Demi Humanisme dan Atas Nama Libertarianisme 

Dasar Libertarianisme    | 5 Okt 2016 | Read 817 times
Demi Humanisme dan Atas Nama Libertarianisme  www.yourgenome.org

Apa yang kita bayangkan ketika kata “humanisme” didengungkan? Apakah kata ini bisa langsung kita rujuk? Dalam sejarah ide, kata humanisme--juga sebagai gerakan—mekar seiring dominasi doktrin langit yang nyaris tak menyentuh tanah, dunia, manusia (manusia bukanlah otoritas). Maka, humanisme, sebagai suatu gagasan filosofis abstrak tentang manusia, diperjuangkan mati-matian oleh kalangan intelektual dari zaman Yunani kuno dan memuncak pada zaman pencerahan (Aufklarung) abad-18.

Sejak zaman antik, tepatnya dengan sistem pendidikan Yunani kuno, paidea, yang mengolah bakat-bakat alamiah manusia, dan bangsa Romawi kuno dengan gagasan animal rationale, dipandang sebagai asal-mula humanisme universal. Namun, ada perbedaan mendasar dari generasi mereka pada abad pertengahan dari sisi sejauh mana penerimaan konsep religiusitas dalam konsep humanisme. Kalau leluhur mereka tak bermasalah dengan konsep ke-Tuhanan, humanisme moderen malah sebaliknya: menyapu bersih unsur-unsur adikodrati dari konsep manusia.

Humanisme, meminjam istilah F. Budi Hardiman dalam Humanisme dan Sesudahnya (2012), merupakan topik yang “licin”. Di kalangan agamawan, humanisme menjadi semacam doktrin yang mengerikan karena menolak doktrin dasar agama-agama wahyu, tepatnya otoritas absolut di atas manusia. Dalam pandangan humanisme, manusia diletakkan sebagai dasar seluruh pengandaian akan nilai-nilai moral, yaitu apa yang kita sebut nilai-nilai universal. Idiom humanisme bisa juga kita temukan pada sila ke-2 Pancasila (Kemanusiaan yang adil dan beradab), namun, istilah-istilah humanisme kerap dijauhi—bahkan malah ditolak—tanpa memahaminya dengan baik dan benar.

Namun, kita juga harus menengok kembali sejarah bagaimana kata humanisme bisa akrab dengan kolonialisme yang seakan-akan memonopoli gagasan tentang manusia. Memang humanisme bisa kita katakan sebagai agamanya bangsa Eropa, tapi humanisme sejak itu (yang mengidentifikasi diri sebagai manusia yang beradab) adalah definisi dan konsep khas Eurocentric, dimana kecenderungan akan pemaknaan kemanusiaan universal menyempit, dalam istilah sejarawan Swiss, Urs Bitterli, Die ‘Wilden’ und die ‘Zivilisierten’ (Yang ‘Liar’ dan Yang ‘Beradab’).

Dari pembedaan ini, para penduduk di seberang lautan adalah seperti benda-benda eksotik yang langka, biadab, dan harus dibuat beradab (dengan kata lain, dijajah, bukan lagi tujuan, melainkan seonggok benda di kepala orang Eropa). Tapi humanisme versi ini telah dipertimbangkan dan dibuang ke tempat sampah ide usang oleh para pemikir kontemporer karena mereduksi sisi konkrit manusia, individualita-nya, dan apa-apa yang universal pada pada diri manusia.

Terlepas dari humanisme versi ini-itu, “humanisme” tetap merupakan gagasan besar yang—secara normatif—perlu diperjuangkan oleh mereka yang menginginkan kebebasan dan keutuhannya sebagai makhluk otonom dan rasional. Di kalangan pemikir dan filsuf politik, humanisme manjadi basis keseluruhan spekulatif mereka dan mencoba membangun kerangka teori dan ide untuk bagaimana suatu pemerintahan politik dijalankan.

Sapere Aude yang menjadi semboyan pencerahan bukan semata-semata ide mandek yang membentuk mental perdaban Barat, ia menjadi ide yang memayungi jalannya keseluruhan aspek-aspek kebudayaan manusia sampai pada penciptaan badan-badan politik hasil pertautan terus menerus antara akal manusia dan kenyataan.

