Apa Komunisme Masih Menjadi Hantu?

Opini    | 16 Jan 2019 | Read 227 times
Apa Komunisme Masih Menjadi Hantu?

"Ada hantu bergentayangan di Eropa...Hantu Komunisme"

-Karl Marx-

Kutipan kalimat di atas diambil dari kata pembuka Manifesto Komunis yang disusun oleh Karl Marx dan sahabatnya Friedrick Engels. Marx menyebut bahwa komunisme sebagai “hantu” dalam artian komunisme akan membangkitkan kesadaran perlawanan dan api revolusi yang mengerakan kaum buruh melawan kaum kapital atau para pengusaha.

Di Indonesia komunisme digambarkan sebagai hantu yang menyeramkan dan mengancam. Walaupun “demam” komunis di seluruh dunia sudah reda, dan negara-negara demokratis sudah tidak menganggap komunisme sebagai suatu ancaman, namun di Indonesia justru sebaliknya. Komunisme masih dianggap genderuwo yang bergentayangan dibalik pohon yang suatu saat akan menampakkan dirinya.

Kadangkala di saat hawa perpolitikan di negeri ini mulai memanas, mulailah para politisi dan beberapa tokoh “menggoreng” isu kebangkitan komunis. Yang lebih menohok adalah, isu komunis kadang dihembus begitu liar, isu bahwa komunisme akan bangkit untuk melawan agama dan Pancasila, atau adanya kelompok etnis Tionghoa yang bekerja sama dengan Partai Komunis China untuk membangkitkan PKI, dan lain sebagainya. Walaupun isu ini sangat tidak masuk akal, bahkan bisa dibilang sableng, ratusan bahkan ribuan orang awam di luar sana banyak yang mempercayainya.

Di masa lalu komunisme dianggap sebagai hal yang tabu. Ketika Orde Baru berdiri, paham komunis adalah paham paling haram untuk diucapkan, dipelajari, apalagi dianut. Komunis dan marxisme dianggap sebagai otak dari kerusuhan di Indonesia pada tahun 1965, dan menjadi tersangka utama yang mengancam eksistensi falsafah negara. Karena itulah, Orde Baru mendandani Komunisme bukan sekedar hantu, tetapi setan Genderuwo, sesosok monster raksasa yang memangsa manusia.

Ketakutan terhadap hantu komunisme ini bukan saja terjadi di Indonesia, tetapi pernah menyebar di seluruh pelosok dunia. Pada awal Revolusi Oktober 1917 yang merupakan awal dari terbentuknya negara komunis di Rusia,  negara-negara di Eropa berusaha untuk menghadang revolusi untuk memasuki negeri mereka. Pada saat Perang Dunia Pertama berakhir, di beberapa negara Eropa Partai Komunis dilarang berdiri. Bahkan di Jerman, Pemerintah republik menghancurkan gerakan revolusi.

Ketakutan itu bertambah ketika tahun 1939, Uni Soviet berusaha mencaplok wilayah Finlandia, Polandia, serta menganeksasi Estonia, Latvia, Lithuania. Akibat dari invansi ini, negara-negara Eropa barat semakin fobia terhadap komunisme dan menganggapnya sebagai musuh bersama. Uni Soviet sendiri pada bulan Desember 1939 dikeluarkan secara tidak hormat sebagai anggota Liga Bangsa-Bangsa.

Namun, kebencian pada komunisme ini berhenti sementara ketika kaum Fasis di Italia dan NAZI Jerman mengobarkan Perang Dunia Kedua.  Uni Soviet sendiri merancang doktrin Dimitrov yang berisi tentang persahabatan antara negara komunis dan kapitalis untuk untuk menghadapi musuh bersama: Fasis dan NAZI.

Namun pasca Perang Dunia, justru pertentangan antara negara-negara demokratis dengan negara komunis semakin meruncing. Era 1945 hingga dekade 80 adalah era ketegangan antara kubu demokratis dengan komunis, era ini disebut sebagai Perang Dingin. Pertarungan ideologi selama Perang Dingin membuat  gejolak di berbagai negara, khususnya di Indonesia.

*****

Lalu mengapa komunisme menjadi hantu? Mengapa komunisme dianggap setan?

