Kaum Intelektual dan Sosialisme

Dasar Libertarianisme    | 17 Mar 2015 | Read 18312 times  
Kaum Intelektual dan Sosialisme Sumber ilustrasi: Viktorpersson.com

Indeks Konten:

V

Namun ini bukanlah keseluruhan cerita. Kekuatan yang mempengaruhi perekrutan urutan kaum intelektual beroperasi dengan arah yang sama dan membantu menjelaskan mengapa banyak dari sebagian besar kaum intelektual cenderung kepada sosialisme. Tentu saja di dalam kelompok intelektual pun terdapat perbedaan pendapat selayaknya di kelompok lain, tetapi tampaknya benar bahwa dalam keseluruhan orang-orang yang lebih aktif, pandai, dan kreatif dalam kaum intelektual cenderung kepada sosialisme, sedangkan di sisi lawan kelompok ini seringkali adalah kaliber rendahan. Hal ini benar terjadi di tahap awal penyusupan gagasan sosialis; yang nantinya, walaupun di luar lingkaran intelektual merupakan sebuah tindakan yang berani untuk mengakui kepercayaan sosialis, tekanan opini di kalangan intelektual seringkali secara kuat mempromosikan sosialisme, hal ini membutuhkan kekuatan lebih besar dan independensi bagi seseorang untuk menolaknya daripada mengikuti sesuatu yang dipandang moderen oleh rekan-rekan sejawatnya. Sebagai contoh, tidak ada  orang yang tidak asing dengan jumlah fakultas di universitas (dan dari pandangan ini, mayoritas dosen di universitas harus diklasifikasikan sebagai kaum intelektual dibandingkan para pakar) dapat tetap lupa dengan fakta bahwa dosen yang paling cerdas dan sukses hari ini cenderung sosialis, sedangkan mereka yang mempunyai pandangan politik yang lebih konservatif seringkali adalah orang yang biasa-biasa saja. Ini adalah sebuah faktor penting yang menggiring generasi muda kepada kamp sosialisme.

Kaum sosialis tentu saja hanya akan melihat fakta bahwa lebih banyak orang pintar hari ini adalah sosialis. Tetapi ini masih jauh dari penjelasan yang dibutuhkan. Alasan utama untuk menjawab persoalan ini mungkin karena banyaknya kesempatan yang terbuka untuk dipengaruhi dan dimasuki kekuasaan, di sisi yang lain karir intelektual yang tidak menyenangkan dan tidak memuaskan adalah jalan yang paling menjanjikan untuk pengaruh dan kekuasaan untuk berkontribusi dalam mencapai cita-citanya. Bahkan lebih dari itu: seseorang yang memiliki kemampuan kelas atas cenderung konservatif umumnya akan memilih pekerjaan intelektual (dan mengorbankan imbalan material yang biasanya pilihan ini perlukan) hanya jika dia menikmati kepentingannya sendiri. Konsekuensinya, ia kemungkinan besar akan menjadi seorang pakar daripada seorang intelektual dalam bidang yang khusus, sedangkan bagi mereka yang berpikiran radikal, pencarian intelektual cendurung merupakan cara daripada tujuan, sebuah jalan yang ditempuh oleh sebagian besar intelektual profesional. Dengan demikian, hal ini mungkin menjadi sebuah fakta, bukan banyaknya orang pintar yang secara umum adalah sosialis, tetapi sebagian besar proporsi kaum sosialis yang paling pintar mengabdikan diri mereka untuk pencapaian intelektual yang dalam masyarakat moderen memberikan pengaruh yang menentukan dalam opini publik.3

