Menyuarakan Kebebasan Melalui Filsafat Publik

Dasar Libertarianisme    | 16 Mei 2017 | Read 497 times
Menyuarakan Kebebasan Melalui Filsafat Publik

Suara Kebebasan adalah nama yang kentara bagi kehendak untuk menyerukan dan menyuarakan kebebasan, mestinya, dengan kehendak untuk berdiam dalam gagasan yang lebih bersifat filosofis. Dalam arti apapun, kata ‘filosofis’ selalu melibatkan gambaran akan satu atau lebih bentuk filsafat, meskipun dengan asumsi yang hendak menjauh dari kesan akademis akan istilah filsafat.

Tapi apapun jugalah, menggunakan filsafat sebagai istilah terbayang bagi sesuatu yang kita maksudkan dengan ‘menjadi filosofis’ menuntut pengertian akan adanya keterlibatan perenungan yang lebih serius. Tentunya setiap orang boleh memperdebatkan, pertama, adakah standar bagi keseriusan berpikir sedemikian hingga menjadi filosofis dan, selanjutnya, adakah setiap pemikiran serius akan selalu menjadi filsafat atau, setidaknya, bersifat filosofis.

Jawaban untuk yang pertama seharusnya ada dalam pertimbangan mereka yang menjadi pelaku, sedangkan untuk yang terakhir tentu saja ada dalam pertimbangan pembaca. Serius atau tidak kita merenung adalah urusan kita masing-masing tapi apakah kemudian tulisan kita mengekspresikan filsafat atau tidak sepenuhnya ada dalam penilaian pembaca.

Tapi hal yang kiranya jauh lebih penting di sini, sejauh filsafat dipahami berada dalam tarik ulur pemaknaan atasnya, adalah apakah renungan yang kita ekspresikan dalam tulisan kita dapat memberi pemahaman atas topik yang kita bicarakan. Filsafat, dalam pertimbangan ini, adalah godaan bagi perenungan lebih lanjut lewat pemahaman yang telah kita peroleh.

Maka filsafat, yang dimengerti dalam hubungannya dengan publik, akan menjadi cara yang tepat untuk mengulang-ulang seruan bagi bahaya membiarkan suatu isu, permasalahan, atau apapun juga, kehilangan minatnya akan abstraksi. Bersamanya keketatan argumentasi, kecintaan akan gagasan dan keterbukaan pada ambiguitas. Sekaligus semuanya dengan format yang akrab untuk mereka yang kita bayangkan sebagai publik yang, setidaknya, bukan peminat filsafat secara khusus.

Entah dipahami sebagai gaya atau kerangka maupun sebagai isi tulisan, filsafat publik bukan hanya filsafat bagi publik tapi kewajiban untuk melepaskan orang banyak dari rantai yang mengikat mereka di dalam gua Plato. Pada titik inilah Suara Kebebasan, sebagai media, dimungkinkan untuk beriring langkah dengan filsafat sebagai sebentuk upaya melaksanakan filsafat dalam ruang, dan bersama, publik.

Adanya gagasan (filosofis) dan keseriusan untuk berurusan dengannya, adanya isu dan/atau permasalahan publik yang bersilangan dengan gagasan itu, serta adanya perenungan untuk mengekspresikan persilangan itu, akan menjadi tulisan yang terpublikasi dalam media ini. Karena ciri bagi Suara Kebebasan sebagai media untuk menyerukan kebebasan mestinya adalah ciri baginya untuk memahami kebebasan sebagai sebuah gagasan. Suatu ciri yang dapat menjadi cara bagi termuatnya obligasi Hayekian agar “kita” membangun jalan ke arah kebebasan lewat gagasan dapat terlaksana (baca: https://suarakebebasan.org/id/dasar-libertarianisme/item/448-menjadi-hayek).

Dan filsafat adalah ruang bagi gagasan semacam itu sekaligus bagi seruan itu. Meski tidak hendak dikatakan di sini ‘hanya semata filsafat’ namun ketika suatu upaya yang bersifat spesifik seperti gagasan kebebasan berupaya menemukan momentum, urgensi, dan lintasannya, lebih dari yang lain, filsafat adalah rahim, ibu, dan the Big Other baginya. 

Sekarang, apa yang penting dari filsafat dalam upaya menyerukan kebebasan? Sebagian besar jawaban sudah tersurat dalam beberapa kata sebelumnya, filsafat membuat kita harus berjaga dalam abstraksi dan argumentasi. Kebebasan adalah problem praktis, mungkin lebih praktis dari yang bisa kita bayangkan. Melakukan problematisasi atas gagasan kebebasan dalam ranah yang sepenuhnya spekulatif hanya akan membawa kita pada tumpukan teka-teki.

Tapi jika kita tak berhati-hati, pernyataan seperti ini bisa mendamparkan kita pada sikap anti-intelektual yang mendangkalkan pikiran dengan akibat sosial yang bisa sangat buruk. Dan kehati-hatian itu adalah ajakan untuk menggali dan mencari dengan minat yang tak bosan akan teori, ide-ide abstrak, untuk tiba pada penjelasan mengenai pentingnya kebebasan di ranah praktis keseharian.

Sederhananya, membela dan mempraktikkan kebebasan secara empiris adalah hal yang paling penting, tapi menjelaskan kenapa itu penting membutuhkan teori kebebasan. Hingga jika diucapkan dalam bahasa Lenin, obligasi Hayekian ini akan menjadi, “tidak ada kebebasan tanpa teori kebebasan.”

