Pengalaman Mengikuti IHS Summer Seminar

Cerita    | 14 Jul 2017 | Read 155 times
Pengalaman Mengikuti IHS Summer Seminar

Pada tanggal 17 hingga 23 Juni 2017 kemarin, saya mendapat kesempatan besar untuk mengikuti seminar musim panas mahasiswa (summer seminar) yang diselenggarakan oleh organisasi libertarian Institute for Humane Studies (IHS) di kampus Bryn Mawr, Pennsylvania, Amerika Serikat. Saya sungguh beruntung karena mendapatkan nominasi dari salah satu IHS untuk mengikuti acara ini.

Seminar musim panas yang diselenggarakan oleh IHS ini merupakan event tahunan yang sudah dijalakan selama 40 tahun, dan IHS sendiri didirikan pada 56 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1961, oleh ekonom asal Universitas Cornell, F. A. Harper. Berfokus pada dunia pendidikan, selain menyeleggarakan seminar mahasiswa tahunan setiap musim panas di Amerika Serikat, IHS juga memiliki banyak program lain, diantaranya adalah program beasiswa untuk penelitian bagi para akademisi.

Seminar musim panas IHS tahun ini bertajuk “The Evolution of Liberty” atau evolusi mengenai gagasan-gagasan kebebasan. Dalam acara ini, saya dan kawan-kawan mahasiswa belajar dan juga mendiskusikan mengenai banyak hal, diantaranya sejarah dan konsep-konsep dasar gagasan liberalisme klasik dan libertarianisme, serta pengaplikasikan dari konsep-konsep tersebut di dunia nyata, yang meliputi berbagai disiplin ilmu, diantaranya filsafat, sejarah, ekonomi, hukum, dan ilmu politik.

Ada 5 pembicara yang akan memberikan kuliah dalam seminar tahun ini, yakni Dr. Antony Davies, Dr. Robert McDonald, Clark Neily, Dr. Audrey Redford, dan Dr. James Stacey Taylor. Dr. Davies merupakan seorang ekonom dari Universitas Duquesne di Pennsylvania, yang telah menulis untuk berbagai media ternama, diantaranya Wall Street Journal dan Los Angeles Times. Dr. McDonald merupakan dosen sejarah di Akademi Militer West Point. Clark Neily merupakan seorang profesor hukum dari Universitas Texas dan saat ini menjabat sebagai wakil presiden dari think tank libertarian, Cato Institute. Dr. Redford merupakan ekonom dari Universitas Western Carolina, dan Dr. Taylor merupakan filsuf yang mengajar di College if New Jersey.

Saya pribadi sangat menyukai format dari seminar tersebut. Dalam 1 hari acara akan dibagi menjado 4 sesi, dan setiap sesi berlangsung selama 2 jam. Dalam setiap sesi, pembicara akan diberikan waktu 1 jam untuk memberikan materi, dan setelah itu peserta akan dibagi menjadi 5 grup diskusi untuk mendiskusikan materi yang telah diberikan oleh pembicara. Sejujurnya waktu diskusi inilah merupakan momen yang paling saya sukai karena pada saat ini kami semua dapat berdiskusi, berdebat, dan saling melempar argumen satu sama lain, dan meskipun seminar ini merupakan seminar libertarian, tidak semua peserta memiliki pandangan filosofi dan politik yang sama. Tidak sedikit dari para peserta yang berafiliasi dengan politik tengah, kiri, dan juga konservatif sayap kanan.

Dengan segala keterbatasan, tentu saya tidak bisa menuliskan seluruh isi dari sekian banyak sesi kuliah dan diskusi dalam seminar ini. Dalam tulisan ini saya hanya akan membahas beberapa sesi kuliah yang menjadi favorit saya, salah satunya adalah sesi yang membahas mengenai “The Knowledge Problem” yang dibawakan oleh Dr. Antony Davies.

