Kaum Intelektual dan Sosialisme

Dasar Libertarianisme    | 17 Mar 2015 | Read 17675 times  
Kaum Intelektual dan Sosialisme Sumber ilustrasi: Viktorpersson.com

Indeks Konten:

IV

Pemahaman yang tepat tentang alasan-alasan mengapa kaum intelektual cenderung memihak sosialisme kemudian menjadi sangat penting. Poin pertama disini bagi mereka yang tidak berbagi bias ini seharusnya perlu menghadapi secara terus secara terbuka adalah bahwa hal ini bukanlah karena kepentingan ego ataupun niat jahat, tetapi sebagian besar adalah kejujuran intelektual dan niat baik yang menentukan pandangan seorang intelektual. Faktanya, penting untuk mengakui semua tipe intelektual hari ini lebih banyak orang yang menjadi sosialis karena itikad baik dan kepandaian, dan dalam menganalisis suatu kasus mereka bisa meramu argumen dengan lebih baik dibandingkan kelompok kelas lainnya. Jika kita masih berpikir dia salah, maka kita harus menyadari bahwa mungkin itu adalah kesalahan yang murni yang merujuk pada pemaknaan yang baik dan orang-orang pintar yang menempati posisi-posisi kunci dalam masyarakat kita untuk menyebarkan gagasan, yang bagi kita adalah ancaman bagi peradaban.2 Tidak ada yang lebih penting dari mencoba untuk memahami sumber kesalahan agar kita mampu mengatasinya. Tetapi mereka yang umumnya dipandang sebagai bagian dari tatatanan yang ada dan percaya bahwa menyadari bahaya sosialisme biasanya jauh dari pemahaman tersebut. Mereka cenderung memandang  para intelektual sosialis sebagai kelompok perusak dari kalangan elit tanpa  menghargai pengaruh mereka selama ini, dan dengan sikap mereka selama ini terhadap kelompok tersebut, telah membuat mereka menjauh sebagai oposisi sosialisme sebagai tatanan yang ada.

Jika kita ingin memahami bias aneh ini dalam kelompok besar dari kaum intelektual, kita harus jelas dalam dua poin. Pertama, mereka secara umum menilai semua isu tertentu secara khusus dalam kerangka ide-ide umum tertentu. Kedua, bahwa karakteristik kesalahan di berbagai masa seringkali berasal dari kebenaran yang baru ditemukan, dan mereka salah dalam mengaplikasikan generalisasi baru yang membuktikan nilai mereka dalam bidang lain. Kesimpulan yang harus kita ikuti dengan pertimbangan penuh atas fakta-fakta ini akan menjadi sanggahan yang efektif untuk kesalahan semacam itu, yang akan sering membutuhkan dorongan intelektual lebih jauh, dan seringkali berkembang ke arah yang sangat abstrak dan sangat tidak berhubungan dengan isu praktis.

Hal itu mungkin disebabkan oleh ciri paling khas dari karakteristik kaum intelektual bahwa mereka menilai gagasan-gagasan baru bukan dari pertimbangan tertentu namun dari kesiapan mereka yang kemudian dicocokkan ke dalam konsepsi umum dalam gambaran dunia yang dinilai moderen atau maju. Melalui pengaruhnya dan pilihan pendapatnya tentang isu-isu tertentu lah kekuatan gagasan baik maupun buruk berkembang dalam proporsi keumuman mereka, keabstrakan, dan bahkan ketidakjelasan. Karena ia sedikit memahami isu tertentu, kriterianya harus konsisten dengan dengan pendapatnya yang lain dan kecocokan untuk dikombinasikan dalam sebuah gambaran yang jelas tentang dunia. Namun pilihan dari banyak ide ini telah mempersembahkan di setiap momen penciptaan suatu iklim pendapat, sebuah periode pandangan dominan yang komprehensif (Weltanschauung), yang akan diterima lebih baik oleh beberapa pendapat dan tidak diinginkan oleh pendapat yang lain, dan yang akan membuat seorang intelektual siap menerima satu pendapat dan menolak pendapat yang lainnya tanpa pemahaman yang tepat terkait beberapa isu.

Dalam beberapa hal, seorang intelektual tentu saja lebih dekat kepada filsuf daripada ahli lainnya, dan filsuf adalah semacam pangeran di antara kaum intelektual. Walaupun pengaruh lebih jauhnya dihapus dalam urusan praktis, dan juga lebih sulit dan lama untuk diketahui dibanding intelektual biasa, filsuf mempunyai tipe yang sama bahkan dalam perjalanannya jauh lebih kuat dibandingkan kaum intelektual. Filsuf sama-sama berusaha keras melakukan sintesis, meraih lebih banyak secara metodologis, kemudian menerapkan penilaian pandangan sejauh mereka sesuai dengan sistem umum pemikiran daripada pertimbangan tertentu, melakukan upaya yang sama setelah memiliki pandangan yang konsisten tentang dunia, dimana bagi kedua bentuk adalah dasar utama dalam menerima atau menolak gagasan. Karena alasan ini, filsuf mungkin mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap kaum intelektual dibandingkan kalangan terpelajar atau saintis, bahkan dibandingkan orang-orang lain. Dalam hal ini, filsuf menentukan cara kaum intelektual dalam melakukan fungsi sensor gagasan. Pengaruh populer dari ahli sains mulai menyaingi filsuf hanya ketika dia berhenti menjadi seorang pakar dan mulai berfilosofi tentang proses persoalan – yang biasanya hanya setelah dia masuk menjadi kaum intelektual karena alasan-alasan yang tidak banyak berhubungan dengan kemampuan saintifiknya.