Tentu jawabannya tidak sesimpel pola pikir masyarakat kita. Mereka anggap komunisme suka membunuh orang atau komunisme anti Tuhan, sehingga dengan dua alasan inilah komunisme dimusuhi. Tapi toh yang mengaku bertuhan tidak menjamin bahwa dirinya manusiawi dan tidak bunuh orang, ISIS contohnya.

Ketakutan masyarakat kita terhadap komunisme atau PKI adalah ketakutan yang bersifat delusi. Mereka tidak mengetahui apa yang mereka takuti dan mengapa mereka harus takut. Mereka takut pada “Setan Komunis” karena indoktrinasi yang ditanamkan oleh rezim yang lampau. Akhirnya terjadi disinformasi terhadap siapa dan bagaimana komunisme, yang membuat komunisme mampu menjadi isu pemecah-belah yang digunakan oleh oknum politik untuk memanfaatkan rakyat awam.

Jika kita mengkaji Komunisme maka tidak bisa dilepaskan dari pesan Karl Marx dan Friedrick Engels. Menurut Marx, sosialisme bukan sekedar pembagian “sama rata” tetapi lebih jauh lagi, ia menginginkan suatu kumpulan masyarakat tanpa kelas, tanpa diskriminasi, tanpa penindasan dan tanpa penghisapan.

Menarik? Tentu saja, tetapi mewujudkan masyarakat tanpa kelas  tidak gratis, kaum komunis menafsirkan bahwa untuk mewujudkan masyarakat tersebut harus melalui senjata dan revolusi. Revolusi berarti perubahan secara radikal dan merubah tatanan yang ada secara serentak dalam waktu cepat. Tentu saja revolusi komunis ini memakan banyak korban harta dan jiwa.

Revolusi di Rusia pada bulan November, yang dipimpin kaum Bolsheviks, telah memakan banyak korban jiwa dan kesengsaraan yang luar biasa. Walau pada dasarnya komunisme yang digagas oleh Karl Marx menekankan pada cita-cita kebebasan, kesetaraan, dan keadilan sosial, namun pada praktiknya, kaum komunis mereduksi cita-cita tersebut dan menyulap negara komunis menjadi otokrasi, elitisme partai politik, serta kewenangan besar negara yang mendikte dan mengontrol rakyat.

Kesetaraan diubah menjadi keseragaman, keharmonisan diubah menjadi disiplin pada aturan partai, keadilan sosial berarti taat pada aturan partai dan perintah mutlak partai. Sejarah justru melukiskan bahwa komunisme menjadi diktatorisme gaya baru. Jika kita melihat Diktator Stalin, Mao Tse Tung, Nicolae Ceausescu, Kim Jong Il, dan para diktator komunis lainnya, maka kita tidak mungkin bisa membedakan mereka dengan diktator lainnya, seperti Hitler, Mussolini, Augusto Pinochet atau Ferdinand Marcos, yang sama-sama otoriter dan mengebiri demokrasi.

Partai Komunis Myanmar yang dipimpin Polpot justru membuat Myanmar menjadi neraka. Perang sipil yang telah merenggut korban jiwa, justru tidak membuat kesejahteraan di negara itu membaik, namun malah semakin hancur oleh gelombang revolusi. Cita-cita masyarkat komunis yang diidam-idamkan oleh Karl Marx dan Engels justru dalam kenyataannya dirusak oleh partai-partai komunis yang menjadi “diktator baru” penghisap rakyat.

Inilah yang membuat negara-negara yang menjunjung demokrasi dan kebebasan menganggap komunisme sebagai ancaman dan hantu yang menyeramkan. Sebenarnya secara prinsip, komunisme dan liberalisme memiliki cita-cita yang serupa, yaitu mendirikan masyarakat bebas dan adil. Namun pada praktiknya, komunisme lebih mirip sebagai mesin penghancur demokrasi dan kebebasan daripada sebagai pembela kebebasan rakyat itu sendiri.

 

Apakah komunisme masih menjadi hantu?

Ketika Uni Soviet bubar pada tahun 1991 dan Jerman Timur bergabung ke Jerman Barat otomatis kekuatan-kekuatan penopang ideologi komunis semasa Perang Dingin telah lenyap. Di China, praktik komunis justru malah sangat paradoks. Di sisi ekonomi mereka agak liberal, namun di sisi politik mereka tetap mempertahankan kediktatoran partai. Sedangkan di Cuba, pemerintah sosialis mulai terbuka dan menerima demokrasi. Di Vietnam dan Korea Utara, perkembangan komunisme sangat tidak menarik karena bersifat nasionalis.