The Knowledge Problem sendiri merupakan sebuah konsep yang digagas oleh ekonom kelahiran Austria dan pemenang Nobel Ekonomi tahun 1974, F. A. Hayek, dimana Hayek mendeskripsikan bahwasanya hampir mustahil pemerintah melakukan kalkulasi yang dibutuhkan untuk mengatur perekonomian. Hal ini dikarenakan pemerintah hanya memiliki kemampuan terbatas untuk mendapatkan informasi mengenai seluruh kegiatan ekonomi masyarakat, yang tentunya dibutuhan agar perencanaan perekonomian tersebut menjadi efisien dan berhasil.

Mengenai hal tersebut, Dr. Davies menyampaikan ide Hayek tersebut dengan cara yang sederhana, yakni melalui sebuah permainan. Setiap peserta diharuskan membuat kelompok yang terdiri dari 2 anggota, dan setiap anggota akan diberikan secarik kertas secara acak. Di kertas tersebut tertulis beberapa nama dari jenis warna dan juga jumlah nilai dari warna tersebut. Setiap kertas memiliki nilai untuk setiap warna dengan berbeda-beda, dan nilai dari setiap warna tersebut merepresentasikan jumlah kebahagiaan yang akan didapatkan oleh setiap kelompok.

Untuk selanjutnya Dr. Davies akan memberikan setumpuk potongan-potongan kertas berwarna kepada setiap kelompok. Tugas dari setiap kelompok adalah untuk mendapatkan nilai kebahagiaan setinggi-tingginya dari jumlah potongan kertas berwarna yang mereka dapatkan, dan disesuaikan dengan secarik kertas yang berisi keterangan nilai kebagaiaan dari setiap warna yang mereka dapatkan di awal permainan. Misalnya, bila di secarik kertas yang saya dapatkan tertera:

  • Ungu = 7
  • Merah = 6
  • Hitam = 5
  • Putih = 4
  • Hijau = 3
  • Biru = 2
  • Kuning = 1

Maka saya harus berusaha mendapat potongan kertas berwarna ungu sebanyak-banyaknya, dan menghindari untuk mendapat kertas berwarna kuning.

Ada 3 kali cara pembagian potongan kertas berwarna tersebut kepada setiap kelompok. Cara pertama pembicara akan membagikan beberapa potongan kertas berwarna tersebut kepada setiap kelompok secara sepihak, dan setiap kelompok tidak boleh saling bertukar potongan kertas berwana yang mereka dapatkan dengan kelompok lain. Cara kedua adalah potongan kertas berwarna tersebut akan dilemparkan ke lantai, dan setiap kelompok harus mengambil kertas tersbeut secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya, dan setiap anggota kelompok juga dibolehkan untuk mengambil paksa potongan kertas berwarna yang sudah didapatkan oleh kelompok lain.

Cara ketiga dan yang terakhir, setiap kelompok akan diberikan beberapa potongan kertas oleh pembicara, namun setelah itu mereka boleh saling bertukar potongan kertas berwarna tersebut dengan kelompok lain, sebagai upaya memperoleh nilai kebahagiaan setinggi-tingginya. Pada saat yang sama setiap kelompok juga dilarang untuk mengambil paksa potongan kertas berwarna yang dimiliki oleh kelompok lain, tidak seperti pada saat cara kedua.

Setelah itu setiap kelompok diharuskan memberi tahu jumlah nilai kebahagiaan yang mereka dapatkan kepada pembicara, dan ternyata, dari 3 cara pembagian kertas berwarna, cara ketiga dapat memberikan nilai kebahagiaan tertinggi secara rata – rata, sementara cara pertama memberikan nilai kebahagiaan yang terendah. Sementara itu, dalam cara ke 2, terlihat bahwa ada sebagian kelompok yang mendapatkan nilai kebahagiaan sangat tinggi (karena mereka mendapatkan potongan kertas berwarna yang banyak) dan ada pula kelompok yang tidak mendapatkan apa-apa sama sekali.

