Print this page

Kaum Intelektual dan Sosialisme

Dasar Libertarianisme    | 17 Mar 2015 | Read 17435 times  
Kaum Intelektual dan Sosialisme Sumber ilustrasi: Viktorpersson.com

Tulisan ini dibuat pertama kali oleh Friedrich A. Hayek pada tahun 1949. Hayek adalah penerima penghargaan Nobel Ekonomi, terkenal atas bukunya “The Road to Serfdom” (1944) yang menjadi buku utama pengkritik kebijakan sentralistik Barat pada waktu itu. Esai ini menjelaskan bagaimana kelompok baru yang bernama intelektual mempengaruhi pengambilan kebijakan pemerintah di negara-negara demokratis. Hayek juga melihat kecenderungan kaum intelektual pada waktu itu, yang cenderung memihak ideologi sosialisme dibandingkan liberalisme. Sebagai catatan, istilah “sosialisme” yang Hayek gunakan dalam esai ini adalah ideologi kiri umum yang mencakup Marxisme, komunisme, sosialisme demokratis, hingga Keynesianisme yang oleh Hayek dianggap sebagai awal menuju otoritarianisme.

Di negara demokratis, terutama di Amerika Serikat, pernah berlaku kepercayaan yang kuat bahwa pengaruh intelektual terhadap politik tidak begitu penting. Tidaklah meragukan bahwa kekuatan sejati dari kaum intelektual adalah membuat opini yang tidak biasa dalam rangka mempengaruhi momentum pembuatan keputusan, dimana mereka dapat menggoyang pilihan orang banyak dengan pandangan yang berbeda dari pandangan masyarakat kebanyakan saat itu. Tapi agaknya, kaum intelektual sudah lama tidak pernah menggunakan pengaruh besar seperti yang mereka lakukan saat ini di negara-negara demokratis. Kekuatan yang mereka gunakan dengan cara membentuk opini publik.

Dalam sejarah belakangan ini, kekuatan menentukan dari kelompok “pedagang barang bekas profesional” (professional secondhand dealers) dalam dunia gagasan belumlah secara umum disadari. Pembangunan politik Dunia Barat dalam seratus tahun belakang memberikan petunjuk yang sangat jelas. Sosialisme, pada awalnya tidak pernah menjadi dan bukan merupakan sebuah ideologi utama perjuangan kelas pekerja. Sosialisme bukan berarti solusi yang pasti untuk kepentingan yang serta-merta dituntut oleh kelas pekerja. Pemikiran tersebut merupakan konstruksi teori yang diperoleh dari kecenderungan tertentu sebuah pemikiran abstrak yang sudah lama sangat akrab dengan kaum intelektual; sosialisme membutuhkan usaha yang panjang dari kaum intelektual sebelum kelas-kelas pekerja bisa diyakinkan untuk mengadopsi sosialisme sebagai program mereka.

Di semua negara yang bergerak menuju sosialisme, tahap pembangunan dimana sosialisme menjadi faktor penentu dalam politik telah dimulai bertahun-tahun lalu, saat idealisme sosialis menguasai pemikiran banyak para intelektual aktif saat itu. Di Jerman, tahap ini telah dicapai pada akhir abad 19; di Inggris dan Prancis, sekitar periode awal Perang Dunia pertama. Untuk pengamat biasa, Amerika Serikat tampaknya sudah mencapi tahap ini setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua dan saat ini daya tarik sistem ekonomi terencana dan terpimpin menguat seperti yang terjadi di Jerman dan Inggris. Pengalaman menunjukkan bahwa ketika fase ini sudah tercapai, maka hanya tinggal menunggu waktu sampai pandangan yang dipegang kaum intelektual ini menjadi kekuatan yang mengatur politik.

Dengan demikian, karakteristik dari proses dimana pandangan para intelektual mempengaruhi politik di masa depan akan lebih dari sekedar kepentingan akademis. Kalaupun kita hanya berharap untuk meramal atau berusaha untuk mempengaruhi peristiwa yang terjadi, maka ini adalah faktor dari kepentingan yang lebih besar daripada yang umumya dipahami. Apa yang dilihat pengamat saat ini sebagai pertarungan konflik kepentingan sebenarnya seringkali telah diputuskan jauh sebelum benturan ide dibatasi dalam lingkaran yang sempit.

Ironisnya, secara umum hanya partai-partai Kiri yang telah banyak bekerja dalam menyebarkan kepercayaan terhadap kekuataan angka dari kepentingan material lawan yang menentukan isu-isu politik, sedangkan dalam praktiknya partai-partai yang sama secara sukses dan terus-menerus berperan seolah-olah mereka mengerti posisi kunci para intelektual.  Entah sebuah hal yang telah dirancang atau didorong oleh keadaan, mereka selalu mengarahkan usaha utama mereka dengan meraih dukungan “elit” ini, sementara banyak kelompok konservatif juga telah bertindak secara terus-menerus namun tidak berhasil untuk mendorong pandangan yang lebih naif mengenai demokrasi massa dan biasanya dengan sia-sia  berusaha mengarahkan sasaran langsung untuk menjangkau dan membujuk pemilih individu.


 

II

Istilah “intelektual” itu sendiri tidak merujuk pada gambaran akurat dari kelompok luas yang kita maksud, dan faktanya kita tidak mempunyai nama yang lebih baik yang bisa menggambarkan apa yang kita maksud sebagai “penjual gagasan bekas” (secondhand dealers in ideas). Namun itu bukan satu-satunya alasan mengapa kekuatan kaum intelektual tidak dipahami secara lebih baik. Bahkan orang-orang yang menggunakan kata “intelektual” utamanya sebagai istilah yang salah, namun cenderung untuk mempertahankan istilah ini dari orang-orang yang jelas-jelas menjalankan fungsi spesifik tersebut. Kata “intelektual” juga bukan sebuah istilah yang menggambarkan pemikir asli atau intelektual atau pakar dalam bidang pemikiran tertentu. Tipikal intelektual tidak perlu memiliki pengetahuan khusus, ataupun tidak perlu pintar secara khusus, untuk berperan sebagai perantara dalam menyebarkan gagasan. Kualifikasi kaum intelektual untuk pekerjaannya hanyalah luasnya wawasan yang mereka siap untuk bicarakan dan tulisan, dan posisi atau kebiasaan yang memperkenalkan mereka ke ide-ide baru lebih cepat dibandingkan yang lainnya.