Sebuah “iklim pendapat” dalam periode apapun kemudian secara mendasar merupakan sekumpulan prakonsepsi umum yang dinilai oleh seorang intelektual sebagai  fakta dan pendapat baru yang penting. Prakonsepsi inilah yang utamanya membuat para intelektual melihatnya sebagai aspek paling siginifikan dari pencapaian santifik, sebuah perpindahan ke bidang-bidang lain yang membuatnya terkesan pada pekerjaan para ahli. Seseorang bisa memberikan daftar panjang dari tren dan slogan  intelektual yang dalam 2 atau 3 generasi telah mendominasi cara berpikir kaum intelektual. Entah  itu adalah “pendekatan sejarah” atau teori evolusi, deteminisme abad 19 atau kepercayan akan pengaruh besar lingkungan yang menentang hal yang turun-menurun, teori relativitas atau kepercayaan kekuatan alam bawah sadar – setiap konsepsi umum ini telah sukses menempuh batu ujian dimana banyak inovasi diuji oleh bidang-bidang yang berbeda. Sepertinya semakin gagasan-gagasan ini kurang spesifik atau teliti (atau kurang dipahami dengan baik), maka semakin besar pengaruhnya. Kepercayaan seperti itu sebagai kontrol atau kesadaran organisasi dalam urusan-urusan sosial selalu lebih unggul terhadap hasil proses-proses yang spontan yang tidak digerakkan oleh pikiran manusia, atau tatanan lain yang berdasarkan sebuah perencanaan yang ditentukan terlebih dahulu, pasti lebih baik dari sesuatu yang dibentuk oleh perimbangan kekuatan lawan, yang dalam hal ini secara mendalam mempengaruhi perkembangan politik.

Yang tampaknya hanya berbeda adalah peran kaum intelektual terkait perkembangan gagasan sosial yang tepat. Disinilah kecenderungan yang janggal menunjukkan diri dalam membuat semboyan abstrak, dalam rasionalisasi dan pembawaan kepada ambisi tertentu yang ekstrem, yang muncul dari interaksi normal manusia. Karena demokrasi adalah suatu hal yang baik, makin jauh prinsip demokratis dapat diterapkan, maka demokrasi akan terlihat lebih baik. Gagasan paling kuat dari ide-ide umum yang telah membentuk perkembangan politik akhir-akhir ini adalah cita-cita tentang kesetaraan material. Hal ini, secara karakteristik bukanlah salah satu kepercayaan moral yang tumbuh secara spontan, dan pertama kali diterapkan dalam hubungan antara individu-individu tertentu, namun hal ini sebenarnya disusun dari konstruksi pemikiran kaum intelektual yang dilihat dalam abstrak dan arti atau aplikasi yang meragukan dalam contoh-contoh tertentu. Namun, hal ini sudah bekerja dengan kuat sebagai sebuah prinsip dari pemilihan cara-cara alternatif kebijakan sosial, dengan menggunakan tekanan yang terus-menerus melalui pengaturan hubungan sosial yang tidak seorangpun bayangkan dengan jelas. Bahwa suatu pengukuran khusus cenderung membawa ketimpangan yang lebih besar telah menjadi rekomendasi yang begitu kuat, dimana hal kecil lain akan dipertimbangkan. Karena tiap isu tertentu hal ini menjadi sebuah aspek yang dilihat sebagai kepercayaan yang pasti oleh mereka yang menggiring opini, kesetaraan telah menentukan perubahan sosial bahkan lebih kuat dari yang diniatkan oleh penganjurnya.