Dr. Davies mengatakan bahwasanya berkali-kali ia melakukan permainan tersebut di berbagai acara selama bertahun-tahun, hasilnya selalu sama, bahwasanya cara ke 3 selalu memberikan nilai kebahagiaan tertinggi. Melalui permainan tersebut, kita belajar mengenai cara yang paling efisien dalam pengelolaan sumber daya.

Cara pertama menganalogikan pengelolaan sumber daya yang terpusat oleh pemerintah sebagaimana yang dilakukan di negara-negara komunis, dimana pemerintah memberikan berbagai materi dan fasilitas kepada masyarakat yang mereka anggap merupakan yang terbaik dan masyarakat dilarang untuk melakukan transaksi ekonomi secara bebas antar sesama mereka. Namun ada hal penting yang sering dilupakan oleh pemerintah, dimana bahwasanya setiap individu memiliki selera dan preferensi dan yang berbeda-beda, dan mustahil pemerintah untuk mengetahui seluruh informasi mengenai preferensi setiap individu tersebut, selain dari masing-masing dari individu itu sendiri.

Cara kedua menganalogikan masyarakat tanpa hukum dimana setiap orang bisa mencuri dan mengambil paksa barang-barang yang dimiliki oleh orang lain. Diktum dari masyarakat yang seperti ini adalah “siapa yang kuat dialah pemenangnya dan yang lemah akan hancur”, dan terbukti bahwa sebagian kelompok mendapatkan nilai yang sangat tinggi dan kelompok lain tidak mendapatkan apa-apa. Dari sini, kita belajar mengenai pentingnya hukum untuk menjaga hak individual.

 Melalui cara ketiga yang terbukti paling efisien, menganalogikan adanya masyarakat bebas dimana setiap individu (atau kelompok dalam permainan ini) berhak untuk melakukan kegiatan transaksi ekonomi dengan siapa saja, untuk memaksimalkan kebahagiaan mereka. Sebagaimana yang telah disebut sebelumnya setiap individu memiliki selera dan preferensi yang berbeda-beda dan juga hanya kita sendirilah yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk diri kita.

 Apabila di kertas yang saya dapatkan tertera ungu memiliki nilai tertinggi dan kuning memiliki nilai terendah, dan saya memiliki setumpuk potongan kertas berwarna kuning, sementara teman saya memiliki setumpuk potongan kertas berwarna ungu dan pada saat yang sama di kertas yang ia dapatkan tertera kuning memiliki nilai kebahagiaan tertinggi, maka saya dapat melakukan transaksi dengan menukarkan setumpuk potongan kertas berwarna kuning yang saya miliki dengan setumpuk potongan kertas berwarna ungu yang dimiliki oleh teman saya, dan kita berdua akan mendapat keuntungan.

 Sesi lainnya yang menjadi favorit saya adalah sesi yang membahas mengenai harm principle yang dibawakan oleh filsuf Dr. James Stacey Taylor. Harm Principle sendiri merupakan sebuah prinsip yang digagas oleh filsuf Inggris, John Stuart Mill, dalam bukunya, On Liberty mengenai batas kebebasan, dimana ia menyatakan bahwasanya setiap individu memiliki hak untuk melakukan hal apapun yang mereka inginkan selama hal tersebut tidak menimbulkan kerusakan atau kerugian material bagi individu lainnya.

 Merujuk pada gagasan Mill mengenai Harm Principle, Dr. Taylor berusaha menantang para mahasiswa peserta seminar untuk berpikir ulang mengenai berbagai aktivitas sukarela yang saat ini dilarang oleh hukum, atau berbagai aktivitas yang secara hukum bersifat legal, namun setidaknya secara umum hal dianggap sebagai sesutu yang tidak dapat diterima dan dituntut untuk dilarang.

