Dari Lokakarya, Lahirlah For The Freiheit

Cerita    | 24 Agu 2017 | Read 151 times
Dari Lokakarya, Lahirlah For The Freiheit

Pada tanggal 10 hingga 13 Agustus 2017, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lokakarya dengan tema ekonomi pasar dan peran pemerintah. Acara tersebut diselenggarakan oleh Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF) Indonesia dan diikuti oleh dua puluh dua mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa.

Acara yang diselenggarakan di Hotel Golden Tulip Essential Tangerang ini memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan bagi para pesertanya. Format baru dari acara ini memberi kesan luar biasa. Ini terlihat pada sesi evaluasi acara, yang mana peserta memberikan penilaian tingkat kepuasan yang hampir sempurna atas kegiatan ini.

Pada lokakarya sebelumnya, acara ini hanya diselenggarakan 3 hari 2 malam. Namun, pada event terakhir di tahun 2017, acara diselenggarakan 4 hari 3 malam. Karena pada hari kedua, kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan kunjungan lapangan di perusahaan-perusahaan yang memiliki tekanan dan tantangan dari regulasi pemerintah. Salah satunya adalah Diageo, yang hingga kini survive dengan situasi sulit yang membatasi kesinambungan usahanya.

Sejak awal acara ini dimulai, banyak sekali hal yang menarik yang didapatkan. Contohnya saja di hari pertama, peserta mendapatkan pembicara dari Multi Bintang Indonesia (MBI), yaitu Bambang Britono, selaku Direktur Hubungan Korporasi di perusahaan tersebut. Bapak Bambang memantik semangat peserta untuk terus menggali informasi seputar MBI. Apalagi, usaha yang ditanganinya terkait dengan produk yang sering menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat awam. Tidak hanya itu, acap kali pemerintah dengan regulasinya menjadi penghalang dari jalannya hukum pasar yang ideal

Pada hari selanjutnya, kami melakukan kunjungan ke Diageo dan Code Margonda. Dendy Borman menjadi narasumer dari pertemuan di kantor Diageo. Dia menjelaskan tentang perjalanan dari awal berdirinya Diageo. Selanjutnya pembahasan dari pertemuan tersebut adalah tentang regulasi dan persaingan pasar, yang merupakan inti dari pertemuan ini.

Banyak sekali manfaat dari diskusi tersebut yang kami dapatkan. Peserta juga bisa mengetahui, dampak buruk dari pemerintah jika memberikan atau mengeluarkan regulasi tanpa pertimbangan. Seperti adanya Peraturan Menteri Perdagangan No 20 Tahun 2014 , yang berakibat pada penurunan pendapatan hingga konsumen yang mencari jalan alternatif dengan mengkonsumsi minuman yang tidak standar pangan, misalnya minuman alkohol oplosan.

Sedangkan di Code Margonda, kita bisa bertemu langsung dengan salah satu co-foundernya, yaitu Didi Diarsa. Sedikit lebih ringan dari kunjungan sebelumya, pertemuan ini hanya membahas tentang kesempatan berkompetisi dalam dunia global. Karena Code Margonda sendiri adalah perkumpulan dari para program developer di Depok. Code Marconda sendiri telah melahirkan banyak developer sukses di Indonesia.

Yang menjadi magnet dalam acara ini adalah hadirnya Nurkholisoh Ibnu Aman. Ekonom dari Bank Indonesia ini mengisi acara pada hari ketiga. Ia menjelaskan secara jelas dan menarik bagaimana ekonomi pasar sejatinya di dunia. Lulusan Universitas Chicago ini bisa membuka mindset tentang kebebasan. “Saya di sini memiliki sebuah tugas untuk mencerahkan dan meyakinkan kepada kalian yang masih setengah-setengah dalam menerima kebebasan. Jika saya keluar dari sini namun masih belum ada yang tercerahkan, maka saya gagal”, ucapnya di awal pembukaan lokakarya

Mantan co-founder Milton Friedman Club di Chicago ini meyakinkan semua peserta dengan teori, kenyataan, serta data. Bahwa keterbukaan membawa kita pada pertumbuhan untuk mencapai kesejahteraan. Tidak baik bagi kita selalu bergantung pada pemerintah, karena yang mengetahui kebutuhan pribadi adalah diri kita sendiri. Sebagai bukti, Nurkholisoh memutarkan video pendek yang menceritakan kehidupan di Kuba.

Masyarakat Kuba tidak bisa menentukam kesejahteraan secara bebas, karena semua tarif harga dan kehidupan telah diatur oleh pemerintah. Maka  tidak heran, sopir taksi gajinya lebih tinggi daripada dokter. Alhasil dari pertemuan ini, Nurkholisoh bisa dikatakan sukses dalam mencerahkan dan memantapkan para peserta yang masih ragu pada prinsip kebebasan.

Sesi selanjutnya, Rofi Uddarojat yang pernah menjadi peneliti kebijakan publik di Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), memberi materi seputar kebijakan publik. Rofi juga berbagi pengalamannya yang luas pada peserta lokakarya dengan membantu mendapatkan  kerangka berpikir yang sesuai dalam mengidentifikasi masalah hingga menyelesaikannya.

Tidak terasa kegiatan yang menarik dan bermanfaat ini harus diakhiri. Setelah melalui bermacam kegiatan dari lokakarya, kunjungan hingga diskusi, acara ditutup dengan presentasi kelompok dan evaluasi. Sebelumnya setiap peserta dibagi dalam 5 kelompok dan tiap kelompok mempresentasikan hasil dari kunjungan ke lapangan.

Dari 5 kelompok yang ada, 2 di antaranya membawakan hasil dari kunjungannya ke Code Margonda, sedangkan sisanya membahas Diageo. Setiap kelompok memiliki rekomendasi untuk permasalahan yang dihadapi perusahaan terkait. Salah satunya rekomendasi yang diajukan adalah edukasi sejak dini tentang minuman beralkohol.

Setelah acara ditutup, Liaison Officer (LO) dari kegiatan ini, Sakti Herliansyah, memandu agenda dengan usulan pembentukan angkatan dari acara lokakarya. Alhasil, setelah berdiskusi lama, nama For the Freiheit (FTF ) menjadi kesepakatan bersama sebagai nama angkatan peserta kegiatan ini.  Teddy, mahasiswa Jurusan Filsafat Universitas Indonesia, menjadi ketua angkatan pertama ini. Harapannya, koneksi serta silaturahmi dari peserta angkatan pertama lokakarya ini akan selalu terjaga, serta akan melahirkan FTF ke 2, 3, dan seterusnya.

Wildan Rofii

Wildan Rofii adalah mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jember. Penulis juga aktif dalam Lembaga Ilmiah Mahasiswa Sospol. Memiliki ketertarikan pada Politik, Filsafat, dan Kopi. Wildan bisa dihubungi melalui : [email protected]