Merayakan Bulan Gus Dur dalam Maulid dan Natal!

Laporan Khusus    | 31 Des 2015 | Read 1483 times  
Merayakan Bulan Gus Dur dalam Maulid dan Natal! Kredit Foto: Ist.

Akhir tahun 2015 menjadi terasa spesial, pasalnya antara umat Islam dan Nasrani sama-sama merayakan hari keagamaannya secara bergiliran. Umat Islam merayakan Maulid Nabi Muhammad  Saw pada 24 Desember 2015, sedangkan umat Nasrani merayakan Natal yang jatuh keesokan harinya, yakni 25 Desember 2015. Tak hanya itu, Desember juga dikenal sebagai bulannya Gus Dur, Bapak Pluralisme di Indonesia.

Dikenal sebagai bulannya Gus Dur, karena di bulan Desember inilah Gus Dur meninggalkan kita. Seperti kita ketahui, Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009 silam. Meskipun telah tiada, banyak pelajaran yang diwariskan olehnya untuk generasi setelahnya, seperti ide membumikan toleransi, menghargai antar umat beragama dan pribumisasi Islam. 

Sebagai generasi yang lahir setelah Gus Dur, penting bagi kita untuk dapat mewariskan ide-idenya agar tetap utuh, supaya kehidupan harmoni dalam bingkai ke-Indonesiaan bisa terwujud, seperti yang diperjuangkan Gus Dur ketika masih hidup. Hal itu karena Indonesia adalah negara yang multikultural sehingga perbedaan tidak bisa dihindari. 

Perayaan keagamaan di antara dua agama yang waktunya berdekatan ini menjadi unik karena tidak saja merepresentasikan corak beragaman di Indonesia, tetapi juga sebagai bentuk upaya untuk merefleksikan betapa pentingnya hidup rukun di antara umat beragama. Ke-Indonesiaan! Itu lah kunci agar antar umat beragama bisa saling bergandengan tangan. 

Saya tidak tahu, apakah Gus Dur sedang tersenyum atau tidak melihat keindonesiaan saat ini, pasalnya keberhasilan membangun kultur toleransi di Indonesia masih diwarnai beda pendapat. Ada yang memandang bahwa Indonesia menjadi salah satu negara percontohan bagi penerapan toleransi di dunia, seperti yang dikatakan oleh Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo (25/12/2015). Namun, ada juga yang menganggap bahwa toleransi masih menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pemerintah saat ini, seperti yang diutarakan oleh beberapa LSM yang bergerak di isu interfaith.

Misalnya, laporan terakhir yang diluncurkan oleh Wahid Institute menunjukkan bahwa tindakan intoleransi hingga akhir tahun 2014 mencapai 154 peristiwa. Lebih jauh, laporan ini juga menemukan bahwa aktor pelanggaran justru datang dari aparat negara, khususnya kepolisian dan pemerintah kabupaten/kota, seperti terkait kasus penyegelan rumah ibadah dan diskriminasi atas dasar agama. 

Perbedaan pendapat tentang capaian kerhasilan membangun toleransi merupakan hal yang wajar, tetapi yang paling terpenting dan tak boleh dilupakan adalah dakwah mengenai ajaran toleransi antar umat beragama jangan sampai putus. Toleransi harus terus ditularkan kepada anak-anak sejak dini.

Pentingnya membangun toleransi ini sebagaimana yang dikutip dari Hans Kung, seorang teolog asal Jerman yang berkata ”Nothing peace among nation, without peace among religion.” Adalah benar, bahwa agama menjadi salah satu faktor determinan yang menentukan untuk mencapai perdamaian antar negara. Berbagai kasus di Timur Tengah sudah membuktikan bahwa kegagalan membangun perdamaian antar agama bisa berujung pada perang antar bangsa yang sampai saat ini belum usai.

Di sisi lain, hingga saat ini kita masih memiliki beragam problem toleransi, seperti kasus yang menimpa Jemaah Syiah di Madura, Ahmadiyah di Cikeusik dan Lombok, serta GKI Yasmin yang belum menemukan titik terang. Indonesia sedikit beruntung karena tidak seperti negara di Timur Tengah, dimana konflik antar umat beragama menelan korban jutaan orang dan kerugian yang tak ternilai akibat kerusakan perang karena doktrin keagamaan.

Anda bisa bayangkan, jika agama dijadikan alasan untuk berkonflik, lalu antar pemeluknya saling melakukan peperangan, mungkin semua orang akan ‘punah’ karena akan saling menghabisi dan tak ada satupun yang tersisa, seperti yang termaktub dalam penyelesaian konflik model Shakespeare menurut sastrawan Amos Oz. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana rumitnya hidup dalam kultur kekerasan seperti itu. Yang pasti, hidup dalam bayang-bayang teror jelas tidak menyenangkan bagi siapapun, karena Anda akan selalu hidup dalam ketakutan akan dipantau dan menjadi target penembakan. Jelas, ini melanggar hak asasi manusia untuk hidup.

