Kebebasan Ekonomi dan Kontribusi Asia Bagi Kemajuan Dunia

Cerita    | 25 Sep 2017 | Read 107 times
Kebebasan Ekonomi dan Kontribusi Asia Bagi Kemajuan Dunia

Saya beruntung mendapat kesempatan mewakili Suara Kebebasan dalam pertemuan Strategik lembaga pemikir (think tank) se-Asia di Kuala Lumpur, Malaysia seminggu yang lalu (11-12 September). Acara ini didukung oleh yayasan politik dari Jerman, Friedrich Naumann Foundation for Freedom dengan tuan rumah IDEAS Malaysia. Secara rutin setiap tahun, sejak tahun 1998 sampai tahun lalu, konferensi think tank berorientasi kepada pasar bebas (free market) dan ekonomi pasar selalu diadakan.

Konferensi yang acara utamanya ialah peluncuran dan diseminasi Laporan Indeks Kebebasan Ekonomi (Economic Freedom of the World) dari Fraser Institute Kanada, dengan beragama sesi diskusi di dalamnya. Dengan tema yang berbeda-beda pula setiap tahunnya. Perihal indeks kebebasan ekonomi, apa dan mengapa perlu suatu indeks, Sindikasi Arianto Patunru “Kebebasan, Persaingan, dan Indeks Kebebasan Ekonomi” dapat dibaca.

Sepanjang saya hadir dalam konferensi tahunan Economic Freedom Network (EFN) ini, sudah ketiga kali bergabung pada tahun 2010 di Indonesia, lalu 2014 di Hongkong – SAR, dan 2017 di Malaysia. Pertemuan kali ini berbeda karena pertemuan tahun ini dihadiri peserta terbatas hanya 20 orang sehingga diskusi menjadi lebih intensif dan (mungkin) paling dinamis dari yang pernah saya alami. Pertanyaan dari peserta, klarifikasi dari penyaji dan diskusi diantara audiens sangat menarik diikuti.

Selain itu, dari sisi timing EFN menjadi krusial di mana hampir dua puluh tahun lalu tidak banyak jaringan think tank liberal yang bekerja di kawasan Asia ini. Dari sharing Bienvenido “Nonoy” Oplas Jr, pra-EFN yang didukung FNF serta donor lainnya- hanya Atlas Research Economic Foundation dari Amerika Serikat serta International Policy Network (IPN) UK- yang pernah mengadakan acara bersama think tank Asia. Namun sekarang, sudah muncul komplementari EFN seperti Asia Liberty Forum (ALF) dari Atlas Network. Cerita Lola Amelia Face of Freedom dan Tantangan Mendatang” menceritakan pengalamannya hadir dalam ALF

Senyatanya kawasan Asia secara relatif lebih beruntung karena kebebasan ekonomi semakin maju berkembang pesat. Namun, ancaman terhadap kebebasan ekonomi juga tidak pernah surut melalui populisme dan pemerintahan yang cenderung ke arah otoriter di berbagai kawasan Asia.  Dengan demikian, perlu kiranya para penggiat kebebasan merumuskan kembali strategi dan cara memperluas kemajuan peradaban material serta kehormatan manusia melalui jalan pertukaran sukarela dan kerjasama antar masyarakat di pasar global.

Secara garis besarnya, EFN Asia telah berlangsung rutin sejak tahun 1998, dengan pengecualian tahun 2001 absen akibat serangan teroris 9 September maka tidak ada pertemuan.  Indonesia selaku tuan rumah pada tahun 2002 di Kuta Bali, kemudian tahun 2010 dengan topik Migration and the Wealth of Nation. Boleh dikatakan sebagai Negara sebesar Indonesia, kita cukup jarang mengadakan kegiatan semacam EFN Asia ini pertanda kiprah kita masih ditunggu oleh rekan-rekan Negara lainnya.