Pemilihan personil kaum intelektual juga erat kaitannya dengan kepentingan dominan yang mereka perlihatkan dalam gagasan umum dan abstrak. Spekulasi tentang seluruh rekonstruksi masyarakat yang mungkin memberikan seorang intelektual tarif yang lebih besar sesuai dengan keinginannya dibandingkan pertimbangan praktis dan jangka pendek bagi mereka yang menginginkan perbaikan sedikit-demi sedikit terhadap tatanan yang sudah ada. Secara khusus, pemikiran kaum sosialis menarik kaum muda sebagain besar  disebabkan karena karakter visionernya; keberanian untuk menuruti pemikiran Utopis dalam hal ini merupakan sumber kekuatan sosialisme, yang sayangnya tidak dimiliki liberalisme tradisional. Perbedaan ini menguntungkan sosialisme, tidak hanya karena spekulasi tentang prinsip umum sosialisme yang memberikan kesempatan bermain dengan imajinasi mereka yang tak dibebani oleh pengetahuan dan fakta kontemporer, namun juga karena sosialisme memuaskan hasrat yang sah untuk memahami dasar rasional dari semua tatanan sosial dan memberikan cakupan untuk penerapan dorongan konstruktif dimana liberalisme, setelah memenangi kemenangan besarnya, meninggalkan beberapa alirannya. Kaum intelektual, dengan semua wataknya, tidak tertarik pada detil-detil teknis dan kesulitan-kesultas praktis. Apa yang penting untuknya adalah visi yang luas, pemahaman yang terbuka dari tatanan sosial secara keseluruhan sebagaimana dijanjikan oleh sistem terencana.

Fakta bahwa selera kaum intelektual lebih baik dipuaskan oleh spekulasi sosialisme ternyata membuktikan sesuatu yang fatal terhadap tradisi liberal. Saat permintaan dasar dari program-program liberal terlihat memuaskan, para pemikir liberal mengganti detail persoalan dan cenderung mengabaikan perkembangan filsafat umum liberalisme, yang konsekuensinya berhenti menjadi sebuah isu hidup yang memberikan ruang untuk spekulasi umum. Demikianlah selama lebih dari setengah abad hanya kaum sosialis yang telah menawarkan suatu program yang eksplisit dalam hal pembangunan sosial, sebuah gambaran masyarakat di masa depan yang kita idamkan, dan sekumpulan prinsip umum yang menuntun keputusan atas isu-isu tertentu. Walaupun demikian, jika saya benar, cita-cita besar kaum sosialis akan menderita karena kontradiksi yang ada di dalamnya, dan usaha apapun untuk menerapkannya harus membuat sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang mereka harapkan, hal ini tidak mengubah fakta bahwa program sosialisme untuk perubahan adalah satu-satunya program yang secara nyata telah mempengaruhi pembangunan institusi sosial. Hal ini dikarenakan program mereka telah menjadi satu-satunya filsafat umum yang eksplisit untuk kebijakan sosial yang diadakan oleh kalangan luas, satu-satunya sistem atau teori yang mengangkat permasalahan  dan membuka cakrawala baru. Dalam hal ini mereka telah berhasil menginspirasi imajinasi kaum intelektual.

Pembangunan masyarakat yang sebenarnya selama periode ini telah ditentukan, bukan oleh pertarungan gagasan yang berlawanan, namun oleh kontrasnya keadaan yang sudah ada dan cita-cita masyarakat di masa depan yang kaum sosialis sendiri junjung tinggi di depan masyarakat. Sangat jarang program-program yang ditawarkan kelompok sosialis menyediakan alternatif yang orisinil. Kebanyakan dari program tersebut hanyalah berupa kompromi atau separuh kompromi antara tipe sosialisme yang ekstrim dan tatanan yang telah ada. Yang dibutuhkan untuk membuat proposal sosilais nampak beralasan untuk mereka yang berpikiran “bijak”  dan diyakinkan bahwa kebenaran harus terletak di antara kedua ekstrim, adalah untuk seseorang yang ingin mengadvokasi proposal yang lebih ekstrim. Nampaknya hanya ada satu arah dimana kita dapat bergerak, dan pertanyaannya kini adalah seberapa cepat dan seberapa jauh pergerakan harus berlanjut.


Friedrich August Von Hayek

"Friedrich August Von Hayek dilahirkan di Wina, Austria pada 8 Mei 1899. Menjadi salah satu filsuf dan ekonom paling berpengaruh di dunia, dengan memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada 1974 atas kontribusinya dalam ilmu ekonomi. Beberapa buku berpengaruhnya Road to Serfdom (1944) dan Constitution of Liberty (1960)."