Berbincang Kebebasan di Kota Daeng

Cerita    | 12 Des 2017 | Read 185 times
Berbincang Kebebasan di Kota Daeng

Jumat 17 November lalu, mewakili SuaraKebebasan.org, Adinda mendatangi kantor BaKTI di Makassar, Sulawesi Selatan untuk diskusi terjemahan buku “Self-control, State control, You decide” (editor: Tom Palmer). Sekitar 25 orang hadir dalam diskusi tersebut. Acara ini juga menjadi acara perdana SuaraKebebasan.org di Kawasan Timur Indonesia.

Bagi kami, kegiatan ini juga istimewa karena menjadi kali pertama kerja sama kami dengan BaKTI di Makassar dan kami sangat berterima kasih kepada BaKTI atas kerja sama perdana dalam menyuarakan prinsip-prinsip kebebasan di Indonesia. BaKTI sendiri berdiri sejak tahun 2004 untuk menjadi bank pengetahuan dan sumber informasi publik untuk pembangunan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Zusana Gosal, Wakil Direktur BaKTI, membuka acara dan menyambut para peserta yang sebagian besar adalah jaringan Sahabat Bakti yang rutin menghadiri kegiatan Bakti, termasuk diskusi buku. Sebelum acara dimulai, para peserta dihibur dengan sajian musik Indie dari grup “First Moon”. Grup ini diwakili oleh gitarisnya, Armando, yang berduet dengan pustakawan BaKTI, Eka Wulandari.

Adinda memulai diskusi dengan memperkenalkan SuaraKebebasan.org, terutama misinya dalam mempromosikan kebebasan individu dan pasar bebas di Indonesia melalui publikasi online maupun kegiatan offline sejak tahun 2015. Kemudian, ia mulai menjelaskan tentang salah satu kegiatan portal libertarian ini, yaitu penerjemahan buku.

Dalam tiga tahun sejak SuaraKebebasan.org bergerak, portal ini telah menerjemahkan dua buku terbitan Atlas, “Why Liberty” dan buku yang didiskusikan malam itu. Selain itu, kami baru saja menerjemahkan buku terbitan Institute for Economic Affairs (IEA), “Islamic Foundations of a Free Society”. Buku-buku ini tidak hanya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Kami juga menyertai terjemahan buku dengan resensinya.

Misi utamanya adalah dengan menyebarkan pesan soal pentingnya kebebasan dalam buku-buku yang kami terjemahkan melalui diskusi buku di berbagai tempat, baik dengan organisasi mahasiswa, kampus, maupun lsm, termasuk yang kami selenggarakan dengan BaKTI. Diskusi buku tidak hanya membahas tentang contoh-contoh dari negara lain yang dipaparkan di buku yang kami terjemahkan, namun juga lebih jauh, mengaitkan lebih lanjut topik kebebasan individu dan pengendalian diri di konteks Indonesia.

Kasus pelarangan minuman beralkohol misalnya, yang juga terjadi di Indonesia, serta menyebabkan jatuhnya korban akibat minuman oplosan. Atau soal bantuan sosial, yang terkadang bermasalah baik karena masalah administrasi kependudukan maupun status ekonomi penerima bantuan, atau bantuan yang diarahkan berdasarkan kepentingan politik sehingga tidak tepat sasaran dan tidak memberdayakan. Atau soal pesan yang sejalan tentang kebebasan yang bertanggung jawab, dimana pengendalian diri merupakan hal yang penting untuk mencapai hidup yang bahagia dan harmonis.

Diskusi berlanjut dengan sesi tanya jawab yang seru, karena tiap peserta juga ikut berbagi pendapat dan pengalamannya terkait kebebasan dan pengendalian diri. Kata “liberalisme” sendiri dianggap lebih mudah diterima untuk dipromosikan dengan sebutan “hak asasi manusia”. Pengendalian diri juga dilihat sebagai bagian dari pemberdayaan. Selain itu, terlepas dari pentingnya kebebasan individu, peran pemerintah masih dianggap perlu, selain norma-norma sosial dan budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat.

Kami pun harus mengakhiri diskusi seru dan melanjutkan diskusi ringan sambil menikmati makanan kecil yang disediakan BaKTI. Armando dan Eka pun kembali menemani dengan hiburan music Indie sebagai penutup diskusi malam itu. Semoga kita bisa berjumpa lagi di Kota Daeng dalam diskusi tentang kebebasan di kesempatan yang akan datang!

Adinda Muchtar

Adinda Tenriangke Muchtar adalah Editor Utama website Suara Kebebasan.org. Ia mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Sosial (2001) dari Departemen Hubungan Internasional, FISIP Universitas Indonesia. Tahun 2004 Adinda mendapatkan gelar Master of International Studies dari The University of Sydney dengan beasiswa dari Australia Development Scholarships – AusAID. Sejak tahun 2007 Adinda menjabat sebagai Direktur Program sebuah lembaga penelitian kebijakan publik di Jakarta, yang bernama The The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII). Sebelumnya ia bekerja di LSM Amerika Serikat yang bernama National Democratic Institute for International Affairs (NDI) di Indonesia dan fokus di program penguatan legislatif (2002 dan 2004).

Adinda mulai menempuh studi doktoral sejak tahun 2014 di Program Development Studies di Victoria University of Wellington dengan beasiswa dari New Zealand Aid. Fokus penelitian Adinda untuk disertasinya adalah mengenai ‘aid relationships’ dalam proyek pemberdayaan perempuan di Sulawesi Selatan, Indonesia. Di tengah studinya, Adinda berpartisipasi dalam beberapa kegiatan ekstrakurikuler, diantaranya Perhimpunan Pelajar Indonesia di Wellington dan Selandia Baru; Victoria International Leadership Program, dan Asia New Zealand Foundation’s Leadership Network. Adinda juga memiliki pengalaman sebagai fasilitator di beberapa workshop, termasuk workshop Akademi Merdeka, yang diselenggarakan untuk memperkenalkan dan mempromosikan ide-ide tentang kebebasan kepada kaum muda di Indonesia. Adinda juga dipercaya sebagai salah satu anggota Dewan Penasihat Youth Freedom Network, organisasi pemuda pro-kebebasan pertama di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2013.

Adinda bisa dihubungi melalui email [email protected] dan twitter @tenriangke