Sangat sulit untuk menyadari betapa beragamnya profesi dan kegiatan terkait masing-masing kelas, sampai ada yang mulai mencatatnya, termasuk bagaimana besarnya cakupan kegiatan meningkat dalam sebuah masyarakat moderen, dan seberapa besar kita bergantung pada profesi-profesi tersebut. Kelas tidak hanya terdiri dari jurnalis, guru, menteri, dosen, penerbit, komentator radio, penulis kisah fiksi, kartunis, dan seniman, yang kesemuanya mungkin memiliki keahlian dalam menyamaikan gagasan, namun biasanya amatir bila substansi pemikiran mereka digugat. Kaum intelektual juga mencakup kalangan profesional dan teknisi, seperti peneliti sains dan dokter, yang melalui  kebiasaan persentuhan mereka dengan kata-kata menjadikan mereka sebagai pembawa gagasan di luar luar lahan mereka sendiri, dan yang karena keahlian dalam bidang keilmuannya didengar dengan hormat dibandingkan kebanyakan orang. Hanya sedikit orang biasa  di masa kini yang belajar tentang berbagai peristiwa atau gagasan, kecuali melalui perantara kaum intelektual ini; dan di luar bidang khusus pekerjaan yang ada, kebanyakan orang biasa mengandalkan sumber informasi dan instruksi dari mereka yang memang bekerja untuk tetap terinformasi dalam membuat opini. Kaum intelektual dalam hal ini, yang memutuskan pandangan dan opini apa yang menjangkau kita, fakta mana yang cukup penting untuk diberitahukan pada kita, dan dalam bentuk dan sisi mana informasi tersebut ditampilkan. Juga apakah kita harus mempelajari hasil kerja para pakar dan pemikir orisinil, utamanya tergantung pada keputusan kaum intelektual.

Orang awam mungkin tidak sepenuhnya sadar sejauh mana reputasi populer para saintis dan kaum terpelajar yang dibuat oleh kaum intelektual dan secara melekat dipengaruhi oleh pandangan-pandangannya terhadap permasalahan yang sedikit terkait dengan mutu dari keberhasilan mereka. Dan ini secara spesifik sangat signifikan untuk masalah kita, bahwa seorang yang terpelajar mungkin bisa menyebutkan beberapa contoh dari bidangnya tentang orang-orang yang secara tidak layak mendapatkan reputasi sebagai saintis besar semata-mata karena mereka menjunjung sesuatu yang dianggap para intelektual sebagai pandangan politik “progresif”; tetapi saya belum menemukan satu contoh pun, dimana reputasi saintifik semu telah diberikan atas alasan politis kepada orang terpelajar yang cenderung konservatif. Penciptaan reputasi oleh kaum intelektual ini penting dalam bidang-bidang dimana hasil dari studi para pakar tidak digunakan oleh para ahli lain, tetapi ditentukan oleh keputusan politik masyarakat luas. Bahkan jarang sekali ada contoh yang dapat menjelaskan hal ini lebih baik daripada perilaku ekonom profesional terkait doktrin-doktrin, seperti seperti sosialisme atau proteksionisme. Mungkin dulu tidak ada kelompok mayoritas dalam kelompok ekonom, yang mengakui sesamanya dari teman sejawatnya, dan cenderung kepada sosialisme (atau, dalam hal lainnya, kepada proteksionisme). Dalam semua kemungkinan, nampaknya bahkan dapat dikatakan bahwa tidak ada kelompok mahasiswa serupa yang mempunyai proporsi anggota yang besar yang memutuskan untuk memusuhi ide sosialisme (atau proteksionisme). Hal ini bertambah signifikan di saat ini, dimana ketertarikan awal pada skema sosialisme untuk reformasi akan mengarahkan seseorang pada bidang ekonomi untuk profesinya. Tetapi hal yang saya sampaikan tadi bukanlah pandangan dominan dari para pakar, tetapi pandangan dari minoritas, yang sebagian besar meragukan profesi mereka sendiri, yang dibawa dan disebarkan oleh kaum intelektual.

Semua pengaruh kuat dari kaum intelektual dalam masyarakat kontemporer masih lebih diperkuat oleh perkembangan akan pentingnya “organisasi”. Hal ini merupakan suatu pendapat umum, namun mungkin juga suatu kepercayaan yang salah bahwa meningkatnya organisasi akan meningkatkan pengaruh para pakar atau spesialis. Ini mungkin benar terkait pakar dalam manajemen dan kepanitiaan, bila memang ada orang-orang seperti itu, namun sangat jarang untuk pakar yang benar-benar menguasai ilmu pengetahuan tertentu. Hal ini membuat kecenderungan seseorang yang mempunyai pengetahuan umum yang bisa menghargai testimoni pakar, dan menentukan siapa diantara para pakar di bidang lain, yang pengaruhnya meningkat. Poin yang penting untuk kita adalah orang terpelajar yang menjadi rektor universitas, saintis yang menangani sebuah institusi atau yayasan, orang terpelajar yang menjadi seorang editor atau promotor aktif sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang tertentu, semua profesi tersebut akan secara cepat berhenti menjadi seorang orang terpelajar atau saintis, dan menjadi kaum intelektual, hanya karena beberapa ide tertentu yang tengah menjadi tren. Jumlah institusi semacam ini yang melahirkan banyak kaum intelektual dan meningkatkan jumlah dan kekuatannya berkembang setiap hari. Hampir semua “pakar” di tipe ini hanya sebatas menguasai teknik mendapatkan pengetahuan, terkait permasalahan yang mereka tangani, sebagai intelektual bukan pakar.

Dalam cara berpikir kita untuk istilah ini, kaum intelektual adalah fenomena baru dalam sejarah. Walaupun tidak ada yang menyesali bahwa pendidikan sudah berhenti hanya pada suatu keistimewaan yang dimiliki kelas pemilik barang dan jasa (propertied class), namun faktanya bahwa kelas-kelas tersebut bukanlah yang kelas yang paling terdidik dan  fakta bahwa banyak orang yang menggantungkan posisi mereka hanya pada pendidikan umum sehingga mereka tidak memiliki pengalaman kerja dalam sistem ekonomi, yang merupakan basis administrasi dari hak kepemilikan, penting untuk memahami peran kaum intelektual. Profesor  Schumpeter yang telah menelurkan bab mencerahkan dalam bukunya “Capitalism, Socialism, and Democracy” ke beberapa aspek dalam masalah kita, telah menekankan dengan etis bahwa ketiadaan tanggung jawab langsung dalam urusan-urusan praktis dan konsekuensi absennya pengetahuan yang orisinil yang membedakan tipikal kaum intelektual dari orang lain yang juga menggunakan kekuatan berbicara dan tulisan. Akan terlalu jauh untuk memeriksa perkembangan kelas ini lebih jauh dan pernyataan keingintahuan yang baru saja disampaikan oleh salah satu teoritisinya, bahwa ini dalah satu-satunya pandangan yang tidak dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi. Salah satu poin penting yang harus dikaji dalam diskusi seperti itu adalah seberapa jauh pertumbuhan kaum intelektual ini didorong oleh peraturan tentang hak cipta.1


III

Tidak begitu mengejutkan bahwa kalangan terpelajar, para pakar, dan para praktisi yang sesungguhnya seringkali merasa sombong tentang intelektualitasnya, kemudian merasa segan untuk mengakui kekuatannya, dan merasa marah bila menemukannya. Secara individu, mereka merasa bahwa kaum intelekual sebagian besar adalah orang-orang yang tidak mengerti apapun secara khusus dengan baik dan hanya memiliki pertimbangan dalam beberapa kebijaksanaan yang mereka pahami. Tetapi akan menjadi kesalahan yang sangat fatal bila meremehkan kekuatan mereka karena alasan ini. Walaupun pengetahuan mereka dangkal dan kecerdasan mereka terbatas, tidak berarti mengubah fakta bahwa pertimbangan mereka lah yang utamanya mempengaruhi pandangan yang akan dipegang oleh masyarakat dalam waktu yang tidak lama di masa mendatang. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa ketika bagian besar yang aktif dari kaum intelektual telah diubah menjadi suatu rangkaian kepercayaan, yang kemudia diterima secara luas menjadi otomatis dan tak bisa ditolak. Intelektual-intelektual ini adalah organ yang telah dibangung oleh masyarakat moderen untuk mengembangkan penyebaran pengetahuan dan gagasan, dan sudah menjadi suatu kepercayaan dan pendapat masyarakat moderen, bahwa kaum intelektual bekerja sebagai saringan untuk semua konsepsi baru, sebelum disampaikan kepada masyarakat luas.