Pertemuan International Policy Network – UK

Padahal, kue perekonomian Indonesia secara khusus maupun kontribusi ekonomi Asia Tenggara bagi pertumbuhan ekonomi dunia sudah tumbuh lebih dari 3 kali lipat sejak 1998 dengan indikator Purchasing Power Parity tahun 2016. Sementara, India yang memimpin kawasan Asia Selatan dan China yang mendorong kawasan Asia Timur telah berkembang kue ekonomi masing-masing lebih dari 4 kali lipat. Rekan Nonoy Oplas menyajikan tabel di bawah ini guna mendukung argumen di atas:

 

PPP values

Current values

Country

1998

2016

1998

2016

Indonesia

872.4

   3,032.1

115.3

932.4

Thailand

404.3

   1,164.9

113.7

406.9

Malaysia

250.9

863.3

77.5

296.4

Philippines

233.6

805.2

72.2

304.7

Vietnam

137.5

595.5

27.2

201.3

Singapore

137.6

492.6

85.7

297.0

Myanmar

42.4

304.7

7.4

66.3

Cambodia

10.5

59.0

3.1

19.4

Laos

8.4

40.9

1.3

13.8

Brunei

19.7

32.5

4.5

11.2

TOTAL

   2,117.3

   7,390.8

     508.0

   2,549.4

India

1,774.3

   8,662.4

428.8

   2,256.4

Pakistan

328.2

988.2

81.5

284.2

Bangladesh

155.9

628.4

51.9

227.9

Sri Lanka

71.7

260.6

18.4

82.6

Nepal

25.0

71.5

5.3

21.2

Bhutan

1.3

6.5

0.4

2.1

TOTAL

   2,356.3

 10,617.6

     586.2

   2,874.4

China

   3,053.7

 21,291.8

  1,032.6

 11,218.3

Japan

   3,198.9

   5,237.8

  4,034.4

   4,938.6

Korea

     614.3

   1,934.0

     374.1

   1,411.2

Taiwan

407.8

1132.1

280.4

528.6

Hong Kong

156.8

429.7

168.9

320.7

Mongolia

8.3

37.0

1.3

11.0

TOTAL

   7,439.9

 30,062.4

  5,891.8

 18,428.4

 

Berita positif ini juga perlu dipahami dengan semakin berkembangnya ekonomi kawasan maka kompleksitas masalah juga bertambah banyak. Hambatan misalnya pertumbuhan penduduk yang memerlukan dukungan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, sehingga demografi menjadi bonus pembangunan bukan justru beban masa depan. Hambatan regulasi yang kerap tidak adaptif terhadap kemajuan teknologi dan perdagangan global.

Dengan semakin terbukanya, ekonomi kawasan Asia yang bisa dipantau melalui perkembangan indeks kebebasan ekomomi masing-masing Negara yang ada didalamnya maka apakah semua halangan perdagangan otomatis menjadi menghilang? Senyatanya hambatan tarif bagi perdagangan lintas batas menuju nol persen. Artinya upaya liberalisasi melalui kebijakan unilateral masing-masing Negara sebagai antisipasi blok perdagangan regional telah membuahkan hasil. Sayangnya, hambatan non-tarif justru semakin bertambah dari waktu ke waktu.

Dengan kesadaran akan tantangan serupa inilah, maka EFN Asia perlu memikirkan dan memutuskan dengan seksama dan penuh antisipasi bagaimana sebaiknya jejaring lembaga pemikir ekonomi pasar bekerja ke depannya. Nampaknya jalan yang akan ditempuh ialah reorganisasi EFN menjadi tiga wilayah kerja utama (Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara/ASEAN).

Harapannya ketiga wilayah bisa lebih menfokuskan diri kepada tantangan dan peluang di masing-masing wilayahnya, sambil tetap menjadi komunikasi dan lebih aktif dalam inisiatif yang mendukung penyebaran kebebasan ekonomi dan politik. Sehingga kontribusi Asia bagi kemajuan dunia melalui perdagangan bebas antar kawasan dan kerjasama antara bangsa yang saling menguntungkan memberikan percepatan dunia yang lebih sejahtera dan bermartabat.

Muhamad Iksan

Muhamad Iksan (Iksan) adalah Pendiri dan Presiden Youth Freedom Network (YFN), Indonesia. YFN berulang tahun pertama pada 28 Oktober 2010, bertempatan dengan hari Sumpah Pemuda. Iksan, juga berprofesi sebagai seorang dosen dan Peneliti Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Jakarta. Alumni Universitas Indonesia dan Paramadina Graduate School ini telah menulis buku dan berbagai artikel menyangkut isu Kebijakan Publik. (public policy). Sebelum bergabung dengan Paramadina sejak 2012, Iksan berkarier sebagai pialang saham di perusahaan Sekuritas BUMN. Ia memiliki passion untuk mempromosikan gagasan ekonomi pasar, penguatan masyarakat sipil, serta tata kelola yang baik dalam meningkatkan kualitas kebijakan publik di Indonesia.

Iksan bisa dihubungi melalui email [email protected] dan twitter @mh_ikhsan