Kaum Intelektual dan Sosialisme

Dasar Libertarianisme    | 17 Mar 2015 | Read 17436 times  
Kaum Intelektual dan Sosialisme Sumber ilustrasi: Viktorpersson.com

Indeks Konten:

 

II

Istilah “intelektual” itu sendiri tidak merujuk pada gambaran akurat dari kelompok luas yang kita maksud, dan faktanya kita tidak mempunyai nama yang lebih baik yang bisa menggambarkan apa yang kita maksud sebagai “penjual gagasan bekas” (secondhand dealers in ideas). Namun itu bukan satu-satunya alasan mengapa kekuatan kaum intelektual tidak dipahami secara lebih baik. Bahkan orang-orang yang menggunakan kata “intelektual” utamanya sebagai istilah yang salah, namun cenderung untuk mempertahankan istilah ini dari orang-orang yang jelas-jelas menjalankan fungsi spesifik tersebut. Kata “intelektual” juga bukan sebuah istilah yang menggambarkan pemikir asli atau intelektual atau pakar dalam bidang pemikiran tertentu. Tipikal intelektual tidak perlu memiliki pengetahuan khusus, ataupun tidak perlu pintar secara khusus, untuk berperan sebagai perantara dalam menyebarkan gagasan. Kualifikasi kaum intelektual untuk pekerjaannya hanyalah luasnya wawasan yang mereka siap untuk bicarakan dan tulisan, dan posisi atau kebiasaan yang memperkenalkan mereka ke ide-ide baru lebih cepat dibandingkan yang lainnya.

Sangat sulit untuk menyadari betapa beragamnya profesi dan kegiatan terkait masing-masing kelas, sampai ada yang mulai mencatatnya, termasuk bagaimana besarnya cakupan kegiatan meningkat dalam sebuah masyarakat moderen, dan seberapa besar kita bergantung pada profesi-profesi tersebut. Kelas tidak hanya terdiri dari jurnalis, guru, menteri, dosen, penerbit, komentator radio, penulis kisah fiksi, kartunis, dan seniman, yang kesemuanya mungkin memiliki keahlian dalam menyamaikan gagasan, namun biasanya amatir bila substansi pemikiran mereka digugat. Kaum intelektual juga mencakup kalangan profesional dan teknisi, seperti peneliti sains dan dokter, yang melalui  kebiasaan persentuhan mereka dengan kata-kata menjadikan mereka sebagai pembawa gagasan di luar luar lahan mereka sendiri, dan yang karena keahlian dalam bidang keilmuannya didengar dengan hormat dibandingkan kebanyakan orang. Hanya sedikit orang biasa  di masa kini yang belajar tentang berbagai peristiwa atau gagasan, kecuali melalui perantara kaum intelektual ini; dan di luar bidang khusus pekerjaan yang ada, kebanyakan orang biasa mengandalkan sumber informasi dan instruksi dari mereka yang memang bekerja untuk tetap terinformasi dalam membuat opini. Kaum intelektual dalam hal ini, yang memutuskan pandangan dan opini apa yang menjangkau kita, fakta mana yang cukup penting untuk diberitahukan pada kita, dan dalam bentuk dan sisi mana informasi tersebut ditampilkan. Juga apakah kita harus mempelajari hasil kerja para pakar dan pemikir orisinil, utamanya tergantung pada keputusan kaum intelektual.

Orang awam mungkin tidak sepenuhnya sadar sejauh mana reputasi populer para saintis dan kaum terpelajar yang dibuat oleh kaum intelektual dan secara melekat dipengaruhi oleh pandangan-pandangannya terhadap permasalahan yang sedikit terkait dengan mutu dari keberhasilan mereka. Dan ini secara spesifik sangat signifikan untuk masalah kita, bahwa seorang yang terpelajar mungkin bisa menyebutkan beberapa contoh dari bidangnya tentang orang-orang yang secara tidak layak mendapatkan reputasi sebagai saintis besar semata-mata karena mereka menjunjung sesuatu yang dianggap para intelektual sebagai pandangan politik “progresif”; tetapi saya belum menemukan satu contoh pun, dimana reputasi saintifik semu telah diberikan atas alasan politis kepada orang terpelajar yang cenderung konservatif. Penciptaan reputasi oleh kaum intelektual ini penting dalam bidang-bidang dimana hasil dari studi para pakar tidak digunakan oleh para ahli lain, tetapi ditentukan oleh keputusan politik masyarakat luas. Bahkan jarang sekali ada contoh yang dapat menjelaskan hal ini lebih baik daripada perilaku ekonom profesional terkait doktrin-doktrin, seperti seperti sosialisme atau proteksionisme. Mungkin dulu tidak ada kelompok mayoritas dalam kelompok ekonom, yang mengakui sesamanya dari teman sejawatnya, dan cenderung kepada sosialisme (atau, dalam hal lainnya, kepada proteksionisme). Dalam semua kemungkinan, nampaknya bahkan dapat dikatakan bahwa tidak ada kelompok mahasiswa serupa yang mempunyai proporsi anggota yang besar yang memutuskan untuk memusuhi ide sosialisme (atau proteksionisme). Hal ini bertambah signifikan di saat ini, dimana ketertarikan awal pada skema sosialisme untuk reformasi akan mengarahkan seseorang pada bidang ekonomi untuk profesinya. Tetapi hal yang saya sampaikan tadi bukanlah pandangan dominan dari para pakar, tetapi pandangan dari minoritas, yang sebagian besar meragukan profesi mereka sendiri, yang dibawa dan disebarkan oleh kaum intelektual.