Sudah menjadi proses alami bahwa pekerjaan kaum intelektual harus menggunakan pengetahuannya dan kepercayaannya sendiri dalam menjalankan tugas sehari-hari. Dia menempati posisi ini karena dia memiliki atau telah berhubungan dengan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang yang mempekerjakannya, dengan demikian beberapa kegiatannya bias diarahkan oleh pihak lain hanya untuk batasan tertentu. Dan hanya karena kaum intelektual sebagian besar jujur dalam intelektualitasnya, mereka tak terelakkan untuk harus mengikuti kepercayaan mereka sendiri kapanpun mereka mempunyai pilihan dan mereka harus memberikan pandangan terhadap apapun yang melalui kewenangannya. Bahkan ketika arah kebijakan ada dalam kewenangan beberapa orang yang mempunyai perbedaan pandangan, penerapan kebijakan pada umumnya akan ditangani oleh kaum intelektual, dan seringkali keputusan pada detail kebijakan yang menentukan dampak sebenarnya. Kita menemukan ilustrasi seperti ini di hampir semua jenis masyarakat modern. Media koran dalam kepemilikan yang “kapitalis”, universitas yang dipimpin oleh badan eksekutif reaksioner, dan sistem penyiaran yang dimiliki pemerintah konservatif, semuanya telah diketahui mempengaruhi opini publik ke arah sosialisme, yang merupakan kepercayaan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Ini seringkali terjadi terlepas dari, tapi mungkin juga karena upaya-upaya yang dilakukan oleh mereka yang berada yang ada dalam posisi puncak yang mempengaruhi opini dan berusaha untuk menerapkan prinsip ortodoksi.

Dampak dari seleksi gagasan melalui kepercayaan suatu kelompok tertentu, yang sebenarnya secara konstitusional telah cenderung kepada pandangan tertentu tidak berarti terbatas kepada masyarakat luas. Di luar bidang spesialisasinya, para pakar pun secara umum cukup tergantung kepada kaum intelektual, serta jarang untuk tidak terpengaruh oleh seleksi gagasan yang dilakukan oleh kaum intelektual. Hasilnya, hari ini sebagian besar Dunia Barat yang merupakan lawan dari negara sosialisme, memperoleh pengetahuan dalam banyak hal yang tidak dikuasainya dari sumber-sumber sosialis. Dengan banyaknya konsepsi awal yang umum tentang pemikiran sosialisme, hubungan dari usulan praktis mereka langsung menjadi jelas; konsekuensi dari sistem pemikiran tersebut faktanya menjadikan kaum intelektual sebagai penyebar efektif dari gagasan itu sendiri. Siapa yang tidak tahu, seseorang yang dalam lapangan pekerjaannya menyatakan sosialisme sebagai “kebusukan yang jahat”, tetapi ketika dia melangkah ke persoalan lain, menyebarkan sosialisme persis seperti jurnalis kiri?

Tidak dalam bidang lain, pengaruh besar dari intelektual sosialis terasa lebih kuat dalam seratus tahun terakhir dibandingkan  kontak antara peradaban nasional yang berbeda. Namun akan terlalu jauh dari bahasan artikel ini, bila harus melacak penyebab dan signifikansi dari suatu fakta yang sangat penting bahwa di dunia moderen kaum intelektual menyediakan hampir satu-satunya pendekatan menuju masyarakat internasional. Sosialisme yang menjadi jalur untuk sebuah tontonan yang luar biasa bagi generasi – yang seharusnya “kapitalis” Barat, malah meminjamkan dukungan moral dan materialnya kepada kepada pergerakan-pergerakan ideologis di negara-negara yang nun jauh di timur sana yang bertujuan merusak peradaban barat. Di sisi yang sama, informasi yang diterima oleh masyarakat Barat tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Eropa Tengah dan Timur hampir tak terelakkan diwarnai oleh bias sosialisme. Banyak dari aktivitas “berpendidikan” dalam kekuatan bersenjata Amerika di masa pendudukan Jerman misalnya, telah memberikan contoh yang jelas tentang tendensi tersebut.


IV

Pemahaman yang tepat tentang alasan-alasan mengapa kaum intelektual cenderung memihak sosialisme kemudian menjadi sangat penting. Poin pertama disini bagi mereka yang tidak berbagi bias ini seharusnya perlu menghadapi secara terus secara terbuka adalah bahwa hal ini bukanlah karena kepentingan ego ataupun niat jahat, tetapi sebagian besar adalah kejujuran intelektual dan niat baik yang menentukan pandangan seorang intelektual. Faktanya, penting untuk mengakui semua tipe intelektual hari ini lebih banyak orang yang menjadi sosialis karena itikad baik dan kepandaian, dan dalam menganalisis suatu kasus mereka bisa meramu argumen dengan lebih baik dibandingkan kelompok kelas lainnya. Jika kita masih berpikir dia salah, maka kita harus menyadari bahwa mungkin itu adalah kesalahan yang murni yang merujuk pada pemaknaan yang baik dan orang-orang pintar yang menempati posisi-posisi kunci dalam masyarakat kita untuk menyebarkan gagasan, yang bagi kita adalah ancaman bagi peradaban.2 Tidak ada yang lebih penting dari mencoba untuk memahami sumber kesalahan agar kita mampu mengatasinya. Tetapi mereka yang umumnya dipandang sebagai bagian dari tatatanan yang ada dan percaya bahwa menyadari bahaya sosialisme biasanya jauh dari pemahaman tersebut. Mereka cenderung memandang  para intelektual sosialis sebagai kelompok perusak dari kalangan elit tanpa  menghargai pengaruh mereka selama ini, dan dengan sikap mereka selama ini terhadap kelompok tersebut, telah membuat mereka menjauh sebagai oposisi sosialisme sebagai tatanan yang ada.

Jika kita ingin memahami bias aneh ini dalam kelompok besar dari kaum intelektual, kita harus jelas dalam dua poin. Pertama, mereka secara umum menilai semua isu tertentu secara khusus dalam kerangka ide-ide umum tertentu. Kedua, bahwa karakteristik kesalahan di berbagai masa seringkali berasal dari kebenaran yang baru ditemukan, dan mereka salah dalam mengaplikasikan generalisasi baru yang membuktikan nilai mereka dalam bidang lain. Kesimpulan yang harus kita ikuti dengan pertimbangan penuh atas fakta-fakta ini akan menjadi sanggahan yang efektif untuk kesalahan semacam itu, yang akan sering membutuhkan dorongan intelektual lebih jauh, dan seringkali berkembang ke arah yang sangat abstrak dan sangat tidak berhubungan dengan isu praktis.