Sejak bangkitnya ideologi-ideologi besar dunia dan meningkatnya kemajuan teknologi sebagai hasil dari proses mengatasi alam, pandangan filsafat tentang apa itu manusia muncul secara beragam. Semuanya mengaku atas nama humanisme dengan modelnya masing-masing, walaupun ada ide-ide yang terlampau abstrak sehingga membuat konsep manusia sulit untuk dibayangkan dan kadang tidak rasional; bahkan sampai menghilangkan kemanusiaan itu sendiri seperti sejarah kolonialisme yang telah disebutkan di atas.

Semenjak Nietzsche menyingkirkan Tuhan dan menyisakan semacam pandangan nihilisme kreatif, disitu pula masuknya orang-orang sinting yang mengganti posisi dan memakai mata Tuhan, sehingga dengan sombong menyimpulkan bahwa hukum sejarah adalah semata-mata tentang perjuangan kelas-kelas sosial.

Disinilah bahaya ketika gagasan besar tentang manusia, atau ‘humanisme’ keliru dalam melihat manusia secara keseluruhan. Secara keseluruhan di sini, saya maksudkan adalah bahwa manusia harus selalu diandaikan dalam bentuknya yang  konkrit: sebagai makhluk individual lengkap dengan disparitasnya masing-masing; bahwa keliru melihat manusia dalam bentuk kolektif yang dengan mudah disimpulkan hanya dalam bentuk terma-terma abstrak: ras, bangsa, masyarakat, dan negara.

Menurut Arendt, yang berbahaya dari Nazisme dan komunisme bukan hanya kebengisan mereka, melainkan sesuatu yang lebih mendasar, yakni mereka menihilkan manusia dari kemanusiaan, menihilkan kebebasan, kepemilikan, dan hak individu. Metafisika kemanusiaan yang mendasari humanisme moderen digugat sekurangnya oleh filsuf kontemporer seperti Martin Heidegger.

Dalam Brief uber Humanismus (surat tentang humanisme) Heidegger melontarkan kritik yang sangat mendasar atas antroposentrisme itu. Menurutnya, manusia tidak bisa diringkus ke dalam sebuah ‘hakikat’ atau substansi seperti zoon logon echon atau animal rationale karena ia adalah suatu Ek-sistenz, atau oleh Jean Paul Sartre, eksistensi mendahului esensi. Maksudnya, bahwa manusia bukan suatu ‘inti’ yang oleh humanisme moderen disebut subyektivitas atau subyek, karena ia selalu berdiri di luar pusat itu.

Humanisme pada dirinya seakan memberikan wajah ganda kepada kita dalam melihat hakikat manusia secara utuh. Seperti Heidegger, yang bermaksud mengangkat kembali manusia dari abstraksi semena-mena dari para filsuf sebelum dia, karena ia melihat manusia sudah terlupakan dari diskursus semesta metafisis; mereka melupakan Ada (dasesin). Demikian juga eksistensialis Soren Kierkegaard yang berteriak kesakitan karena ulah metafisika Hegel yang meringkus sisi eksistensial manusia dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Ringkasnya, bagaimana humanisme bangkit dan dikritik karena problem-problem yang menyertainya, kini saya perlu menarik premis dalam pembicaraan ini dengan argumen-argumen yang saya rasa cukup kuat, yaitu bahwa gagasan humanisme adalah libertarianisme itu sendiri, karena tidak mungkin humanisme menolak atau mengurangi sedikit pun doktrin libertarian seperti kebebasan, kepemilikan, dan individualiatas.

Barangkali disini, kita tidak akan tersesat untuk merujuk sisi ontologisnya, ketika pertanyaan tentang manusia didengungkan, dengan kata lain, kita tidak akan kehilangan jalan untuk mencari konsep real tentang gagasan besar humanisme. Bahwa humanisme menolak otoritas Tuhan dengan segala atributnya, gagasan humanisme sebenarnya bermaksud menyelamatkan individu dari kerangkeng yang membunuh martabat kemanusiaan.

Segala yang berbau otoritas yang memungkinkan ancaman akan kebebabasan individu secara logis akan bertentangan dan harus ditolak. Bahkan jika negara sekalipun mengadopsi sifat otoritas obsolut berupa agama, tetap akan tertolak secara moral. Hari ini, kita sudah cukup sulit membedakan mana negara mana agama, karena kesamaan-kesamaan yang terdapat didalamnya.

Libertarianisme sebagai ideologi yang mempercayai prinsip-prinsip kemanusiaan tidak melulu tersendat pada idealisme semu atau semacam harapan mesianik yang tak pernah menjadi mungkin itu. Jika di awal ‘humanisme’ dianggap sebagai konsep yang ‘licin’, dalam prinsip libertarianisme, humanisme mendapat tempat yang layak dimana manusia memiliki kebebasan dan hak-haknya.

