Diskusi dan Peluncuran Buku Islam dan Kebebasan

Cerita    | 27 Mar 2018 | Read 394 times
Diskusi dan Peluncuran Buku Islam dan Kebebasan

Apakah Islam cocok dengan gagasan kebebasan yang menjunjung tinggi kebebasan sipil dan ekonomi?

Bila Anda menanyakan pertanyaan ini kepada penduduk negara-negara Barat, besar kemungkinan Anda akan mendapatkan jawaban tidak. Tidak bisa dipungkiri, bahwa citra Islam di belahan dunia Barat, terutama pasca serangan 11 September 2001 di New York sangatlah buruk. Islam kerap diasosiasikan dengan perilaku ekstrimisme, terorisme, kemunduran, dan keterbelakangan.

Hal tersebut bagi saya bisa dimengerti, terutama bila stigmasisasi tersebut datang dari kalangan yang sama sekali tidak pernah membaca apalagi mempelajari hal apapun yang terkait dengan Islam. Hampir seluruh tindakan terorisme di abad ke 21 yang dipublikasi secara masif oleh media-media besar di Barat, baik yang terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika maupun di dunia muslim, dilakukan oleh kelompok ataupun pihak-pihak yang mengatasnamakan Islam dan melegitimasi tindakan mereka berdasarkan teks-teks Al-Qur'an dan Hadist.

Tidak hanya terorisme, ekstrimisme dan fundamentalisme agama juga merupakan label yang kerap diasosiasikan dengan Islam. Negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim kerap berada di posisi bawah dalam indeks demokrasi, kebebasan ekonomi, dan kebebasan sipil. Pada tahun 2017 misalnya, lembaga think tank Inggris, The Economist Intelligence Unit, mempublikasikan indeks demokrasi negara-negara di dunia, dan 18 dari 25 negara-negara yang menduduki peringkat terbawah merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Lantas, dengan segala fenomena tersebut, kita dihadapkan kembali dengan pertanyaan semula, apakah Islam cocok dengan gagasan kebebasan?

Hal inilah yang ingin dijawab oleh buku Islam dan Kebebasan (yang berjudul asli Islamic Foundations for Free Society) yang diterjemahkan oleh Suara Kebebasan. Buku yang ditulis oleh banyak cendikiawan dan akademisi muslim terkemuka dunia ini, berupaya untuk memaparkan bahwa masyarakat bebas merupakan sesuatu yang memiliki dasar di dalam ajaran dan tradisi agama Islam.

Sebagai peresmian dari terbitnya buku tersebut, Suara Kebebasan mengadakan acara peluncuran dan diskusi buku pada 15 Maret 2017 lalu di Tjikinii Lima Restauran & Cafe. Cendikiawan muslim Indonesia terkemuka, Ulil Abshar Abdalla, menjadi narasumber dalam acara tersebut, dan dimoderatori oleh editor pelaksana Suara Kebebasan, Muhamad Iksan.

Sebagai pembuka, Ulil memberikan apresiasi terhadap buku ini karena penulis dari buku ini merupakan cendikiawan dan akademisi kredibel yang memang menguasai topik yang menjadi bahasannya. Selain itu, Ulil juga memberi apresiasi dimana buku ini sudah mencakup hampir seluruh aspek-aspek penting ajaran dan tradisi Islam yang terkait dengan gagasan kebebasan, diantaranya adalah mengenai kehendak bebas, peran pemerintah dalam masyarakat, kebebasan memilih, konsepsi jihad, keuangan, pasar bebas, dan hak perempuan.

Sehubungan dengan hal tersebut, ada beberapa poin penting yang diangkat oleh Mas Ulil, diantaranya: selama ini konsepsi dalam masyarakat Islam adalah bahwa ajaran Islam bukanlah ajaran agama yang bergerak maju secara progresif, namun dilihat sebagai ajaran yang berhenti pada satu era, dimana ajaran Islam yang diajarkan pada abad ke-7 masehi harus dilanggengkan. Ulil menyampaikan bahwa ajaran Islam harus dipandang secara teleologis dimana yang menjadi fokus seharusnya adalah tujuan akhir dari agama Islam, yakni untuk menciptakan masyarakat yang berbasis perdamaian dan keadilan.

