Kontribusi Kelas Kapitalis Kepada Masyarakat

Opini    | 14 Mar 2019 | Read 376 times
Kontribusi Kelas Kapitalis Kepada Masyarakat (Sumber gambar: www.tribunnews.com) 

"Pay your fair share!"

Bagi Anda yang gemar mengikuti fenomena politik di Amerika Serikat, ungkapan di atas tentu bukanlah sesuatu yang asing untuk didengar. Pay your fair share, atau bayar bagianmu yang adil, merupakan salah satu slogan yang kerap didengungkan oleh berbagai politisi sayap kiri radikal yang sedang naik daun di negeri Paman Sam tersebut. Diantaranya adalah Senator Bernie Sanders dari negara bagian Vermont dan Anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez yang mewakili kota New York.

Pay your fair share mengacu pada kalangan berpenghasilan tinggi di Amerika Serikat, atau yang sering disebut sebagai top 1%. Politisi kiri ekstrem seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez kerap menuduh kalangan kaya di Amerika Serikat tidak membayar bagian yang harus mereka berikan kepada masyarakat secara adil.

Bernie Sanders misalnya, dalam acara Townhall yang disiarkan oleh CNN pada bulan Februari lalu, dengan tegas menyatakan bahwa "Apakah saya akan menuntut para orang kaya dan perusahaan besar untuk membayar bagian mereka secara adil kepada masyarakat dalam bentuk pajak? Ya tentu saja!"

Argumen mengenai orang-orang kaya di Amerika Serikat yang tidak "pay their fair share" tentu bisa dicek kebenarannya dengan menggunakan perhitungan matematika sederhana, yakni apakah jumlah persentase uang yang mereka dapatkan jauh lebih banyak dari total persentase kontribusi pajak yang mereka bayarkan secara keseluruhan atau tidak.

Laporan komite keuangan Senat Amerika Serikat pada tahun 2015 menunjukkan hasil yang sebaliknya. Dalam laporan tersebut ditemukan bahwa kalangan top 1% di Amerika Serikat mendapatkan 19% dari seluruh total pendapatan masyarakat Amerika, namun mereka membayar 49% dari total seluruh pajak penghasilan yang didapatkan oleh Pemerintah Federal Amerika Serikat. Melihat data tersebut, tentu dapat disimpulkan bahwa kalangan top 1% di negeri Paman Sam sudah membayar jauh lebih banyak dari fair share mereka. 

Tulisan ini bukan hanya ingin membahas fenomena tuntutan kepada kalangan kaya untuk pay their fair share dari sudut matematis belaka, tetapi lebih dari itu. Taruhlah bahwa jumlah persentase uang yang didapatkan oleh top 1% memang lebih banyak dari total persentase kontribusi pajak yang mereka bayarkan secara keseluruhan, apakah lantas berarti argumen Bernie Sanders menjadi valid? Apakah kontribusi seseorang terhadap masyarakat hanya bisa dilihat sebatas seberapa banyak pajak yang mereka bayarkan?

*****

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin menguraikan ilustrasi sederhana. Bayangkan Anda tinggal di dunia tanpa Henry Ford, Bill Gates, Paul Allen dan Steve Jobs. Tidak ada Mark Zuckerberg, Larry Page dan Sergey Brin. Steven Spielberg dan George Lucas, juga tidak pernah dilahirkan.

Di dalam dunia tersebut, Anda tidak bisa mengerjakan pekerjaan dengan menggunakan Microsoft Office, mendengarkan musik menggunakan iPod, berkomunikasi dengan teman melalui Facebook, serta mencari informasi dengan berselancar di Google.

Bila Anda ingin menbuat tulisan, maka Anda harus menggunakan mesin ketik atau menulis dengan pulpen di atas kertas. Anda pun harus membawa pemutar kaset bila ingin  mendengarkan musik, serta Anda hanya bisa berkomunikasi dengan kawan Anda melalui email dan telepon.

Kalau Anda ingin mencari informasi mengenai hal tertentu, maka Anda harus pergi ke toko buku terdekat, atau meminjam literatur dari perpustakaan. Anda juga tidak dapat menggunakan mobil untuk pergi ke perpustakaan atau toko buku, karena harganya yang sangat mahal sehingga hanya dapat dijangkau oleh kalangan yang memiliki banyak uang.

