Politik dan Komedi

Opini    | 24 Jan 2019 | Read 102 times
Politik dan Komedi

 

“Kita terlalu serius, terlalu berurat leher, terlalu berkerut dahi, terlalu bertegang hati, Tanpa sadar bahwa semua berita di Televisi, Radio, Internet atau Surat Kabar adalah komedi”

 

Disela-sela persaingan ketat antara calon presiden dari nomor urut 01 dan 02, sekonyong-konyong muncul pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 10, yaitu Nurhadi Aldo di media sosial. Walau dengan gaya dan poster kampanye yang meyakinkan, Nurhadi-Aldo atau disingkat DILDO sama sekali tidak menawarkan program kerja apapun sebagaimana layaknya seorang calon presiden dan wakil presiden yang berkontestasi merebut hati rakyat.

Pasangan Nurhadi – Aldo justru menyodorkan quotes dan jokes segar yang mengelitik perut dan membuat terpingkal orang yang membacanya. Ya, pasangan Capres-Cawapres nomor urut 10 ini memang pasangan fiktif yang dibuat-buat oleh beberapa kelompok orang untuk menyegarkan pikiran dan hati masyarakat yang terlalu terfokus pada persaingan Pilpres 2019 yang makin panas hingga  merusak kewarasan.

Jokes Dildo menampilkan kecerdasan melalui komentar konyolnya. Seolah tak ada batasan dalam komedi, politik yang tadinya serba keras, picik, dan penuh kebencian, menjadi santai dan penuh tawa. Karena quotes jenaka pasangan Dildo, BBC News menyebutkan fiktif Nurhadi – Aldo sebagai “penyegar kesumpekan Pilpres 2019”

Nurhadi awalnya adalah seorang tukang urut di daerah Kudus Jawa Tengah, sedangkan Aldo adalah manusia fiktif, gabungan dari dua foto orang yang berbeda. Saat ini Capres fiktif Nurhadi menjadi trending di media sosial. Nurhadi-Aldo di kalangan anak muda, bukan cuma lawakan quotes yang membuat gembira, lebih dari itu Nurhadi-Aldo adalah simbol dari naluri kritis anak-anak muda yang mulai muak dengan retorika politik para tokoh yang berebut kuasa.

 

Komedi atau lelucon adalah suatu ungkapan atau adegan yang membuat kita  melepas tawa. Orang selalu membutuhkan sesuatu untuk menghibur diri atau mencairkan suasana. Komedi adalah adalah media yang dapat mencairkan suasana yang tegang menjadi gembira. Bayangkan jika dunia ini tanpa lelucon dan humor, tentu dunia akan menjadi sumpek dan makin memuakkan.

Namun komedi bukan sekedar bualan jenaka semata. Dalam sejarahnya, komedi juga menjadi alat untuk menyitir para bangsawan dan penguasa yang lupa daratan hingga berbuat salah tingkah. Di awal dekade 2000-an, muncul acara-acara komedi berbentuk satir politik. sebut saja acara Republik Mimpi, Democrazy, Sentilan-Sentilun, Indonesian Lawak Klub (ILK), dan kartun Bang One.

Humor bukan sekedar bisa menjadi hiburan, tetapi lebih jauh menjadi senjata untuk mengkritisi kebijakan para politisi yang dianggap keblinger dan mengingkari tanggung jawabnya sebagai pengayom rakyat.

Lawakan sarkas dan satire sudah berkembang di zaman Yunani kuno, dimana panggung-panggung lawak biasanya berisi sindiran terhadap pemimpin kota (polis) beserta wakil-wakil rakyatnya. Di tanah Arab, para penyair bermain sebagai pelawak yang kadang menyisipkan sindiran kepada para pejabat yang hidup hedonis. Contoh populernya seperti penyair Abu Nawas yang kerap mengkritisi dan mengguyoni Khalifah Harun Al-Rasyid.

Semangat kebebasan dan demokrasi yang terus bersemi hampir di seluruh dunia, membuat para pelawak bebas berekspresi untuk memproduksi guyonan dan satire yang berisi kritik bahkan hinaan kepada penguasa. Orang malah melihat para pelawak sebagai ikon juru bicara rakyat yang paling jujur bersuara ketimbang wakil-wakil rakyat.

Pada tahun 1955, Usmar Ismail memproduksi film “Lagi-Lagi Krisis”. Film yang dibintangi oleh Raden Soekarno (Rendra Karno), S. Bono, dan Rd. Ismail ini  menceritakan kisah dukun palsu yang nekat buka praktek. Ajaibnya, justru malah banyak dari kalangan saudagar, artis, hingga pejabat yang datang ketempatnya. Bahkan banyak para pengangguran banyak yang minta kerja atau uang pada si dukun.

Film bergenre komedi yang booming di dekade 50-an ini, merupakan sindiran keras kepada pemerintahan Soekarno dan kabinetnya yang pada masa itu tidak bisa menghadapi krisis ekonomi dan politik sehingga banyak rakyat yang hilang akal dan meyakini tahayul.