Oleh karenanya, upaya pencegahan terhadap terror atas dasar agama adalah satu kewajiban yang perlu dilakukan secara rutin tanpa henti. Mengutip Kuntowijoyo, pelabuhan terakhir ajaran agama adalah untuk masyarakat. Karena melalui masyarakatlah, manusia akan hidup, mereka akan saling menjaga harmonisasi kerukunan, saling mengasihi. Disitulah agama seharusnya diposisikan. Bukan sebagai perjuangan yang harus ditegakkan demi ‘kepentingan Tuhan.’ 

Dalam konteks relasi Islam dan Nasrani, catatan sejarah menunjukkan tidak sebaik apa yang diharapkan saat ini. Perang Salib telah membawa preseden buruk dalam pendekatan historis untuk melihat sisi perdamaian antar kedua agama ini karena perbedaan pemahaman dan kepentingan politik. Namun, tak ada gunanya juga untuk mengorek-orek kisah pahit yang tertuang dalam Perang Salib, jika hanya mengingatkan kita pada duka lama. Sudah sebaiknya kita melupakan duka Perang Salib untuk kemudian diisi oleh upaya membumikan ukhuwah basyariah (persaudaraan kemanusiaan). Melupakan yang buruk dan mengingatkan sisi baik adalah salah  satu cara guna menjaga harmonisasi.

Menurut penulis, upaya harmonisasi ini bisa dilakukan melalui 3 prinsip yakni: membangun etika perdamaian, persaudaraan, dan kasih sayang. Jika terjadi sinergi diantara ketiganya, maka hubungan manis antar umat beragama akan dapat terwujud. Pertama, etika perdamaian. Hal ini didasarkan pada prinsip perdamaian yang membawa sikap ‘legowo’ di antara berbagai kelompok. Sikap ‘legowo’ akan membawa antar pemeluk agama pada sikap rendah diri, tidak sombong, dan tidak merasa ajaran yang dianut sebagai pemilik kebenaran dan memojokkan agama lain.

Etika tersebut tertuang dalam QS. 8:61 yang berbunyi, “Dan jika mereka (musuh) condong ke perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkal kepada Allah.” Ayat ini membawa umat Islam untuk memiliki sikap ‘berserah’ dan tidak ada yang harus diperjuangkan dengan darah. Dalam buku Islam dan Liberalisme, karya Budhy Munawar Rachman dijelaskan bahwa ayat ini diturunkan saat kondisi masyarakat Madinah saat itu dihiasi konflik antar kelompok, dan perdamaian terjadi jika ada perjanjian bersama. Perjanjian ini merupakan bentuk kesepakatan dan membutuhkan sikap saling berserah diantara yang berkonflik. 

Kedua, etika persaudaraan. Ini terkait dengan adanya perasaan satu hati di antara pemeluk agama. Konsep yang lazim disebut ‘ukhuwah’ ini membawa batas antar pemeluk agama menjadi minim karena perasaan satu hati sudah menghubungkan kelompok-kelompok yang ada. Perasaan satu hati akan membuat antar pemeluk menjadi saling pengertian, menjaga satu sama lain, serta tidak saling melukai. Prinisip ini pula tertuang dalam QS. 49; 10 yang berbunyi: “Sesungguhnya, mereka yang beriman adalah bersaudara.” 

Perlu dicatat, persaudaraan tidak hanya dianjurkan sesama muslim saja (ukhuwah Islamiyah), hal itu adalah keliru. Memang kita akui, Al Quran turun ke Bumi menggunakan Bahasa Arab, yakni yang mencirikan pada salah satu bangsa. Tetapi bukan berarti bahwa Al Quran hanya berlaku pada satu bangsa tersebut. Sebagai contoh, misalnya tertuang kalimat dalam Al Quran yang berbunyi, ‘ya ayyuha al-nas’ (wahai manusia). Oleh karena bisa dipahami bahwa Al Quran juga diperuntukkan bagi seluruh manusia yang ada di Bumi yang sifatnya majemuk, bukan untuk kalangan muslim saja. Tidak ada satu kalimat dalam Al Quran yang berbunyi, ‘ya ayyuha al-Arabi’ (wahai orang Arab).