 Berbagai aktivitas yang dimaksud diantaranya tidak menggunakan sabuk pengaman atau helm saat berkendara, mengkonsumsi narkoba, transaksi jual beli organ tubuh manusia, hingga berbagai aktivitas yang dianggap melanggar norma kesopanan dan kesusilaan seperti prostitusi, membuat atau mengkonsumsi materi pornografi, aktivitas seksual dengan hewan (bestiality), hingga telanjang atau melakukan aktivitas seksual di tempat umum.

 Disinilah sesi mengenai Harm Principle menjadi menarik, dimana Dr. Taylor tidak hanya memberikan kuliah secara sepihak, namun di dalam ruangan ia juga melemparkan berbagai pertanyaan kepada peserta mengapa hal-hal tersebut harus dilarang atau sebaiknya dilegalkan. Para mahasiswa pun akhirnya saling berdebat dan melemparkan argumennya satu sama lain, mulai dari argumen mengenai moralitas publik, adanya kerugian lain serta bahaya bila berbagai aktivitas diatas dilegalkan, hingga argumen mengenai hak hewan terkait isu bestiality.

 Selain pembahasan mengenai The Knowledge Problem dan Harm Principle, masih banyak lagi sesi-sesi lainnya yang membahas mengenai berbagai topik sangat menarik, yang sekali lagi, tidak cukup waktu untuk saya tuliskan semuanya dalam artikel ini. Topik-topik yang dimaksud diantaranya adalah mengenai sejarah perkembangan gagasan dan tokoh-tokoh  liberalisme klasik di Eropa seperti John Locke, pentingnya hak memiliki senjata dan membela diri sebagai bagian dari gagasan kebebasan, sejarah kehidupan salah satu bapak pendiri Amerika Serikat, Thomas Jefferson, sebagai salah satu tokoh yang berkontribusi besar pada perkembangan gagasan liberalisme klasik, revolusi pasar di Amerika Serikat di abad ke akhir abad 18 hingga abad ke 19, tentang konstitusi Amerika Serikat dan pentingnya peran pemerintah yang sangat terbatas, hingga perdebatan mengenai kebijakan perang terhadap narkoba dan kebijakan militer yang intervensionis.

Singkat cerita, sebagai penutup, acara seminar IHS merupakan salah satu minggu terbaik saya sepanjang hidup. Dari acara tersebut, tidak saja saya mendapatkan berbagai pengetahuan baru dari pembicara yang sangat berkualitas dan menguasai bidang mereka, namun saya juga mendapat banyak kawan baru dan berkesempatan untuk berdiskusi serta bertukar pikiran dengan berbagai mahasiswa dari seluruh dunia tentang gagasan liberalisme klasik dan kebebasan. Serta, tidak seperti berbagai diskusi yang kerap saya lakukan dengan mahasiswa-mahasiswa di Indonesia, semua argumen yang diajukan oleh para peserta seminar merupakan argumen rasional yang menggunakan logika serta berdasarkan data empiris, dan sama sekali tidak membawa-bawa berbagai cerita mitologi ataupun doktrin-doktrin agama.

Saya sangat berharap bisa kembali lagi untuk seminar IHS di tahun depan, dan juga, siapa tahu, nanti saya dan teman-teman yang menaruh perhatian terhadap pentingnya untuk melestarikan kebebasan di Indonesia, seperti kawan-kawan saya di Suara Kebebasan, dapat membuat seminar yang serupa untuk mahasiswa di tanah air, demi membangun Indonesia yang lebih bebas di masa depan!

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan dan mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia. Haikal juga merupakan anggota Charter Team dari organisasi Students for Liberty (SFL) dan mewakili SFL Indonesia dalam Asia Liberty Forum pada bulan Februari tahun 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, ia adalah salah satu pendiri dan koordinator Indo-Libertarian, sebuah komunitas libertarian pertama di Indonesia. Haikal dapat dihubungi melalui twitter: @HaikalKurnia dan email: [email protected]