Kaum Intelektual dan Sosialisme

Dasar Libertarianisme    | 17 Mar 2015 | Read 17968 times  
Kaum Intelektual dan Sosialisme Sumber ilustrasi: Viktorpersson.com

Indeks Konten:

VII

Seperti yang kita tahu bahwa masyarakat merdeka bisa membawa kehancurannya sendiri, dan ketika kebebasan telah diraih, kemudian dianggap sebagai hal yang diberikan begitu saja, dan menjadi tidak dihargai lagi, dan bahwa pertumbuhan ide-ide yang menjadi esensi dari masyarakat bebas pada akhirnya akan membawa kehancuran pondasi yang selama ini menjadi landasannya. Ada sedikit keraguan bahwa di negara seperti Amerika Serikat cita-cita kebebasan hari ini kurang mempunyai daya tarik nyata bagi generasi muda dibanding negara yang harus belajar bagaimana arti dari kehilangan kebebasan. Di sisi lain, terdapat setiap tanda bahwa di Jerman dan negara lainnya, generasi muda yang tidak pernah mengenal masyarakat bebas, merasa bersemangat seperti halnya generasi muda sosialis ketika muncul seratus tahun lalu. Sebuah fakta yang luar biasa, yang mungkin pernah dialami banyak pengunjung, ketika berbicara dengan mahasiswa Jerman tentang prinsip-prinsip masyarakat liberal mendapatkan hadirin yang lebih responsif dan  bahkan antusias dibandingkan orang-orang di negara-negara Barat. Di Inggris pun, terdapat antusiasme yang muncul di antara generasi muda untuk menggali prinsip liberalisme utuh yang jelas belum ada sejak beberapa tahun yang lalu.

Apakah dengan ini berarti kebebasan lebih dihargai ketika hilang, bahwa seluruh dunia harus melalui fase kegelapan otoritarianisme sosialis sebelum kekuatan kebebasan mengumpulkan kekuatan yang baru? Mungkin saja, tapi saya harap tidak. Tetapi ketika orang-orang dalam jangka panjang menentukan opini publik seringkali tertarik pada cita-cita sosialisme, tren ini akan terus berlanjut. Jika kita ingin menghindari perkembangan seperti itu, kita harus bisa menawarkan suatu program liberal yang baru yang mempunyai imajinasi yang menarik. Kita harus membuat bangunan masyarakat bebas sekali lagi sebagai suatu keberanian intelektual, perbuatan yang berani. Apa yang merupakan kelemahan kita adalah “Utopia Liberal”, program yang bukan merupakan hanya mempertahankan pengertian sebenarnya ataupun bentuk lain dari sosialisme, tetapi sebuah radikalisme liberal sesungguhnya yang tidak terlalu praktis, dan tidak membatasi dirinya pada apa yang muncul hari ini sebagai hal yang mungkin secara politis. Kita butuh para pemimpin intelektual yang  bersedia untuk memperjuangkan hal yang ideal, meskipun kemungkinannya kecil di realisasi awal. Mereka harus menjadi orang-orang komitmen terhadap prinsip-prinsip dasar dan berjuang untuk perwujudan penuh, apapun resikonya. Kompromi praktis harus diserahkan pada para politisi. Perdagangan bebas dan kebebasan untuk meraih kesempatan adalah cita-cita yang masih mungkin membangkitkan imajinasi banyak orang, tetapi hanya “perdagangan bebas yang masuk akal” atau hanya “penghapusan kontrol” yang tidak dihargai secara intelektual atau menginspirasi antusiasime.