Melihat kenyataan di atas, Akhir abad 20 adalah era kehancuran komunisme dan kemenangan mutlak demokrasi. Bukan hanya diktator komunisme yang hancur, tetapi diktator rakyat seperti Ferdinand Marcos, Pinochet, dan Soeharto ikut terguling oleh arus demokrasi global. Lalu apakah komunisme masih menjadi hantu di zaman ini?

Ikon “Hantu komunisme” di Indonesia setidaknya bukan hanya untuk mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara, “hantu komunis” tetap dipertahankan hingga saat ini lebih karena sebuah alasan yang politis. Pada era Orde Baru, rezim membuat film propaganda G30S/PKI sebagai indoktrinasi bahwa PKI adalah jahat dan Soeharto beserta pasukannya adalah sang penyelamat. Ikon Suharto sebagai penyelamat inilah yang menjadi pesan utama dibalik isu “Hantu Komunis”.

Ketika Komunisme sudah hancur dan gagal pada dekade 90an, Pemimpin Orde Baru, merasa tetap membutuhkan setan tersebut untuk melegitimasi perannya sebagai pelindung NKRI. Pada era 90an, Orde Baru menggunakan istilah “OTB” alias Organisasi Tanpa Bentuk yang merupakan cap yang digunakan rezim untuk mewaspadai gerakan Laten Komunisme. Namun, tentu saja itu adalah isu untuk menjadikan rezim militer Orde Baru untuk tetap berkuasa dan menyingkirkan lawan politiknya.

Melihat kenyataan bahwa komunisme sudah “wafat”, maka fobia kemunculan PKI atau hantu komunis saat ini terlalu berlebihan dan lebih bernuansa politis daripada kenyataan. Efeknya, isu hantu komunis menjadi alat kampanye hitam untuk mendiskreditkan tokoh tertentu. Hal ini pulalah yang menjadi penghalang utama untuk mengusut pelanggaran HAM yang dilakukan rezim yang lampau pada tahun 1965-1968 dan menghambat penggalian sejarah yang sebenarnya.

*****

Abad 21 adalah abad Pasar Global, pemikiran tertutup ala negara komunis sudah tidak laku lagi. Masyarakat saat ini justru lebih membutuhkan kebahagiaan, demokrasi dan juga kebebasan untuk menikmati hidupnya.  Dengan demikian, sudah tidak ada alasan pemerintah dan masyarakat kita takut oleh delusi kebangkitan komunisme atau PKI.

Tindakan komunisto phobi yang dilakukan segelintir oknum, sehingga menangkap, merazia, dan mewartakan kebangkitan komunis, sangat berlebihan. Jika negara ini ingin jauh dari komunis, dan tidak mau menjadi komunis, maka tidak bisa tidak demokratisasi dan kebebasan di Indonesia harus terus dijaga dan ditingkatkan.

Kadang negara ini lucu juga, di sisi lain katanya tegas menolak komunisme, tapi  kenyataannya tersanjung dengan ide-ide negara komunis/sosialis. Contohnya, masyarakat ingin negara memberi subsidi-subsidi pada semua aspek kehidupan mereka. Ekonomi diatur oleh negara, bukan berlandas kebebasan. Rakyat kita maunya impor ditiadakan dan perusahaan asing di nasionalisasi.

Begitu juga dalam hal politik dan sosial, masyarakat tidak terlalu menyukai kebebasan, mereka menganggap kebebasan itu liar dan lebih suka keseragaman. Ini menunjukkan bahwa di sisi lain kita menolak ide-ide komunisme, tetapi pada kenyataannya bangsa kita menginginkan program-program sosialis tersebut diterapkan di negara ini. Ini adalah salah satu bentuk paradoks yang membingungkan.

Jika kita tegas menolak komunisme, maka kita harus memiliki komitmen kuat pada demokrasi. Namun tampaknya antusias rakyat terhadap ide demokrasi dan kebebasan masih rendah. Bukankah aneh, negara kita ini menolak komunisme, namun tetap menanamkan jiwa komunal dan kolektivis? Ini adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka takuti.... Ibarat memukul air di sungai, airnya dipukul tapi muka sendiri yang basah...

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]