Agamaku Agama Cinta

Opini    | 4 Jan 2019 | Read 110 times
Agamaku Agama Cinta

“Alam ini pada mulanya disatukan oleh cinta,cinta adalah hukum kodrat yang menyatukan dan mendekatkan seg

ala sesuatu,Cinta itu akan membuka kembali jalan pulang menuju langit yang suci, kedalam pangkuan Tuhan yang Maha mencintai”

Begitulah bunyi syair yang diungkapkan oleh Empedokles, seorang filsuf Yunani kuno yang menyadari bahwa cinta adalah suatu asas yang penting. Cinta adalah hukum tertinggi yang menyelimuti alam semesta, cinta pulalah yang menjadi penuntun jalan kesucian menuju Tuhan.

Cinta yang terkandung dalam syair Empedokles di atas tentu saja bukan cinta dalam artian hubungan antara pria dan wanita saja, namun cinta dalam pengertian luas, yaitu cinta pada sesama, cinta kepada lingkungan, cinta kepada keluarga, dan cinta kepada semesta. Sebab setiap orang menyadari bahwa cinta tersebut membuat segalanya menjadi nyaman, menentramkan, menyatukan, dan menghadirkan kebahagiaan.

Jikalau manusia menjunjung hukum cinta, maka dapat dipastikan segala kebencian, dendam, iri hati, kekerasan, perusakan dan segala hal hal negatif dan merugikan pasti akan lenyap. Dengan berpatokan pada asas cinta kasih, hubungan antar individu dengan individu, golongan dengan golongan akan berjalan secara harmonis.

 Cinta adalah hukum absolut yang bersifat universal, apapun agama anda, apapun suku anda, dimanapun anda berada, setiap orang pasti mengakui bahwa cinta membawa kebaikan. Dan apapun tindakan yang di lakukan atas dasar cinta, maka hasilnya akan berbuah positif dan selalu memuaskan.

 

AGAMA DAN PEPERANGAN

Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemanapun langkahnya. Itulah agama dan keimananku” begitulah salah satu syair dari Muhyi al-Din Ibn Arabi dalam kitabnya Futuhat al-Makkiyyah. Beliau mengungkapkan bahwa agama yang sejati adalah agama yang dilandasi oleh cinta kasih, agama yang sejati akan merangkul seluruh manusia, agama yang sejati -menurut beliau- membawa pesan-pesan universal yang menuju ke arah kebaikan dan kebahagiaan.

Tentu saja agama cinta yang dimaksud oleh Ibn Arabi tersebut adalah memahami agama sebagai sebuah lembaga yang membumikan cinta kasih. Ibn Arabi ingin menyampaikan kepada para pembaca bahwa  jikalau kita menelusuri setiap ajaran, pesan, wejangan dan petuah dari  para nabi yang bawa agama-agama di dunia bahwa pada hakikatnya, esensi utama dari pesan tersebut adalah Cinta.

 “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (Surat Yohanes 1: Pasal 4 Ayat 16) kandungan dari ayat Alkitab ini merupakan bukti penguat bahwa pada dasarnya Tuhan adalah Maha Mencintai dan jalannya berada di atas kasih sayang.

Agama Kristen, Hindu, Buddha, Islam walau secara eksoteris (ritual) mereka berbeda, namun secara esoteris (hakikat) mereka memiliki kesamaan, yaitu sama-sama mengajarkan kedamaian dan keharmonisan. Agama berasal dari bahasa sanskrit, A tidak dan gama kacau, agama adalah sistem yang mengatur manusia agar teratur, harmonis, damai dan menghindari segala kekacauan dan konflik.

Tapi fenomena yang kita saksikan saat ini, sepertinya berbalik 180 derajat. Di televisi dan media massa kita kerap melihat kekerasan dan aksi kriminal dengan dalih agama. Penutupan warung makan secara paksa di Bulan Puasa, persekusi terhadap wanita yang tidak berjilbab syar’i di Aceh, penolakan pendirian gereja di Banten, hingga aksi intoleran yang menimbulkan korban jiwa seperti penyerangan Ahmadiyah di Cikeusik dan  pembakaran Masjid di Tolikara, Papua.

Ya, nampaknya kita sudah biasa disajikan oleh televis, koran, atau internet mengenai aksi-aksi heroik yang membawa unsur agama. Entah itu mengenai tawuran atar kelompk agama,  persekusi terhadap minoritas, atau penganiyayaan terhadap jiwa orang lain.

Di mancanegarapun terjadi hal serupa, seperti kaum Buddhis Myanmar yang mendiskriminasi etnis minoritas Muslim Rohigya, di Israel orang-orang Palestina selalu menuntut kebebasan mereka dari penjajahan pemerintah Yahudi, dan berita lainnya, yang seolah-olah menampilkan bahwa agama adalah suatu konsepsi pemecah belah.

Lihatlah contoh kecilnya adalah ISIS, mereka dengan bangga memamerkan kepala manusia dan merasa perbuatan itu telah diridhai Tuhan, sehingga mereka berpikir akan mendapat surga dengan cara membunuh orang. Atau kelompok Anti-Balaka di Afrika Tengah yang membantai orang-orang Muslim di negara tersebut. Kaum fundamentalis (dari agama manapun) selalu berpikir bahwa tindakan mereka akan menyenangkan Tuhan.