Pelajaran utama yang liberal sejati harus pelajari dari kesuksesan kaum sosialis adalah keberanian mereka menjadi utopis sehingga mereka mendapatkan dukungan dari kaum intelektual dan kemudian juga pengaruh terhada opini publik yang tiap hari memungkinkan hal-hal yang selama ini dilihat tidak mungkin. Mereka yang menaruh perhatian khusus pada hal-hal yang terlihat praktis dalam opini yang ada saat ini secara konstan menyadari bahwa bahkan hal ini secara pesat telah menjadi suatu kemustahilan politik, sebagai akibat dari perubahan opini publik yang selama ini tidak pernah pandu, kecuali kita bisa membuat landasan filosofis masyarakat bebas ketika mengangkat isu intelektual, dan mengimplementasikan sebuah tugas dimana menghalangi keaslian dan imajinasi dari pikiran kita yang hidup. Namun, bila kita bisa merebut kembali kepercayaan akan kekuatan gagasan yang menjadi ciri khas liberalisme di sisi terbaiknya, kita tidak kalah dalam pertarungan. Kebangkitan intelektual liberalisme sudah terjadi di beberapa belahan dunia. Akankah kemenangan itu datang segera?

***

Catatan Belakang:

1 Sangat menarik untuk menemukan seberapa jauh pandangan kritis tentang keuntungan masyarakat dari hukum hak cipta, atau beberapa ekspresi keraguan dari kepentingan publik terkait hadirnya kelompok yang hidup dari menulis buku, yang mempunyai kesempatan secara publik ditetapkan di masyarakat dimana saluran ekspresi dikontrol oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan personal atas situasi yang sudah ada.
2 Oleh karenanya (seperti yang dinyatakan oleh pengulas buku “Road to Serfdom”, Profesor J. Schumpeter), bukan sebuah “sopan santun untuk berbuat salah”, tetapi keyakinan yang mendalam akan sebuah pentingnya hal ini, yang membuat saya, dalam kalimat Schumpeter, “hampir tidak ada sifat melawan apapun di luar kesalahan intelektual”.
3 Terkait dengan hal ini adalah fenomena lain yang tidak asing: tidak ada alasan yang kuat untuk percaya bahwa sesungguhnya kemampuan kelompok intelektual kelas atas untuk pekerjaan yang orisinil semakin jarring diantara Gentiles (keturunan non-Yahudi) dan Jews (keturunanYahudi). Namun sedikit yang meragukan bahwa kalangan Yahudi hampir dimana-mana merupakan kelompok intelektual dalam jumlah yang besar dan tidak proporsional dalam pikiran kita, yaitu dari urutan para penerjemah ide-ide yang profesional. Ini mungkin karunia special mereka dan jelas merupakan kesempatan utama mereka di negara-negara dimana prasangka buruk menghambat kiprah mereka di bidang-bidang lain. Hal ini mungkin lebih disebabkan karena mereka terdiri dari kaum intelektual dalam jumlah yang sangat besar dibandingkan alasan lain, sehingga mereka lebih menerima gagasan sosialis daripada orang-orang dari keturunan lain.
4 Contoh paling mencolok dari ketidaksetujuan atas seorang liberal yang menyimpang dan bekerja sebagai “sosialis” telah dijelaskan dalam beberapa komentar Henry Simons, “Economic Policy for a Free Society” (1948). Seseorang mungkin tidak setuju  dengan hasil kerja ini dan seseorang lainnya mungkin berpendapat bahwa beberapa usulan yang dibuat bertentangan dengan masyarakat bebas, namun  menyadari  bahwa ini adalah salah satu kontribusi terpenting yang telah dibuat dalam beberapa waktu ini terhadap masalah kita, dan kerja semacam inilah yang perlu didiskusikan mulai dari isu fundamental. Bahkan mereka yang secara terbuka tidak setuju dengan beberapa sarannya, seharusnya menerima saran ini sebagai bentuk kontribusi yang dengan jelas dan berani mengangkat permasalahan utama kita saat ini.
5 Acton, “The History of Freedom, I” (1922).


« Prev Next

Friedrich August Von Hayek

"Friedrich August Von Hayek dilahirkan di Wina, Austria pada 8 Mei 1899. Menjadi salah satu filsuf dan ekonom paling berpengaruh di dunia, dengan memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada 1974 atas kontribusinya dalam ilmu ekonomi. Beberapa buku berpengaruhnya Road to Serfdom (1944) dan Constitution of Liberty (1960)."