Mengapa Penting Mempelajari Mazhab Ekonomi Austria?

Cerita    | 12 Feb 2018 | Read 440 times
Mengapa Penting Mempelajari Mazhab Ekonomi Austria?

Mazhab ekonomi Austria memandang bahwa fenomena ekonomi hanya akan muncul karena adanya tindakan manusia yang diarahkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Hal inilah yang membedakannya dari pemikiran ekonomi arus utama yang memandang bahwa secara alamiah, setiap orang adalah makhluk rasional yang selalu mengejar kepentingannya sendiri dengan cara-cara yang paling efisien dan optimal (homo economicus). Padahal, menurut mazhab ekonomi Austria, seringkali tindakan manusia bersifat tidak rasional, tidak melulu berorientasi pada kepentingannya sendiri, dan sering pula tidak efisien.

Mazhab ekonomi Austria menjadikan “tindakan manusia” (human action) sebagai objek kajian utama, sehingga sama sekali tidak berusaha untuk memahami motif atau psikologi dibalik tindakan manusia. Studi mengenai tindakan manusia inilah yang disebut oleh Ludwig Von Mises sebagai Prakseologi (dari kata Yunani Kuno ‘praxis’ yang berarti ‘tindakan’). Pembahasan mengenai mazhab ekonomi Austria ini hadir dalam acara tahunan Mises Bootcamp Indonesia 2 (MBCI 2) yang diselenggarakan oleh Suara Kebebasan di Jakarta pada 20-21 Januari 2018. Dihadiri oleh dua puluh peserta terpilih dari berbagai daerah, MBCI 2 berusaha membedah tiga subtema utama bersama pembicara yang berkompeten pada bidangnya. 

Demi memahami mazhab ekonomi Austria, tentu penting terlebih dahulu membahas dasar-dasar pemikirannya. Pembicara pertama yang memberikan materi “Dasar-dasar Mazhab Austria: Prakseologi dan Utilitas Marjinal” adalah Djohan Rady, kontributor Suara Kebebasan. Djohan mengawali pembahasannya dengan penjelasan mengenai sejarah dan ide utama pemikiran mazhab ekonomi Austria. Asal-usul mazhab ekonomi Austria berasal dari tradisi pemikiran skolastik yang berkembang di Universitas Salamanca, Spanyol, pada abad ke-15. Tradisi pemikiran tersebut kemudian berkembang sampai ke Perancis.

Salah satu tokoh utamanya ialah Richard Cantillon yang menulis esai berjudul Essay on the Nature of Commerce (1730). Cantillon dalam esainya tersebut sudah menganggap ekonomi sebagai sebuah area investigasi ilmu sosial yang mandiri. Ide-ide tersebut kemudian dibawa dan dikembangkan oleh tokoh ekonomi liberal dan pro-pasar seperti Anne Robert Jacques Turgot, Jean Baptiste Say, dan Frederic Bastiat. Melalui tulisan dan sepak terjang para tokoh tersebut, ide-ide yang merupakan bibit bagi pemikiran mazhab ekonomi Austria dapat sampai kepada Carl Menger. Sekitar 1870-an,

Menger menerbitkan buku yang berjudul Principle of Economics. Buku ini menjadi penting dalam perkembangan ilmu ekonomi karena mencetuskan apa yang kemudian disebut sebagai Revolusi Marjinal, yakni revolusi dalam ilmu ekonomi, dimana pemahaman mengenai teori nilai utilitas marjinal menganulir teori nilai kerja-ongkos-produksi. “Jika dikaitkan dengan konsep ekonomi kekinian, setidaknya, mazhab ekonomi Austria memiliki tiga konsep penting, yakni deregulasi, debirokrasi, dan desentralisasi”, ujar Djohan mengakhiri paparannya.

Pembicara lain, yakni Poltak Hotradero (Kepala Divisi Riset Bursa Efek Indonesia dan Ketua Yayasan Kebebasan Indonesia), menjelaskan tentang “Uang: Perspektif Austrian dan Arus Utama”. Poltak menjelaskan bagaimana pandangan mazhab Austria terhadap uang. Pertama-tama, Poltak menjelaskan sejarah uang; bagaimana awal terbentuknya uang, tokoh dan peradaban mana yang “menemukannya”, hingga seperti apa uang pertama kali digunakan. Poltak kemudian melanjutkan bahasannya pada enam sifat uang (durability, portability, divisibility, uniformity, limited supply, dan acceptability), serta fungsi uang (sebagai alat pertukaran, ukuran nilai, penyimpanan nilai, ladasan pinjaman, unit hitung, dan standar alat pembayaran tertunda).

Pada akhir pembahasan, Poltak memaparkan lima poin utama terkait perspektif uang menurut mazhab Austria, “(1) manusia adalah awal dan akhir setiap kegiatan ekonomi; (2) pasokan uang haruslah stabil; (3) uang sebagai alat transmisi pertukaran; (4) seluruh uang adalah semata penjumlahan seluruh neraca individu yang ada, dan yang paling penting (5) uang bukanlah produk hukum, sejak awal uang adalah fungsi sosial dan bukan semata berdasarkan maklumat negara.” 

Pembicara terakhir ialah Muhamad Iksan, Editor Pelaksana Suara Kebebasan yang menjelaskan tentang “Bagaimana Seharusnya Pemerintah Bekerja?”. Pembahasan diawali dengan membedah pertanyaan “sejauh mana pemerintah bisa dan boleh berperan dalam pasar ekonomi?” Selanjutnya secara intens membahas perbedaan public goods dengan private goods, beserta masalah yang mungkin ditimbulkan keduanya. Diskusi antara pemateri dengan peserta menjadi semakin berkembang. Para peserta pun diminta untuk mempresentasikan dampak yang terlihat maupun tidak terlihat dari intervensi pemerintah terhadap ekonomi pasar dengan contoh-contoh konkrit yang terjadi di masyarakat. “Pasar bisa salah, begitu juga dengan negara. Maka dari itu, ada konsep public choice,” ungkap Iksan.

Diskusi diakhiri dengan tanya jawab seputar tantangan dan peluang mazhab ekonomi Austria sebagai pemikiran alternatif, baik dalam memecah permasalahan ekonomi terkini di tengah masyarakat, maupun sebagai bahan kajian lebih lanjut bagi ilmu ekonomi. Tidak lupa juga peserta diberikan beberapa buku sebagai bahan bacaan tambahan terkait ekonomi pasar, khususnya mazhab ekonomi Austria.

Gufron Syahrial


Gufron Syahrial adalah lulusan Hubungan Internasional, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sangat tertarik dengan kegiatan sosial-ekonomi, pemikiran, sastra, dan organisasi kemasyarakatan. Bisa dihubungi [email protected] dan twitter @GufronSyahrial