Cerita dari Mises Bootcamp Indonesia Angkatan Ketiga

Cerita    | 21 Des 2018 | Read 142 times
Cerita dari Mises Bootcamp Indonesia Angkatan Ketiga

Setelah dua tahun hadir di Indonesia, Mises Bootcamp – workshop 2 hari yang mendiskusikan gagasan ekonomi pasar dan mazhab Austria mendapatkan kesempatan untuk menyelenggarakan angkatan ketiga.

Berlangsung di Jakarta pada 17-18 November 2018, Mises Bootcamp Indonesia (selanjutnya disebut MBCI) hadir dengan melibatkan 15 orang peserta yang antusias mengkaji gagasan kebebasan. Dengan latar belakang peserta beragam dan mewakili dunia akademik yag berbeda-beda, MBCI 3 menjadi tempat diskusi kebebasan yang penting.

Hari pertama diawali materi “Dasar-dasar Mazhab Austria: Prakseologi dan Utilitas Marjinal”. Materi ini menjelaskan mengenai sejarah dan ide utama pemikiran mazhab ekonomi Austria. Asal-usul mazhab ekonomi Austria berasal dari tradisi pemikiran skolastik yang berkembang di Universitas Salamanca, Spanyol, pada abad ke-15. Tradisi pemikiran tersebut kemudian berkembang sampai ke Perancis. Prinsip individualitas bertumpu pada hadir dan berkembang optimalnya kebebasan individu. Individu pada dasarnya memiliki hak untuk kebebasan dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakan yang dipilih oleh dirinya sendiri.

Salah satu tokoh utamanya ialah Richard Cantillon yang menulis esai berjudul Essay on the Nature of Commerce (1730). Cantillon dalam esainya tersebut sudah menganggap ekonomi sebagai sebuah area investigasi ilmu sosial yang mandiri. Ide-ide tersebut kemudian dibawa dan dikembangkan oleh tokoh ekonomi liberal dan pro-pasar seperti Anne Robert Jacques Turgot, Jean Baptiste Say, dan Frederic Bastiat. Melalui tulisan dan sepak terjang para tokoh tersebut, ide-ide yang merupakan bibit bagi pemikiran mazhab ekonomi Austria dapat sampai kepada Carl Menger.

Mazhab Austria juga terkenal dengan studi prakseologi, yaitu usaha untuk memahami bahwa objek kajian yang paling utama dari studi ekonomi. Nilai adalah valuasi subjektif yang diberikan seseorang terhadap means (barang/jasa) secara relatif terhadap kegunaan means tersebut dalam memenuhi tujuan-tujuan yang ingin dicapai orang itu.

Semakin suatu barang/jasa dapat memenuhi tujuan (ends) yang dirasa paling prioritas, maka barang/jasa tersebut akan dinilai tinggi oleh orang yang bersangkutan. Namun sebaliknya: apabila tujuan-tujuan (ends) yang prioritas sudah tercapai, maka barang/jasa yang masih tersedia akan dirasa kurang bernilai. Barang/jasa “sisa” inilah yang disebut sebagai ‘unit marjinal’.

Hari kedua, setelah diawali oleh diskusi kelompok dan presentasi tentang pentingnya menganalisis hambatan dalam berusaha, para peserta juga mendapatkan materi tentang proteksionisme di Indonesia dari Dr. Yose Rizal Damuri, Kepala Departemen Ekonomi dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Yose menjelaskan tentang Proteksionisme di Indonesia dan kawasan yang mengancam kesejahteraan di Indonesia. Dalam beberapa riset yang dilakukan oleh CSIS menunjukkan beberapa peningkatan proteksionisme di Indonesia dan juga di perdagangan global.

Adapun untuk kasus di Indonesia, proteksionisme datang dari populisme masyarakat yang menganggap bahwa investasi asing maupun impor merupakan masalah bagi Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh survei masyarakat yang diadakan oleh CSIS pada tahun 2017. Misalnya melalui pertanyaan survei: “opini terhadap kehadiran tenaga kerja asing di Indonesia” lebih dari 70 persen menjawab kehadiran tenaga kerja asing berbahaya atau sangat berbahaya, dengan rincian 46,3 persen responden menilai kehadiran tenaga kerja asing adalah berbahaya buat tenaga kerja domestic dan 30 persen responden menilai kehadiran tenaga kerja asing sangat berbahaya. Jumlah responden dalam riset CSIS di tahun 2017 sebesar 1,600 responden yang dipilih melalui metode sampel multi-stage random.

Di akhir kegiatan Mises Bootcamp Indonesia 2018, panitia dan peserta telah penyusunan rencana aksi ke depan bagi perkembangan dan jaringan peserta MBCI demi bisa saling berkomunikasi antara pendukung kebebasan.