Oleh karenanya, sangat jelas bahwa Islam bukan agama yang eksklusif, tetapi agama yang merahmati semua golongan. Dengan demikian, kata-kata bernuansa majemuk di dalam Al Quran tadi mengindikasikan bahwa Islam sangat mendorong adanya rasa persaudaraan antar sesama manusia yang termaktub dalam Al Quran. Kembali mengutip Budhy Munawar Rachman, bahwa tidak ada satu teks dalam Al Quran yang memberikan hak istimewa kepada seseorang hanya karena memeluk agama Islam. Hal ini semakin menumbuh suburkan etika persaudaraan yang harus dilakukan secara rutin, karena antar pemeluk agama tidak ada yang posisinya lebih tinggi atau rendah. Semuanya berada pada posisi sejajar.

Ketiga, etika kasih sayang. Orang beragama yang diisi oleh penafsiran yang berorientasi pada kasih sayang tidak saja mendamaikan, tetapi juga menyejukkan. Orang yang memiliki rasa kasih sayang terhadap umat lain tidak akan melakukan hal-hal yang melukai dan mencederai atas dasar agama. Kasih sayang adalah sikap yang tertuang secara harfiah dalam Islam. Misalnya saja, dalam Al Quran, tedapat kata Rahman (kasih) sebanyak 57 kali, dan Rahman (sayang)  sebanyak 106 kali. 

Kata yang juga menjadi kata sifat Allah tersebut sangatlah popeler dalam Al Quran, yang kemudian dapat diringkas dalam QS.21:107 yang berbunyi, “Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” Perasaan kasih sayang antar umat beragama bisa tercermin dari sikap saling menghormati, tolong menolong, serta saling melindungi antar umat beragama guna mencegah konflik sosial. Menyerukan tali kasih adalah inti dari ajaran Islam, bukan terus merajut tali pertengkaran yang justru merusak kebhinnekaan. 

Ketika Anak Muda Bicara Toleransi

Alangkah senangnya jika anak muda saat ini ikut berkontribusi dalam misi membangun toleransi antar umat beragama. Seperti yang dipaparkan oleh mantan Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Dinno Munfaidzin Imamah. Dinno adalah salah satu dari sekian banyak anak muda yang peduli tentang toleransi antar umat beragama. Aktivis PMII yang juga masuk kategori Gusdurian ini, telah mengabdikan dirinya untuk menyebarkan pesan damai dan pentingnya toleransi bagi anak-anak muda.

Redaksi SuaraKebebasan.org melakukan perbincangan dengannya terkait hal ini. Menurut Dinno, “Momentum perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Nabi Isa al-Masih itu sangat baik, positif dalam membangun bangsa ini. Syukur Alhamdulillah masyarakat kita sudah semakin arif, progresif dalam beragama. Kerukunan terjalin dari Sabang sampai Merauke. Masjid Istiqlal menyediakan lahan parkirnya untuk perayaan Natal di Katedral, Banser menjaga perayaan. NU dan Muhammadiyyah sebagai representasi umat Islam terbesar mengucapkan selamat Natal, dan begitu sebaliknya.” ujarnya.

Sebagai mantan ketua Jaringan Alumni PB PMII, Dinno banyak terlibat dalam perjuangan isu-isu toleransi. Hal itu termaktub kegiatan rutinnya yang seringkali  diminta untuk menjadi narasumber dalam kegiatan kaderisasi ke-NUan. Sehingga tak heran, kecintaan terhadap Gus Dur sangatlah besar. Menurutnya, agama sama sekali tidak mengajarkan kekerasan. “Agama tidak mengajarkan pemeluknya untuk bersikap radikal. Kita harus mencontoh sikap Nabi Muhammad SAW yang santun dalam sikap dan perbuatan, halus budi perkertinya, serta tidak dendam, begitupun dengan Nabi Isa al Masih,” pungkasnya.

Tentunya, ada banyak anak muda yang memiliki pandangan  seperti Dinno. Dirinya menyadari bahwa upaya membangun toleransi tidak bisa dilakukan secara mandiri atau satu kelompok saja. Tetapi harus dilakukan lewat sinergi dengan banyak pihak. “Yang penting dilakukan saat ini adalah tokoh agama dan pemimpin mampu merangkul, memberikan pemahaman dan kesadaran anak muda untuk sama-sama hidup damai antar umat beragama. Anak muda harus cerdas, progresif, dan cinta tanah air,” ujar pria yang juga dikenal sebagai penulis buku ‘Siasat Politik NU’ ini. 

Tak hanya mengingatkan kepada para pemimpin, Dinno pun juga meyakini bahwa radikalisme, terorisme, ISIS dan kekerasan bukanlah ajaran yang bersumber pada agama yang menempatkan keluhuran moralitas. Dinno adalah satu dari sekian banyak anak muda yang peduli tentang masa depan toleransi di Indonesia, di samping pihak lain yang juga berkontribusi. Kita juga selalu berharap, pandangan inklusif masih menjadi mainstream yang menghiasi Indonesia di masa depan. 