Melalui komedi, kadang pesan dan kritikan menjadi lebih mudah dimengerti dan kadangkala dengan dibungkus komedi, penyampaian kritik yang tajam menjadi efektif tanpa menyakiti siapapun. Sebagaimana contoh di atas, dimana film komedi tersebut menggambarkan situasi kacau perpolitikan tanah air yang berujung krisis. Namun, penyampaian lewat komedi membuat semuanya menjadi jenaka.

 

Politik Rasa Komedi

Tujuan dari lelucon bukan untuk menurunkan derajat manusia, tetapi untuk sekadar mengingatkan bahwa mereka sudah terdegradasi. (George Orwell)

Parodi pasangan fiktif Nurhadi-Aldo yang viral di jagad dunia maya menjadi tren baru. Pasangan Dildo telah memoles politik menjadi arena lawak sehingga kita menjadi santai dan menikmati tahun politik tanpa harus ada rasa kebencian. Satiran Dildo adalah sebuah counter aksi dari generasi muda terhadap kelompok yang terlalu fanatik mendukung paslon tertentu. Lawakan dari Dildo, mengajak kita untuk berkepala dingin dan berpikir jernih dalam menghadapi keadaan politik 2019 yang menggila ini.

Politik bukan arena sakral yang harus dipetaruhkan dengan darah. Jika kita melihat situasi politik belakangan ini, justru persaingan politik sangat tidak sehat. Contohnya, ancaman terhadap orang yang meninggal tidak bisa dikubur hanya karena ada perbedaan pilihan politik telah membuat aksi-aksi demo hanya demi membentuk citra politik. Begitu juga dengan kasus yang menimpa aktivis yang mengaku dikeroyok tapi kenyataannya ia justru melakukan operasi plastik. Lucunya, para “suporter politiknya” sudah menyebar berita dan merangkai kronologi pengeroyokan Ratna Sarumpaet di Media sosial.

Ada pula tokoh capres yang melumuri dirinya dengan citra agamis dan Islami, sehingga pendukungnya gila-gilaan mengangkat dia sebagai pemimpin Islam ideal satu-satunya di republik ini. Bahkan “citra islami” itu dilegalisasi lewat “fatwa para ulama”.

Namun lucunya,  usaha mati-matian para relawan dan pendukung politik untuk memoles citra Islamis justru kandas ketika capres yang dianggap “titisan Allah” justru ikut menghadiri misa Natal dan merayakan Natal bersama keluarganya. Padahal para pendukung politik dan pendukung umumnya paling alergi mengucapkan perayaan hari orang “kafir”, apalagi menghadirinya. Tapi toh junjungan mereka sendiri membuat tim sukses dan pendukung fanatiknya berkelit memutar otak untuk membenarkan tindakan capres pilhan ulama itu.

Begitu juga dengan capres rivalnya yang memoles citra dirinya sebagai “duta Pancasila dan NKRI”. Para suporter dengan bangga memoles citra capresnya sebagai pembela demokrasi dan Pancasilais sejati. Bagi para pendukung politik Capres yang satu ini, semboyan mereka NKRI adalah harga mati dan kelompok politisasi agama, serta golongan kanan adalah musuh abadi.

Namun kocaknya, tanpa ada angin atau hujan capres idola mereka justru memilih seorang Kyai konservatif sebagai cawapresnya. Tentu pendukungnya dibuat bingung, sudah capek-capek mempromosi pemisahan politik dan agama, tetapi si tuan besar yang liberal dan Pancasilais menggandeng seorang Muslim tradisionalis yang  memiliki peran dalam drama “penistaan agama” di 2016 lalu.

Tidak hanya sampai disitu,  Sang Capres yang merupakan petahana juga melakukan terobosan yang membuat logika pendukungnya babak belur, yaitu keputusannya melepaskan dari bui seorang Abu Bakar Ba’asyir  yang tertuduh sebagai gembong teroris dengan dalih “kemanusiaan”.

Bagaimana bisa sang Presiden sekaligus capres ini berdalih demi “kemanusiaan” untuk membebaskan seorang napi teroris, sedangkan ia sendiri mengabaikan orang-orang yang diperlakukan tidak manusiawi, contohnya seperti pengikut Gafatar, pengusiran Syiah Sampang  dan juga minoritas Kristen yang selalu dideskreditkan.

*****

Politik adalah politik, kadang logika harus dikesampingkan untuk memahaminya. Banyak sekali perbuatan tokoh politik dan pejabat kita yang bertentangan dengan nilai moral dan janji yang dia ucapkan sendiri. Bukankah merupakan suatu kekonyolan jika kita mengorbankan harta bahkan hingga bermusuhan dengan sejawat hanya karena berbeda urusan politik?

Kita terlalu serius, menganggap politik sebagai segalanya dan  sakral. Padahal kesakralan dan citra bersih itu bualan semata yang justru dibuat oleh politisi beserta timsesnya untuk merebut suara massa. Yang lebih konyol lagi, tidak ada permusuhan abadi dalam politik. Ada masanya untuk saling sindir dan ada saatnya mereka harus bermain drama sebagai sahabat abadi.

Perkembangan politik kita saat ini jika kita pikir dengan akal sehat, justru bukan mengarah pada kedewasaan tetapi kekonyolan. Tapi begitulah politik. Mengutip perkataan Socrates, politik berawal tragedi dan berakhir dengan komedi...

 

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]