Bedah Buku “Islam dan Kebebasan” di Semarang

Cerita    | 25 Sep 2018 | Read 298 times
Bedah Buku “Islam dan Kebebasan” di Semarang

Senin, (11/9)  Suara Kebebasan bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Undip mengadakan diskusi buku “Islam dan Kebebasan” di Kedai Sarjana Tembalang. Buku yang diterbitkan Institute of Economic Affairs ini menjadi buku yang didiskusikan yang dihadiri kurang lebih 30 orang.

Suara Kebebasan.org, Rofi Uddarojat mengawali diskusi dengan mengantarkan pada apa yang dimaksud dengan kebebasan.  Kebebasan dalam melakukan tindakan, diantaranya hak kepemilikian, hak berpolitik, hak untuk sejahtera, dan hak-hak individiual lainnya dalam kacamata libertarianisme.

Rofi menampilkan kebebasan sebagai pra syarat dalam penyelenggaran negara. Oleh karena itu, akan menjadi penting dalam penyelenggaraan bernegara. Misalnya, apa yang terjadi di negara-negara skandinavia, seperti Swedia, Norwegia, dan beberapa negara lain misalnya yang mengkerucut pada satu kesimpulan kesejahteraan negara dipengaruhi oleh akomodasi kebebasan dalam penyelenggaraan negara. Hal ini menjadi menarik  jika dibandingkan dengan negara-negara Islam yang notabene belum mengakomodir ‘kebebasan’,  apabala dilihat menggunakan perspektif  Indeks Pembangunan Manusia (HDI/Human Development Index) menunjukkan bahwasannya negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI belum lebih baik dibandingkan negara-negara Skandinavia tersebut.

Diskusi menjadi sangat menarik tatkala seorang mahasiswa bertanya, apakah benar dan relevan bahwa yang dimaksud kebebasan disini adalah kebebasan islam. Karena menurutnya kebebasan yang dimaksud dalam hal ini menurutnya adalah lebih cenderung merujuk kepada kebebasan bagi seorang muslim.

Galang Taufani, Dosen Fakultas Hukum UMS, menimpali pada dasarnya aspek yang menarik dari kebebasan harus dilihat dalam perspektif individu dalam ranah privat yang memiliki kebebasan dan hak-hak. Misalny, hak-hak untuk berpartisi dalam politik merupakan hak setiap manusia sejak lahir. Oleh karena itu, negara mestinya mendorong, mengisi, dan melindungi hak-hak tersebut dan tidak mencoba mengeliminir hak tersebut atas nama agama.

Misalnya, apa yang terjadi dalam kasus di Arab Saudi yang menimpa  Israa al-Ghomgham (29) yang ditangkap bersama suaminya Moussa al-Hashem pada Desember 2015 karena peran mereka dalam mengorganisir protes anti pemerintah d provinsi  Qatif timur setelah Arab Spring.

 Selain itu, muncul pertanyaan dan diskusi yang mendetail apakah islam itu bebas atau kaku. Karena dalam ajaran-ajaran islam sifatnya sangat dogmatik. Oleh karena itu, keniscayaan untuk melaksanakan perintah didalam islam.

Rofi Uddarojat setuju dengan pendapat tersebut, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwasannya ada banyak hal di dalam agama dalam persoalan-persoalan tertentu  masih memerlukan tafsir, artinya perlu diperjelas dan dikontekstualisasikan. Ada beberapa hal dala  agama yang sifatnya tidak perlu di pertanyakan dan tidak perlu dipertanyakan khususya hal-hal yang bersifat ibadah.

Dan begitulah diskusi berjalan dibumbui dengan diskursus yang menyenangkan menjamin kebebasan bagi para individu untuk menyampaikan gagasannya seiring dengan dinginnya malam yang mulai datang.  Di akhir diskusi, Galang menyampaikan bahwa buku ini adalah salah satu alternatif pemikiran yang penting untuk diperbincangkan dalam khazanah keilmuan dengan membawa tesis “Islam untuk masyarakat terbuka”,  maka bukan tidak mungkin akan memberikan manfaat yang luas dalam kehidupan bernegara.

Feri Adi

Feri Adi adalah mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam Semarang