Untuk menjamin tingkat toleransi di masa depan, maka penting untuk kita mulai dengan mengajarkan toleransi kepada generasi muda karena generasi ini pula yang kerap menjadi sasaran empuk dari beberapa kelompok fundamentalis guna meregenerasi kelompok mereka. Oleh karenanya, kita yang memiliki pandangan inklusif harus mampun bersaing untuk memperebutkan generasi muda ini. Kepada merekalah, masa depan Indonesia dipertaruhkan!

Toleransi Kultural, bukan Prosedural!

Dalam publikasinya yang berjudul ‘Toleration and Democracy’, Rainer Forst yang merupakan seorang Professor Ilmu Politik yang berasal dari Johann Wolfgang Goethe University membagi toleransi menjadi dua jenis, yakni toleransi yang dibangun oleh kekuatan negara, dan toleransi yang dibangun oleh kultur dan kehendak bersama masyarakatnya. Saya biasa menyebut yang pertama sebagai toleransi prosedural, dan yang kedua sebagai toleransi kultural.

Toleransi prosedural, dibangun atas dasar kebijakan negara dalam kuasa otoritas. Penerapan aturan yang berorientasi pada nilai toleransi ini pernah dilakukan oleh Raja Henry IV pada abad ke-16 di Perancis. Hal itu dimaksudkan untuk mengurangi konflik antara Protestan dan Katolik. Awalnya aturan ini disepakati, namun dalam pelaksanaannya tidak mencapai titik maksimal, karena kedua belah pihak sudah diisi oleh pandangan saling curiga. 

Toleransi kultural berusaha memutarbalikkan cara itu melalui penanaman nilai dalam jiwa manusia. Untuk itu, kampanye akan pentingnya toleransi perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama bagi kalangan anak muda.

Toleransi jenis ini tidak saja terbatas pada aturan yang wajib ditaati, tapi tercermin dalam kesadaran bagi setiap umat manusia untuk saling menghormati agar manusia berorientasi pada nalar alamiah yang tidak dipaksakan atas dasar otoritas agama. Saya yakin, toleransi jenis ini akan tumbuh subur lebih lama, seperti yang dipercayai juga oleh Rainer Forst sebagai cara yang harus dibangun agar toleransi bisa dibangun secara keberlanjutan.

Membangun toleransi kultural bisa dicapai melalui kampanye yang dilakukan secara rutin, membangun kesadaran berpikir bagi anak muda, serta diperlukan keikhlasan dalam menjalaninya. Keliatannya sederhana, tetapi tidak semua orang bisa melakukan hal ini. Belum lagi ditambah perlawanan dari kelompok-kelompok fundamentalis layaknya neo-khawarij.

Jika toleransi dibangun atas dasar prosedural, maka jika aturan itu berubah maka akan berubah pula tingkah laku masyarakatnya, sehingga memiliki kesan periodik dan sementara. Berbeda dengan toleransi kultural yang dibangun atas dasar pemahaman yang terkandung dalam keyakinan masing-masing individu, sehingga bisa berlangsung secara berkelanjutan dan akan menular kepada generasi berikutnya.

Di Bulan Gus Dur ini, penulis ingin mengingatkan seluruh elemen bangsa Indonesia untuk melakukan kampanye mengenai pentingnya toleransi kepada siapapun. Terlebih, dalam hari perayaan keagamaan yang berdekatan ini memberikan hikmah bagi kita akan pentingnya membangun prinsip perdamaian, persaudaraan, kasih sayang antar sesama umat beragama.

Sinergi antara Natal dan Maulid Nabi Muhammad Saw adalah hal yang perlu diapresiasi. Seperti yang termaktub dalam hubungan manis antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang bersebelahan tetapi saling meminjamkan lahan parkir dalam kegiatan keagamaan. Hal ini sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Gus Dur, “Tidak penting apapun agamamu, dan sukumu. Kalau kamu bisa lakukan yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”

Sebagai penutup, saya yakin jika sinergi antar umat beragama bisa terwujud secara berkelanjutan, Indonesia akan menjadi negara yang lebih damai dan toleran, dan masyarakatnya akan saling memberikan kebaikan antar sesama dan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi.

Hendra Sunandar

Hendra Sunandar adalah lulusan program studi Ilmu Politik, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pria yang pernah menjadi Runner Up lomba debat dalam ‘Political Science Student Fair 2012 ‘ ini menulis skripsi dengan judul ‘Analisis Sistem Presidensialisme Multipartai di Indonesia: Studi Atas Divided Government dalam Relasi Eksekutif-Legislatif Pemerintahan Jokowi-JK’. Bisa dihubungi melalui [email protected] dan twitter @hendra_lfc