Hal itu mungkin disebabkan oleh ciri paling khas dari karakteristik kaum intelektual bahwa mereka menilai gagasan-gagasan baru bukan dari pertimbangan tertentu namun dari kesiapan mereka yang kemudian dicocokkan ke dalam konsepsi umum dalam gambaran dunia yang dinilai moderen atau maju. Melalui pengaruhnya dan pilihan pendapatnya tentang isu-isu tertentu lah kekuatan gagasan baik maupun buruk berkembang dalam proporsi keumuman mereka, keabstrakan, dan bahkan ketidakjelasan. Karena ia sedikit memahami isu tertentu, kriterianya harus konsisten dengan dengan pendapatnya yang lain dan kecocokan untuk dikombinasikan dalam sebuah gambaran yang jelas tentang dunia. Namun pilihan dari banyak ide ini telah mempersembahkan di setiap momen penciptaan suatu iklim pendapat, sebuah periode pandangan dominan yang komprehensif (Weltanschauung), yang akan diterima lebih baik oleh beberapa pendapat dan tidak diinginkan oleh pendapat yang lain, dan yang akan membuat seorang intelektual siap menerima satu pendapat dan menolak pendapat yang lainnya tanpa pemahaman yang tepat terkait beberapa isu.

Dalam beberapa hal, seorang intelektual tentu saja lebih dekat kepada filsuf daripada ahli lainnya, dan filsuf adalah semacam pangeran di antara kaum intelektual. Walaupun pengaruh lebih jauhnya dihapus dalam urusan praktis, dan juga lebih sulit dan lama untuk diketahui dibanding intelektual biasa, filsuf mempunyai tipe yang sama bahkan dalam perjalanannya jauh lebih kuat dibandingkan kaum intelektual. Filsuf sama-sama berusaha keras melakukan sintesis, meraih lebih banyak secara metodologis, kemudian menerapkan penilaian pandangan sejauh mereka sesuai dengan sistem umum pemikiran daripada pertimbangan tertentu, melakukan upaya yang sama setelah memiliki pandangan yang konsisten tentang dunia, dimana bagi kedua bentuk adalah dasar utama dalam menerima atau menolak gagasan. Karena alasan ini, filsuf mungkin mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap kaum intelektual dibandingkan kalangan terpelajar atau saintis, bahkan dibandingkan orang-orang lain. Dalam hal ini, filsuf menentukan cara kaum intelektual dalam melakukan fungsi sensor gagasan. Pengaruh populer dari ahli sains mulai menyaingi filsuf hanya ketika dia berhenti menjadi seorang pakar dan mulai berfilosofi tentang proses persoalan – yang biasanya hanya setelah dia masuk menjadi kaum intelektual karena alasan-alasan yang tidak banyak berhubungan dengan kemampuan saintifiknya.

Sebuah “iklim pendapat” dalam periode apapun kemudian secara mendasar merupakan sekumpulan prakonsepsi umum yang dinilai oleh seorang intelektual sebagai  fakta dan pendapat baru yang penting. Prakonsepsi inilah yang utamanya membuat para intelektual melihatnya sebagai aspek paling siginifikan dari pencapaian santifik, sebuah perpindahan ke bidang-bidang lain yang membuatnya terkesan pada pekerjaan para ahli. Seseorang bisa memberikan daftar panjang dari tren dan slogan  intelektual yang dalam 2 atau 3 generasi telah mendominasi cara berpikir kaum intelektual. Entah  itu adalah “pendekatan sejarah” atau teori evolusi, deteminisme abad 19 atau kepercayan akan pengaruh besar lingkungan yang menentang hal yang turun-menurun, teori relativitas atau kepercayaan kekuatan alam bawah sadar – setiap konsepsi umum ini telah sukses menempuh batu ujian dimana banyak inovasi diuji oleh bidang-bidang yang berbeda. Sepertinya semakin gagasan-gagasan ini kurang spesifik atau teliti (atau kurang dipahami dengan baik), maka semakin besar pengaruhnya. Kepercayaan seperti itu sebagai kontrol atau kesadaran organisasi dalam urusan-urusan sosial selalu lebih unggul terhadap hasil proses-proses yang spontan yang tidak digerakkan oleh pikiran manusia, atau tatanan lain yang berdasarkan sebuah perencanaan yang ditentukan terlebih dahulu, pasti lebih baik dari sesuatu yang dibentuk oleh perimbangan kekuatan lawan, yang dalam hal ini secara mendalam mempengaruhi perkembangan politik.

Yang tampaknya hanya berbeda adalah peran kaum intelektual terkait perkembangan gagasan sosial yang tepat. Disinilah kecenderungan yang janggal menunjukkan diri dalam membuat semboyan abstrak, dalam rasionalisasi dan pembawaan kepada ambisi tertentu yang ekstrem, yang muncul dari interaksi normal manusia. Karena demokrasi adalah suatu hal yang baik, makin jauh prinsip demokratis dapat diterapkan, maka demokrasi akan terlihat lebih baik. Gagasan paling kuat dari ide-ide umum yang telah membentuk perkembangan politik akhir-akhir ini adalah cita-cita tentang kesetaraan material. Hal ini, secara karakteristik bukanlah salah satu kepercayaan moral yang tumbuh secara spontan, dan pertama kali diterapkan dalam hubungan antara individu-individu tertentu, namun hal ini sebenarnya disusun dari konstruksi pemikiran kaum intelektual yang dilihat dalam abstrak dan arti atau aplikasi yang meragukan dalam contoh-contoh tertentu. Namun, hal ini sudah bekerja dengan kuat sebagai sebuah prinsip dari pemilihan cara-cara alternatif kebijakan sosial, dengan menggunakan tekanan yang terus-menerus melalui pengaturan hubungan sosial yang tidak seorangpun bayangkan dengan jelas. Bahwa suatu pengukuran khusus cenderung membawa ketimpangan yang lebih besar telah menjadi rekomendasi yang begitu kuat, dimana hal kecil lain akan dipertimbangkan. Karena tiap isu tertentu hal ini menjadi sebuah aspek yang dilihat sebagai kepercayaan yang pasti oleh mereka yang menggiring opini, kesetaraan telah menentukan perubahan sosial bahkan lebih kuat dari yang diniatkan oleh penganjurnya.