Namun, tidak hanya cita-cita moral yang ideal dalam hal ini. Kadang-kadang kelakuan kaum intelektual terhadap masalah tatanan sosial bisa jadi merupakan konsekuensi dari kemajuan dalam pengetahuan saintifik, dan dalam contoh-contoh inilah pandangan keliru mereka atas isu-isu tertentu yang dalam waktu tertentu terlihat sebagai prestasi saintifik terkini yang bergengsi. Hal ini bukanlah dalam dirinya sendiri mengejutkan bahwa posisi asli dari kemajuan pengetahuan seharusnya dalam cara ini menjadi kesempatan untuk sebuah sumber dari kekeliruan yang baru. Jika tidak ada kesimpulan salah yang mengikuti generalisasi yang baru, maka kesimpulan ini akan menjadi kebenaran akhir yang tidak memerlukan revisi. Walaupun dalam peraturan, sebuah bentuk baru generalisasi hanya akan membagikan konsekuensi yang keliru yang dapat digambarkan dari hal tersebut dengan pandangan-pandangan yang telah ditentukan sebelumnya, dan dengan demikian tidak mengarah pada kekeliruan yang baru, kemungkinannya adalah sebuah teori baru, nilainya ditunjukkan oleh kesimpulan-kesimpulan baru yang valid terhadap apa yang dituju, akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan baru lainnya untuk kemajuan lebih jauh yang akan memperlihatkan hal-hal yang selama ini keliru. Tetapi dalam sebuah contoh, kepercayaan yang salah akan muncul dengan semua gengsi dari pengetahuan saintifik terbaru yang mendukung kepercayaan tersebut. Walaupun dalam bidang tertentu dimana kepercayaan ini menerapkan semua bukti saintifik yang mungkin menentangnya, bagaimanapun juga hal ini akan, dipilih di depan pengadilan para intelektual dan dan dalam ide-ide yang mengatur cara mereka berpikir, sebagai pandangan yang terbaik sesuai dengan konteks waktu saat itu “pengadilan” intelektual dan semua bayangan gagasan yang menguasai cara berpikir mereka, kepercayaan tersebut diseleksi sebagai pendapat yang terbak sesuai konteks semangat waktu itu. Para spesialis yang akan mencapai popularitas publik dan mempunyai pengaruh luas tidak akan menjadi mereka yang meraih pengakuan dari rekan-rekan sejawatnya, tetapi akan lebih sering menjadi orang-orang yang para pakar lain sebut sebagai orang yang sinting, amatir, atau bahkan penipu, namun di mata masyarakat umum mereka terkenal sebagai penganjur terbaik di bidang mereka.

Dalam hal tertentu, bisa ada sedikit keraguan bahwa cara yang selama seratus tahun terakhir dipelajari oleh manusia untuk mengatur kekuatan-kekuatan alam telah berkontribusi besar dalam pembentukan kepercayaan bahwa sebuah kontrol serupa terhadap kekuatan-kekuatan di masyarakat akan membawa perbaikan dalam kondisi umat manusia. Bahwa dengan penerapan teknik-teknik rekayasa, arah dari semua bentuk kegiatan manusia yang sesuai dengan perencanaan jelas yang tunggal seharusnya membuktikan keberhasilannya di masyarakat dengan jumlah tugas teknis rekayasa yang sangat banyak, hal itu terlalu masuk akal untuk suatu kesimpulan untuk tidak membujuk sebagian besar mereka yang berbesar hati karena capaian ilmu alam. Ini tentu saja harus diakui oleh keduanya bahwa hal tersebut akan membutuhkan argumen yang kuat untuk melawan pra-asumsi yang kuat yang mendukung kesimpulan tersebut dan argumen-argumen ini belum dinyatakan dengan memadai. Belum cukup untuk menunjukkan kekurangan dari usulan-usulan tertentu berdasarkan penalaran semacam ini. Suatu argumen tidak akan kehilangan kekuatannya sampai diperlihatkan secara meyakinkan tentang apa yang telah dibuktikan secara nyata telah berhasil memproduksi kemajuan dalam banyak bidang juga memiliki keterbatasan dalam hal kemanfaatan dan bisa secara positif berbahaya jika diperpanjang di luar batasannya. Ini adalah tugas yang belum dilakukan secara memuaskan dan yang harus segera dicapai sebelum kehendak tertentu terhadap sosialisme dapat dihapus.

Ini hanyalah satu dari banyak contoh dimana kemajuan intelektual yang lebih jauh dibutuhkan bila ide berbahaya saat ini ingin dibantah dan dimana wacana yang kita lalui pada akhirnya akan ditentukan oleh diskusi isu-isu yang sangat abstrak. Tidak cukup bagi orang yang berhubungan dengan urusan sehari-hari untuk merasa yakin, berdasarkan pengetahuan mendalamnya di bidang tertentu, bahwa teori-teori sosialisme yang berasal dari banyak ide-ide umum akan terbukti sulit dilaksanakan. Dia mungkin saja sangat benar, tetapi resistensinya akan kewalahan dan semua konsekuensi yang disesalkan yang diprediksikan akan mengikuti bila tidak didukung dengan bantahan yang efektif dari gagasan fundamental (idées mères). Selama para intelektual mendapatkan argumen umum yang lebih baik, maka sebagian besar tujuan valid dari isu-isu spesifik akan diremehkan.


Friedrich August Von Hayek

"Friedrich August Von Hayek dilahirkan di Wina, Austria pada 8 Mei 1899. Menjadi salah satu filsuf dan ekonom paling berpengaruh di dunia, dengan memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada 1974 atas kontribusinya dalam ilmu ekonomi. Beberapa buku berpengaruhnya Road to Serfdom (1944) dan Constitution of Liberty (1960)."