Sudah Lebih Baik Kah Ekonomi Kita?

Cerita    | 23 Jun 2017 | Read 873 times
Sudah Lebih Baik Kah Ekonomi Kita?

Sabtu dua pekan lalu 10 Juni, Jakarta kembali menjadi tuan rumah Ngopi Sore untuk kebebasan sekaligus buka puasa. Acara ini menghadirkan pembicara seorang ekonom dari Bank Indonesia Nurkholisoh Ibnu Aman. Ia adalah alumnus Universitas Chicago, AS di bidang Analytics Finance dan Ekonomi Internasional, sekitar 25 orang hadir sore itu di Coffeeberian, Jakarta Selatan.

Kami mengundang pembicara guna mengetahui kondisi terkini ekonomi di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Judul diskusinya  “Sudah lebih baikkah ekonomi kita?” Mengingat bulan puasa selalu ditandai dengan kenaikan harga-harga menjelang lebaran hari raya Idul Fitri sehingga cepat mengerus Tunjangan Hari Raya di kantong anda masing-masing, maka kami merasa perlu mengundang pembicara yang berasal dari “dalam” sistem perekonomian dari sektor moneter, yakni Bank Sentral. Walaupun dari awal jelas pendapatnya merupakan pendapat pribadi alias disclaimer ON.

Harus diakui judul diskusinya belum lengkap, karena dalam ekonomi ketika menilai suatu kondisi perlu membandingkan dengan kondisi lainnya sebagai counter-factual. Apalagi, pemerintahan saat ini sedang giat-giatnya melakukan reformasi ekonomi melalui paket kebijakan, sudah mencapai 15 paket di akhir Juni ini. Selain itu, diskusi ini juga edukasi kepada publik tentang masalah dan prospek kebijakan ekonomi Jokowi, untuk itu kita sebut saja Jokowinomics. Analogi dari Reaganomics di AS dan Soehartonomics pada puncak ekonomi Orde Baru.

Pembicara memaparkan beragam data empiris dari berbagai sektor ekonomi seperti inflasi dan harga bahan pokok, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan pengeluaran sebagai komponennya, angka kemiskinan dan pengangguran. Namun presentasi yang paling menarik bagi saya sesungguhnya bicara soal ekonomi tidak lepas dari komparasi antara realitas (kenyataan) dan persepsi (pemikiran). Gambar di bawah ini menjelaskan seberapa optimis responden di berbagai Negara dari majalah Economist

Plot grafik di atas menunjukkan sumbu x perubahan PDB dibandingkan tahun lalu dan sumbu y jumlah populasi responden yang menyatakan kondisi ekonomi negara mereka lebih baik atau semakin baik di tahun 2017. Posisi Indonesia di sebelah kanan atas dimana responden menilai lebih dari 60 persen ekonomi kita lebih baik atau semakin membaik dibandingkan sebelumnya, serta angka pertumbuhan ekonomi juga relatif tinggi.

Bandingkan dengan Venezuela misalnya, negeri yang sedang dilanda economic chaos akibat sosialisme negara yang merajarela ditambah booming komoditas yang meletus. Meninggalkan nestapa, bahkan untuk memperoleh bahan pokok saja warga Venezuela harus mengantri. Fakta mutakhir seperti di Venezuela sepatutnya menjadi pelajaran agar kita jangan menempuh jalur ekonomi yang salah seperti mereka.  

Walaupun grafik menunjukan kondisi yang tidak jelek ketimbang Venezuela, tetapi dibandingkan tetangga Filipina maupun India, persepsi dan realitas pertumbuhan ekonomi kita masih tertinggal. Selanjutnya, ekonom pro-ekonomi pasar ini memaparkan tantangan dan respon kebijakan yang dilakukan pemerintah. Tiga tantangan global yang mempengaruhi ekonomi domestik diantaranya: (1). ketidakpastian pasar keuangan, (2). harga komoditas yang rendah, (3). pertumbuhan ekonomi dan volume perdagangan. Puncak dari tantangan global berupa ketidakpastian geopolitik dengan milestone-nya Keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan terpilihnya Donald J Trump sebagai Presiden AS ke 45.

Di satu sisi, 2016 mencatat tingkat inflasi terendah dalam tujuh tahun terakhir dan tren yang terus menurun. Di sisi lain, PDB kita masih ditopang dari sektor konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah sementara ekspor masih lemah dan impor masih belum kembali ke level sebelum booming komoditas berakhir. Dua pertanyaan yang saya catat adalah: bagaimana keluar dari jebakan Negara berpendapatan menengah seperti kita saat ini? bagaimana pencapaian Jokowinomics ini dikaitkan dengan kondisi kebebasan ekonomi seperti kemudahan berbisnis, peran swasta dan pasar yang lebih besar, kemudahan bertransaksi, serta fleksibilitas pasar tenaga kerja, dan sebagainya?

Bank Indonesia, papar mantan co-founder Milton Friedman Club di Universitas Chicago ini, mengusulkan ekonomi berbasis inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat serta kerjasama dengan pemerintah, sekolah vokasi yang unggul, serta industri yang menopang modal usaha. Tanpa inovasi yang radikal serta reformasi struktur ekonomi Indonesia, Indonesia akan sukar naik kelas dari kelompok negara berpendapatan menengah (threshold-nya PDB per kapita 3,080 USD) menuju pendapatan tinggi (PDB per kapita diatas 12,616). Uraian lengkap pemikirannya dapat terbaca pada sindikasi kami: Keluar Dari Jebakan Pendapatan Menengah

Sedangkan, pertanyaan menyangkut pencapaian Jokowinomics dalam kaitannya dengan kebebasan ekonomi dijawabnya dengan lugas bahwa pemerintahan Presiden Joko Widodo telah berada diarah yang benar dan trajektori positif. Walaupun belum membuahkan hasil pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif bagi semua lapisan kelas ekonomi. Tantangan terbesar kita sama-sama mengetahui masih banyak pekerjaan rumah seperti perlindungan terhadap hak kepemilikan, efektivitas belanja pemerintah, korupsi, dan lain-lainya.

Ekonom Nurkholisoh menutup paparannya dengan perlunya strategi komunikasi yang tepat guna mengedukasi publik soal ekonomi pasar, kompetisi, kapitalisme serta fitur-fitur kebebasan ekonomi lainnya. Bagi rekan-rekan yang ingin membaca paparan pembicara ngopi sore keenam dapat mengunduh melalui link berikut.

Muhamad Iksan

Muhamad Iksan (Iksan) adalah Pendiri dan Presiden Youth Freedom Network (YFN), Indonesia. YFN berulang tahun pertama pada 28 Oktober 2010, bertempatan dengan hari Sumpah Pemuda. Iksan, juga berprofesi sebagai seorang dosen dan Peneliti Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Jakarta. Alumni Universitas Indonesia dan Paramadina Graduate School ini telah menulis buku dan berbagai artikel menyangkut isu Kebijakan Publik. (public policy). Sebelum bergabung dengan Paramadina sejak 2012, Iksan berkarier sebagai pialang saham di perusahaan Sekuritas BUMN. Ia memiliki passion untuk mempromosikan gagasan ekonomi pasar, penguatan masyarakat sipil, serta tata kelola yang baik dalam meningkatkan kualitas kebijakan publik di Indonesia.

Iksan bisa dihubungi melalui email [email protected] dan twitter @mh_ikhsan