Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara: Diskusi di Sulawesi Utara

Cerita    | 26 Mar 2018 | Read 158 times
Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara: Diskusi di Sulawesi Utara

Pada tanggal 10 Maret lalu, Suara Kebebasan kembali mengadakan diskusi sambil ngopi, atau biasa disebut Ngopi Sore untuk Kebebasan/ngopsor di Warung Sahabat, Manado. Tapi diskusi kali ini berbeda. Suara Kebebasan membawa hadiah berupa buku gratis dan kebetulan buku itu yang menjadi tema diskusi. Buku yang diterjemahkan Suara Kebebasan itu adalah “Apa Pilihanmu: Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara? Editor Tom G. Palmer. Teman-teman dari berbagai organisasi pun hadir untuk berdiskusi. Kira-kira 60-an orang yang hadir. Luar biasa!

Lebih menarik lagi, pemateri saat itu adalah Amato Assagaf, pendiri Amagi Indonesia dan MCI (Mises Club Indonesia). Adapun moderator dibawakan dengan baik oleh Jaja Citrama, salah satu pegiat di Amagi Indonesia. Diskusi pun berjalan lancar dan sukses  tanpa kurang suatu apapun. Para undangan begitu antusias untuk bertanya sehingga harus dihentikan dan dibatasi oleh moderator.

Pada saat diskusi, pembicara memaparkan beberapa prinsip kebebasan bersama konsekuensi-konsekuensi logisnya, serta melihat posisi individu berhadap-hadapan dengan negara, atau kekuasaan. Dengan menempatkan kedua entitas semacam itu, maka dapat dilihat prinsip filosofis yang terkandung dalam kebebasan beserta tanggung jawab sebagai buah dari tindakannya. Dengan begitu, ide tentang  kebebasan dan tanggung jawab tidak bisa dipisahkan, atau kita tidak bisa berbicara kebebasan tanpa tanggung jawab.

Negara konon punya kemampuan menentukan kebahagiaan orang banyak. Pun mampu memberikan mereka kekayaan dalam hitungan yang relatif cepat. Satu asumsi yang melandasi tindakan ini: negara lebih tahu apa yang kita inginkan dan lebih mampu atas segalanya. Namun, negara membuat kita menjauh dari tanggung jawab, atau merasakan nikmatnya bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Terkait dengan prinsip tanggung jawab, pemantik diskusi memproblematisir dengan pertanyaan yang sangat bagus: bagaimana bisa seorang individu bertanggung jawab jika kebebasannya diambil?

Selama hampir dua puluh menit pemaparan dari pembicara, kemudian moderator mengarahkan diskusi pada sesi tanya-jawab. beberapa penanya muncul dengan pertanyaan unik dan menarik. Salah satu contoh adalah Haz Algebra, intelektual muda Manado. Ia mempersoalkan konsep kebebasan lewat mekanisme neurosains. Menurutnya, jika kita mengkaji dimensi material manusia, sesungguhnya tidak ada yang disebut kebebasan. Itu hanyalah fiksi, fiksi demi menata hidup manusia. Pertanyaan berikutnya muncul dari seorang dosen muda IAIN Manado, Arhanudin. Ia mempersoalkan statusnya sebagai pegawai negeri sispil (PNS) dengan peran negara dalam menentukan nasib orang banyak.

Dua jam lebih diskusi berjalan sembari pembicara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, muncul pula beberapa tanggapan dari peserta diskusi. Tanggapan itu sebagian di arahkan ke pembicara sebagian lagi diarahkan ke penanya lain. Dari situ, diskusi tampak menjadi begitu ramai. Kami pun harus mengakhiri diskusi dengan menyeruput kopi yang disediakan oleh Warung Sahabat sebelum kemudian melakukan foto bersama dengan seluruh peserta diskusi.

Terlepas dari problem-problem yang muncul dari diskusi tersebut, memilih pengendalian diri sejatinya adalah memilih menghilangkan otoritas-otoritas eksternal yang cenderung koersif. Selain itu, ada konsekuensi politik yang paling bermoral jika setiap individu diberikan ruang seluas-luasnya untuk mencari kebahagian mereka masing-masing. Sebab, segala tindakan yang muncul pasti dilandasi tindakan sukarela. Kalau pun belum sempurna, manusia cenderung belajar dan mengingat kesalahan-kesalahan mereka sebelumnya.

Berbeda dengan pengendalian diri, pengendalian negara berarti mengandaikan akan suatu tatanan artifisial yang melibatkan pemaksaan atas individu-individu. Dalam sejarah, negara adalah selalu entitas yang lebih tinggi dari individu dengan muatan legitimasi hukumnya yang tak bisa diganggu-gugat. Namun, datangnya abad pencerahan (Age of Enlightenment) membawa bibit-bibit semangat individualism dan kebebasan demi dan untuk membersihkan otoritas-otoritas koersif (negara-agama); keluar dari watak kekanak-kanakan dan kepengecutan menuju sifat “dewasa”. “Orang-orang dan masyarakat bisa memupuk sifat pengendalian diri secara bertahap dan dengannya menurunkan tingkat kekerasan,” demikian ungkap Steven Pinker, filsuf yang kembali membicarakan pentingnya pencerahan dengan buku terbarunya New Enlightenment.

 

Hendra Manggopa

Hendra Mangopa adalah anggota yang aktif di lingkaran Mises Club Indonesia dan penggiat di Amagi Indonesia, Organisasi Non Pemerintah yang didasarkan pada prinsip Libertarianisme, ingin membawa tradisi pemikiran Mazhab Austria ke dalam perbincangan ekonomi kita saat ini. Upaya Amagi diawali dengan pembukaan lingkaran studi bernama Mises Club Indonesia yang berpusat di Manado, Sulawesi Utara.