Namun, tidak hanya cita-cita moral yang ideal dalam hal ini. Kadang-kadang kelakuan kaum intelektual terhadap masalah tatanan sosial bisa jadi merupakan konsekuensi dari kemajuan dalam pengetahuan saintifik, dan dalam contoh-contoh inilah pandangan keliru mereka atas isu-isu tertentu yang dalam waktu tertentu terlihat sebagai prestasi saintifik terkini yang bergengsi. Hal ini bukanlah dalam dirinya sendiri mengejutkan bahwa posisi asli dari kemajuan pengetahuan seharusnya dalam cara ini menjadi kesempatan untuk sebuah sumber dari kekeliruan yang baru. Jika tidak ada kesimpulan salah yang mengikuti generalisasi yang baru, maka kesimpulan ini akan menjadi kebenaran akhir yang tidak memerlukan revisi. Walaupun dalam peraturan, sebuah bentuk baru generalisasi hanya akan membagikan konsekuensi yang keliru yang dapat digambarkan dari hal tersebut dengan pandangan-pandangan yang telah ditentukan sebelumnya, dan dengan demikian tidak mengarah pada kekeliruan yang baru, kemungkinannya adalah sebuah teori baru, nilainya ditunjukkan oleh kesimpulan-kesimpulan baru yang valid terhadap apa yang dituju, akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan baru lainnya untuk kemajuan lebih jauh yang akan memperlihatkan hal-hal yang selama ini keliru. Tetapi dalam sebuah contoh, kepercayaan yang salah akan muncul dengan semua gengsi dari pengetahuan saintifik terbaru yang mendukung kepercayaan tersebut. Walaupun dalam bidang tertentu dimana kepercayaan ini menerapkan semua bukti saintifik yang mungkin menentangnya, bagaimanapun juga hal ini akan, dipilih di depan pengadilan para intelektual dan dan dalam ide-ide yang mengatur cara mereka berpikir, sebagai pandangan yang terbaik sesuai dengan konteks waktu saat itu “pengadilan” intelektual dan semua bayangan gagasan yang menguasai cara berpikir mereka, kepercayaan tersebut diseleksi sebagai pendapat yang terbak sesuai konteks semangat waktu itu. Para spesialis yang akan mencapai popularitas publik dan mempunyai pengaruh luas tidak akan menjadi mereka yang meraih pengakuan dari rekan-rekan sejawatnya, tetapi akan lebih sering menjadi orang-orang yang para pakar lain sebut sebagai orang yang sinting, amatir, atau bahkan penipu, namun di mata masyarakat umum mereka terkenal sebagai penganjur terbaik di bidang mereka.

Dalam hal tertentu, bisa ada sedikit keraguan bahwa cara yang selama seratus tahun terakhir dipelajari oleh manusia untuk mengatur kekuatan-kekuatan alam telah berkontribusi besar dalam pembentukan kepercayaan bahwa sebuah kontrol serupa terhadap kekuatan-kekuatan di masyarakat akan membawa perbaikan dalam kondisi umat manusia. Bahwa dengan penerapan teknik-teknik rekayasa, arah dari semua bentuk kegiatan manusia yang sesuai dengan perencanaan jelas yang tunggal seharusnya membuktikan keberhasilannya di masyarakat dengan jumlah tugas teknis rekayasa yang sangat banyak, hal itu terlalu masuk akal untuk suatu kesimpulan untuk tidak membujuk sebagian besar mereka yang berbesar hati karena capaian ilmu alam. Ini tentu saja harus diakui oleh keduanya bahwa hal tersebut akan membutuhkan argumen yang kuat untuk melawan pra-asumsi yang kuat yang mendukung kesimpulan tersebut dan argumen-argumen ini belum dinyatakan dengan memadai. Belum cukup untuk menunjukkan kekurangan dari usulan-usulan tertentu berdasarkan penalaran semacam ini. Suatu argumen tidak akan kehilangan kekuatannya sampai diperlihatkan secara meyakinkan tentang apa yang telah dibuktikan secara nyata telah berhasil memproduksi kemajuan dalam banyak bidang juga memiliki keterbatasan dalam hal kemanfaatan dan bisa secara positif berbahaya jika diperpanjang di luar batasannya. Ini adalah tugas yang belum dilakukan secara memuaskan dan yang harus segera dicapai sebelum kehendak tertentu terhadap sosialisme dapat dihapus.

Ini hanyalah satu dari banyak contoh dimana kemajuan intelektual yang lebih jauh dibutuhkan bila ide berbahaya saat ini ingin dibantah dan dimana wacana yang kita lalui pada akhirnya akan ditentukan oleh diskusi isu-isu yang sangat abstrak. Tidak cukup bagi orang yang berhubungan dengan urusan sehari-hari untuk merasa yakin, berdasarkan pengetahuan mendalamnya di bidang tertentu, bahwa teori-teori sosialisme yang berasal dari banyak ide-ide umum akan terbukti sulit dilaksanakan. Dia mungkin saja sangat benar, tetapi resistensinya akan kewalahan dan semua konsekuensi yang disesalkan yang diprediksikan akan mengikuti bila tidak didukung dengan bantahan yang efektif dari gagasan fundamental (idées mères). Selama para intelektual mendapatkan argumen umum yang lebih baik, maka sebagian besar tujuan valid dari isu-isu spesifik akan diremehkan.


V

Namun ini bukanlah keseluruhan cerita. Kekuatan yang mempengaruhi perekrutan urutan kaum intelektual beroperasi dengan arah yang sama dan membantu menjelaskan mengapa banyak dari sebagian besar kaum intelektual cenderung kepada sosialisme. Tentu saja di dalam kelompok intelektual pun terdapat perbedaan pendapat selayaknya di kelompok lain, tetapi tampaknya benar bahwa dalam keseluruhan orang-orang yang lebih aktif, pandai, dan kreatif dalam kaum intelektual cenderung kepada sosialisme, sedangkan di sisi lawan kelompok ini seringkali adalah kaliber rendahan. Hal ini benar terjadi di tahap awal penyusupan gagasan sosialis; yang nantinya, walaupun di luar lingkaran intelektual merupakan sebuah tindakan yang berani untuk mengakui kepercayaan sosialis, tekanan opini di kalangan intelektual seringkali secara kuat mempromosikan sosialisme, hal ini membutuhkan kekuatan lebih besar dan independensi bagi seseorang untuk menolaknya daripada mengikuti sesuatu yang dipandang moderen oleh rekan-rekan sejawatnya. Sebagai contoh, tidak ada  orang yang tidak asing dengan jumlah fakultas di universitas (dan dari pandangan ini, mayoritas dosen di universitas harus diklasifikasikan sebagai kaum intelektual dibandingkan para pakar) dapat tetap lupa dengan fakta bahwa dosen yang paling cerdas dan sukses hari ini cenderung sosialis, sedangkan mereka yang mempunyai pandangan politik yang lebih konservatif seringkali adalah orang yang biasa-biasa saja. Ini adalah sebuah faktor penting yang menggiring generasi muda kepada kamp sosialisme.