Semua pengaruh kuat dari kaum intelektual dalam masyarakat kontemporer masih lebih diperkuat oleh perkembangan akan pentingnya “organisasi”. Hal ini merupakan suatu pendapat umum, namun mungkin juga suatu kepercayaan yang salah bahwa meningkatnya organisasi akan meningkatkan pengaruh para pakar atau spesialis. Ini mungkin benar terkait pakar dalam manajemen dan kepanitiaan, bila memang ada orang-orang seperti itu, namun sangat jarang untuk pakar yang benar-benar menguasai ilmu pengetahuan tertentu. Hal ini membuat kecenderungan seseorang yang mempunyai pengetahuan umum yang bisa menghargai testimoni pakar, dan menentukan siapa diantara para pakar di bidang lain, yang pengaruhnya meningkat. Poin yang penting untuk kita adalah orang terpelajar yang menjadi rektor universitas, saintis yang menangani sebuah institusi atau yayasan, orang terpelajar yang menjadi seorang editor atau promotor aktif sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang tertentu, semua profesi tersebut akan secara cepat berhenti menjadi seorang orang terpelajar atau saintis, dan menjadi kaum intelektual, hanya karena beberapa ide tertentu yang tengah menjadi tren. Jumlah institusi semacam ini yang melahirkan banyak kaum intelektual dan meningkatkan jumlah dan kekuatannya berkembang setiap hari. Hampir semua “pakar” di tipe ini hanya sebatas menguasai teknik mendapatkan pengetahuan, terkait permasalahan yang mereka tangani, sebagai intelektual bukan pakar.

Dalam cara berpikir kita untuk istilah ini, kaum intelektual adalah fenomena baru dalam sejarah. Walaupun tidak ada yang menyesali bahwa pendidikan sudah berhenti hanya pada suatu keistimewaan yang dimiliki kelas pemilik barang dan jasa (propertied class), namun faktanya bahwa kelas-kelas tersebut bukanlah yang kelas yang paling terdidik dan  fakta bahwa banyak orang yang menggantungkan posisi mereka hanya pada pendidikan umum sehingga mereka tidak memiliki pengalaman kerja dalam sistem ekonomi, yang merupakan basis administrasi dari hak kepemilikan, penting untuk memahami peran kaum intelektual. Profesor  Schumpeter yang telah menelurkan bab mencerahkan dalam bukunya “Capitalism, Socialism, and Democracy” ke beberapa aspek dalam masalah kita, telah menekankan dengan etis bahwa ketiadaan tanggung jawab langsung dalam urusan-urusan praktis dan konsekuensi absennya pengetahuan yang orisinil yang membedakan tipikal kaum intelektual dari orang lain yang juga menggunakan kekuatan berbicara dan tulisan. Akan terlalu jauh untuk memeriksa perkembangan kelas ini lebih jauh dan pernyataan keingintahuan yang baru saja disampaikan oleh salah satu teoritisinya, bahwa ini dalah satu-satunya pandangan yang tidak dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi. Salah satu poin penting yang harus dikaji dalam diskusi seperti itu adalah seberapa jauh pertumbuhan kaum intelektual ini didorong oleh peraturan tentang hak cipta.1


Friedrich August Von Hayek

"Friedrich August Von Hayek dilahirkan di Wina, Austria pada 8 Mei 1899. Menjadi salah satu filsuf dan ekonom paling berpengaruh di dunia, dengan memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada 1974 atas kontribusinya dalam ilmu ekonomi. Beberapa buku berpengaruhnya Road to Serfdom (1944) dan Constitution of Liberty (1960)."