Namun hal ini sebenarnya tidak menunjukkan bahwa agama itu membawa keburukan dan konflik. Karen Armstrong berpandangan bahwa tidak semua kekerasan adalah murni dari agama. Kadangkala motif-motif lain seperti politik dan sukuisme justru menyeret agama dalam ego mereka sebagai pembenaran. Contohnya adalah demonstrasi  di Malaysia yang mengikutsertakan ratusan ribu demonstran.

Aksi 812 diselenggarakan oleh kelompok muslim Melayu bersama dengan Partai Islam Malaysia (PAS) dan United Malays National Organisation (Umno) dengan tujuan utamanya untuk melanggengkan sistem diskriminasi ras mirip apartheid yang telah lama terjadi di Malaysia. Disini partai-partai Islam dan kelompok Melayu sebenarnya menganeksasi Islam sebagai pembenaran terhadap aksi konyol mereka. Sebab kenyataannya Islam tidak memiliki hubungan dengan deskriminasi ras di Malaysia. Ini menunjukan bahwa tidak semua pertikaian bermotif agama BENAR-BENAR murni karena agama.

Agama Cinta

“Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa;

ia merupakan padang rumput bagi menjangan,biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala,

ka‘bah tempat orang bertawaf, batu tulis untuk Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an.

 Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya;

itulah agama dan keimananku:”

 

Syair yang dilantunkan oleh Ibn Arabi menjelaskan bahwa pada dasarnya agama yang sejati adalah yang mengajarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama. Apapun bentuk ritualnya, ajaran cinta merupakan pesan sejati yang harusnya dikabarkan oleh para agamawan kepada setiap manusia. Banyak orang yang lupa pada pesan universal ini sehingga mereka tersesat dan menjadi seorang yang bersikap keras dan kasar.

Pesan damai agama yang justru bertentangan dengan sepak terjang kaum fundamentalis dan ekstrimis. Kelompok ini menunjukkan bahwa kelompok mereka telah gagal dalam menarasikan pesan Tuhan di dunia. Mereka yang merasa hidupnya dalam naungan agama, justru bertindak barbar dan menyalahi agama.  John D. Caputo menganggap logika kaum fundamentalis adalah kontradiktif, di sisi lain mereka membuat kerusakan, namun di sisi ajaran agama, hakikat agama adalah cinta dan kasih sayang.

Tak dapat dipungkiri, agama yang paling sesuai dan cocok dengan situasi zaman ini adalah agama yang berlomba-lomba menebarkan cinta kasih. Apapun agamanya, apapun kitab sucinya, manusia modern membutuhkan agama yang mampu mencurahkan hasrat spiritualnya dan membuatnya semakin “manusiawi”.

Di era global ini kita semakin terhubung, langit dan lautan bukan lagi halangan bagi persaudaraan manusia. Saat ini agama yang benar-benar tepat adalah agama yang menebarkan ajaran kebaikan dan keharmonisan, bukan penjaja provokasi kebencian. Kita hidup di zaman yang mana kedamaian dan ketentraman adalah syarat mutlak untuk menikmati kualitas kehidupan.

Tuhan Allah pada dasarnya tidak ingin manusia berperang, tetapi sebaliknya, ingin membuat kita terikat dalam persaudaraan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal” (QS. 10:13). Jikalau Tuhan menginginkan kita bersaudara, maka secara logis, ideologi teroris dan fundamentalisme agama adalah salah sama sekali.

Manusia saat ini membutuhkan agama yang menentramkan jiwanya, bukan membuat dirinya menjadi kalut dan terjerumus dalam sekat perbedaan. Seharusnya, para agamawan sadar bahwa konsep keagamaan bukan masalah benar atau salah, tetapi baik atau buruk, penekanan yang terbaik adalah etika, bukan menjelek-jelekkan agama lain dan mendorong manusia untuk membenci.

Agama yang sesuai bagi manusia adalah agama yang menonjolkan cinta daripada perdebatan mengenai benar-salah. Jika kita masuk kedalam agama cinta, maka kita akan sadar bahwa Tuhan adalah sosok yang Maha Mencintai dan tidak dapat dilalui dengan kebencian dan permusuhan. Jika kita memeluk agama dengan cinta, maka tidak ada aku dan engkau, yang ada adalah kita. Jika kita memeluk agama dengan cinta, maka setiap kitab suci agama akan kita pandang sebagai pedoman yang satu menuju ke Sang Maha Cinta.

Cinta adalah bahasa universal, agama cinta berarti memeluk agama yang tak terbatas pada ruang dan waktu, tak terikat budaya dan suku. Seorang Muslim atau Kristiani yang memeluk agama dengan pandangan cinta kasih, maka ia akan merangkul semuanya.  Sebab ajaran tiap agama pada dasarnya menyuruh si kaya merangkul si miskin, yang kenyang memberi makan pada yang lapar, melindungi orang yang ketakutan, menghibur orang yang sakit, mencintai orang tua dan saudara, serta menghargai setiap orang.

Cinta kasih adalah bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya, melindungi putra tunggalnya. Demikianlah terhadap semua makhluk, dikembangkannya pikiran cinta kasih tanpa batas, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling, tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.” – Sang Buddha-

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]