Saya kira, humanisme diamalkan dengan baik oleh libertarianisme, sehingga saya mampu mengklaim bahwa humanisme itu adalah libertarianisme. Kalau begini kesimpulannya, gagasan-gagasan yang muncul dalam sejarah dan mengaku sebagai penganut humanis sejati perlu dipertimbangkan lagi. Kalau ada seorang humanis mengatakan bahwa negara, kehendak masyarakat, ras, dan agama, memiliki posisi yang lebih tinggi dari individu, saya kira ia bukan seorang humanis, ia hanya menempelkan predikat humanis pada keyakinan dasarnya yang pada prinsipnya bertentangan dengan humanisme itu sendiri.

Karena, sekali lagi, humanisme itu adalah kepercayaan akan manusia sebagai ukuran nilai--dan manusia perlu ditekankan di sini, adalah selalu “individu-individu”--bukan bumbu-bumbu untuk kepercayaan yang tak ada di dunia sehingga melampaui kemanusiaan itu sendiri. Humanisme itu milik dan khas manusia.

Sulit kiranya mengatakan bahwa Mises dan para leluhur dan generasinya tidak menyadari problem flosofis yang muncul dari gagasan humanisme ini. Ilmu ekonomi yang ditawarkan oleh Mises berangkat dari kepercayaan bahwa kita harus meletakkan individu sebagai jantung ilmu ekonomi.

Apa yang disebut sebagai ‘Praksiologi” dari Mises, adalah ilmu yang diderivasi dari konsep individualisme. Segala penyangkalan terhadap konsep dan kepercayaan ini akan berakhir pada penolakan moral itu sendiri, bukan karena pengetahuan ini lebih benar dari bentuk pengetahuan apapun, namun konsep tersebut lebih mungkin dan rasional, mungkin bagi dunia.

Seorang libertarian seperti Mises, Rothbard, dan kawan-kawan sangat memahami ini. Semuanya merujuk pada prinsip individualisme sebagai inti (core) filsafat politik libertarianisme. Dan adalah mustahil bahwa ajaran libertarianisme yang mengakui kepemilikan, individualitas, dan kebebasan manusia dianggap keliru dalam mengadopsi konsep humanisme.

Ada yang menyebut bahwa humanisme itu juga ada pada agama-agama, misalnya tentang keselamatan jiwa manusia setelah mati dan lain-lain. Namun, masalahnya adalah ketika ide tentang manusia direduksi sedemikian rupa oleh mereka yang mengatasnamakan kepentingan politik, rakyat, ummat, dan sebagainya bak Tuhan yang keluar di mulut para pengkhotbah yang keras kepala itu, tapi masih menggunakan istilah kemanusiaan.

Sumbangan besar dari gerakan humanisme pada kita saat ini begitu besar dan telah mengubah keseluruhan perjalanan sejarah manusia. Walaupun ide ini pernah disalahgunakan dan menyimpang dari prinsip dasarnya, “humanisme” adalah ide satu-satunya yang mungkin bagi kehidupan manusia.

Humanisme sebagai gagasan universal yang merambat dari segala waktu dan tempat tak akan pernah mati. Konsep ini tidak lagi ‘licin’ setelah libertarianisme muncul di muka bumi. Libertarianisme memperjelas status kemanusiaan dengan benteng nilai-nilai universal, yang memungkinkan segala macam kepercayaan bisa hidup bersama dan berhubungan dengan baik.

Terlepas dari jenis humanisme ateistis, libertarianisme mendukung bahwa setiap orang berhak mempercayai apapun selama mereka tidak melanggar hak-hak orang lain. Dengan demikian, segala perjuangan untuk kemanusiaan dari sisi kebebasan dan kepemilikan, adalah “demi humanisme dan atas nama libertarianisme.”

Hendra Manggopa

Hendra Mangopa adalah anggota yang aktif di lingkaran Mises Club Indonesia dan penggiat di Amagi Indonesia, Organisasi Non Pemerintah yang didasarkan pada prinsip Libertarianisme, ingin membawa tradisi pemikiran Mazhab Austria ke dalam perbincangan ekonomi kita saat ini. Upaya Amagi diawali dengan pembukaan lingkaran studi bernama Mises Club Indonesia yang berpusat di Manado, Sulawesi Utara.