Kaum sosialis tentu saja hanya akan melihat fakta bahwa lebih banyak orang pintar hari ini adalah sosialis. Tetapi ini masih jauh dari penjelasan yang dibutuhkan. Alasan utama untuk menjawab persoalan ini mungkin karena banyaknya kesempatan yang terbuka untuk dipengaruhi dan dimasuki kekuasaan, di sisi yang lain karir intelektual yang tidak menyenangkan dan tidak memuaskan adalah jalan yang paling menjanjikan untuk pengaruh dan kekuasaan untuk berkontribusi dalam mencapai cita-citanya. Bahkan lebih dari itu: seseorang yang memiliki kemampuan kelas atas cenderung konservatif umumnya akan memilih pekerjaan intelektual (dan mengorbankan imbalan material yang biasanya pilihan ini perlukan) hanya jika dia menikmati kepentingannya sendiri. Konsekuensinya, ia kemungkinan besar akan menjadi seorang pakar daripada seorang intelektual dalam bidang yang khusus, sedangkan bagi mereka yang berpikiran radikal, pencarian intelektual cendurung merupakan cara daripada tujuan, sebuah jalan yang ditempuh oleh sebagian besar intelektual profesional. Dengan demikian, hal ini mungkin menjadi sebuah fakta, bukan banyaknya orang pintar yang secara umum adalah sosialis, tetapi sebagian besar proporsi kaum sosialis yang paling pintar mengabdikan diri mereka untuk pencapaian intelektual yang dalam masyarakat moderen memberikan pengaruh yang menentukan dalam opini publik.3

Pemilihan personil kaum intelektual juga erat kaitannya dengan kepentingan dominan yang mereka perlihatkan dalam gagasan umum dan abstrak. Spekulasi tentang seluruh rekonstruksi masyarakat yang mungkin memberikan seorang intelektual tarif yang lebih besar sesuai dengan keinginannya dibandingkan pertimbangan praktis dan jangka pendek bagi mereka yang menginginkan perbaikan sedikit-demi sedikit terhadap tatanan yang sudah ada. Secara khusus, pemikiran kaum sosialis menarik kaum muda sebagain besar  disebabkan karena karakter visionernya; keberanian untuk menuruti pemikiran Utopis dalam hal ini merupakan sumber kekuatan sosialisme, yang sayangnya tidak dimiliki liberalisme tradisional. Perbedaan ini menguntungkan sosialisme, tidak hanya karena spekulasi tentang prinsip umum sosialisme yang memberikan kesempatan bermain dengan imajinasi mereka yang tak dibebani oleh pengetahuan dan fakta kontemporer, namun juga karena sosialisme memuaskan hasrat yang sah untuk memahami dasar rasional dari semua tatanan sosial dan memberikan cakupan untuk penerapan dorongan konstruktif dimana liberalisme, setelah memenangi kemenangan besarnya, meninggalkan beberapa alirannya. Kaum intelektual, dengan semua wataknya, tidak tertarik pada detil-detil teknis dan kesulitan-kesultas praktis. Apa yang penting untuknya adalah visi yang luas, pemahaman yang terbuka dari tatanan sosial secara keseluruhan sebagaimana dijanjikan oleh sistem terencana.

Fakta bahwa selera kaum intelektual lebih baik dipuaskan oleh spekulasi sosialisme ternyata membuktikan sesuatu yang fatal terhadap tradisi liberal. Saat permintaan dasar dari program-program liberal terlihat memuaskan, para pemikir liberal mengganti detail persoalan dan cenderung mengabaikan perkembangan filsafat umum liberalisme, yang konsekuensinya berhenti menjadi sebuah isu hidup yang memberikan ruang untuk spekulasi umum. Demikianlah selama lebih dari setengah abad hanya kaum sosialis yang telah menawarkan suatu program yang eksplisit dalam hal pembangunan sosial, sebuah gambaran masyarakat di masa depan yang kita idamkan, dan sekumpulan prinsip umum yang menuntun keputusan atas isu-isu tertentu. Walaupun demikian, jika saya benar, cita-cita besar kaum sosialis akan menderita karena kontradiksi yang ada di dalamnya, dan usaha apapun untuk menerapkannya harus membuat sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang mereka harapkan, hal ini tidak mengubah fakta bahwa program sosialisme untuk perubahan adalah satu-satunya program yang secara nyata telah mempengaruhi pembangunan institusi sosial. Hal ini dikarenakan program mereka telah menjadi satu-satunya filsafat umum yang eksplisit untuk kebijakan sosial yang diadakan oleh kalangan luas, satu-satunya sistem atau teori yang mengangkat permasalahan  dan membuka cakrawala baru. Dalam hal ini mereka telah berhasil menginspirasi imajinasi kaum intelektual.

Pembangunan masyarakat yang sebenarnya selama periode ini telah ditentukan, bukan oleh pertarungan gagasan yang berlawanan, namun oleh kontrasnya keadaan yang sudah ada dan cita-cita masyarakat di masa depan yang kaum sosialis sendiri junjung tinggi di depan masyarakat. Sangat jarang program-program yang ditawarkan kelompok sosialis menyediakan alternatif yang orisinil. Kebanyakan dari program tersebut hanyalah berupa kompromi atau separuh kompromi antara tipe sosialisme yang ekstrim dan tatanan yang telah ada. Yang dibutuhkan untuk membuat proposal sosilais nampak beralasan untuk mereka yang berpikiran “bijak”  dan diyakinkan bahwa kebenaran harus terletak di antara kedua ekstrim, adalah untuk seseorang yang ingin mengadvokasi proposal yang lebih ekstrim. Nampaknya hanya ada satu arah dimana kita dapat bergerak, dan pertanyaannya kini adalah seberapa cepat dan seberapa jauh pergerakan harus berlanjut.


VI

Makna dari ketertarikan spesial kepada kaum intelektual yang sosialisme ambil dari karaketer spekulatifnya akan menjadi lebih jelas bila kita kontraskan lebih jauh posisi teoritikus sosialis dengan rekan intelektualnya yang liberal dalam istilah lama. Perbandingan ini akan mengajak kita kepada pelajaran apapun yang bisa kita gambarkan dari apresiasi yang memadai terhadap kekuatan intelektual yang merusak landasan masyarakat yang bebas.

Secara paradoks, salah satu dari kelemahan utama yang menghilangkan pengaruh populer pemikir liberal erat hubungannya dengan fakta bahwa, sampai kemunculan sosialisme, liberalisme mempunyai mempunyai kesempatan untuk mempengaruhi secara langsung kebijakan saat ini, dan konsekuensinya hanya saja liberalisme tidak hanya tergoda untuk menerapkan spekulasi jangka panjang yang merupakan kekuatan sosialisme, namun nyatanya menjauhkan diri dari cara seperti itu karena usaha apapun dalam hal ini nampaknya akan mengurangi manfaat langsung yang bisa dilakukan. Kekuasaan apapun yang pemikir liberal akan pengaruhi dalam keputusan praktis, dia berhutang posisinya dengan para wakil dari tatanan yang ada. Posisi ini akan membahayakan bila ia mengabdikan dirinya pada spekulasi yang akan menarik kaum intelektual dan melalui mereka akan mempengaruhi pembangunan dalam periode yang lebih lama. Untuk menanggung beban dengan kekuasaan, seorang pemikir liberal harus “praktis,” “peka,”, dan “realistis.” Sepanjang dia memberi perhatian pada isu-isu terkini, dia akan mendapatkan pengaruh, kesuksesan material, dan popularitas dengan siapapun yang setuju dengan pandangannya. Tetapi orang-orang ini mempunyai sedikit penghargaan terhadap spekulasi dalam prinsip-prinsip umum yang membentuk iklim intelektual. Tentu saja, jika dia memuaskan diri pada semacam spekulasi jangka panjang, maka dia cenderung memperoleh reputasi menjadi “kurang waras” atau bahkan setengah sosialis, karena berat hati mengidentifikasi tatanan lama dengan sistem yang bebas, seperti yang dia idamkan.4