Ulil dalam hal ini juga memberikan kritik atas pemahaman akan kebebasan yang terlalu condong ke negara-negara Barat, dimana diskursus akan kebebasan di negara-negara Barat kerap membenturkan antara individu dan kelompok, baik masyarakat, gereja, maupun negara. Ulil menyampaikan bahwa hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari pengalaman sejarah negara-negara Barat dimana kekuasaan negara dan institusi keagamaan pada masa sebelum era pencerahan sangat besar dan kuat, sehingga ruang sosial bagi individu sangat dibatasi. Oleh karena itu, perlu dikembangkan diskursus mengenai kebebasan yang tidak selalu mempertentangkan antara individu dan kelompok.

Selain itu, terkait dengan hubungan antara Islam dan gagasan kebebasan, ada banyak praktik dan contoh di dalam tradisi Islam yang sejalan dengan hal tersebut, salah satunya adalah praktik otonomi wewenang dan hukum yang terjadi pada masa kekhilafahan Islam di masa lalu, yang dibahas oleh buku ini dan diangkat pula oleh Ulil.

Ulil memberikan contoh bahwa pada masa kekhilafahan Islam, kebebasan beragama merupakan sesuatu yang dijamin dan setiap kelompok keagamaan diberikan hak untuk mengatur kelompoknya masing-masing sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya. Ulil sendiri menekankah bahwa bila dilihat dari kacamata moderen tentu praktik semacam ini tidak lagi sesuai, namun bila dilihat dari kacamata masyarakat pada zaman kekhilafahan, hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat progresif, dan seiring perkembangan zaman harus selalu diupayakan untuk disempurnakan.

Terkait dengan kebebasan ekonomi dan peran pemerintah yang terbatas, Islam juga memiliki ajaran yang sangat sesuai dengan gagasan tersebut. Ulil memberikan contoh mengenai praktik wakaf yang dilakukan pada masa kekhilafahan Islam, dimana aset yang diwakafkan oleh seseorang berlaku sepanjang zaman dan tidak boleh diambil alih. Wakaf dalam hal ini memiliki fungsi penting di dalam dunia Islam pada masa lalu untuk menjaga otonomi social.

Aset yang diwakafkan tersebut lantas digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan sesuai dengan amanah dari pemberi wakaf tersebut. Berbagai lembaga-lembaga akademis, sains, dan pendidikan pada masa kekhilafahan dibiayai dari dana wakaf, salah satunya yang paling dikenal hingga hari ini adalah Universitas Al Ahzar di Mesir yang didirikan dari dana wakaf. Hal tersebut sangat kontras dengan praktik yang dilakukan di negara nasional modern, dimana negara dalam hal ini, mengambil alih dana yang dihimpun dari masyarakat dalam bentuk wakaf sehingga ruang sosial untuk membangun otonomi menjadi berkurang.

Selain itu, aspek lain dalam ajaran Islam yang penting dan sejalan dengan kebebasan ekonomi adalah gagasan mengenai kebebasan melakukan kontrak. Ulil menyampaikan bahwa Islam mengakui kebebasan setiap individu untuk mengadakan kontrak kepada individu lain selama isi dari kontrak tersebut tidak melanggar aturan yang berlaku dalam Islam, serta kewajiban setiap individu untuk menaati setiap kontrak yang sudah disepakati.

Sebagai penutup, Ulil mengatakan bahwa buku tersebut merupakan buku yang sangat penting untuk hadir saat ini, yang tengah dipenuhi oleh berbagai pemahaman keagamaan yang kaku dan mengedepankan sikap dan penafsiran agama yang jauh dari ide-ide dan gagasan kebebasan yang pada dasarnya ada di dalam berbagai sendi-sendi ajaran dan tradisi Islam pada masa lalu. Ia juga berharap agar buku ini kelak dapat dibaca oleh banyak kalangan, baik muslim maupun non-muslim di Indonesia, yang tertarik untuk mempelajari Islam secara lebih jauh, sehingga dapat menghapuskan stigma ekstrimisme yang selama ini kerap diasosiasikan dengan Islam, serta agar umat muslim khususnya di Indonesia dapat membangun masyarakat yang berlandasakan pada nilai-nilai kebebasan.

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]