Hal selanjutnya yang membuat seruan akan kebebasan membutuhkan filsafat adalah kemampuan praktek berpikir jenis ini untuk menggoyahkan apa yang tampak kokoh. Bahkan gagasan kebebasan itu sendiri membutuhkan cara untuk terus menerus menjadi benar. Dan, dalam suatu iklim intelektual yang baik, yang mestinya cocok dengan ideal Suara Kebebasan, gagasan yang benar adalah gagasan yang bertahan untuk terus menjadi benar. 

Secara empiris, untuk bisa bertahan, gagasan kebebasan harus melewati sekian ujian, seperti verifikasi dan falsifikasi. Secara non-empiris, pada tingkat yang mungkin murni a priori, gagasan kebebasan membutuhkan rigoritas argumentasi. Dan penting dalam hal ini, kita tidak boleh terpaku hanya pada satu saja gagasan kebebasan. Misalnya, selain Hayek, ada Rothbard, Rand, dan Nozick, untuk menyebut beberapa nama yang sudah mati.

Sedangkan yang masih hidup, seperti Hans Herman-Hoppe, Jason Brennan, George H. Smith, dan Matt Zwolinski, masih terus menggali dan mencari, bahkan tak jarang menggoyahkan apa yang sudah dianggap kokoh di dalam kalangan sendiri. Dan, tanpa harus melebih-lebihkan, semua itu datang dari berkat filsafat; pikiran yang gelisah dengan palu di tangan.

Persoalannya, setelah paham kelebihan dan manfaat filsafat bagi upaya menyerukan, menyebarkan, dan membela gagasan-gagasan kebebasan, kita harus bicara soal cara efektif dalam menggunakannya bagi, tentu saja, masyarakat luas. Di sinilah peran penting dari apa yang sekarang sedang marak di lingkungan terbatas para penggila filsafat, sekaligus apa yang sejak awal telah disiratkan pada awal tulisan ini, filsafat publik.

Gagasan kebebasan yang telah melewati renungan filosofis dan siap diargumentasikan dengan cara yang sama, sekarang akan diserukan pada publik, masyarakat luas, yang amannya kita andaikan sebagai tak berdangka pada filsafat. Di sinilah tugas filsafat publik menjadi urgensi, entah dengan ‘publik’ dipahami sebagai gaya bagi presentasi ide-ide filosofis maupun dalam rangka kepentingan dan isu-isu ‘publik’ yang hendak dilibatkan secara filosofis.

Di sini, filsafat publik bisa dipahami sebagai semacam strategi untuk mempopulerkan gagasan-gagasan kebebasan tanpa, sekali lagi, kehilangan minat akan abstraksi, konsepsi, refleksi, dan ide-ide. Lewat filsafat, karenanya, menyerukan kebebasan akan menjadi seruan untuk mempraktekkan kebebasan sekaligus sebagai latihan untuk menghindari salah satu ancaman yang paling mengerikan bagi kebebasan, yaitu sikap anti-intelektualisme.

Dalam konteks menghindari anti-intelektualisme ini, obligasi Hayekian menjadi sejalan dengan ambisi alami para aktivis filsafat untuk membebaskan orang banyak dari rantai yang mengikat mereka di dalam goa Plato. Sikap anti-intelektualisme adalah sesungguhnya rantai yang mengikat kaki kanan masyarakat pada ilusi solusi praktis dari model fasisme serta kaki kiri mereka pada ilusi solusi praktis dari model sosialisme.

Saya selalu berpikir, dengan cara yang semungkinnya filosofis, minat akan praktik kebebasan dan janjinya bagi kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera tidak boleh menjadi minat akan, meminjam gaya Robertus Robet, teori ‘gampangan’ yang dianggap lebih menuntun pada ‘solusi praktis’. Karena, pertama, gagasan kebebasan dalam lingkup filsafat libertarian bukan teori gampangan dan, kedua, meski manfaat praktisnya harus kita yakini, gagasan kebebasan juga tidak menawarkan harapan akan sebentuk solusi praktis.

Terpenting dari semua itu, saya sepenuhnya yakin bahwa Suara Kebebasan akan memberi tempat yang sepenuhnya lapang bagi bangkitnya sebentuk filsafat publik dalam upaya menyerukan dan menyuarakan kebebasan sambil menghindari sisi populis-pragmatis-konservatif dari libertarianisme yang bisa menjebak kita pada sikap anti-intelektualisme sebagai musuh besar kebebasan seperti yang telah diserukan sang worldly philosopher, Friedrich Hayek.

Amato Assagaf

Amato Assagaf, editor Amagi – Organisasi Non Pemerintah yang didasarkan pada prinsip Libertarianisme, ingin membawa tradisi pemikiran Mazhab Austria ke dalam perbincangan ekonomi kita saat ini. Upaya Amagi diawali dengan pembukaan lingkaran studi bernama Mises Club Indonesia yang berpusat di Manado, Sulawesi Utara. Amato juga merupakan penulis dari “Merenungkan Libertarianisme” (2011) yang diterbitkan oleh FNF Indonesia. Blog pribadinya yang bisa dikunjungi: http://populuslibertarian.blogspot.co.id/