Meskipun begitu, jika usahanya untuk melanjutkan ke arah spekulasi umum, dia akan segera merasa tidak aman untuk berhubungan terlalu dekat dengan mereka yang tampaknya memiliki kepercayaan intelektual yang sama dengannya, dan kemudian ia secara alamiah akan mengalami isolasi. Tentu saja ada beberapa tugas yang sulit saat daripada hal esensial seperti mengembangkan dasar filosofis untuk masyarakat bebas. Sejak orang yang terlibat dalam hal ini harus menerima cara pandang tatanan lama, maka dia akan muncul di depan para intelektual yang lebih spekulatif sebagai pembela yang malu-malu; di saat yang sama dia akan disingkirkan sebagai teoritikus yang tidak berguna. Dia tidak cukup radikal bagi mereka yang mengetahui dunia dengan semboyan “mudah merenungkan pemikiran bersama-sama” dan juga terlalu radikal bagi mereka yang hanya melihat, betapa “kerasnya benturan yang terjadi dalam kebersamaan.” Jika dia mengambil keuntungan dari dukungan seperti itu seperti yang dia peroleh dari orang-orang terkait, dia pastinya hampir akan tidak mempercayai dirinya sendiri dengan orang-orang yang ia andalkan untuk penyebaran gagasannya. Di saat yang sama, dia akan perlu untuk sangat berhati-hati untuk menghindari apapun yang menyerupai hal yang berlebihan atau pernyataan yang berlebihan. Ketika tidak ada seorang teoritikus sosialis yang diketahui pernah tidak mempercayai dirinya sendiri dengan rekan-rekannya atau bahkan oleh usulan paling bodoh pun, seorang liberal lama (old-fashioned liberal) akan mengutuk dirinya sendiri dengan usulan yang tidak praktis. Tetapi bagi kaum intelektual, dia masih tidak cukup spekulatif atau berani, dan perubahan dan perbaikan dalam struktur sosial yang harus dia tawarkan akan terlihat terbatas dalam perbandingan dengan apa yang dia pahami dari imajinasi yang kurang terkendali.

Paling tidak dalam masyarakat dimana syarat utama dari kebebasan telah ada dan perbaikan lebih jauh perlu mempertimbangkan detail-detail perbandingan, program liberal bisa tidak memiliki pesona penemuan yang baru. Apresiasi perbaikan yang ditawarkan membutuhkan lebih banyak pengetahuan tentang cara kerja masyarakat saat ini dibandingkan apa yang rata-rata dimiliki intelektual. Diskusi perbaikan ini harus lebih banyak dijalankan pada tingkat praktis dibandingkan program-program revolusioner, sehingga memberikan kerumitan yang tidak terlalu menarik untuk kaum intelektual dan cenderung membawa elemen-elemn yang dianggapnya berlawanan secara langsun. Mereka yang sangat tidak asing dengan cara kerja masyarakat masa kini biasanya juga tertarik untuk melestarikan ciri dari masyarakat tersebut, yang mungkin saja tidak bisa bertahan atas prinsip-prinsip umum. Tidak seperti seseorang yang mencari tatanan yang benar-benar baru di masa depan, dan yang secara alamiah mencari panduan ke teoritikus, orang-orang yang percaya pada tatanan yang ada juga biasanya berpikir bahwa mereka memahaminyq jauh lebih baik daripada teoritikus lainnya dan konsekuensinya  mereka cenderung menolak apapun yang dinilai tidak teoritis dan tidak lazim.

Kesulitan menemukan dukungan yang tulus dan tanpa kepentingan untuk membangun kebijakan sistematis untuk kebebasan bukanlah hal yang baru. Ada satu paragraf dalam buku terbaru saya, yang mengingatkan saya pada perkataan Lord Acton di masa lampau bahwa “seringkali teman yang tulus dalam memperjuangkan kebebasan sangatlah jarang, dan kemenangan akan kebebasan karena minoritas, yang telah muncul dengan mengasosiasikan diri dengan bantuan yang objeknya berbeda dari kepentingan mereka sendiri; dan perkumpulan ini, yang selalu berbahaya, terkadang akan menjadi bencana karena memberikan lawan landasan yang adil untuk melawan...” 5 Baru-baru ini salah seorang ekonom terkemuka di Amerika mengeluh dalam poin yang sama, bahwa tugas utama dari mereka yang percaya prinsip-prinsip dasar sistem kapitalisme harusnya seringkali adalah mempertahankan kapitalisme dari para kapitalis itu sendiri – tentu saja ekonom liberal besar dari Adam Smith hingga ekonom lainnya saat ini, sudah menyadari ini.

Rintangan yang paling serius yang memisahkan orang-orang praktis yang mempunyai alasan untuk bebas secara tulus, dari orang-orang yang memaksa gagasan tertentu dan bisa memutuskan perdebatan tentang pembangunan, adalah ketidakpercayaan terdalam mereka atas spekulasi teoritis dan kecenderungan mereka akan kemurnian (ortodoksi). Hal ini, lebih dari hal lainnya,  menciptakan rintangan yang tidak dapat dilalui antara mereka dan para intelektual yang berbakti kepada sebab yang sama dan yang bantuannya diperlukan jika penyebabnya berlaku.

Walaupun tendensi ini mungkin saja alamiah di antara banyak orang yang mempertahankan suatu sistem karena sistem ini telah terbukti pada tataran praktis, dan kepada siapa justifikasi intelektualnya tampak tidak penting, hal ini fatal untuk kebertahanannya karena menghilangkan dukungan yang paling dibutuhkan. Ortodoksi apapun bentuknya, adalah sebuah tipuan bahwa sebuah sistem sudah final dan tidak perlu dipertanyakan serta harus diterima secara utuh, adalah pandangan yang memusuhi semua intelektual, apapun pandangannya dalam berbagai isu. Sistem apapun yang menilai orang dari kepatuhan seseorang atas sekumpulan opini, berdasarkan “kekuatan” opini tersebut atau keterandalan opini dalam memenuhi semua pertimbangan, bisa menghilangkan dukungan atas dirinya karena tidak ada sekumpulan gagasan yang bisa mempertahankan pengaruhnya dalam masyarakat moderen. Kemampuan untuk mengkritik pandangan yang diterima, mengeksplorasi rangkaian peristiwa dan bereksperimen dengan konsepsi baru, menyediakan atmosfir yang tanpanya kaum intelektual tidak bisa hidup. Suatu hal yang tidak menawarkan hal-hal seperti ini tidak akan mendapatkan dukungan dari kaum intelektual dan dengan demikian akan ditakdirkan mati, seperti juga kita.