Selain itu, Anda juga tidak bisa menikmati film-film seperti Jurassic Park, E.T. the Extra-Terrestrial, serta Star Wars. Tidak ada layar lebar yang menampilkan dinosaurus yang hidup kembali setelah punah 65 juta tahun yang lalu, alien yang datang ke bumi dan bersahabat dengan manusia, atau pertarungan dengan menggunakan pedang laser di galaksi yang sangat jauh pada masa yang sangat lampau.

Apakah dunia tersebut merupakan tempat yang indah untuk ditinggali? Apakah Anda bersedia untuk pindah dari planet bumi tempat Anda sekarang ke planet lain seperti di atas?

Inilah kesalahan fatal kelompok kiri yang kerap mengasumsikan bahwa kontribusi seseorang kepada masyarakat hanya bisa dilihat dari seberapa banyak uang yang orang tersebut berikan kepada pemerintah, dan dibandingkan dengan kekayaan yang dia miliki serta penghasilan yang ia dapatkan. Para politisi seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez kerap mengabaikan besarnya value yang diciptakan oleh orang-orang yang dikategorikan sebagai bagian dari top 1% tersebut kepada masyarakat, yang membuat mereka dapat memiliki kekayaan dengan jumlah yang banyak.

Berkat program Microsoft Office yang dibuat oleh Bill Gates dan Paul Allen, jutaan orang menjadi terbantu untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Para penulis tidak harus menggunakan mesin ketik yang berbobot sangat berat dan sulit dibawa untuk membuat karya mereka, para akuntan tidak harus menghitung secara manual untuk membuat laporan keuangan, serta para mahasiswa tidak harus menggunakan pulpen dan kertas untuk menulis makalah mereka.

Atas jasa Sergey Brin dan Larry Page, kita bisa dengan sangat mudah mencari pengetahuan yang ingin diketahui melalui Google. Kita tidak lagi harus bersusah payah pergi ke toko buku atau perpustakaan untuk mendapatkan informasi yang ingin kita dapatkan. Karena buah karya Mark Zuckerberg, jutaan orang dapat berkomunikasi dengan lebih mudah dengan orang-orang terdekat mereka melalui Facebook. Tak terhitung pula berapa banyak orang-orang yang terhubung kembali dengan kawan-kawan lama mereka yang tidak pernah mereka temui selama bertahun-tahun.

Bayangkan juga betapa banyak orang yang merasa terharu dan terinspirasi oleh film-film karya Steven Spielberg dan George Lucas. Jutaan pasang mata menghabiskan waktu mereka dibalik layar lebar, bersama keluarga dan sahabat-sahabat tercinta, menyaksikan T-Rex yang dihidupkan kembali berkat rekayasa genetika, serta Darth Vader dan Luke Skywalker yang bertarung menggunakan lightsaber di galaksi yang sangat jauh dari bumi.

Inilah share yang dibagikan oleh orang-orang kaya tersebut kepada sesama. Inilah nilai yang diciptakan oleh mereka yang menjadi bagian dari top 1% kepada masyarakat, yang membuat mereka layak untuk memiliki setiap sen yang mereka dapatkan. Melalui inovasi dan kreativitas, mereka membuat karya yang telah membatu serta menginspirasi jutaan, atau mungkin bahkan milyaran umat manusia.

Oleh karena itu, bila Anda menemukan seseorang yang menyatakan bahwa para kapitalis yang berada di posisi top 1% tidak membayarkan bagian mereka secara adil, serta tidak mengeluarkan kontribusi kepada masyarakat, cukup tanyakan kepada orang tersebut perihal barang-barang yang tidak bisa mereka lepaskan dari keseharian mereka.

Apa merk laptop serta handphone yang ia gunakan? Apa merk pakaian yang ia pakai? Apa software yang ia gunakan untuk mengerjakan tugas? Dimana ia biasa mencari informasi? Melalui aplikasi apa ia biasa berkomunikasi dengan keluarga dan sahabat terdekat? Apa merk kendaraan yang kerap ia gunakan untuk bepergian? Apa film yang gemar ia saksikan, serta musik yang sering ia dengarkan untuk menemani aktivitasnya?

Sekarang tanyakan kepada orang tersebut, siapakah tokoh kreatif yang memiliki inovasi untuk membuat berbagai produk dan karya yang tersebut? Dan bayangkan, bila tokoh kreatif tersebut tidak pernah dilahirkan, apakah kehidupan orang tersebut akan semakin membaik?

 

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]