? Apakah kita masih mendapatkan manfaat melalui diskusi dengan orang yang memiliki pendapat berbeda?

Mill menyatakan bahwa, meskipun kita memiliki pandangan yang benar, bukan berarti lantas kita tidak perlu lagi berdialog. Melalui diskusi dan perdebatan yang sehat, kita dapat menguji dari mana kita mendapatkan pandangan yang benar tersebut. Apakah kita mendapatkan pandangan yang benar itu karena indoktrinasi dan karena sikap dogmatisme terhadap seseorang atau hal tertentu? Atau kita mendapatkan pandangan tersebut dari hasil nalar berpikir kritis dan observasi yang mendalam.

Poin kedua dari Tucker adalah, dengan kita berdialog dan berdiskusi bersama kawan kita yang berbeda pandangan, kita dapat mengasah diri kita untuk mengemukakan pendapat dengan cara-cara yang santun, yang dimana bukan tidak mungkin melalui hal tersebut kawan kita dapat mengubah pandangannya. Katakan bila Anda merupakan pendukung salah satu kandidat calon yang sangat loyal dan fanatik, bagaimana Anda bisa mengubah pandangan kawan Anda yang memiliki pilihan berbeda bila Anda memutuskan segala bentuk komunikasi dengan orang tersebut, atau mendebat kawan Anda dengan kata-kata kasar?

Poin terakhir yang tidak kalah pentingya adalah, bila kita menutup diri dari kawan kita yang berbeda pandangan politik, maka kita sama saja dengan mengizinkan diri kita untuk dipermainkan, diarahkan dan dikontrol oleh sistem politik yang ada sekarang. Kalau kita memutuskan komunikasi dengan kerabat kita yang memiliki pilihan kandidat yang berbeda, maka satu-satunya yang diuntungkan dari hal tersebut adalah para politisi, karena mereka telah berhasil memecah belah masyarakat sehinga lebih mudah untuk dikendalikan dan ditaklukkan.

Membiarkan politik untuk mengontrol hal yang sangat penting bagi diri kita seperti pertemanan, tulis Tucker, sama saja dengan kita memberikan hal yang sangat berharga kepada para politisi tersebut, jauh daripada yang layak para politisi tersebut dapatkan.

Berkawan dengan seseorang yang berbeda dengan diri kita, apapun itu, baik suku, kepercayaan, selera musik, klub sepakbola favorit, hobi, hingga pandangan politik, merupakan anugerah yang sangat berharga. Melalui kawan-kawan kita tersebut, kita dapat belajar dan mendapatkan sesuatu yang baru. Hal tersebut tentunya membuat hidup kita menjadi lebih kaya, berwarna, serta bermakna.

Sebagai penutup dalam artikelnya, Tucker juga memperingatkan kita bahwa para politisi yang kita dukung berpotensi besar akan berkhianat terhadap janji-janji yang diucapkan kepada pada pendukungnya. Di Indonesia, para politisi yang ingkar terhadap janji kampanye mereka bukanlah sesuatu yang sulit kita temui, baik itu di lembaga legislatif maupun eksekutif, baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional. Maka tak heran bahwa, hewan yang kerap diasosiasikan dengan para politisi oleh media dan masyarakat di Indonesia adalah tikus.

Tidak ada yang dapat memastikan bahwa kandidat politisi yang kita dukung dapat memenuhi janjinya. Namun, dapat dipastikan bahwa ketika kita memutus hubungan pertemanan dan kekeluargaan hanya karena perbedaan pilihan politik, kita akan mendapat kerugian yang sangat besar dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yakni hubungan personal kita dengan orang yang kita sayangi dan cintai.

Presiden ketiga Amerika Serikat, Thomas Jefferson, dalam suratnya kepada salah satu kawannya bernama William Hamilton menulis "I never considered a difference of opinion in politics, in religion, in philosophy, as cause for withdrawing from a friend." (Saya tidak pernah mempertimbangkan untuk memutuskan pertemanan hanya karena perbedaan politik, keyakinan, atau pandangan filosofi.)

Jefferson mengetahui bahwa pertemanan merupakan sesuatu yang sangat berharga dan harus dapat kita jaga ditengah perbedaan opini dan pandangan. Apabila kita dapat melakukan hal tersebut, niscaya politik di tanah air akan dapat semakin baik, dewasa, serta kesempatan para politisi untuk memecah belah masyarakat demi keuntungan mereka sendiri akan semakin jauh berkurang. 

 

*****

 

Sumber artikel asli Jeffery Tucker: https://fee.org/articles/don-t-lose-friendships-over-politics/ 

 

Artikel Jeffery Tucker tersebut juga sudah diterjemahkan oleh Suara Kebebasan dan dapat dilihat melalui tautan berikut:

https://www.suarakebebasan.org/id/sindikasi/item/792-jangan-korbankan-persahabatan-demi-politik

 

[1] Sumber artikel: https://www.nbcnews.com/politics/first-read/unfriended-how-2016-election-made-us-battle-avoid-block-each-n698001

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]