VII

Seperti yang kita tahu bahwa masyarakat merdeka bisa membawa kehancurannya sendiri, dan ketika kebebasan telah diraih, kemudian dianggap sebagai hal yang diberikan begitu saja, dan menjadi tidak dihargai lagi, dan bahwa pertumbuhan ide-ide yang menjadi esensi dari masyarakat bebas pada akhirnya akan membawa kehancuran pondasi yang selama ini menjadi landasannya. Ada sedikit keraguan bahwa di negara seperti Amerika Serikat cita-cita kebebasan hari ini kurang mempunyai daya tarik nyata bagi generasi muda dibanding negara yang harus belajar bagaimana arti dari kehilangan kebebasan. Di sisi lain, terdapat setiap tanda bahwa di Jerman dan negara lainnya, generasi muda yang tidak pernah mengenal masyarakat bebas, merasa bersemangat seperti halnya generasi muda sosialis ketika muncul seratus tahun lalu. Sebuah fakta yang luar biasa, yang mungkin pernah dialami banyak pengunjung, ketika berbicara dengan mahasiswa Jerman tentang prinsip-prinsip masyarakat liberal mendapatkan hadirin yang lebih responsif dan  bahkan antusias dibandingkan orang-orang di negara-negara Barat. Di Inggris pun, terdapat antusiasme yang muncul di antara generasi muda untuk menggali prinsip liberalisme utuh yang jelas belum ada sejak beberapa tahun yang lalu.

Apakah dengan ini berarti kebebasan lebih dihargai ketika hilang, bahwa seluruh dunia harus melalui fase kegelapan otoritarianisme sosialis sebelum kekuatan kebebasan mengumpulkan kekuatan yang baru? Mungkin saja, tapi saya harap tidak. Tetapi ketika orang-orang dalam jangka panjang menentukan opini publik seringkali tertarik pada cita-cita sosialisme, tren ini akan terus berlanjut. Jika kita ingin menghindari perkembangan seperti itu, kita harus bisa menawarkan suatu program liberal yang baru yang mempunyai imajinasi yang menarik. Kita harus membuat bangunan masyarakat bebas sekali lagi sebagai suatu keberanian intelektual, perbuatan yang berani. Apa yang merupakan kelemahan kita adalah “Utopia Liberal”, program yang bukan merupakan hanya mempertahankan pengertian sebenarnya ataupun bentuk lain dari sosialisme, tetapi sebuah radikalisme liberal sesungguhnya yang tidak terlalu praktis, dan tidak membatasi dirinya pada apa yang muncul hari ini sebagai hal yang mungkin secara politis. Kita butuh para pemimpin intelektual yang  bersedia untuk memperjuangkan hal yang ideal, meskipun kemungkinannya kecil di realisasi awal. Mereka harus menjadi orang-orang komitmen terhadap prinsip-prinsip dasar dan berjuang untuk perwujudan penuh, apapun resikonya. Kompromi praktis harus diserahkan pada para politisi. Perdagangan bebas dan kebebasan untuk meraih kesempatan adalah cita-cita yang masih mungkin membangkitkan imajinasi banyak orang, tetapi hanya “perdagangan bebas yang masuk akal” atau hanya “penghapusan kontrol” yang tidak dihargai secara intelektual atau menginspirasi antusiasime.

Pelajaran utama yang liberal sejati harus pelajari dari kesuksesan kaum sosialis adalah keberanian mereka menjadi utopis sehingga mereka mendapatkan dukungan dari kaum intelektual dan kemudian juga pengaruh terhada opini publik yang tiap hari memungkinkan hal-hal yang selama ini dilihat tidak mungkin. Mereka yang menaruh perhatian khusus pada hal-hal yang terlihat praktis dalam opini yang ada saat ini secara konstan menyadari bahwa bahkan hal ini secara pesat telah menjadi suatu kemustahilan politik, sebagai akibat dari perubahan opini publik yang selama ini tidak pernah pandu, kecuali kita bisa membuat landasan filosofis masyarakat bebas ketika mengangkat isu intelektual, dan mengimplementasikan sebuah tugas dimana menghalangi keaslian dan imajinasi dari pikiran kita yang hidup. Namun, bila kita bisa merebut kembali kepercayaan akan kekuatan gagasan yang menjadi ciri khas liberalisme di sisi terbaiknya, kita tidak kalah dalam pertarungan. Kebangkitan intelektual liberalisme sudah terjadi di beberapa belahan dunia. Akankah kemenangan itu datang segera?

***

Catatan Belakang:

1 Sangat menarik untuk menemukan seberapa jauh pandangan kritis tentang keuntungan masyarakat dari hukum hak cipta, atau beberapa ekspresi keraguan dari kepentingan publik terkait hadirnya kelompok yang hidup dari menulis buku, yang mempunyai kesempatan secara publik ditetapkan di masyarakat dimana saluran ekspresi dikontrol oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan personal atas situasi yang sudah ada.
2 Oleh karenanya (seperti yang dinyatakan oleh pengulas buku “Road to Serfdom”, Profesor J. Schumpeter), bukan sebuah “sopan santun untuk berbuat salah”, tetapi keyakinan yang mendalam akan sebuah pentingnya hal ini, yang membuat saya, dalam kalimat Schumpeter, “hampir tidak ada sifat melawan apapun di luar kesalahan intelektual”.
3 Terkait dengan hal ini adalah fenomena lain yang tidak asing: tidak ada alasan yang kuat untuk percaya bahwa sesungguhnya kemampuan kelompok intelektual kelas atas untuk pekerjaan yang orisinil semakin jarring diantara Gentiles (keturunan non-Yahudi) dan Jews (keturunanYahudi). Namun sedikit yang meragukan bahwa kalangan Yahudi hampir dimana-mana merupakan kelompok intelektual dalam jumlah yang besar dan tidak proporsional dalam pikiran kita, yaitu dari urutan para penerjemah ide-ide yang profesional. Ini mungkin karunia special mereka dan jelas merupakan kesempatan utama mereka di negara-negara dimana prasangka buruk menghambat kiprah mereka di bidang-bidang lain. Hal ini mungkin lebih disebabkan karena mereka terdiri dari kaum intelektual dalam jumlah yang sangat besar dibandingkan alasan lain, sehingga mereka lebih menerima gagasan sosialis daripada orang-orang dari keturunan lain.
4 Contoh paling mencolok dari ketidaksetujuan atas seorang liberal yang menyimpang dan bekerja sebagai “sosialis” telah dijelaskan dalam beberapa komentar Henry Simons, “Economic Policy for a Free Society” (1948). Seseorang mungkin tidak setuju  dengan hasil kerja ini dan seseorang lainnya mungkin berpendapat bahwa beberapa usulan yang dibuat bertentangan dengan masyarakat bebas, namun  menyadari  bahwa ini adalah salah satu kontribusi terpenting yang telah dibuat dalam beberapa waktu ini terhadap masalah kita, dan kerja semacam inilah yang perlu didiskusikan mulai dari isu fundamental. Bahkan mereka yang secara terbuka tidak setuju dengan beberapa sarannya, seharusnya menerima saran ini sebagai bentuk kontribusi yang dengan jelas dan berani mengangkat permasalahan utama kita saat ini.
5 Acton, “The History of Freedom, I” (1922).

Friedrich August Von Hayek

"Friedrich August Von Hayek dilahirkan di Wina, Austria pada 8 Mei 1899. Menjadi salah satu filsuf dan ekonom paling berpengaruh di dunia, dengan memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada 1974 atas kontribusinya dalam ilmu ekonomi. Beberapa buku berpengaruhnya Road to Serfdom (1944) dan Constitution of Liberty (1960)."

FaLang translation system by Faboba